V E

V E
18. Ve Lagi Ve Lagi



Sepulang Ve ke rumahnya, Erick masih di klub untuk sekedar ngobrol- ngobrol dengan Arfan dan Ivan. Dia juga selalu bertanya tentang Ve dari Arfan dan Ivan.


"Jadi pak Jeff ini dosennya Ve?" tanya Ivan yang baru tahu mengenai Erick.


"Ya begitulah, Ve itu termasuk mahasiswa yang rajin di kampus. Jadi saya kagum sama dia." jawab Erick.


"Kagum apa suka pak Jeff?" ledek Arfan.


"Hahaha, di bilang suka bisa juga. Karena Ve termasuk orang yang unik." kata Erick.


Dari mulai sini dia akan mencari tahu lebih dalam tentang Ve.


"Ya memang, Ve itu sebenarnya sangat mengagumkan. Jika saya belum punya istri pun mungkin saya suka dengan Ve." kata Arfan tanpa di sadarinya.


Erick terdiam, dia terlihat tidak suka jika Ve ada yang menyukainya. Tapi, eh?


"Waah, benar bang Arfan. Ternyata pak Jeff suka sama Ve. Hahaha.." timpal Ivan.


Wajah Erick memerah menahan malu, Arfan tahu dari perubahan wajah Erick. Dia hanya tersenyum saja.


"Tenang pak Jeff, Ve itu sudah saya anggap adik sendiri kok. Umur saya dengan Ve itu terpaut jauh, tujuh tahun. Dan saya sudah punya istri." kata Arfan.


Lagi-lagi Erick tersenyum malu. Tapi benarkah dia menyukai Ve.


"Dia hanya mahasiswa saya saja pak Arfan."


"Tapi banyak lho dosen yang menikahi mahasiswanya. Contohnya saja, ayah saya. Beliau juga dulunya dosen dan menikah dengan ibu mahasiswanya di kampusnya." Ivan menyahuti.


"Ya benar, banyak kok yang seperti itu. Saya belum memastikan hati saya sih, pekerjaan saya menguras pikiran dan ya sibuk juga." kata Erick.


Semua diam, belum ada yang menyahuti ucapan Erick.


"Pak Jeff, saya sedikit tahu tentang Ve. Dia dulu itu murid saya juga di klub ini, jadi dia ku angkat jadi pelatih di sini. Sebelumnya memang kehidupan Ve itu sangat sederhana. Dulu orang-orang sekitar kompleksnya memganggap Ve itu anak haram. Setelah di jelaskan oleh pak erte setempat yang dulu bahwa Ve anak yatim. Memang agak aneh sih, jika Ve anak yatim harusnya dia tahu nama ayahnya dan kuburannya juga jika memang meninggal. Tapi jika di tanya selalu ibunya bilang jauh kuburannya." kata Arfan.


Erick menyimak dengan serius. Ini yang dia cari, pikir Erick.


"Terus,ibunya bagaimana ketika Ve bertanya seperti itu?" tanya Erick.


"Kalau Ve sih dia santai. Mau ayahnya meninggal atau pun masih ada dia tetap tegar dan ngga mikirin itu. Saya saja salut sama dia, dia ngga jelas ayahnya meninggal atau masih ada dia tidak pernah memikirkannya. Saya pernah bertanya, apa tidak merindukan ayahnya? Dia bilang, cukup ibu saja. Karena memang dia hanya punya ibu Tika, dan dia anaknya penurut sebenarnya." kata Arfan lagi.


Erick masih terus mendengarkan penjelasan Arfan tentang Ve, dia sangat tertarik dengan kehidupan Ve. Dia juga masih penasaran dengan ayah Ve, masih sebuah misteri.


"Apa ada yang tahu, ketika ibunya Ve datang ke kampung itu dia dari mana?" tanya Erick dengan antusias.


"Emm, kurang tahu tuh. Sahabat Ve kayaknya tahu banyak tentang Ve dulu." kata Arfan.


"Siapa?"


"Andre, dia itu tetangga Ve dan memang sahabat Ve dari kecil. Kurasa ibunya Andre tahu tentang cerita Ve dan ibunya." jawab Arfan lagi.


Erick tampak manggut-manggut memgerti, lalu dia tersenyum. Karena kemarin dia bertemu dengan Andre dan belum bicara banyak pada pemuda itu.


Dia kini mengerutkan dahinya, heran kenapa Erick begitu antusias ingin mengetahui tentang Ve.


"Pak Jeff, apakah emang anda suka sama Ve?" tanya Arfan.


"Eh?"


"Kak Erick, ayo cepat pulang. Udah sore ni." teriak Jody dari jauh dengan kesal kakaknya itu lama sekali ngobrolnya.


"Iya bentar." jawab Erick.


Dia lalu berpamitan dengan Arfan dan Ivan.


"Terima kasih atas ceritanya pak Arfan, lain kali saya tanya-tanya lagi tentang Ve." kata Erick.


"Waah, ternyata benar pak Jeff suka sama Ve. Heheh.." ucap Arfan sambil tertawa.


"Hahah, setelah mendengar cerita pak Arfan kok saya jadi tertarik dengan Ve ya, hahaha!" ucap Erick menutupi rasa malunya.


"Tidak apa-apa pak Jeff, Ve itu baik kok. Pak Jeff tahu kan dia sangat memperhatikan anak-anak di setiap latihannya." kata Arfan lagi.


"Ya saya tahu pak Arfan. Kalau begitu saya pulang dulu, Jody tidak sabar ingin pulang." kata Erick.


Kemudian Erick melangkah pergi meninggalkan Arfan dan Ivan. Mereka berdua memandangi punggung Erick sampai dia tidak terlihat lagi.


_


Erick kini lebih cenderung menyelidiki Ve dari pada Rosi. Karena Ve memang banyak sekali rahasianya di ketahui oleh orang yabg dekat dengannya.


Namun rasa penasaran siapa suami ibunya Ve itu terus menggelitik pikiran Erick.


Dan lagi-lagi telepon dari ponsel Erick berbunyi.


Ryu.


Erick menggeser tombol hijau dan di tempelkan di telinganya.


"Halo Ryu, bagaimana?" tanya Erick.


"Gue tahu sedikit dari mama, kalau papa itu memang sebelum menikah dengan mama sudah punya kekasih orang Indonesia. Karena kakek tidak setuju, dan memaksa menikah dengan mama. Satu tahun kemudian gue lahir, dan papa menikah dengan kekasihnya. Nah papa dan istrinya itu punya anak, katanya perempuan. lima tahun lebih muda dari gue."


"Terus, lo tahu tahun kelahiran adik lo itu?" tanya Erick.


Karena dia ingin mencocokkan tahun lahir Ve dengan adik Ryu itu.


"Katanya dia sekarang berumur dua puluh tahun. Tapi gue ngga tahu juga. Saat meninggalkan Jepang adik gue itu berumur satu tahun. Gue sempat bertemu ibunya Ve waktu kecil, tapi kalau sekarang bertemu akan lupa." kata Ryu.


"Apa lo berkunjung saja ke sini? Biar tahu kehidupan adik lo seperti apa."


"Hei, lo sudah menemukan adikku?"


"Tidak, belum. Hanya saja gue menenal satu cewek dan dia sangat misterius tentang keluarganya."


"Emm, mungkin bulan depan gue jadwalkan berkunjung ke negaramu."


"Oke, gue tunggu."


Setelah berbincang agak lama, Erick memutuskan sambungan teleponnya.


Kemudian dia menghelan nafas panjang, kini dia memikirkan bagaimana mendekati Andre dan mencari tahu tentang Ve.


Tapi, apakah tidak di curigai kalau aku mencari tahu dari dia? tanya Erick dalam hati.


Dia membayangkan Ve saat ini, apakah benar dia menyukai Ve? Gadis tomboy dan penurut tapi dia sangat cuek dan santai.


Di kelas juga tidak terlalu menonjol, hanya namanya saja yang terlalu singkat dan itu membuatnya penasaran.


Tapi teman-temannya biasa saja dengan nama pendek itu, apakah ada yang merasa penasaran kenapa Ve bisa di panggil Ve dan tidak tahu sejarahnya.


"Baiklah, pikiranku sekarang di penuhi dengan nama Ve. Mungkin aku menyukai Ve, tapi aku ngga sadar." gumam Erick.


"Kak Erick sedang apa sih? Kok nyebut-nyebut nama kak Ve terus." tanya Jody.


Dia menghampiri kakaknya di ruang kerjanya.


"Lo tau apa anak kecil? Sudah sana belajar aja." ucap Erick.


"Yee, ini aku mau belajar sama kakak. Aku ngga bisa peer hitungan matematika ini." kata Jody menunjuk sebuah tulisan di buku.


"Duh Jody, kakak malu kalau kamu ngga bisa matematika sedangkan kakak dosen matematika." ucap Erick.


"Makanya ajarin Jody matematika, jangan mikirin kak Ve terus." kilah Jody.


"Berisik kamu, sudah sini bukunya. Kamu duduk sebelah kakak." ucap Erick.


Jody menurut, dia duduk di sebelah Erick dan melihat laptop yang masih menyala. Terlihat wajag poto Ve cukup besar.


"Waaah, benar-benar kak Erick suka sama kak Ve ya." kata Jody memperhatikan laptop kakaknya.


Erick buru-buru menutup laptopnya, dan menatap tajam pada adiknya itu.


"Kalian kenapa berdebat begitu?" tanya pak Ronald ayah Erick dan Jody.


"Ngga pa, aku lagi ngajarin Jody matematika." kata Erick.


"Bohong pa, kak Erick lagi melihat poto cewek, cant....." ucapan Jody terpotong karena tangan Erick membungkam mulut adiknya itu.


"Sudah, sudah papa cuma minta laporan di kantor dari kamu Erick." kata pak Ronald.


"Maaf pa, belum selesai. Kan aku berangkatnya ke kampus ngga ke perusahaan." jawab Erick


Pak Ronald menghela nafas panjang, lalu dia pergi tanpa berkata apa-apa pada kedua anaknya itu.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊