
Ryu semakin kesal dengan kakeknya itu, dia memang tidak punya perasaan kasihan. Bagi kakeknya harkat, martabat dan kehormatan yang terpenting, urusan perasaan kasihan dan cinta tidak terpikir olehnya.
"Aaaah!!" Ryu berteriak kencang di dalam kamarnya.
Tamada masuk ke kamar Ryu dengan cepat, dia melihat majikannya itu sedang berterikak dan menatap ke arah jendela kamarnya.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya Tamada.
Ryu membuang nafas kasar, entah kenapa tadi di hadapan kakeknya dia tidak bisa berkutik. Hanya bisa menahan kekesalaannya saja.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Bagaimana kabar papa dan Eiko?" tanya Ryu.
Dia tahu Hiroshi dan Ve sedang jalan-jalan di ouar Tokyo. Sengaja papanya keluar kota Tokyo membawa Ve, agar tidak terjadi keributan. Meski ada wartawan yang mengikuti kemana perginya Hiroshi dengan Ve.
"Tamada, kita harus membuat rencana matang. Sepertinya kakek sudah tidak peduli lagi dengan papa yang sedang bahagia bertemu adikku." kata Ryu.
"Apa rencana anda tuan?" tanya Tamada.
"Emm, aku belum tahu. Tapi aku terlintas rencana yang cukup mengejutkan bagi mereka dan ini terlalu beresiko." kata Ryu.
"Aku pikir anda akan menghilangkan jejak tuan Hiroshi?"
"Tepat, tapi lebih pada penghilangan namanya."
"Kenapa anda mempunyai rencana itu?"
"Aku pikir, lebih baik seperti itu. Itu terlintas di pikiranku, karena aku kasihan dengan papa. Papa terlalu naif, dan kurasa ini memang baik untuk semuanya. Bayangkan jika rencana itu berhasil, papa bisa hidup tenang dengan Eiko dan ibu Harumi. Aku bisa mengunjungi mereka kapanpun, dan kakek juga tidak perlu repot menjaga nama baik keluarga. Mama? Mungkin mama yang akan sedih, tapi bisa di atasi dengan bertemu kapan saja dengan papa." ucap Ryu dengan rencana besarnya.
Memang rencananya itu sangat beresiko, dia hanya berpikir dari pada Hiroshi jatuh pada kakeknya. Mending dia yang menyelamatkan dengan cara yang terlalu beresiko besar.
Tamada tampak berpikir keras, haruskah di jalankan rencana seperti itu? Tapi di pikir-pikir memang itu yang terbaik. Semua akan menganggap sudah jadi kehendak Tuhan.
"Ini perlu di bicarakan dengan tuan Hiroshi. Apa anda akan membicarakannya pada papa anda tuan Ryu?" tanya Tamada.
"Ku pikir, namun apakah lebih baik jika kita rundingkan saja dengan asisten papa. Dia sebenarnya sangat cerdik, namun papa selalu melarang dia berbuat lebih. Memang perhitungannya juga harus matang." kata Ryu.
"Benar tuan, lalu kapan adik anda pulang ke negerinya?"
"Lusa, kemungkinan lusa juga kakek akan merencanakan sesuatu untuk Eiko. Aku juga harus menghubungi Erick agar dia yang membawa Eiko pergi, bukan papa." kata Ryu
"Bisa kita langsung jalankan tuan?"
"Bisa, tapi ini harus cepat. Karena waktu sudah mepes sekali."
"Baiklah, sekarang saya akan menghubungi asisten papa anda, dan anda harus segera menghubungi sahabat anda secepatnya." kata Tamada.
"Oke, sekarang kita bergerak cepat. Aku tidak tahu ini baik atau tidak, tapi kurasa saat ini memang itu yang harus di jalankan. Papa sepertinya sudah tidak peduli dengan aturan keluarga kakek. Dia merasa sudah cukup menjalankan hukumab dan janjinya pada kakek."
Setelah bicara seperti itu, Ryu langsung menghubungi Erick. Dia menyuruh Erick secepatnya pulang ke apartemennya, dia tahu Hiroshi sedang bersenang-senang di luar kota Tokyo dengan Eiko.
Kemudian Ryu juga pulang ke apartemennya, sedangkan Tamada sedang menghubungi asisten Hiroshi.
_
"Lo gila apa? Rencana seperti itu?" teriak Erick.
"Sssst, itu gue lakukan demi kebaikan semuanya. Demi papa, demi Eiko juga ibu Harumi. Dan yang terpenting demi keluarga Takahiro yang akan terjaga nama baiknya." kata Ryu.
"Tapi itu berbahaya, Ryu. Ada Eiko juga papamu." kata Erick lagi masih belum mengerti maksud rencana Ryu.
"Lebih berbahaya lagi yang terancam adalah Eiko. Kakek tidak segan-segan akan melakukan apapun untuk menyingkirkan Eiko. Gue ngga mau itu terjadi."
Erick diam, dia masih mencerna ucapan Ryu. Memang ada benarnya juga, keluarga Takahiro itu sangat kuat. Bukan hanya kekuatan mempunyai perusahaan besar di beberapa daerah di Jepang. Tapi juga dia punya kekuatan anak buah, dan juga sejumlah ninja pun dia punya.
Jadi, jika Ryu membawa Ve ke Jepang. Sebenarnya sudah tahu. Tapi Heiji memang tidak segera melaporkannya karena ada beberapa kegaduhan di perusahaan yang di pegangnya, jadi dia tidak fokus dan terlambat memberi informasi pada Takahiro.
Tapi bisa saja kan memberitahu melalui anak buahnya?
Atau memang Heiji merasa kasihan pada Hiroshi. Mengingat dia adalah teman Hiroshi yang di ambil oleh tuan Takahiro sebagai asistennya.
"Bagus, sekarang ayo rencanakan hal ini dengan matang dan sistematis agar nanti tidak meleset. Anggap saja kita sedang bermain petak umpet dengan kakek tua itu." kata Ryu.
"Ck lo kira ini permainan, ini nyawa yang kita pertaruhkan. Ada adik sama papa lo, bisa ngga cari yang lain rencananya?" tanya Erick agar Ryu serius mengenai keselamatan nyawa seseorang.
"Justru dengan cara ini kita bisa menyelamatkan semuanya. Makanya gue ajak lo untuk memikirkan bagaimana agar rencana ini berhasil dengan sempurna. Lo kan dosen matematika, sudah pasti lo akan menghitung dengan benar dan sistematis." jawab Ryu lagi.
"Tapi ini sebuah rencana yang tidak bisa di pastikan akan berhasil, bukan matematika. Sebuah rencana ada saja hal yang tidak terduganya, bisa meleset atau pun gagal. Gue setuju dengan maksud lo untuk menyelamatkan semuanya, tapi nyawa tidak bisa untuk main-main." kata Erick lagi memberikan hal yang rasional tentang rencananya.
"Erick, gue mohon lo dukung rencana gue dan ayo kita lakukan karena waktu sudah mepet. Lo percaya sama gue." kata Ryu lagi meyakinoan Erick.
Erick menatap Ryu tajam, sejujurnya merencanakan untuk mengelabui anak buah tuan Takahiro sangat susah sekali, karena mereka itu orang-orang terlatih dan ada juga bagian ninja. Apa Ryu bisa memastikan itu berhasil.
Yang di incar tuan Takahiro adalah Ve, bukan tuan Hiroshi. Jika tuan Hiroshi mengantar Ve ke bandara untuk pulang ke Indonesia bersamanya, maka kemungkinan mobil akan di cegat di tengah jalan dan Ve akan di culik.
Erick tidak mau itu terjadi, dia akan menyelamatkan Ve dari incaran anak buah tuan Takahiro. Dan jalan satu-satunya yaitu rencana Ryu. Meski mendadak, tapi rencana itu sempurna.
"Baiklah, lalu apa yang harus gue lakukan?" tanya Erick pada akhirnya.
Ryu tersenyum, meski melalui perdebatan panjang. Dia yakin sahabatnya itu menerima rencananya.
Kemudian Ryu menceritakan dan menjelaskan apa yang akan di lakukan. Dia juga menhelaskan kalau asistennya itu sudah memberitahu Hiroshi melalui asistennya lagi, karena Hiroshi sendiri tidak di beritahu karena sedang menikmati kebersamaan dengan anaknya di pulau Izu.
Hiroshi membawa Ve jalan-jalan di kota tersebut selama ada di sana. Dan besok baru bisa kembali ke apartemen Ryu.
Setelah merundingkan rencana, kini Ryu harus kembali ke rumah utama agar dia tidak di curigai oleh kakeknya.
"Gue pulang dulu, lo hati-hati di sini." pesan Ryu pada Erick.
"Kenapa lo ngga menginap saja di sini?" tanya Erick.
"Gue ngga bisa, saat ini gue juga pasti sedang di awasi. Kemarin malam kakek tua itu sangat marah sama gue karena membawan Eiko ke Jepang." kata Ryu.
"Baiklah, gue juga ngga mau lo tambah repot karena gue ada di sini. Terus, bagaimana rencananya maksud gue kapan itu di laksanakan?"
"Emm, gue sudah bilang ketika lo dan Eiko pulang lusa. Kemungkinan saat itu kakek menjalankan rencananya." jawab Ryu.
"Oke, gue akan jaga Eiko dan lo harus memastikan tuan Hiroshi baik-baik saja." kata Erick.
"Jangan khawatir, lo lakukan bagian lo menjaga Eiko. Gue akan jaga papa dan menyembunyikan identitasnya juga. Dan setelah keadaan membaik, papa harus pulang ke Indonesia, menemui anak dam istrinya."
"Lo ngga keberatan tuan Hiroshi akan tinggal di sana dengan status dan nama berbeda?"
"Ngga, gue bisa mengunjungi beliau nanti. Gue punya alasan untuk datang ke sana."
"Ya, itu memang sempurna. Good luck ya."
Ryu mengangguk, mereka lalu berpelukan dan saling menepuk punggung masing-masing. Kini keduanya berubah jadi tegang karena rencana itu belum terlaksana dan harus berhasil.
Ryu pun pulang ke rumah utama. Dia menaiki mobilnya, dan benar saja di belakang mobilnya ada sebuah mobil yang mengikutinya. Ryu tersenyum sinis, dia kemudian menghubungi Tamada.
"Halo, bagaimana apakah kamu sudah menemui Sinjo dan menjelaskan rencana kita?"
"Sudah tuan, dia setuju dengan rencana kita. Dan dia akan mengikuti apa yang akan kita lakukan." jawab Tamada.
"Bagus, besok suruh asisten Sinjo bertemu denganku di kafe yang biasa itu."
"Baik tuan."
Ryu lalu menutup sambunagn teleponnya dengan Tamada. Dia berpikir sekarang waktunya adu kecerdikan dengan kakeknya Takahiro.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊