V E

V E
79. Wisuda Hana



Tiga bulan setelah kedatangan Ryu ke rumah Hana, kini acara wisuda di kampus Tokyo akan di laksanakan besok pagi waktu Tokyo. Hana dan kedua orang tuanya datang sehari sebelum acara wisuda.


Hana menyiapkan baju kebaya khas Indonesia, pun juga ibunya. Serta romonya memakai batik juga untuk acara besok.


"Kamu selama tinggal di Jepang mengontrak di sini, Hana?" tanya ibunya Raden Ajeng Sri.


"Nggih bu, aku tinggal di sini selama kuliah dan bekerja di restoran Jepang." jawab Hana.


"Emm, kamu betah ya sampai tidak pulang-pulang waktu libur pun." kata ibunya lagi.


"Hehe, sayang uangnya bu kalau sering pulang. Tiket Tokyo-Jakarta itu mahal, mending buat hidup di sini dan bisa membawa ibu sama romo datang ke Jepang menghadiri wisudaku." ucap Hana.


Raden Ajeng Sri pun tersenyum, anak gadisnya itu memang mandiri dan juga tidak mau merepotkan siapa pun. Termasuk tidak mau di kirimi uang dari romonya.


"Ya, terserah kamu ajalah. Ibu hanya bisa mendoakanmu."


""Nggih bu."


"Oh ya, temanmu itu yang bernama siapa ya? Di mana dia tinggalnya? Apakah dia juga akan di wisuda juga?" tanya ibunya.


Deg.


Jantung Hana berdetak, dia kembali mengingat laki-laki itu. Dan hatinya merasa sedih, apakah dia akan meminta maaf padanya?


Hana menghela nafas panjang, dia tidak mau lagi mengingatnya. Atau dia merasa bersalah pada laki-laki itu?


"Hana? Apa kamu ada masalah dengan temanmu itu?" tanya ibunya lagi.


"Ngga bu, mungkin dia sibuk aja. Jadi tidak mungkin kan aku ganggu dia." jawab Hana.


"Lho, dia bukan mahasiswa di kampusmu juga?"


"Bukan, dia itu punya perusahaan besar di kota ini. Makanya dia sibuk dan tidak punya waktu, apa lagi aku hanya dulu sebagai pekerjanya aja yang hanya satu bulan bekerja di tokonya." jawab Hana lagi.


"Kok aneh ya."


"Aneh kenapa bu?"


"Yaa, biasanya kalau orang berkunjung ke negara temannya karena dia sudah dekat banget lho. Tapi kamu bilang dia sibuk, harusnya kalau teman dekat itu ya kalau datang di sambut atau tidak ikut menghadiri wisuda kamu nanti."


Hana menghela nafas panjang, dia bingung harus mengatakan apa pada ibunya. Kedekatannya dengan Ryu hanya semata awalnya sebagai dia tourgaid bagi adiknya, dan juga kebetulan bertemu lagi. Lalu kenapa Ryu dekat dengannya?


Bahkan sampai datang ke kampungnya? Tidakkah memang benar Ryu itu mencintainya? Hana semakin bingung, entah apa yang dia rasakan, kecewa dengan sikapnya dulu pada Ryu. Atau karena rasa bersalah dan dia juga tanpa sadar mencintai Ryu?


_


Hari wisuda telah tiba, kini Hana menyingkirkan rasa bersalah dan rasa rindunya pada Ryu. Dia ingin menepis semuanya, membuangnya yang datangnya dari sini dan akan kembali dia buang ke kotan ini juga.


Secara logika, bisakah itu di lakukan? Tapi apa salahnya Hana mencoba, begitu pikirnya.


"Ibu sama romo sudah siap?" tanya Hana pada ibu dan romonya.


"Sudah lho nduk, ayo kita berangkat. Keburu siang." kata ayahnya Hana.


"Nggih romo, kita naik taksi online aja. Aku udah pesan taksi online dan udah ada di depan taksinya." ucap Hana.


"Oo, ya udah ayo."


Lalu ketiganya pun keluar dari kontrakan Hana, tak lupa Hana mengunci pintunya agar aman saja. Meski memang aman lingkungannya, namun berhati-hati lebih baik dari pada teledor tapi menyesal nantinya.


Sementara itu, di kantor Ryu.


Ryu sangat sibu hari ini, kerja sama baru dari beberapa pelayan langsung yang mencari ikan serta udang dia temui hari ini di pagi hari. Ryu kesal kenapa Tamada memberitahunya baru tadi malam, tapi untungnya dia bisa mempersiapkan semuanya.


Kata asistennya itu, hanya bertemu dan membahas kerja sama serta presentasi nelayan itu tentang hasil tangkapannya di hadapan Ryu. Siangnya bisa pergi ke tempat di mana nelayan itu menjualnya atau pengepulnya.


"Kenapa kamu sampai lupa, Tamada? Hal sepenting itu kamu lupa?" kata Ryu memarahi Tamada.


Tamada diam, dia belum berani berbicara jika Ryu sedang marah atau kesal.


"Apa yang kamu kerjakan kemarin?" tanya Ryu lagi.


"Saya mencari informasi tuan." jawab Tamada masih menunduk.


"Informasi apa? Bukankah semua sudah aku ketahui tentang kerja sama dengan yang lain?" tanya Ryu lagi masih nada kesal.


"Informasi tentang hari wisuda nona Hana. Dan ternyata hari ini nona Hana di wisuda." jawab Tamada


Ryu terdiam, dia menatap tajam pada asistennya itu. Antara kesal dan penasaran dengan informasi yang di sampaikan Tamada.


"Apa anda tidak mau menghadirinya? Atau sekedar mengucapkan selamat atas kelulusan nona Hana, itu rasanya tidak buruk."


"Kamu pikir aku dengan Hana sedang bermasalah?" tanya Ryu masih ketus.


Ryu memikirkan apa yang di katakan Tamada, dia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih jam sembilan pagi.


"Sebentar lagi tuan, tadi sudah di hubungi Ayumi dan dia sedang di perjalanan."


"Emm, jam sebelas kira-kira presentase harus selesai. Kamu benar, apa salahnya mengucapkan selamat pada teman yang sudah lulus kuliah." kata Ryu.


Tamada tersenyum, meski Ryu sepertinya ada masalah entah apa. Tapi ada rasa kepedulian pada Hana, Tamada tahu bosnya itu sedang bermasalah dengan Hana. Entah karena di tolak cintanya atau masalah lain.


Setidaknya memberi ucapan selamat bisa membuat Hana senang, pikir Tamada.


_


Jam dua belas, acara wisuda masih berlangsung. Tapi dari fakultas lain, sedangkan Hana sudah di wisuda dan mendapatkan nilai cumlaude karena kecerdasannya.


Kedua orang tuanya bangga anaknya mendapatkan nilai cumlaude, Hana sangat senang sekali. Mereka akhirnya melakukan sesi foto di beberapa titik di kampus, karena Hana pikir dia tidak akan mengunjungi kampusnya. Dia beberapa kali foto sendiri atau bersama teman-temannya untuk kenang-kenangan kelak.


"Hana, kapan kamu selesai foto-fotonya? Ibu capek nunggu kamu selesai foto sama teman-temanmu." kata ibunya yang sejak tadi memperhatikan anaknya berfoto ria dengan teman-temannya.


"Heheh, satu lagi ya bu. Kalau ibu capek, tunggu di ruang tunggu aja. Aku akan ke suatu tempat yang menurut aku sangat banyak momennya dulu bu, sebentar aja ya" pinta Hana.


"Emm, ya sudah. Cepat kamu lakukan sana, ibu sama romo tunggu di ruangan tunggu aja."


"Nggih bu."


Hana pun mengajak teman-temannya untuk foto di tempat parkiran di mana di sana ada tempat luas seperti lapangan, namun khusus untuk berdiskusi para mahasiswa di sana.


"Ayo kita berfoto di sini aja." teriak teman Hana


"Ayo, kita ambil beberapa kali ya dengan pose berbeda." sahut teman satunya lagi.


Semua tampak senang, Hana pun ikut berfoto dengan riang dan beberapa gaya dan pose. Setelah di rasa cukup, kini semua membubarkan diri. Hana melihat hasil potretannya.


Hana berpisah dengan teman-temannya di parkiran, dia masih memeriksa hasil potretannya sambil berjalan. Hingga dia tidak sadar telah menabrak seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.


"Oh, maaf." kata Hana membungkukkan badannya.


Orang yang di tabrak hanya diam saja, masih menatap dalam Hana yang belum menyadari siapa orang di depannya.


Hana pun mendongak, dan betapa kagetnya dia. Ternyata dia adalah Ryu yang sedang menatapnya penuh kerinduan sambil memegang buket bunga untuk mengucapkan selamat pada Hana.


Rencananya hanya mau mengucapkan selamat atas kelulusan Hana, setelah itu dia akan langsung pergi.


"Ini buketnya, selamat atas kelulusannya." ucap Ryu datar, dia menetralkan hatinya agar tidak terhanyut suasana itu.


Hana terdiam, dia belum menerima buket bunga yang di sodorkan Ryu. Tak lama dia mengambil buketnya dan menatap Ryu dalam juga.


"Selamat ya, semoga kamu bahagia. Aku hanya mau mengucapkan itu saja, setelah ini tidak ada pertemuan lagi." ucap Ryu.


Hati Hana seperti teriris dengan ucapan Ryu itu, dia menunduk ingin menangis. Namun tidak bisa, lalu Ryu memegang tangan Hana.


"Aku pergi ya."


Ryu melangkah pergi dengan cepat, dan baru beberapa langkah. Hana memanggil nama Ryu tanpa embel-embel tuan.


"Ryu."


Ryu berhenti, dia kaget Hana memanggil namanya saja. Diam, tanpa menoleh. Memastikan Hana akan memanggil lagi.


"Ryu, aku..."


Ryu berbalik, menatap Hana yang tertunduk sambil menangis terisak.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Ryu cemas.


"Aku juga menyukaimu, hik hik hik."


"Apa?"


"Hik hik hik."


"Hana, ulangi sekali lagi. Aku ingin mendengarnya lagi." ucap Ryu dengan antusias dan senang.


Dia menatap Hana dengan tatapan tidak percaya.


"Aku juga mencintaimu, Ryu." ucap Hana masih di sela tangisnya namun sudah reda.


Cukup sudah kebahagiaan Ryu, dia langsung memeluk Hana dengan erat. Dia senang sekali hari ini dan menciumi berkali-kali kepala Hana. Hana pun membalas pelukan Ryu dengan erat lagi. Cukup sudah hatinya di landa rasa bersalah dan rindu selama beberapa bulan setelah Ryu menyatakan cinta padanya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊