V E

V E
38. Dua Hati



Seperti biasanya, laki-laki dengan usia hampir kepala lima itu tetap duduk di kursi yang ada di balkon. Menatap gelapnya malam, memikirkan istrinya yang jauh di sana.


"Harumi, apakah kamu masih mengingatku?" gumam Hiroshi dalam diamnya.


Perasaan rindu dalam hatinya sangat menggebu, dia memejamkan matanya. Dan tak terasa air menetes setitik di sudut mata yang tertutup.


Cepat-cepat dia menghapus sudut mata itu yang menitik perlahan. Di tariknya nafas, lalu membuangnya kasar. Sesak rasanya dadanya kali ini, apa lagi dia mendengar kabar bahwa anak buah ayahnya sudah bertindak jauh sesuai perintahnya.


Dia berpikir, apakah lebih baik dia tinggalkan negaranya dan menemui istrinya?


Hidup dengan bahagia bersama istri dan anaknya. Sudah hampir sembilan belas tahun dia tidak melihat wajah anaknya. Sebesar apa anaknya itu.


Tiba-tiba senyumnya mengembang, membayangkan wajah anaknya yang lucu ketika dia masih berusia delapan bulan. Ingatan tentang anak kecil merangkak mendekat padanya melintas begitu saja.


"Eiko, kamu sudah gadis pastinya. Mungkin wajahmu mirip dengan mamamu." gumam Hiroshi lagi.


Dia juga ingat Ryu, Ryu yang tampan dan gagah seperti dirinya membuat dia juga tersenyum kembali. Anak laki-lakinya itu sangat baik, penurut juga sangat menyayangi kedua orang tuanya.


Kembali Hiroshi memejamkan matanya, sia mengingat Naomi yang selama hidupnya jarang sekali dia sentuh apa lagi berbicara lebih lama. Bukan apa-apa, hatinya benar-benar sudah terpaut lebih dalam pada Harumi.


Hiroshi merasa bersalah pada istri pertamanya itu, dia dengan setia melayani atau selalu membelanya ketika ada pertemuan keluarga. Tapi itu dia tidak meminta, dia menyesal kenapa tidak bisa membalas kebaikan Naomi, namun dia tidak pernah bertengkar dengan istrinya.


sekali pun tidak pernah ada pertengkaran dengan Naomi. Dia tahu dia salah, namun masalah cinta dan hati tidak bisa ada yang bisa merubah atau memaksanya. Sekali pun hidup bertahun-tahun, tapi hatinya menolak untuk mencintai Naomi.


Rasa penyesalan yang dalam pada dirinya hanya tidak bisa melihat dan mendampingi anak dari perempuan yang di cintainya.


Kembali Hiroshi menangis dalam diam, dalam dua sisi yang susah sekali untuk menentukan pilihan, tapi dia berpikir sudah cukup menderita dirinya. Mungkin juga Harumi dan anaknya.


Hidup dalam kesusahan dan bersembunyi dari kejaran ayahnya.


Suara derap langkah kaki mendekat pada Hiroshi,dia tahu Naomi bangun dan mendekat padanya.


Ada bayangan di depannya, berhenti di belakang Hiroshi yang duduk di kursi kesayangannya. Tangan Hiroshi menangkup wajahnya dan jari-jarinya menekan kedua matanya yang hampir basah.


Dia menoleh ke belakang, menatap Naomi yang masih terpaku di tempatnya. Hiroshi bangun dari duduknya dan mendekat pada Naomi.


"Suamiku, kenapa kamu diam saja?" tanya Naomi.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Naomi. Maafkan aku telah banyak mengecewakanmu." kata Hiroshi.


"Kejarlah cintamu, jangan lagi seperti ini. Menyendiri dan tidak pernah istirahat. Jaga kesehatanmu, bukankah sebentar lagi kamu menyelesaikan semua janjimu pada ayah?" kata Naomi.


Hiroshi diam, dia menghela nafas panjang. Sungguh, dia merasa bersalah pada Naomi.


"Naomi, maafkan aku. Aku belum bisa menjadi suami yang baik bagimu." kata Hiroshi.


"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Kamu seperti itu juga ada sebabnya, aku di akui oleh keluargamu dan kamu juga sudah cukup bagiku. Memang sangat sakit jika orang yang kita sayang tidak bisa kita temui. Temuilah dia, jangan sampai kamu menyesal nantinya." kata Naomi lagi.


Perih, namun dia bisa apa. Hanya bisa memberi semangat dan dukungan pada suaminya itu. Dia juga merasa bersalah kenapa mau menerima perjodohan dengan Hiroshi.


Memang keluarga mereka sangat sarat sekali dengan aturan kebangsawanan, namun dalam hati kecilnya dulu berharap Hiroshi bisa mencintainya. Tapi nyatanya sampai sembilan belas tahun cinta itu hanya ada untuk Harumi.


Naif sekali hidupnya, tapi semua sudah berlalu. Yang dia pikirkan sekarang adalah kebahagiaan anaknya Ryu, dia di akui keluarga besar Takeshi Haibara. Keluarga besar mertuanya yang sangat memegang teguh peraturan dan keluarganya Takeda.


Sedangkan Tika Harumi dan anaknya sama sekali tidak di akui, apa lagi mendapatkan gelar. Hanya dapat cinta suaminya, itu pun hilang selama ebilan belas tahun karena janji Hiroshi pada ayahnya Takahiro.


Minggu depan dia akan berangkat ke Indonesia, untuk menemui istrinya dan anaknya.


_


Sedangkan di rumah ibu Tika, malam sudah mulai beranjak pagi. Dia juga sudah mulai bangun dan pergi ke kamar mandi, sekarang sudah pukul tiga tiga puluh dini hari.


Waktu masih begitu panjang untuk menjemput rezeki, ibu Tika mengambil air wudhu dan akan menunaikan sholat malam seperti biasanya.


Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat ini. Sejak sore hari entah kenapa dia kepikiran suaminya di negeri sakura itu. Entahlah, kenapa tiba-tiba hatinya gelisah.


Makanya dia mengambil air wudhu dan akan melakukan sholat malak, meminta pengampunan dan ketenangan hati yang sejak tadi sore dia merasa gelisah.


Entah karena Ryu yang kemarin menemuinya atau memang dia saat ini sedang merindukan suaminya Hiroshi.


Sudah hampir sembilan belas tahun, dan di tahun ini dia merasakan kegelisahan yang teramat dalam. Ada apakah ini? pikir ibu Tika.


Setelah mengambil air wudhu, kemudian dia mengambil mukenah dan segera menunaikan sholat malam.


Dua rokaat sunah tahajud dan tiga rokaat sunah witir, kemudian dia berzikir dan berdoa memohon ampun serta meminta ketenangan jiwa dan hatinya.


"Ya Allah, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Mengasihi dan Maha Segalanya. Ampunkan hamba yang telah khilaf selama ini. Membiarkan hamba yang selalu bergelut dalam gelapnya dunia. Selalu gelisah, takut dan cemas akan hidup yang fana ini.


Sudah lama perasaan ini tidak ada lagi, tapi kenapa sekarang aku mengingat dan merindukan suamiku? Apakah takdirMu untukku sedang berlaku untukku?"


Ibu Tika terus berdoa dan mengadu pada Tuhan, tentang kegelisahan hatinya.


Setelah satu jam dia mengadu pada Tuhan, kini dia melepas mukenahnya dan pergi menuju dapur. Ada ketenangan di hatinya setelah dia mengadu pada Tuhan tentang kegelisahannya sejak tadi.


Sembari menunggu waktu sholat subuh, dan azan berkumandang di mushola. Ibu Tika menyiapkan bahan untuk membuat bronis yang pagi nanti dia titipkan ke warung-warung sekolah.


Kali ini tidak banyak yang dia buat, hanya beberapa loyang saja karena kemarin masih ada sisa sedikit.


Rasa gelisah juga yang mempengaruhi saat ini untuk enggan membuat bronis terlalu banyak. Tapi ibu Tika harus membuatnya, karena tidak dia akan selalu di tanya oleh pelanggannya.


"Bu, sudah bangun?" tanya Ve memegang pundak ibunya.


"Setiap pagi juga ibu sudah bangun, kamu saja yang malas bangun pagi. Sekarang tumben banget bangun sebelum azan berkumandang." jawab ibu Tika yang sedang mencampur beberapa bahan.


"Heheh, aku kadang lelah bu. Jadi suka terlambat bangun." kata Ve beralasan.


"Lebih baik kamu mandi sana dan bersiap sholat subuh. Ibu tinggal menunggu azan subuh, baru ibu sholat." kata ibu Tika.


Ve mengangguk, dia lalu pergi menuju kamar mandi untuk menyikat gigi saja dan mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊