
Siang ini benar-benar membahagiakan bagi Ryu, dia mengajak jalan Hana dengan mobil rental yang dia sewa selama dia ada di daerah itu. Mengajak Hana jalan-jalan dengan petunjuk dan pemandunya itu Hana sendiri.
Mereka sangat menikmati jalan-jalan itu, mengunjungi tempat bersejarah. Karena memang Hana membawa Ryu ke tempat musium serta tempat sejarah lainnya.
Hana ingin mengenalkan tentang sejarah di tempatnya juga di Indonesia. Ryu sendiri sangat kagum dengan Hana, karena Hana tidak meminta jalan-jalan ke tempat hiburan. Malah dia meminta ke tempat musium dan tempat sejarah lainnya.
"Hana, kita mau makan di mana?" tanya Ryu.
"Anda mau makan di mana tuan? Masakan Jepang atau kemana?" tanya balik Hana.
"Aku mau mencoba masakan di daerahmu. Aku pernah makan di restoran Indonesia di Jepang. Apa ya itu yang di tusuk dan di bakar." ucap Ryu seperti mengingat nama makanan.
"Sate?"
"Saa tee?"
"Ya, itu namanya sate. Apa anda ingin makan itu?" tanya Hana.
"Ya, aku suka makan sate." jawab Ryu.
"Baiklah, ayo makan sate di pinggir jalan Sate di pinggir jalan tidak kalah enak dari pada di restoran." ucap Hana.
Ryu tersenyum, dia lalu mengikuti petunjuk sesuai arahan dari Hana menuju subuahwarung sate yang memang terkenal enak.
Mobil Ryu berhenti di tempat warung sate yang memang sedang ramai karena waktunya jam makan siang. Mata Ryu berkeliling, melihat orang-orang yang menunggu di layani untuk makan sate di sana.
Hana pun mengajak Ryu duduk di luar bagian samping yang terlihat rindang tempatnya. Mereka duduk di bawah pohon besar yang kebetulan pengunjung yang duduk di sana baru saja pergi.
"Adem ya tempatnya." kata Ryu.
"Ya, di sini memang tempat favorit bagi pegawai dan anak kuliah untuk makan di sini. Biar pun tempatnya terpencil, di jamin di sini enak banget masakannya dan sangat murah." ujar Hana.
Ryu hanya mengangguk-angguk saja, dia kembali menatap Hana yang baginya siang ini Hana terlihat cantik. Layaknya seorang keturunan keraton, wajah ayu dan anggun juga berwibawa nampak jelas di wajah Hana. Kulit putih bersih meski kelihatannya jarang terawat layaknya seorang gadis seperti biasanya.
Hana menoleh ke arah Ryu yang masih menatapnya, dia salah tingkah dan pipinya berubah memerah. Tampak jelas terlihat, Hana pun menunduk. Lalu membuang muka ke arah lain, entah apa yang di rasakan Hana saat Ryu masih saja menatapnya.
Dan beruntungnya, pelayan datang membawa dua piring sate dengan nasinya. Serta dua gelas es jeruk, menyelamatkan kecanggungan dan rasa malu Hana karena tatapan Ryu tidak juga berhenti sejak tadi. Dan berhenti ketika pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Silakan di nikmati." kata pelayan itu.
"Terima kasih." jawab Hana sambil tersenyum.
Rasa canggungnya belum juga hilang, dia masih saja malu. Namun tidak perlu lama-lama kini Hana menikmati sate yang sudah ada di mejanya. Sedangkan Ryu masih melihatnya dengan memakan sesuap nasi dan satu tusuk sate.
"Anda tidak makan tuan Ryu" tanya Hana.
"Aku akan makan, setelah kamu makan. Bagaimana, apakah enak"
"Tentu saja enak, ini daging. Di masak apa pun kalau daging tetap enak." jawab Hana.
Ryu tertawa renyah, memang benar. Daging di masak apa pun terasa enak.Apa lagi di sate, di bakar dan di makan hangat-hangat akan menambah nikmat makannya.
"Baiklah, ini akan terasa nikmat. Apa lagi makan denganmu." ucap Ryu.
Hana diam, dia kadang malu tapi juga risih karena Ryu terus saja menatapnya juga berkata seperti menggombal.
"Makanlah tuan, jangan terlalu memuji saya. Saya bukanlah apa-apa." kata Hana.
Dia lebih baik menegaskan Ryu agar jangan terlalu sering memujinya. Dan Ryu mencicipi sate kambing muda itu, dia mengunyah dan matanya berkedip tanya sangat menikmati sate kambing muda itu.
_
Kini Ryu dan Hana berada di pantai, Ryu meminta pergi ke pantai. Dan Hana pun menurutinya, dia pikir sekarang dia jadi tourgaid Ryu di Indonesia. Dan dulu dia jadi tourgaid adiknya. Memang sangat lucu, tapi itulah kehidupan.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Ryu ketika melihat Hana tersenyum sendiri.
"Hidup ini kadang kebetulan ya, dulu di Tokyo saya jadi tourgaid adik anda. Sekarang di sini, saya menjadi tourgaid anda tuan Ryu." jawab Hana menatap lautan luas dari bibir pantai.
"Selama saya bisa tuan Ryu, saya akan antar anda kemana anda mau pergi." jawab Hana.
Kembali hening, hanya terdengar deburan ombak yang dahsyat menerjang beberapa kaki-kaki para wisatawan yang sama-sama sedang berkunjung.
Hati Ryu sama bergemuruhnya seperti ombak menggulung. Dia mengajak Hana menjauh dari bibir pantai agar dia bisa bebas mengatakan apa yang ada di hatinya saat ini.
Hana dan Ryu berjalan agak menjauh dari pantai, di sebuah gubuk mereka duduk saling berhadapan. Hanya tersekat oleh meja kecil di hadapan mereka saja.
"Hana, kamu tahu tujuanku datang menemuimu?" tanya Ryu dengan serius.
"Tidak tuan Ryu." jawab Hana singkat dan jelas.
Di tariknya nafas Ryu dalam, menetralkan kembali degup jantung yang sejak tadi berdetak.
"Hana, tujuanku menemuimu hanya satu." kata Ryu menjeda ucapannya.
Berharap Hana bertanya lagi karena penasaran. Tapi Ryu sia-sia, Hana masih diam. Menunggu kalimat Ryu selanjutnya, dan mau tidak mau Ryu harus mengungkapkan perasaannya pada Hana.
"Hana, aku menyukaimu. Sungguh." ucap Ryu lagi.
Dan tentu saja membuat Hana terkejut, dia menatap Ryu sebentar lalu membuangnya ke arah laut.
"Hana, ini mungkin tidak bisa di percaya. Aku menyukaimu sejak bertemu denganmu saat di restoran itu."
"Pada malam itu?"
"Bukan, sebelum itu. Ketika aku makan siang dengan kakekku. Kamu ingat?"
"Oh, yang itu." kata Hana.
"Ya, dan ketika aku mabuk dan menciummu itu benar-benar aku menyukaimu." kata Ryu lagi.
Dia menggenggam tangan Hana yang berada di atas meja di depannya. Namun Hana menariknya dan di sembunyikan di balik meja tersebut. Ryu kecewa, dia menunduk dan menarik nafas panjang.
"Tuan Ryu, bukankah anda bisa mencari gadis lain yang lebih sepadan dengan anda? Saya ini siapa? Bukan orang yang terhormat dari kalangan atas, sedangkan anda?"
" Hana, jangan pikirkan tentang statusku siapa. Kamu juga punya status yang baik dan juga silsilah dari keluarga baik dan terhormat." kata Ryu.
Dan ini yang membuat Hana tidak suka, menganggapnya sebagai perempuan dari kalangan terhormat dan patut di dapatkan. Meski dia tahu cinta datang pada siapa saja. Dia yakin Ryu mengetahui asal usulnya, karena tidak susah mencari tahu tentang dirinya.
Hana sudah berusaha menyembunyikan statusnya, meski memang susah. Tapi dia tidak mau hiduo dalam bayang-bayang status dan gelar dari keluarganya dulu.
"Maaf tuan Ryu, sepertinya anda salah menyukai saya. Saya ini dari keluarga kecil dan dari keluarga biasa saja. Saya hanya kebetulan lahir dari keluarga terhormat dan mempunyai keturunan, tapi jika hanya karena itu orang menyukai saya seperti anda menyukai saya. Maaf, bukan status yang saya cari. Tapi ketulusan hati yang mau menerima diri saya sekarang.
"Hana, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya menyukaimu bukan karena kamu siapa. Aku mencintaimu karena aku mencintaimu dari hati " ucap Ryu meyakinkan Hana agar dia tahu memang dirinya sangat mencintai Hana.
"Maaf tuan Ryu, waktunya pulang ini sudah sore. Nanti ayahku mencariku." kata Hana.
Ada raut kecewa di wajah Ryu, namun dia bisa apa.
"Apakah besok kita bisa jalan-jalan lagi seperti ini?" tanya Ryu ketika mereka menuju mobil di parkiran.
"Saya belum taju tuan, jika besok saya tidak bisa menemani anda. Maaf sebelumnya karena tidak bisa menemani anda." jawab Hana.
Hana mengajak pulang, Ryu terdiam. Meskipun dia kecewa, namun dia akan berusaha merebut Hati Hana terus sampai dia kembali ke Jepang.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊