V E

V E
25. Sikap Acuh Erick



Erick sampai di klub karate agak sore, setelah semua sudah selesai latihan. Ve sendiri sudah bersiap untuk pergi dari klub itu.


Dia memang ingin mengurangi pertemuan dengan Erick, jika sering bertemu apa jadinya dengan hatinya. Dia tidak mau terhanyut oleh pesona dosen gantengnya itu.


Tapi bukan Erick namanya jika dia tidak punya cara untuk lebih dekat lagi dengan Ve. Seperti sekarang, dia memanggil Ve ketika Ve sudah bersiap pergi dengan motornya.


"Ve, tunggu. Kenapa kamu biru-buru banget pulangnya?" tanya Erick menahan lengan Ve.


"Pak, lepas." ucap Ve.


Tapi Erick tidak melepas pegangan tangannya agar tidak segera pergi. Dia tahu Ve sedang menghindarinya.


"Ve?"


Ve diam, dia akhirnya luluh dan turun dari motornya. Erick senang, dia memang ingin bicaa banyak dengan Ve. Tentang ibunya juga bronis kukus buatannya.


"Ada apa pak?" tanya Ve lagi.


"Ayo duduk dulu. Aku ingin bicara sama kamu." kata Erick, dia menarik tangan Ve untuk duduk di kursi tunggu.


Mereka pun duduk bersama, Erick masih memegangi tangan Ve sampai mereka duduk. Tangan Ve belum di lepas.


Ve masih sabar untuk menunggu tangannya di lepas, karena dia risih lengannya di pegang sangat kuat oleh Erick.


"Sudah bisa di lepas pak pegangan lengan saya?" tanya Ve.


Erick pun melepas pegangan tangannya pada Ve, sampai tangannya berkeringat.


"Maaf ya, kamu sakit ya lengannya?" tanya Erick


"Ngga kok pak, biasa aja. Cuma risih aja di pegang terus sampai berkeringat."


"Heheh, maaf ya. Soalnya aku takut kamu kabur lagi, jadi aku pegang erat sekali." kata Erick.


Ve mendengus kesal, dia duduk di samping Erick. Sikap datar dan dingin Ve tampilkan. Dia benar-benar akan menjaga jarak dengan Erick.


Namun sialnya laki-laki ganteng itu tetap saja mendekat. Apa dia tidak tahu, jiwa jomblo Ve kini semakin meronta karena terus saja di dekati oleh dosennya itu.


Ve tahu, Erick suka padanya. Tapi dia tidak menggubrisnya.


Dan kini mereka duduk berdekatan sekali, membuat Arfan dan Ivan di dalam klub hanya senyum-senyum saja melihatnya.


"Mereka itu lucu ya bang?" tanya Ivan pada Arfan.


"Ya, mereka lucu dan menggemaskan. Si Ve di dekati pak Jeff, wajahnya sih menolak. Tapi lihat sikapnya. Bertolak belakang." kata Arfan.


"Iya. Pak Jeff itu suka ya sama Ve?" tanya Ivan lagi.


"Ya lihat aja, dia itu sibuk lho di kampus. Tapi masih sempat-sempatnya datang menjemput adiknya dan itu hampir setiap hari. Dia tidak peduli dengan sikap Ve yang dingin itu." kata Arfan lagi.


"Menurut abang, Ve juga suka ngga?" tanya Ivan lagi.


"Kurasa dia suka, tapi hanya gengsi aja. Sudahlah biarkan dia seperti itu. Kita lihat sejauh mana pak Jeff mendapatkan Ve. Cowok itu harus pantang menyerah." kata Arfan lagi.


"Emm, benar."


Sementara itu Ve dan Erick sedang duduk saling diam, Erick menatap Ve dalam lalu mengembuskan nafasnya.


"Tadi siang aku ketemu dengan ibumu, Ve." kata Erick membuka percakapan.


"Oh ya, lalu kenapa?" tanya Ve.


"Emm, ngga kenapa-kenapa. Aku ingin pesan bronis kukus buatan ibumu." kata Erick.


"Berapa?"


"Emm, dua loyang cukup kayaknya."


"Oke, nanti saya kasih tahu kalau pak Erick pesan bronis kukus sama ibu."


"Tapi nanti Ve, besok saja."


"Terus kenapa pesan sekarang."


"Kalau besok bisa aku ke rumahmu."


"Mau apa?"


"Ya pesan bronislah sama ibu Tika."


"Tapi, pesan sama saya juga bisa kok. Ngga usah ke rumah lagi, nanti saya antar bronisnya pak." kata Ve.


"Ngga mau! Aku ingin ke rumahmu langsung, pengen lebih dekat dengan ibumu."


"Untuk apa?"


"Ya, berteman akrab saja sama ibu Tika. Anaknya ngga mau aku dekati, ya udah aku dekati ibumu." kata Erick santai.


Ve berdecak kesal, kenapa dosen satu ini pemaksa banget sih. Gerutu Ve dalan hati.


Tanpa bicara lagi, Ve bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Erick. Erick tentu saja terkejut, namun dia kembali mencegah tangan Ve


"Apa lagi sih pak?" tanya Ve ketus.


"Oke, aku akan menghindari kamu. Kamu sepertinya tidak mau dekat denganku. Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan menyapamu lagi." kata Erick.


Sedangkan Ve menatap Erick, tidak percaya. Dia juga tidak percaya dengan ucapannya yang ketus itu.


Lalu dia menaiki motornya dan pergi meninggalkan gedung klubnya. Sepanjang perjalanan dia memikirkan ucapan Erick dan sikapnya tadi.


Apakah sikap Erick benar-benar akan berubah padanya?


Ve tidak peduli, dia pikir nanti Erick akan kembali bicara padanya dan dia akan meminta maaf.


_


Esok harinya, Erick benar-benar menghindari Ve. Sejak di kampus dia tidak pernah menatap Ve apa lagi menyuruh Ve untuk maju ke depan.


Dan di klub sore hari,dia datang pas waktu bubar latihan adiknya. Setelah bubar, Jody yang biasanya mengobrol dan berdiskusi dengan teman-teman satu klubnya kini harus sering pulang cepat.


Awalnya Ve merasa itu adalah kekesalan Erick padanya, hingga satu minggu lebih sikap Erick masih sama.


Dan kini Erick bersama Andre sedang menunggu ibu Tika, sengaja Erick datang sebelum ke klub dulu. Dia ingin bertemu dengan ibu Tika, memesan bronis kukusnya.


"Pak Erick ngga nunggu Ve dulu?" tanya Andre.


"Ngga Ndre, kan dia sedang melatih karate. Saya juga mau ke sana juga, jemput adik latihan." jawab Erick.


"Jadi, nak Erick. Eh, pak Erick Aduh bagaimaja ya panggilnya." kat ibu Tika jadi bingung.


"Terserah ibu saja, panggilnya siapa. Calon menantu juga boleh, heheh." kata Erick bercanda.


"Eh, nak Erick bisa saja. Jadi kapan pesan bronisnya?" tanya ibu Tika.


Memang saat ini Erick ada di rumah Ve, di antar Andre. Dia ingin menyelidiki lagi tentang Ve, namun secara langsung pada ibu Tika.


Dan pertama yang akan dia lakukan yaitu mendekat pada ibu Tika. Biarkan saja dulu Ve dia abaikan, dia sendiri kan yang meminta Erick menjauh.


Lagi pula, kenapa dia ingin Erick memjauh? Tapi tidak masalah, Erick akan mendekati ibu Tika sekalian bertanya banyak hal.


Sangat menarik baginya ketika ketemu di pasar. Andre bilang sudah tiga kali ibu Tika mau di tabrak seseorang, namun dengan motor dan identitas berbeda.


Meski tidak tahu itu dari suruhan siapa, namun ibu Tika sudah menduganya. Siapa yang menyuruh orang yang mau menabraknya sampai tiga kali.


"Jadi untuk besok bisa ya bu, soalnya mama saya minta untuk pertemuan teman-teman arisannya di rumah." kata Erick berbohong.


"Boleh, berapa kotak?" tanya ibu Tika.


"Tiga kayaknya cukup ya?" kata Erick ragu.


Apakah itu kebanyakan atau kurang.


"Kalau orangnya lebih dari dua puluh orang ya, pas aja nak Erick. Jika mau di tambah satu kotak lagi cukup, ada lebihnya." kata ibu Tika memberi saran.


"Ya udah, empat kotak aja bu. Biar ngga kurang nantinya." kata Erick memastikan.


"Siap nak Erick, besok jam berapa di ambilnya? Apa Ve aja ya yang antar ke rumah nak Erick?" kata ibu Tika mengusulkan Ve.


Dia sebenarnya ingin Ve yang mengantarnya, tapi saat ini belum bisa modus lagi.


"Saya aja nanti yang ke sini, saya suka bau bronis kukusnya Kalau lagi di kukus bu."


"Oh, boleh. Jadi besok ibu tinggal kukus ya, kalau nak Erick datang. Biar nak Erick mencium aroma kukusan bronis."


"Iya bu."


Ketika perbincangan asyik mereka, suara salam dari luar rumah. Ve sudah pulang dari melatih karate.


"Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Ve masuk ke dalam rumah, dan menuju ke dapur. Dan dia terkejut ada Erick di sana dengan ibunya, dia heran kenapa dosennya itu akrab dengan ibunya.


"Oh, Ve sudah selesai ya latihannya?" tanya Erick biasa saja.


"Iya pak."


"Bu, kalau begitu saya permisi pulang. Pasti adik saya menunggu lama, Saya duluan Ve." kata Erick langsung berpamitan.


"Iya nak Erick, besok ibu tunggu."


"Siap bu."


Erick keluar dengan cepat, membuat Ve semakin heran. Kenapa Erick begitu cepat perginya?


"Oh, iya ya. Pak Erick kan sedang menghindari gue" gumam Ve pelan.


"Ve, cepat kamu bersihkan loyangnya. Ibu mau membuat pesanan ibu Salma besok pagi."


"Iya bu."


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊