V E

V E
53. Rencana Menikah Lagi



Hiroshi kini sudah duduk di ruang tamu lagi, dia menunggu malam hari agar bisa makan malam dengan anak dan istrinya. Dia sangat bahagia sekali bisa berkumpul lagi dengan Harumi dan Eiko.


Ve mendekat padanya ayahnya yang sedang memeriksa berita di Jepang saat ini. Dan benar saja, setiap berita di sana menampilkan dirinya yang di beritakan meninggal dalam keelakaan mobil jatuh ke dalam laut dan tidak bisa di selamatkan.


Ada bukti bahwa baju yang dia pakai di temukan, namun wajah orangnya tidak bisa di kenali. Dari ciri-cirinya memang sangat mirip dengan Hiroshi, namun wajahnya saja yang tidak bisa di kenali karena mungkin rusak di makan oleh binatang laut.


Hiroshi mendesah panjang, dia menutup aplikasi berita di ponselnya. Memang dirinya di kabarkan sudah meninggal di Jepang sana. Sesuai rencana Ryu, namun ternyata yang membuat skenarionya adalah tuan Takahiro.


Rencana Ryu dengan Erick gagal, namun memang sesuai yang di inginkan.


Kini Hiroshi akan mengubah namanya menjadi naka Indonesia, namun ada unsur Jepang. Karena dia tidak akan meninggalkan budaya negaranya.


"Pa, apa papa sedih di kabarkan meninggal di negeri sana?" tanya Ve pada Hiroshi.


"Emm, sedih. Tapi papa bahagia bisa berkumpul lagi dengan kalian." jawab Hiroshi sambil tersenyum.


"Jadi sekarang aku sedang berhadapan dengan ruh papa?" ucap Ve sambil bercanda.


"Hahah, kamu bisa saja. Ini jasad dan ruh papa masih di sini, kamu bisa memeluknya sepuasnya." kata Hiroshi.


Ve tersenyum, dia kembali memeluk papanya. Ibu Tika mendekat dan berkata pada mereka berdua.


"Ayo kita oe meja makan, kita makan malam dulu. Baru nanti bicara lagi." ucap ibu Tika.


"Iya bu, ayo pa kita makan." ujar Ve menarik tangan Hiroshi.


Hiroshi bangun dia benar-benar menemukan hidup baru di sini di rumah istrinya dan anaknya. Dia akan pikirkan lagi nanti setelah menikah, mengenai tempat tinggal dan mau mengerjakan apa.


_


Makan malam di selingi canda tawa Ve dan Hiroshi, ibu Tika hanya tersenyum dan menanggapi sedikit. Dia juga senang bisa berkumpul lagi dengan suaminya.


Namun dia tidak bisa bebas karena mereka harus menikah lagi nantinya, dia akan membicarakan dengan ibu Siti dan ustad yang mengurus di mushola di depan.


"Emm, Harumi. Bagaimana dengan rencana pernikahan kita nanti? Kapan di laksanakan?" tanya Hiroshi ketika kini mereka hanya berdua di ruang tamu.


"Aku harus membicarakannya dulu dengan ustad di mushola. Bagaimana baiknya, tapi apakah kamu mau menikah dengan cara agamaku?" tanya ibu Tika.


Dia takut, suaminya kembali lagi ke asalnya selama mereka berpisah.


"Harumi, aku akan menikah lagi denganmu dengan cara apa yang kamu mau. Ketahuilah, selama aku berpisah denganmu aku tidak kembali lagi ke agama asalku, aku masih menjaganya. Namun memang aku kadang tidak menjalankan semua kewajibanku. Maafkan aku." ucap Hiroshi sambil tertunduk.


"Jangan meminta maaf padaku, bertobat pada Tuhan karena kamu telah meninggalkan kewajibanmu." kata ibu Tika.


Hiroshi tersenyum, kemudian dia mengangguk cepat.


"Terus, kapan kita menikah lagi?" tanya Hiroshi lagi dengan tidak sabar.


Dia ingin cepat hidup bersama dengan istrinya itu. Dia memegang tangan ibu Tika, layaknya seorang kekasih yang sedang mengapel, tapi mereka suami istri yang lama terpisah. Jadi ibu Tika agak gugup karena semua serba mendadak meski dia juga sangat senang.


Entahlah, rasanya jika ingin bermesraan dengan suaminya, masih belum bisa. Dia menarik pelan tangan yang di pegang Hiroshi.


"Aku sudah bilang, besok aku akan bicara dengan temanku dan juga ustad di mushola dulu. Kamu sabar saja ya, aku akan membicarakannya dengan cepat kok." kata ibu Tika.


Hiroshi menghela nafas panjang, dia kecewa belum dapat kepastian kapan mereka menikah lagi. Namun memang tidak mudah dan harus cepat juga.


"Ya sudah, aku akan menunggunya dengan sabar. Tapi aku harap jangan lama-lama ya, aku tidak sabar ingin hidup denganmu dan dan anak kita, Harumi." ucap Hiroshi yang merasa kecewa.


"Iya, aku akan cepat membicarakannya pada ustad. Sekarang kamu pergi ke hotel, untuk istirahat. Maaf, aku tidak bisa menampungmu di sini. Karena adat di sini tidak baik laki-laki menginap di rumah seorang perempuan. Apa lagi baru di lihatnya." kata ibu Tika lagi.


"Merepotkan sekali, tapi baiklah. Aku akan cari hotel terdekat dari sini. Aku minta nomor ponselnya." kata Hiroshi.


"Aku jarang pegang ponsel karena banyaknya pesanan kue."


"Tidak apa, yang penting aku bisa menghubungimu nanti."


Lalu ibu Tika mengambil ponselnya di kamar lalu menyerahkannya pada suaminya. Hiroshi mencatat nomor ponsel ibu Tika.


Ibu Tika pergi ke kamar Ve, dia akan meminta Ve untuk mengantar papanya mencari hotel terdekat.


"Ve, kamu sudah tidur?" tanya ibu Tika.


"Belum bu, kenapa memangnya?"


Pintu kamar Ve terbuka dan dia melihat ibunya berdiri di depan pintu kamarnya.


"Antar papamu mencari hotel yang dekat dari sini. Kamu ngga lelahkan?" tanya ibu Tika.


"Ngga kok bu, tapi kenapa papa harus tinggal di hotel? Bukankah ibu sama papa adalah suami istri. Kenapa papa harus tinggal di hotel?" tanya Ve heran.


"Memang dia suami ibu, tapi kita berpisah sangat lama. Jadi nanti ibu sama papa kamu menikah lagi, karena memang harus seperti itu." jawab ibu Tika.


"Benarkah? Ibu mau menikah lagi dengan papa?" tanya Ve tidak percaya.


"Sudahlah Ve, cepat kamu antar papamu. Kasihan papamu juga ingin istirahat juga." ucap ibu Tika lagi.


"Baiklah, aku akan antar papa ke hotel terdekat."


Ve pun bersiap untuk mengantar Hiroshi ke hotel, dia senang akan berdua kembali dengan papanya. Setelah dia sudah siap, Ve lalu mendekat pada Hiroshi dan ibunya yang ada di ruang tamu.


"Ayo pa, aku antar papa ke hotel terdekat dari sini." kata Ve pada Hiroshi.


"Baiklah ayo kita pergi."


Setelah berpamitan pada ibu Tika, Hiroshi dan Ve keluar dan dia sudah memesan taksi online sebelumnya hingga sebelum dia jauh berjalan taksi sudah menunggu di depan gang.


Tetangga yang melihat Ve keluar dari rumahnya bersama dengan laki-laki, jadi heran. Tetangga itu pun saling berbisik aneh-aneh tentang Ve.


Apakah Ve itu jadi simpanan om-om?


Begitu yang di pikirkan para tetangga yang melihat Ve tadi.


_


Ibu Tika menemui ibu Siti, ibunya Andre sahabat Ve. Dia menceritakan semuanya dari awal hingga kini suaminya datang lagi. Ibu Siti sendiri kaget, ternyata suaminya ibu Tika masih hidup dan kini dia datang dan mau menikah lagi dengan ibu Tika.


"Kenapa kamu menyembunyikan kenyataan itu begitu lama, Tika." kata ibu Siti.


"Aku tidak mau mereka mengira kalau Ve anak di luar nikah, jadi aku pikir lebih baik katakan kalau suamiku meninggal. Tapi dia datang lagi dari Jepang." jawab ibu Tika.


"Aku pikir awalnya begitu, tapi setelah dia datang lagi. Jadi lebih baik aku ceritakan semuanya, lagi pula dia orang Jepang. Mana mungkin kan kembali lagi." ucap ibu Tika lagi.


Ibu Siti diam, dia pun membenarkan apa yang di katakan oleh ibu dari sahabat anaknya itu. Siapa yang akan berharap kalau suaminya dari luar akan datang, apa lagi sudah bertahun-tahun tidak pernah datang dan menjenguknya. Dan sekarang dia datang, meminta kembali lagi. Meski memang tidak ada perceraiana, mereka harus menikah lagi.


"Kenapa dia tidak bisa datang padamu, Tika?" kini ibu Siti mulai penasaran dengan cerita di balik semuanya.


"Dia itu keturunan bangsawan di sana, jadi mertuaku itu tidak mau menerimaku sebagai menantunya, aku ini perempuan biasa. Suamiku yang sangat cinta padaku meski pernah ku tolak dulu, tapi dia memaksa ingin menikah denganku. Hingga akhirnya harus rela di jodohkan oleh ayahnya di sana dan melahirkan keturunan putra."


"Oh, yang waktu itu datang ke rumahmu? Diakah kakaknya Ve?"


"Iya, dia datang mencari adiknya. Kebetulan sahabatnya menemukan Ve, kalau bukan sahabatnya itu pak Erick dosen Ve itu. Mungkin tidak akan bisa seperti ini, berkumpul dan bersama lagi."


"Lalu, bagaimana selanjutnya?"


"Dia ingin kembali, dan aku bilang harus menikah lagi."


"Aku salut padamu, selama itu kamu tidak menikah lagi dengan orang lain."


"Aku masih terikat sebagai istrinya, jika aku menikah lagi dan dia tiba-tiba datang sedangkan aku sudah bersuami. Bagaimana dia? Aku ngga tega melihatnya kecewa, lagi pula talaknya belum jatuh padaku. Dan itu tidak di perbolehkan."


"Ya benar, sebaiknya kita menemui ustad Hasyim di mushola. Siang ini sepertinya ustad Hasyim tidak ada, mungkin sore beliau baru pulang."


"Baiklah, nanti aku minta antar sama kamu Siti untuk menemui ustad Hasyim."


"Baiklah, aku nanti ke rumahmu."


"Iya, aku pulang dulu. Pesanan kue bronisku belum aku buat untuk ibu Salma."


Setelah berbicara sebentar, akhirnya ibu Tika pulang ke rumahnya. Dia melihat Ve sedang ada tamu, apakah papanya? Atau pacarnya?


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊