V E

V E
34. Dia Adikku??



Erick dan Ryu pergi ke kampus. Dan sampai di perjalanan Ryu masih bertanya siapa adiknya sebenarnya, dan lagi-lagi Erick tidak memberitahunya. Dia hanya tersenyum saja, membuat Ryu kesal di buatnya.


"Lo sabar aja kenapa sih, dia juga nanti kaget ketemu dengan lo. Lagi pula lo mau ngomong apa nanti setelah ketemu dia? Dia juga ngga ngerti apa yang nanti lo omongin." kata Erick masih saja merahasiakan siapa adiknya Ryu.


"Ck, setidaknya gue tahu siapa dia." kata Ryu dengan kesal.


Kenapa Erick jadi mempermainkannya, sudah tahu dia ingin selali bertemu dengan adiknya tapi tetap tidak juga di beritahu.


Sampai di parikiran kampus, Erick memarkirkan mobilnya, dia melihat motor Ve juga sudah ada di parkiran. Mungkin dia sudah masuk ke dalam kelasnya.


"Ayo kita turun, lo boleh jalan-jalan sekitar sini. Siapa tahu lo dapat gadis pemalu dan mau di ajak kencan." kata Erick bercanda.


"Gue bukan cowok sembarangan ya kalau cari cewek. Bisa di gorok gue sama kakek gue." ucap Ryu dengan kesal.


Erick tertawa, mereka berjalan menuju gedung fakultas dan menuju ruang kantor Erick.


Dan seperti biasa, semua mahasiswa dan dosen perempuan yang masih jomblo melihat Ryu dengan antusias. Mereka berebut ingin berkenalan dengan Ryu, kebetulan Erick masuk siang di kelas Ve.


Ve yang mendengar Ryu teman Erick datang ke kampusnya sampai tidak percaya jika akan secepat itu bertemu dengan kakaknya.


Apakah dia akan menerimanya dan ibunya nanti? pikir Ve.


Dalam lamunannya, Ve masih belum fokus. Beruntung sekali dosen tidak memperhatikan apa yang di lakukan Ve yang diam tanpa memperhatikan materi yang di sampaikan.


Biasanya selalu cepat dan akan memberi Ve tugas. Setiap ada mahasiswa yang tidak fokus dan hanya ada di dunianya sendiri, maka jika ketahuan akan mendapatkan tugas atau hukuman.


Dan sekarang Ve bebas hukuman atau tugas, dia masih memikirkan Ryu. Memang sepintas dia mengingat wajah Ryu ada kemiripan padanya, tapi jika orang melihat sekilas tidak akan terlihat mirip, tapi jika di perhatikan akan terlihat kemiripan antara Ve dengan Ryu.


Mata kuliah Erick masuk, pertama yang di lihat Erick adalah Ve. Ve hanya tersenyum padanya sambil memberitahu dengan bahasa isyarat kalau Ryu ada di kantornya.


Ve hanya mengacungkan jempol saja. Dan Gilang sejak tadi memperhatikan dosen dan sahabatnya itu seperti memberi isyarat yang hanya di ketahui oleh dua orang itu saja.


"Ciieee, yang udah jadi pacarnya dosen. Sekarang pake bahasa isyarat aja ngomong di kelasnya." sindir Gilang sambil menyenggol lengan Ve.


Ve yang di sindir seperti itu oleh Gilang hanya cemberut saja, dia menatap Gilang sinis.


"Biarin aja sih, namanya juga bahasa isyarat. Lo tahu maksud bahasa isyarat gue itu apa?" tanya Ve.


"Emm, paling janjian ketemu di parkiran. Tahu gue, kan gitu lo sama pak Erick." jawab Gilang.


"Huh, salah. Jangan sok tahu makanya, gue mau ketemu seseorang. Dan orangnya juga ada di sini maksudnya." kata Ve menjelaskan pada Gilang.


"Lo mau ketemu siapa lagi?" tanya Gilang penasaran.


"Udah deh, lo ngga usah tahu. Kalau lo tahu bisa heboh nanti di kelas." ucap Ve.


"Eh, lo masih jadi rahasia ya pacarana sama pak Erick. Gue orangnya bisa menjaga rahasia. Emang lo mau ketemu siapa sih?" tanya Gilang lagi penasaran.


"Nanti aja, gue belum yakin kalau mau cerita. Tapi lo janji ya, jangan sampai di kelas apa lagi di kampus pada tahu gue pacaran sama kak Erick." kata Ve mengancam.


"Ehm! Sekarang panggilannya ganti nih." sindir Gilang.


Ve hanya menatap Gilang dengan waswas, tapi dia percaya jika Gilang adalah sahabat yang bisa di percaya tidak akan menyebarkan apa yang dia tahu tentang Ve.


_


Sampai pada waktu perkuliahan selesai, kini Ve sudah ada di parkiran. Dia menunggu Erick keluar dan bertemu di sana.


Dia melihat Erick dan Ryu berjalan beriringan, rasanya Ve deg degan jika bertemu lagi dengan Ryu kali ini.


Benarkah laki-laki yang bersama pacarnya itu adalah kakaknya? pikir Ve.


Semakin dekat, Ve semakin deg degan. Dia masih diam di motornya dan belum berani mendekat pada Erick dan Ryu.


Erick dan Ryu mendekat pada Ve, tapi Ryu masih belum tahu bahwa Ve adalah adiknya.


Ve menatap Erick, dia bertanya bagaimana seharusnya.


"Kita ke tempat makan aja, cari restoran yang nyaman untuk ngobrol." kata Erick seolah tahu kebingungan Ve


Ve mengangguk, dia lalu menatap Ryu. Dan entah kenapa dia merasa ada keinginan memeluk kakaknya itu.


"Hei, Ve. Kita bertemu lagi." sapa Ryu pada Ve.


Ve hanya tersenyum kaku, dia kembali menatap Erick. Dan Erick hanya menganggukkan kepala saja.


"Ayo Ve, kamu ikut denganku." kata Erick.


"Tapi motorku bagaimana?" tanya Ve bingung dengan motornya nanti.


"Aku sudah bicara pada Andre untuk membawa motormu pulang. Sebentar lagi dia kesini." kata Erick.


Dan tak berapa lama, Andre datang menghampiri Erick dan Ve.


"Ya udah, nih kuncinya. Lo bawa pulang, kalau ibu tanya bilang aku sama pak Erick." kata Ve.


"Iya, tenang aja. Gue juga ngerti lo mau kencan kan?" sindir Andre.


"Apa sih, siapa juga yang mau kencan?" tanya Ve dengan nada malu.


"Iya juga ngga kenapa-kenapa kok Ve."


"Udah sana pulang."


"Ish, ya udah gue pulang dulu. Hati-hati lo."


"Iya, bawel!"


Andre lalu menaiki motor Ve, dia lalu melajukannya dengan cepat agar bisa sampai di rumah.


Sedangkan Ve, Erick dan Ryu masuk ke dalan mobil yang sama punya Erick. Masih diam semuanya, belum ada yang bicara lebih dulu.


Ve duduk di belakang, sedangkan Erick dan Ryu duduk di depan. Ryu melirik Ve dari kaca spion di depan, dia melihat Ve juga sedang menatapnya balik.


"Ve, are you oke?" tanya Ryu pada Ve.


"I am fine mister Ryu." jawab Ve gugup.


Erick memperhatikan interaksi kedua kakak beradik yang canggung, namun dia diam saja untuk melihat sejauh mana Ve menanggapi Ryu yang belum tahu jika dirinya adalah adiknya.


Lama kedua kakak beradik yang tidak tahu itu berbicara, bertanya kabar masing-masing. Ada rasa terharu di hati Ve, bahwa Ryu ternyata sangat perhatian padanya juga menanyakan ibunya juga. Karena dia tahu, Erick belim memberitahu kalau dia adalah adiknya.


_


Sampai di restoran, Ve masih tampak canggung menghadapi Ryu. Jika bisa, dia ingin memeluk kakak laki-laki beda ibu itu.


Dan kini Erick mulai bicara pada Ryu, menjelaskan padanya kalau Ve adalah adiknya.


"Whats? Lo kenapa baru bilang sekarang, bro?" tanya Ryu tidak percaya.


"Gue hanya ingin tahu kedekatan kalian sebagai kakak adik, sejauh mana lo bisa merasakan kalau Ve itu adik lo. Dulu juga lo bilang kalau Ve adalah adiknya yang hilang. Makanya gue mencoba ingin tahu apakah lo masih bisa mengenali Ve dengan hatimu, bahwa dia adalah adik lo yang selama ini lo cari." kata Erick memberi alasan.


Ryu diam, dia lalu menatap Ve dengan intens. Dia memastikan hatinya, bahwa Ve adalah memang adiknya. Tapi dia masih bingung, kenapa Erick berkata seperti itu.


"Apa buktinya jika dia adalah adikku?" tanya Ryu.


Dia tidak mungkin percaya begitu saja pada Erick kalau Ve adalah adiknya.


"Ve, berikan album foto ibumu yang tadi pagi aku minta sama kamu." kata Erick.


Ve lalu mengeluarkan sebauh album foto dari dalam tasnya, kemudian memberikannya pada Erick.


"Jika mister Ryu tidak mengakui aku sebagai adiknya, kenapa harus di paksa kak?" kata Ve pada Erick.


"Dia yang mencari adiknya, Ve. Agar dia tahu saja kalau kamu memang adiknya yang menghilang dengan ibumu." jawab Erick.


Lalu Erick memberikan album foto itu pada Ryu, Ryu menerimanya dengan ragu. Sejujurnya dia memang merasakan kalau Ve itu adiknya, namun dia takut hanya untuk di manfaatkan oleh Ve. Terlebih Ve memang hidup sederhana, jadi jiwa kehati-hatiannya muncul seketika.


Dengan pelan Ryu membuka satu persatu album foto itu, dia melihat memang di sana ada papa Hiroshi dengan seorang perempuan muda pada masa itu, terus membuka satu persatu lembaran album.


Hingga dia melihat satu nama pada bayi yang di gendong oleh papanya. Dan di sana tertulis nama Ve. Ya, Venice Eiko atau Vanesa Eiko dan di jelaskan juga bahwa nama itu sebuah kota kenangan kedua orang tua Ve.


Kemudian Ryu menutup album tersebut, dia kembali menatap Ve dengan sedih dan terharu. Meski dia tidak mengerti apa yang nanti di katakan Ve dalam bahasanya, tapi dari wajahnya juga terlihat Ve merasakan keharuan.


"Eiko, kamu adikku?" tanya Ryu dalam bahasa Inggris.


"Menurut di album itu memang aku adikmu. Apa mister percaya kalau aku adikmu?" tanya Ve memastikan bahwa Ryu telah percaya dan mengakuinya.


Ryu tertawa kecil, sangat lucu ucapan Ve. Namun dia sangat senang kalau ternyata Ve adalah adiknya.


"Yes, aku percaya. Bila perlu jika kita tes DNApun aku percaya. Aku senang bisa mengetahui kalau kamu adalah adikku, Eiko." kata Ryu.


Dia pun bangkit dari duduknya dan Ve juga, kemudian mereka berpelukan memberikan energi positif bahwa mereka kedua kakak adik yang terpisah.


Ve menangis, dia pun memeluk Ryu. Baru kali ini dia merasakan keterhauan yang luar biasa. Bisa menemukan seorang kakak di usianya yang sudah dewasa, aneh memang. Tapi dia senang dan bahagia.


Erick menatap kedua kakak beradik saling memeluk dan menangis ikut terharu. Ternyata Ryu memang percaya akan ucapannya, dia belum menceritakan semua kisah ibu Tika dan kehidupan adiknya di sini._


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊