
Pukul dua siang, Ve baru keluar dari kelasnya, rencananya dia akan minta antar Gilang pulang naik motornya. Namun sialnya Gilang tidak hadir di kelasnya, dia bahkan tidak menitip absen pada ketua kelas.
"Mon, lo ngga tahu kenapa Gilang ngga masuk?" tanya Ve pada ketua kelas bernama Ramon.
"Ngga, dia juga ngga ngasih kabar ke gue. Emang ada apa sih nanya Gilang? Lo naksir?" ucap Ramon membuat Ve mencebikkan bibirnya.
"Gilang itu cuma temen gue, lo kenapa jadi serius gitu nanggepin pertanyaan gue?" tanya Ve.
"Ya ngga apa-apa, cuma nanya aja." kata Ramon.
"Ck, terus gue pulang sama siapa ya?" gumam Ve.
Dia lalu menuju gerbang kampus menunggu angkot. Terpaksa dia naik angkot, Andre juga masih ada kelas.
Ve melirik jam besar model sporty berwarna hitam, dia melihat jarum sudah menunjuk ke angka dua tiga puluh.
Angkot jurusan daerahnya belum juga lewat, dia sedikit gelisah karena jam tiga harus sudah ada di rumah karena seperti biasa ibunya menyuruh mengantar kue pesanannya.
Tiin tiiin
Suara klakson mobil ayla berwarna merah menyala membuat Ve kaget. Dia melihat mobil itu berhenti tepat di sampingnya. Pengemudi itu membuka kaca jendelanya dan melongokkan kepalanya ke arah Ve.
"Ve, kamu mau pulang?" tanya pemilik mobil ayla itu.
"Iya pak Erick." jawab Ve.
"Ya udah, ayo saya antar sekalian." ajak Erick.
"Ngga usah pak, nanti merepotkan." ucap Ve menolak dengan halus.
"Jangan menolak, aku tahu kamu sedang buru-buru kan?" ucap Erick seolah tahu pikiran Ve.
"Ngga usah pak, biar saya naik angkot aja." Ve menolak lagi.
"Jadi kamu mau nilai mata kuliahku dapat nilai E?" ancam Erick.
Ve merengut lucu, Erick ingin tertawa dengan tingkah Ve tapi dia tahan.
"Cepat Ve!"
Dan Ve mau tak mau akhirnya menurut, dia membuka pintu mobil Erick. Sedangkan dari jauh melihat Ve masuk ke dalam mobil ayla milik Erick.
"Waah, bisa jadi bahan gosip nih." ucap gadis yang sejak tadi memperhatikan Ve berbicara dengan Erick.
Sampai mobil Erick melaju, gadis yang bernama Saskia itu menuju kelasnya. Memberitahukan tentang apa yang dia lihat tadi di gerbang kampus.
_
Di perjalanan Ve masih diam, dia bingung dan segan berbicara dengan dosennya itu. Sedangkan Erick melihat Ve diam saja jadi heran.
"Kenapa kamu diam?" tanya Erick.
"Ngga apa-apa, pak." jawab Ve.
Dia heran kenapa Erick seperti akrab sekali dengannya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Erick lagi.
"Di jalan Gelora pak, dekat dengan klub karate Berbangsa." jawab Ve.
"Oh, daerah situ. Saya juga mau ke daerah itu, mau menemui seseorang yang pernah mengantar adikku pulang." ucap Erick.
Ve hanya mendengarkan saja, tanpa mau mencari tahu siapa yang di katakan Erick itu.
Selanjutnya, tidak ada pembicaraan lagi karena Ve lebih memilih diam dan tidak banyak ingin tahu.
Erick sendiri pun sama, dia ingin cepat sampai di klub di mana adiknya berlatih karate. Ya, dia ingin bertemu dengan pelatih Jody yang mengantarkannya pulang waktu itu.
Ve melihat jalan gang menuju rumahnya, lalu dia menyetop mobil Erick.
"Pak, stop sampe di sini aja." ucap Ve.
"Rumah kamu di mananya?" tanya Erick.
"Masuk gang, pak."
" Oh, masuk gang ya."
"Iya, terima kasih pak Erick telah mengantar saya." ucap Ve.
"Tidak masalah, kan tujuan kita satu arah."
Lalu Ve keluar dari mobil Erick, Erick sendiri menatap perginya Ve masuk ke dalam gang dan berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang di mana Erick masih di sana.
Tak lama, Erick menyetir kembali mobilnya untuk melajukan ke klub di mana Jody. Tapi di balik itu ada perjuangan panjang Erick menegenai adiknya.
_
Lama Erick menunggu kedatangan pelatih karate Jody. Hingga Arfan yang sejak tadi melihat Erick seperti santai saja menelepon Ve untuk segera datang.
"Ve, lo kenapa lama banget datangnya?" tanya Arfan di telepon.
"Maaf bang, ini ada insiden kecil. Gue jatuh dari sepeda." ucap Ve.
"Jatuh dari sepeda? Terus lo ngga kenapa-kenapa?"
"Ngga bang, aman gue sih. Tapi sepeda gue bengkok. Hehe..."
"Ya sudah, cepat kesini. Pak Jeff nunggu kamu dari tadi."
"Iya bang, bentar lagi nyampe kok."
Sambungan telepon terputus. Kini Arfan yang melatih anak-anak, karena sepertinya Ve tidak bisa melatih anak-anak tersebut.
Erick melihat Arfan melatih sungguh sangat tegas. Dia tersenyum ketika adiknya di suruh maju dan mempraktekan gerakan awal.
Tak lama Ve datang dengan menuntun sepeda yang penyok roda depannya. Dia meletakkan sepeda di samping. Erick melihat Ve meletakkan sepeda dan langsung masuk ke dalam tanpa melihat ke arahnya.
Erick heran, kenapa Ve ada di sini.
"Bang, maaf ya gue telat lagi. Hehe.." ucap Ve pada Arfan.
"Kaki lo terkilir?" tanya Arfan.
"Nggo kok bang." jawab Ve.
"Udah, kamu duduk aja biar nanti gue benerin kaki lo."
Ve pun menurut, dia duduk di kursi dan kaki Ve di pegang oleh Arfan. Dia meraba bagian kaki Ve yang tadi terasa sakit jika berjalan.
Erick melihat pemandangan itu jadi aneh, dia lalu masuk dan mendekat pada keduanya. Memperhatikan apa yang di lakukan Arfan pada Ve.
"Ve, kakimu kenapa?" tanya Erick.
Ve di sapa seperti itu mendongak ke arah suara tersebut. Dia terperanjat dan berdiri secara tiba-tiba.
"Eh, pak Erick. Kenapa ada di sini?" tanya Ve gugup.
Arfan menoleh ke arah Erick dan mengerutkan dahinya.
"Saya menunggu adik saya selesai berlatih, kamu kenapa kakinya?" tanya Erick lagi.
"Pak Jeff kenal Ve?" tanya Arfan.
"Iya, dia kan muridku di kampus." jawab Erick menatap Ve.
Ve tertinduk, dia lalu berjalan menjauh tapi kakinya masih terasa sakit.
"Oh, jadi Ve ini mahasiswa anda pak Jeff. Dia ini yang melatih anak-anak karate di sini, dan yang waktu itu mengantar adik anda pulang." ucap Arfan.
"Ooh, jadi Ve orangnya ya." kata Erick.
Dia lalu melihat Ve sedang memberikan pengarahan pada sepuluh anak didiknya dalam karate. Erick tersenyum melihat Ve begitu santai menyampaikan pengarahan meski kakinya kesakitan.
"Kaki Ve kenapa pak Arfan?" tanya Erick.
"Tadi dia jatuh katanya dari sepeda, biasanya dia naik motor. Mungkin motornya mogok." jawab Arfan.
Erick kembali memandang Ve, kini anak-anak itu duduk bersila dan masih mendengarkan Ve bicara.
"Adek-adek, maaf ya. Kakak hari ini tidak bisa melatih kalian. Kakak tadi habis jatuh dari sepeda, jadi maaf ya. Mungkin bang Arfan yang melatih kalian hari ini." kata Ve.
"Yaah, kak Ve. Ngga asyik kalau sama bang Arfan." ucap salah satu anak itu.
"Kan cuma hari ini aja kakak ngga latih kalian." kata Ve lagi.
Waktu terus beranjak sore, bercerita dan memberi pengarahan cukup bagi Ve dan Arfan.
Kini saatnya membubarkan latihan. Ve lalu menghampiri Arfan.
"Bang, memang pak Erick itu mau apa?" tanya Ve penasaran.
"Dia mau berterima kasih sama kamu waktu itu telah mengantar adiknya, siapa itu namanya?"
"Emm, Jody bang. Lalu udah kan itu saja?"
"Ya abang ngga tahu Ve, terserah pak Jeff aja."
Ve diam, dia duduk di kursi tadi.
Erick mendekat dan berdiri di depan Ve, Ve mengangkat kepalanya. Dia lalu berdiri, merasa tidak nyaman di tatap seperti itu.
"Udah kamu duduk aja, kaki kamu kan belum sembuh benar." ucap Erick, dia berjongkok dan memegang kaki Ve.
"Eh, pak Erick mau apa?" tanya Ve kaget.
"Udah kamu diam aja, aku mau memeriksa kaki kamu. Siapa tahu bisa nyembuhin kakimu." ucap Erick.
Ada yang aneh di pendengaran Ve, kenapa pak Erick memanggil dirinya aku? Aku Kamu? Eh..
Erick mengurut perlahan kaki Ve, di urutnya beberapa kali dan Ve terlihat meringis. Dia memegang kursi kuat menahan rasa sakit di kakinya.
Arfan melihat Erick begitu dekat dengan Ve seperti ada kedekatan secara emosional. Dia pun mendekat.
"Aduuuh, baang sakit banget." teriak Ve.
"Tahan Ve, pak Jeff rupanya bisa juga mengurut otot terkilir ya." kata Arfan.
"Sedikit tahu pak Arfan, kalau yang di alami Ve sih saya bisa mengurutnya. Nah, sudah. Kamu bisa jalan lagi tapi tunggu beberapa menit lagi." ucap Erick.
Ve pun merasa lebih baik kakinya. Tidak seperti tadi ketika jalan menuju ke klub.
"Kamu pulangnya bagaimana?" tanya Erick.
"Saya pulang di antar bang Arfan aja, pak. Dekat kok dari sini." jawab Ve melirik pada Arfan.
"Ya sudah, lagi pula mobilku tidak bisa masuk gang rumah kamu kan".
Ve mengangguk, dia masih duduk. Sedangkan Erick berdiri dan berpamitan pada Ve dan Arfan.
"Saya pulang dulu pak Arfan, mungkin lain kali saya berterima kasih sama Ve." ucap Erick menatap Ve.
"Iya pak Jeff, saya juga berterima kasih karena sudah menolong Ve."
"Itu hal kecil."
"Terima kasih pak Erick." ucap Ve menundukkan kepala.
Erick hanya tersenyum, dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Ve dan Arfan.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊