
Gosip makin santer dengan caption berbagai macam, banyak yang di tambahin dan juga makin di besar-besarkan.
Ve sendiri santai menghadapi gosip tersebut, dia merasa tidak seperti itu. Jadi jika ada yang menyindirnya ketika dia lewat, dia diam saja. Yang penting dia tidak merugikan orang, pikirnya.
Namun dengan santernya gosip tersebut, dosen yang sering masuk ke kelas Ve jadi menatap Ve sinis, terutama dosen perempuan. Ada saja ucapan menyindir di sela-sela penjelasannya.
Dan lagi-lagi Ve tidak ambil pusing, toh nilai mata kuliah bukan gosip yang menentukan. Pikir Ve lagi.
Ve sedang menaiki motornya hendak pulang, namun dia tiba-tiba di cegah oleh Simon.
Ve kaget, kenapa Simon mencegahnya untuk pergi?
"Lo mau apa, Simon?" tanya Ve kesal.
Simon diam, dia tersenyum sinis pada Ve dan berkata hal yang membuat Ve heran.
"Jadi lo ngga mau sama gue karena lo jadi simpanan om om ya?" kata Simon.
Ve mengerutkan dahi, aneh dengan ucapan Simon. Dia menggelengkan kepala, lalu berusaha menarik motornya dari tangan Simon.
"Lepas ngga?" tanya Ve sedikit berteriak.
"Lo di bayar berapa sama om om di hotel?" tanya Simon semakin melecehkan Ve.
Ve masih sabar, dia diam menatap Simon. Dia memilih tidak meladeni Simon yang terlihat cemburu. Tapi Simon tetap menahannya, kemudian menarik lengan Ve.
Tentu saja Ve menepis tangan Simon yang menarik lengannya.
"Lo kenapa ngga mau? Gue bayar lebih tinggi dari om om yang lo ajak kencan." kata Simon makin melecehkan Ve.
Plak!
Tangan Ve melayang di pipi Simon, Ve menatap tajam Simon yang memegangi pipinya itu.
"Lo banci!" teriak Ve.
Lalu Ve menjalankan motornya dan dia melaju kencang meninggalkan Simon yang masih memegangi pipinya. Tangan Simon terkepal.
"Awas kamu Ve." ucap Simon.
Andre yang sejak tadi melihat Ve di lecehkan Simon ikut marah padanya. Dia mendekat pada Simon dan menatapnya kesal.
"Lo emang banci, lo suka sama Ve tapi ngga mau ungkapin sendiri. Tapi sekarang lo nuduh sahabat gue dengan tidak berdasar. Gue juga benci sama lo." kata Andre dengan ketus.
Lalu dia pergi meninggalkan Simon yang masih merasakan sakit di tampar oleh Ve.
Dari jauh terlihat seorang gadis tersenyum senang, dia akan menyebarkan beberapa gosip lagi.
_
Ve masih tidak menggubris gosip-gosip itu, dia terus saja berangkat kuliah. Suara sumbang di setiap jalan kampus dan tatapan sinis tidal dia hiraukan.
Dia masuk ke dalam kelas, duduk seperti biada di sebelah Gilang. Gilang sendiri tidak pernah menghindari Ve, namun sikapnya mulai berubah.
"Lo juga ngejauhin gue, Lang?" tanya Ve yang sadar sikap Gilang kini lebih diam.
"Ngga, gue lagi malas ngomong aja." kata Gilang memberi alasan.
Ve menarik nafas panjang, kini saatnya mata kuliah pak Erick. Ve belajar seperti biasa.
"Selamat siang semuanya." sapa Erick pada mahasiswanya di kelas.
Dia mematap Ve sebentar, dingin dan datar saja. Dia tahu gosip banyak beredar memgenai Ve di kampus. Entah dari mana gosip itu, dia melihat foto dan caption di sana jika Ve menjadi sugar baby seorang om om.
Erick menghela nafas panjang, dia akan menghampiri Ve nanti setelah selesai mata kuliahnya.
Dua jam mata kuliah Erick telah usai, dan memang jam terakhir. Kini Ve bergegas pulang, naun Erick malah memberinya tugas.
"Ve tolong kamu bawa buku-buku saya ke ruangan saya." kata Erick.
Ve hanya diam, kemudian Ramon menanggapi.
"Biar saya saja pak yang membawa buku bapak." kata Ramon, karena dia merasa sebagai ketua kelas.
"Saya minta Ve yang bawa, Ramon. Maaf, ini juga sebagai bagian nilai Ve karena minggu kemarin Ve nilai tugasnya kurang." kata Erick memberi alasan.
Ramon diam, dia melihat Ve dan Ve menyanggupinya.
"Baik pak."
Ve berjalan dengan santai, meski ada lagi suara sumbang di sepenjang jalan menuju ruang dosen.
Ve sebenarnya kesal, sudah seminggu ini gosip itu masih saja bergema di kampus. Malah sepertinya sengaja di gaungkan. Siapa biangkeroknya?" pikir Ve.
Dia lalu masuk ke dalam ruang dosen yang kebetulan sudah sepi. Hanya ada beberapa dosen di sana yang sedang sibuk membuat materi kuliah.
Ve masuk ke ruang pak Erick, di sana dia melihat Erick sedang memeriksa laptopnya.
"Duduk Ve, sebentar ya." kata Erick.
"Saya hanya mengantarkan buku bapak saja kok." kata Ve.
"Tapi aku menahanmu, aku ingin bicara denganmu." ucap Erick lagi.
"Saya juga mau cepat pulang pak, mau mengantar kue-kue ibu ke langganan dan melatih anak-anak juga." jawab Ve,
Dia tidak mau gosip bertambah kencang di kampus karena dia lama keluar dari ruang dosen. Erick menghentikan kegiatan mengetiknya dan melihat ke arah Ve.
"Kamu malu dengan gosip-gosip itu?" tanya Erick.
"Tidak, hanya risih. Buat apa saya malu, bukan seperti itu kan kenyataannya?" kata Ve sedikit meninggi suaranya.
Namun dia menghela nafas karena merasa salah meninggikan suaranya pada dosennya.
"Maaf, harusnya aku menuruti ketika kamu meminta di warung kaki lima saja." ucap Erick.
"Sudahlah pak, saya juga salah kenapa tidak langsung pergi." kata Ve.
"Ya sudah jangan hiraukan gosip-gosip tidak benar itu."
"Memang saya tidak pernah menanggapi gosip itu, saya ingin belajar di kampus ini." kata Ve.
"Bagus itu, kamu tidak menanggapi gosip tidak benar tersebut." ucap Erick lagi.
"Saya permisi dulu pak." kata Ve.
Dia kemudian keluar dari ruangan Erick, Erick menatapnya merasa bersalah.
_
Di tempat klub, Ve melatih anak-anak karate dengan sungguh-sungguh. Dia fokus dan anak-anak merasa senang Ve tidak seperti kemarin. Arfan mendekat, dia menlihat Ve sangat telaten melatih anak-anak.
"Pak Arfan, bagaimana dengan perkembangan adik saya? Apakah afa kemajuan?" tanya Erick.
"Oh, lihat saja pak Jeff. Sepertinya banyak kemajuan. Ve melatihnya dengan baik, saat ini anak-anak sangat senang ada penambahan materi dari Ve." jawab Arfan menatap Ve dari jauh.
Erick juga nemperhatikan itu, namun sepertinya Ve terlihat tertekan di wajahnya. Dia melampiaskannya di latihan anak-anak didiknya, tapi dia salut meski begitu Ve tidak memarahi anak-anak yang di latihnya.
Erick merasa bersalah, meminta maaf pun sepertinya tidak bisa membungkan gosip itu. Dia harus mencari tahu siapa yang menyebarkan gosip tersebut.
Lama Erick menunggu adiknya latihan, hingga dia di telepon seseorang yang sangat serius sekali kelihatannya. Sesekali dia menatap Ve di sela sambungan teleponnya.
Setelah selesai, Erick memasukkan ponselnya di saku celananya.
"Pak Arfan, Ve itu anak tunggal?" tanya Erick.
"Iya, dia tinggal di daerah sini. Ibunya berjualan kue sejak dulu. Memangnya kenapa pak Jeff?" tanya Arfan.
"Emm, ada temanku yang mencari adiknya. Dia hilang bersama dengan ibunya. Ah, sudahlah jangan membahas itu. Lalu kemana ya ayah Ve?" tanya Erick lagi.
"Saya tidak tahu pak Jeff, menurut orang sekitar sih ibu Ve itu datang sembilan belas tahun lalu Ve berumur satu tahun kalau tidak salah. Dan ibunya mengatakan kalau ayah Ve sudah meninggal. Jadi Ve itu anak yatim." kata Arfan.
Erick mengangguk cepat. Dia belum memeriksa identitas mahasiswa di kampus itu, dan dia akan mencari tahu tentang Ve.
Karena dari wajahnya, Ve terlihat tidak seperti mahasiswa kebanyakan. Ada aura lain, entah itu apa. Pikir Erick.
Dia juga selalu di desak terus oleh sahabatnya untuk mencari tahu seseorang. Baiklah, besok dia akan mencari tahu di kampus di bagian administrasi, gumam Erick dalam hati.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊