
Ryu dan Erick menunggu di bangku yang tersedia di sana. Arfan melihat Erick membawa temannya menghampirinya.
"Pak Jeff, membawa teman?" tanya Arfan.
"Ya, dia dari Jepang. Kenalkan, namanya Ryu. Ryu dia adalah Arfan pemilik klub karate ini. " kata Erick pada Ryu.
Arfan dan Ryu saling bersalaman. Mereka tampak terlibat perbincangan, dari candaan sampai berubah serius.
Ve melihat ke arah tiga laki-laki yang sedang bicara serius itu. Dia menatap Ryu dengan intens, seperti ada getaran batin bahwa dia sangat dekat dengan Ryu.
Dia sendiri heran, kenapa hati kecilnya mengatakan seperti itu. Apakah karena memang Ryu berbeda?
Ve masih menatap Ryu lama, hingga Ryu menatapnya balik seolah merasakan kalau Ve melihat ke arahnya.
Ve memalingkan wajahnya ke arah lain, dia malu ketahuan menatap Ryu dengan seperti itu. Ryu tersenyum, lalu Erick dan Ryu serta Arfan beribincang-bincang lagi.
Dan topiknya itu mengenai Ve lagi, di sini Ryu memang tidak paham akan obrolan Erick dengan Arfan, namun dia mencoba untuk menanyakan apa yang di katakan oleh Arfan tentang Ve.
Sampai penghujung latihan selesai, Erick dan Ryu masih di sana. Dan memang menunggu adiknya selesai.
"Sudah selesai Ve?" tanya Arfan mendekat pada Ve yang sedang merapikan matras.
"Sudah bang, emm mereka membicarakan apa bang?" tanya Ve penasaran.
"Mereka membicarakanmu dan Ryu." jawab Arfan.
"Oh, jadi namanya Ryu teman pak Erick itu? Tapi kenapa membicarakan gue bang?" tanya Ve heran.
Memangnya tidak ada topik lain selain membicarakannya. Apa Arfan menceritakan tentang dirinya?
"Bang, abang bicara apa tentang gue bang?" tanya Ve.
"Emm, ngga banyak sih. Cuma gue memceritakan lo itu anak yang mandiri, itu aja." jawab Arfan.
"Ngga mungkin, tadi gue lihat bang Arfan serius banget ngobrolnya." kata Ve.
"Ya, memang. Dan Ryu itu dari Jepang, kata pak Erick sedang mencari adiknya yang selama ini belum dia temui." kata Arfan.
"Lalu, apa hubungannya dengan gue bang?" tanya Ve lagi.
"Ryu bilang dia sepeti melihat adiknya pada diri lo, Ve." kata Arfan.
Dia tidak tahu kenapa Ryu bisa berkata seperti itu. Dia semakin penasaran dengan cerita tentang ibunya Ve. Tapi, biarlah jadi rahasia Ve. Toh dia tidak punya sangkutan apa-apa pada Ve.
"Masa sih bang?" tanya Ve tidak percaya.
"Tanyakan aja sama orangnya. Lo kenalkan?" tanya Arfan.
Ve mengangguk, dia memasukkan matras ke dalam gudang.
Erick mendekat pada Ve, niatnya membantu Ve memasukkan matras ke gudang.
"Perlu bantuan Ve?" tanya Erick.
"Ngga usah pak, udah selesai kok." kata Ve.
Dia menutup pintu gudang dan menguncinya.
"Ve, kamu kenapa kalau sama aku bahasanya terlalu formal?" kata Erick.
"Ya kan pak Erick dosen saya, masa saya harus bilang lo gue." kata Ve beralasan.
"Ngga, maksudnya jangan itu. Bisa kan aku kamu aja, gitu manggilnya." kata Erick.
"Lha, memangnya saya pacar pak Erick?" tanya Ve tanpa sadar.
"Oh, kamu pengen aku jadi pacar kamu gitu?" tanya Erick tersenyum senang.
"Eh, ngga pak. Maksud saya bukan itu." kata Ve gugup.
Kenapa juga pak Erick bicara seperti itu sih? gumam Ve dalam hati.
"Iya juga ngga apa-apa, aku suka kamu Ve." kata Erick spontan.
"Eh, kok begitu?" tanya Ve heran.
"Kenapa? Aneh?" tanya Erick.
Tidak terduga pada keduanya, Ve sendiri merasa aneh Erick menyatakan suka padanya. Dan Erick juga tidak percaya dia menyatakan rasa sukanya pada Ve. Semua secara spontan.
"Emm, maksudnya apa karena pak Erick sering dengar cerita tentang saya dari bang Arfan?" tanya Ve.
"Engg, ngga juga sih. Tapi aku suka aja sama kamu." kata Erick.
Ve menunduk, dia bingung dengan apa yang di katakan Erick yang secara tiba-tiba.
Dan apa jadinya nanti di kampus tentang dia dan Erick terlalu dekat. Sudah pasti gosip akan bergulir lagi dengan santer.
Yang dulu saja masih ada saja yang menyinggungnya. Dan sekarang, malah jadi kenyataan dosennya itu suka padanya.
"Ve, kamu melamun?" tanya Erick.
"Eh, ngga pak. Aku mau pulang dulu, sudah sore." kata Ve menghindar dari pandangan dan pertanyaan Erick.
Ve lalu mengambil tas ranselnya, meninggalkan Erick yang masih terpaku di tempatnya.
Ryu mendekat, dia menepuk pundak sahabatnya itu.
Erick diam, dia membuang nafas kasar lalu tertawa kecil.
"Lo di tolak?" tanya Ryu lagi.
"Ngga tahu, tapi gue akan terus mengejarnya."
"Hei, pak dosen. Ingatlah mahasiswamu itu seseorang yang tidak mudah di taklukkan. Jadi berjuanglah. Jika dia adik gue, akan gue bantu lo mendapatkannya." kata Ryu.
"Ck, lo yakin bener dia adik lo yang hilang." kata Erick mencebikkan bibirnya.
"Entahlah, seperti lo bilang. Memang Ve terlihat misterius. Gue mengandalkan lo untuk menemukan adik gue." kata Ryu.
"Memangnya lo pulang kapan?" tanya Erick.
"Dua hari lagi gue berangkat ke Jepang. Banyak pekerjaan yang gue tinggalkan di sana." kata Ryu.
"Terus, lo kapan lagi datang ke sini?" tanya Erick lagi.
"Gue tunggu kabar dari lo tentang adik gue."
"Jika memang Ve itu adik lo, bagaimana?"
"Gue dengan senang hati menerimanya, dan akan gue bawa dia ke Jepang." kata Ryu.
"Untuk apa?"
"Untuk mempertemukan ayah dengan putrinya. Dan juga cinta sejati ayah." kata Ryu penuh keyakinan.
"Tapi nanti ibumu yang akan sakit hati dengan kedatangan cinta sejati ayahmu."
"Mami sudah tidak berharap ayah akan menerimanya lagi. Meski pun mereka hidup dalam satu rumah, tapi cinta mereka bertolak belakang. Itu karena kakek yang terlalu keras kepala." kata Ryu sedih.
Di cerita cinta segi tiga yang rumit, ada seseorang yang harus tersakiti. Dan itu adalah ibunya, lalu kenapa dia mencari adiknya?
"Ibu lo yang tersakiti di cerita tentang ayah lo itu, tapi kenapa lo mau mencari adikmu yang jelas sekali itu akan menyingkirkan kedudukanmu sebagai anak yang di cintainya."
"Bagi gue, ayah itu sangat penyayang terhadap gue. Ayah juga perhatian sama mami, jadi ya tidak ada salahnya mencari anaknya dan ibunya. Sudahlah, terlalu rumit jika terus cerita tentang ayah gue."
Perbincangan mereka kini berlanjut di dalam mobil di perjalanan. Mereka pulang ke rumah Erick, memang Ryu menginap di rumah Ryu selama dia ada di Indonesia.
Erick berpikir mending sahabatnya itu tinggal di rumahnya dari pada di hotel.
_
Dalam kamar Ve, malam hari. Ve tidak bisa konsentrasi belajar, saat ini dia sedang membuat makalah tugas dari pak Ruli.
Dia mencari beberapa referensi buku, tapi tetap dia tidak bisa konsentrasi karena ucapan Erick tadi sore di klub karate.
"Pak Erick itu kenapa sih? Apa dia suka dengan gosip itu terus berlanjut? padahal gue malu dan malas sekali menanggapi gosip itu. Pasti si Gilang akan bertanya macam-macam, apa lagi nanti si Simon teman Andre. Dia malah akan semakin mencaci gue." gumam Ve.
"Tapi kenapa juga dengan si Simon? Bodo amatlah, dia juga bukan tipe gue. Lagi pula dia telah menghina gue, malah mau mencelakakan gue lagi. Brengsek banget dia, dia ngga kayak pak Erick yang selalu melindungi dan baik." gumam Ve lagi.
Dia diam, mengingat kembali ucapan Erick tadi sore. Senyumnya mengembang, tapi dia kembali diam. Wajahnya bersemu merah mengingat itu lagi.
"Haish, kenapa gue jadi gini ya?" masih dengan gumamannya yang membuatnya bingung dan malu sendiri.
"Ehem, lagi belajar apa melamun?" tanya ibu Tika yang sedang berdiri di depan pintu kamar Ve.
"Eh, ibu sejak kapan di situ?" tanya Ve malu.
"Sejak kamu mengucapkan pak Erick apa itu ya? Siapa dia?"
"Eh, itu bu. Dosen Ve di kampus." jawab Ve salah tingkah.
"Dosen apa pacar?"
"Ya dosen bu, masa pacar. Kan Ve belum punya pacar, lagi pula Ve belum mau pacaran."
"Yakin, belum mau pacaran?"
"Yakinlah bu, aku tuh pengen bantu ibu dulu. Baru pacaran di pikirkan nanti." ucap Ve.
"Emm, seperti apa sih pak Erick itu?"
"Ih, kok ibu penasaran dengan dosen Ve sih?"
"Ya karena anak ibu sepertinya sedang jatuh cinta sama dosennya."
"Ish, bukan begitu bu. Pak Erick itu baik, jadi wajar aja kalau Ve suka sama dosen baik kayak dia."
"Ooh, dia dosen baik toh."
"Udahlah, ngomong sama ibu muter-muter terus. Ve mau belajar."
"Ya belajar yang bener, jangan belajar memikirkan dosen baik itu." ucap ibu Tika sambil keluar dari kamar anaknya.
Ve kesal, kenapa ibunya jadi meledeknya. Dia lalu meneruskan mengetik makalahnya yang sedari tadi hanya di lihat saja.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊