V E

V E
70. Rencana Erick



Kembali ke cerita Erick dan Ve


Waktu terus berjalan, tak terasa Ve sudah memasuki semester tujuh, dia kini sudah santai pergi ke kampus. Hanya dua kali dalam seminggu pergi ke kampus, karena sekarang dia sedang mempersiapkan membuat skripsi.


Pengajuan proposal judul skripsi juga sudah dia siapkan, Erick membantu Ve dalam membuat Skripsi agar mudah di terima. Dan kini sebagian teman-teman Ve sudah tahu kalau dosen Erick itu adalah pacar Ve.


Ada yang kecewa dengan status Erick di kampus, dan juga ada yang merasa senang juga. Dan tentu saja itu adalah teman-teman satu kelas dengan Ve, Erick bisa di negosiasi mengenai nilai mata kuliah.


"Eh, kalian jangan main nego-nego masalah nilai gitu dong." ucap Ve ketika Ayu dan yang lainnya merasa senang karena di kelas Ve akan di perlakukan dengan baik.


"Ck, lo diam aja deh Ve. Yang penting lo menikmati pelayanan dari teman-teman semua di kelas ini." kata Ayu.


"Ya, tapi ngga bisa di sangkutin dengan nilai jugalah." kilah Ve lagi.


"Eh, kita itu bukan minta nilai bagus. Tapi setidaknya pak Erick mempertimbangkan nilai kiat semua."


Ve diam, perdebatan tidak akan di menangkan oleh Ve. Karena mereka sepakat untuk meminta kemurahan nilai matematika, karena memang matematika itu bikin pusing. Belum lagi harus mengerjakan tugas.


"Lo sih enak Ve, kalau nilai jelek bisa di perbaiki sama pak Erick. Lha, kita? Harus nego dulu sama beliau." kata Gilang menyambungi ucapan Ayu.


"Nah kan, kita semua nilainya kecil. Lo enak bisa di perbaiki sama pak Erick." kata Sita.


"Eh, ya ngga juga lah. Gue juga belajar, ngga langsung nilai bagus. Kalian kira gue cuma butuh nilai? Gue butuh ilmunya." kilah Ve.


Dia merasa nilai itu hanya sebuah angka saja, yang menentukan itu apakah dia paham materi yanh di berikan atau tidak.


"Iya, lo bisa belajar sambil pacaran sama pak dosen. Makanya tenang aja sih, udah lo diam. Kita juga ngga minta yang aneh-aneh kok."


Dan akhirnya Ve diam, kini jam mata kuliah matematika berganti.


_


"Kakak ngga mau mampir?" tanya Ve ketika dia di antar pulang oleh Erick.


"Nanti aja, hari ini aku mau ke kantor papa." jawab Erick.


"Ooh, ya udah. Salam buat om Ronald deh." kata Ve.


"Sama anaknya ngga?" tanya Erick.


"Ngga usah, kan setiap hari ketemu." jawab Ve.


Erick cemberut lucu, membuat Ve tertawa kecil. Dia lalu memegang pipi Erick yang menggembung karema merajuk tadi.


"Iih, kak Erick lucu banget sih. Haha.."


"Cium dong kalau lucu."


"Apa sih kak, kenapa juga harus cium." pipi Ve memerah karena malu.


"Ehmm, waktu di Jepang aja kamu berani cium pipi aku. Kenapa sekarang ngga mau." kata Erick menggoda Ve.


"Ih, jangan di ingat lagi dong."


"Cup."


Erick yang langsung mencium pipi Ve. Dan Ve menatap Erick tak percaya. Sebenarnya Erick ingin mencium bibir Ve, tapi dia takut Ve marah lagi seperti dulu pertama kali mereka jadi pacar.


Biar bagaimana pun Erick masih menghargai Ve, dia juga tidak mau seenaknya saja. Makanya dia sepulang dari mengantar Ve akan bicara pada papanya untuk segera melamar Ve.


Kemarin dia di tanyakan oleh Hiroshi, kapan dia akan melamar Ve. Tentu saja dia dengan senang hati akan membicarakannya pada kedua orang tuanya.


"Aku pulang dulu ya, mungkin besok aku akan datang lagi dengan mama papa." kata Erick.


"Mau apa kak?" tanya Ve heran.


"Mau ketemu ibu sama papa kamu."


"Oh, mau ngobrol gitu.?"


"Hahah, iya mau ngobrol serius masalah kita." jawab Erick tertawa kecil.


Dia sangat lucu sekali dengan tanggapan Ve yang tidak peka. Tapi memang di rahasiakan saja, dulu pembicaraan dengan Hiroshi tentang lamarannya juga Ve tidak tahu.


"Ya sudah, aku pulang dulu."


"Iya."


Ve pun menarik handle pintu mobil, tapi Erick menarik pelan kepala Ve dan di putar menghadapnya. Dia mencium sekilas bibir Ve lalu mengusapnya pelan, Erick tersenyum menatap Ve yang masih terpaku dengan ciumannya itu.


"Maaf ya, aku ngga tahan. Heheh..."


Mobil Erick melaju menuju kantor pak Ronald, papanya. Dengan cepat Erick mengemudikan mobilnya, dia tidak sabar ingin membicarakan rencananya melamar Ve.


Satu jam mobil Erick sampai di kantor perusahaan papanya, dia memarkirkan mobilnya di sebelah mobil pak Ronald. Dia keluar dari mobilnya dan menuju lift di belakang bagian gudang agar sampai di lantai atas di mana kantor pak Ronald berada.


"Pak Erick naik lift barang?" tanya OB yang kebetulan kenal dengan anak bosnya itu.


"Iya, biar cepat sampai. Malas kalau kewat lift di depan." jawab Erick.


OB itu tersenyum, lalu dia mendorong barang yang tadi dia bawa dari lantai atas. Erick pun masuk lift barang itu, dia tidak sabar ingin bertemu dengan papanya.


_


Dan kini Erick sudah ada di ruang kantor pak Ronald, ternyata papanya sedang meeting dengan klien baru. Dia lupa tidak menghubungi lebih dulu, tapi sambil menunggu, Erick membuka laptopnya dan melihat materi kuliah yang tadi dia sampaikan di depan kelas Ve.


Nilai juga dia cantumkan di sana, ada beberapa mahasiswa yang harus dia ikut pengulangan nilai. Karena nilai tidak sesuai kriteria.


Setengah jam Erick mengerjakan tugasnya itu, tak lama pak Ronald masuk dan mendekat pada anaknya itu.


"Tumben kamu datang, di waktu papa di kantor. Ada apa?" tanya pak Ronald pada Erick yang masoh fokus dengan laptopnya.


"Aku mau bicara serius dengan papa sekarang." kata Erick menutup laptopnya.


"Bicara serius mengenai apa? Tentang perusahaan yang mau kamu pegang?" tanya oak Ronald duduk bersandar.


"Emm, ngga pa. Kalau itu sih nanti kalau aku punya rencana mengambil alih perusahaan papa nanti kalau waktunya senggang, aku akan pegang perusahaan papa." jawab Erick.


"Terus, kamu mau apa datang ke kantor papa?"


"Aku di tanya sama tuan Hiroshi pa."


"Di tanya apa?"


"Kapan aku melamar Ve."


"Tuan Hiroshi menanyakan itu sama kamu? Bukankah dia bilang tunggu anaknya itu selesai kuliah?"


"Tinggal satu tahun lagi, pa. Dan aku juga pengen menikahi Ve secepatnya." jawab Erick.


"Duuh, anak papa rupanya sudah ngga sabar pengen nikah nih." ledek pak Ronald.


"Biar ngga jadi bahan ledekan aja, aku pusing kalau di kampus pada meledek terus. Sekarang semua sudah tahu kalau aku pacaran dengan Ve, kasihan juga sama dia."


"Erick, papa masih belum mengerti dengan cerita mama kamu itu, tuan Hiroshi anaknya tuan Takahiro di Jepang itu menikah dengan ibu Tika. Bisa menikah itu bagaimana ceritanya? Lagi pula bisa berpisah selama itu dan sekarang bisa bersatu lagi. Papa bingung dengan cerita semuanya." kata pak Ronald.


"Aku juga bingung pa, tapi yang jelas papanya Ve tidak akan kembali ke Jepang karena di sana sudah di anggap meninggal. Dan aku juga tahu semua kejadian itu pa." kata Erick.


"Ya sudahlah, papa ikut prihatin aja dengan kisah tuan Hiroshi sama istrinya itu. Lalu kakaknya Ve itu, yang suka menginap di rumah bagaimana?"


"Dia di Jepang, dia juga ngga masalah jika papanya tinggal di sini. Kalaupun dia ingin bertemu papanya bisa tinggal datang aja kemari."


"Emm, rumit ya kisah mereka. Tapi papa salut dengan perjuangan cinta tuan Hiroshi. Begitu lama, menunggu sampai anaknya besar tidak bisa bertemu. Tapi sekarang mungkin buah kesabaran dari penantiannya. Memang kalau di Jepang jika keluarga bangsawan harus menikah dengan yang sederajat lagi, setidaknya mempertahankan keturunan dan adat serta aturan yang berlaku di sana."


"Ya begitu, dan Ryu sedang menjalaninya di sana. Aku tidak tahu nasibnya sekarang."


"Terus, kapan kita akan datang ke rumah tuan Hiroshi?"


"Papa sempatnya kapan?"


"Emm, Minggu besok papa bisa. Mama kamu selalu ada kok di rumah."


"Ya udah, Minggu besok kita datang ke rumah tuan Hiroshi. Sekarang rumahnya ibu Tika sudah pindah ke tempat lain pa."


"Begitu ya. Kamu mau menikahi anak tuan Hiroshi, sudah beli rumah juga."


"Aku sedang mencari rumah yang pas pa, sudah ada contohnya sih beberapa. Teman dosen di kampus memberikan beberapa pilihan."


"Bagus itu, papa ngga mau kamu menikahi anak orang belum punya rumah. Setidaknya kamu memberikan kenyamanan pada istrimu nanti."


"Iya pa."


Pembicaraan demi pembicaraan terus berlanjut hingga sore hari. Erick lebih dulu pulang sebelum pak Ronald, karena dia membawa mobil sendiri.


_


_


_.


😊😊😊😊😊😊😊😊😊