V E

V E
57. Erick Cemburu



Erick masih kesal, ketika Ve dan Gilang kembali berbisik. Padahal Ve berbisik dengan Gilang hanya ingin bertanya tentang materi yang dulu dia tidak ikuti ketika dia sedang berada di Jepang.


"Jika ada pertanyaan, tanya langsung pada saya ya. Jangan pada teman, karena saya masih di sini. Jadi bertanya saja pada saya, silakan yang mau bertanya." ucap Erick masih dengan mode cemburunya.


"Baik pak." jawab mahasiswanya serentak.


Gilang tahu Erick cemburu, dan akhirnya dia menjauhi Ve. Ve sendiri masih belum mengerti, kekasihnya itu masih cemburu pada Gilang.


Waktu terasa lama bagi Erick, dia selalu melihat jam di tangannya. Masih sepuluh menit lagi selesai jam mata kuliahnya, dia ingin menghubungi Ve di kantor. Karena ponselnya ketinggalan di tasnya.


Dan di menit kesepuluh, akhirnya jam mata kuliah selesai. Dia segera mengemas buku materinya dan langsung keluar dari kelas tanpa permisi lagi.


Gilang yang melihat dosennya cemburu jadi tidak enak. Apa lagi Ve tidak menyadari kalau kekasihnya itu cemburu.


"Ve, lo ngga lihat pak Erick itu cemburu sama lo?" tanya Gilang..


"Cemburu sama gue? Kenapa?" tanya Ve heran.


"Ya, lo tadi bisik-bisik terus sama gue. Pak Erick lihatin lo terus, gue jadi ngga enak sama pak Erick." kata Gilang.


"Kan kita ngga membicarakan hal pribadi, gue nanya sama lo tentang materi kuliah yang dulu gue ngga ikutin karena izin." kata Ve.


"Lo ngga sadar apa, cowok kalau lihat ceweknya dekat dengan cowok lain pasti cemburu lah. Apa lagi dia ngga bisa mendekati ceweknya karena batasannnya sebagai dosen." katw Gilang lagi.


"Ya tapi kan seharusnya ngga boleh gitu, dia tahu gue sama lo ngga ada apa-apa. Masa segitu aja cemburu sih."


"Lo ngga peka banget ya, coba deh lo rasakan kalau nanti pak Erick dekat dengan cewek lain, lo cemburu ngga?"


"Ngga, dia kan dosen. Jadi kalau dia dekat dengan mahasiswinya, ya ngapain gue cemburu."


"Ck, lo ngga ngerti sih perasaan cowok. Terserah lo deh, tapi kalau pak Erick marah sama lo. Jangan bawa-bawa gue ya." kata Gilang lagi.


"Ish, mana ada dia begitu." ucap Ve dengan yakin.


Perdebatan itu terhenti ketika ibu Amalia, dosen pengampu bahasa masuk ke dalam kelas Ve dan siap memberikan materi pada mahasiswanya.


_


Ve menunggu Erick di parkiran, dia menunggu cukup lama di parkiran itu. Dia agak kesal juga, dia pikir tadi ikut pulang dengan Andre ketika di ajak.


Tapi takutnya Erick malah kecewa dia pulang dengan Andre, jadi lebih baik dia menunggu di parkiran.


Di ambilnya ponselnya untuk memberi pesan singkat pada Erick, namun pesan yang tadi juga belum di baca apa lagi di balas.


"Ck, kemana sih kak Erick? Kok belum keluar juga?" gumam Ve.


Dia lalu menghubungi kekasihnya itu, memastikan kalau mereka pulang bersama.


Tuut


Tersambung, namun tidak di angkat. Lagi Ve mneghubungi Erick, namun tetap sama tidak di angkat juga.


Akhirnya dia mengirim pesan, bahwa dia pulang lebih dulu naik angkot. Setelah dia mengirim pesan, dia pergi dari parkiran itu. Dia tidak peduli di baca atau tidak, yang penting sudah mengirim pesan bahwa dia pulang lebih dulu naik angkot.


Sepanjang jalan di angkot, Ve memikirkan ucapan Gilang kalau Erick itu cemburu padanya dan Gilang. Memang benar, jika dia melihat Erick akrab dengan dosen perempuan lain atau tahu ada dosen atau mahasiswi lain yang menyukai Erick, dia merasa tidak suka.


Mungkin apa yang di katakan Gilang benar, Ve menghela nafas panjang. Di lihatnya lagi ponselnya, pesan yang dia kirim sudah di baca namun tidak di jawab. Tapi dia lega, karena Erick membacanya. Berarti dia tahu kalau dirinya pulang lebih dulu.


Besok dia akan meminta maaf pada Erick, pikir Ve.


"Neng, sampai nih di tujuan." kata supir angkot.


"Oke bang, nih ongkosnya." ucap Ve menyodorkan uang lima ribuan pada supir angkot.


Kemudian Ve turun dari angkot yang tadi dia tumpangi, dia lalu melangkah pergi dari jalan raya tersebut dan masuk ke dalam jalan gang menuju rumahnya.


Seperti biasa, ada dua preman yang duduk di lorong gang. Dua preman itu biasa mengganggu warga yang sedang lewat sendirian. Jika gadis yang lewat, pasti di ganggu dan kadang di ikuti.


Erte setempat pernah lapor pada satpol PP untuk menertibkan kedua preman tersebut. Dan satu minggu kemudian, preman itu keluar lagi dari masa sosialisasi di tempat lapas.


Ternyata tidak berbuah efek jitu dengan di tangkapnya oleh satpol PP, mereka kembali beraksi lagi. Mengganggu orang lewat, bahkan kadang meminta uang dengan paksa pada pejalan kaki yang lewat di sana.


Hei, lo. Sini lo!" kata satu preman bertato naga di lengannya.


Ve pura-pura tidak mendengar, dia terus melangkah meninggalkan kedua preman itu yang tadi memanggilnya.


"Hei, lo pengen gue ***** lo?!"


"Hahah!"


Kedua preman itu pun tertawa, menertawakan pertanyaannya sendiri dan jawabannya sendiri. Dan karena tidak di tanggapi oleh Ve, preman-preman itu pun kesal. Dia akhirnya mengejar Ve yang berjalan sedikit cepat agar sampai di gang musholanya.


Namun ternyata preman itu pun lebih dekat pada Ve dan meraih pundak Ve. Ve sendiri telah siap untuk membuat kuda-kuda jika di serang secara mendadak.


Dan benar saja, tangan preman itu menarik kasar pundak Ve. Ve memegang tangan preman itu dan membalikkan tubuhnya lalu menemdang preman yang tadi memegang pundaknya.


Perkelahian tak terhindarkan, Ve melawan dua preman yang menyerangnya secara bergantian. Ve menghindar ke kanan dan ke kiri, sempat kewalahan Ve menghadapi preman yang kuat itu.


Beberapa kali dia terkena pukul di wajahnya, tapi dia bisa menghindar lagi ketika kedua preman itu menyerang lagi.


Bug! bug!


Pukulan keras pada preman-preman itu dengan keras dari laki-laki yang membantu Ve yang di serang satu lawan dua orang preman.


Dan sekali lagi, perkelahian satu lawan satu secara seimbang. Beberapa menit mereka berkelahi dan akhirnya kedua preman itu kalah dan lari terbirit-birit.


"Jangan pernah ganggu penduduk sini lagi!" teriak Ve.


"Awas kalian, aku akan laporkan kalian ke polisi!" timpal Erick yang tadi membantu Ve berkelahi dengan preman itu.


Setelah preman itu pergi jauh, kini Erick menarik Ve dalam pelukannya. Kebetulan suasan jalan gang itu sepi, Erick memeluk Ve erat. Dia merasa bersalah karena membiarkan Ve pulang naik angkot.


"Maafkan aku, aku ngga jawab pesan kamu dan telepon kamu." kata Erick.


"Ngga apa-apa kak, aku juga salah kok. Maaf ya soal tadi di kelas." kata Ve melepas pelukan Erick.


"Ngga, seharusnya aku ngga boleh cemburu dengan sahabatmu itu. Aku hanya kesal aja, kamu lama banget bisik-bisik dengan si Gilang itu." kata Erick akhirnya dia mengaku tanpa sadar.


"Jadi benar, kak Erick cemburu?" tanya Ve tidak percaya.


"Ya jelaslah, kamu dekat banget sama Gilang. Udah gitu di depan aku, aku jadi kesal karena ngga bisa menegurmu secara langsung." kata Erick lagi.


"Maaf ya, aku ngga tahu. Tapi aku cuma tanya sama Gilang tentang materi kakak yanv sempat aku ngga ikuti." kata Ve.


"Kamu kan bisa tanya sama aku langsung."


"Heheh, aku lupa. Maaf." ucap Ve sambil tertawa kecil.


"Huh, dasar pelupa." ucap Erick mencubit hidung Ve dengan pelan.


"Auw, sakit kak."


"Lha, kan ngga kencang cubitnya."


"Tapi beneran sakit hidungnya, soalnya ada jerawatnya."


"Ooh, maaf ya. Ya udah, ayo pulang. Kita lewatnya jangan lewat sini, mobil kakak ada di depan gang. Kalau berhenti di sana terlalu jauh, kita muter aja nanti mobil di parkir di depan mushola."


"Iya udah, ayo."


Lalu keduanya pun kembali ke jalan gang tadi menuju mobil Erick. Mereka akan memutar jalannya agar bisa masuk mobil ke halaman mushola, karena tidak terlalu jauh mobil Erick di parkiran.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊