V E

V E
10. Mendadak Makan Di Restoran



Ve keluar dari kelas dengan langkah tertatih. Dia mempercepat langkahnya agar bisa sampai di parkiran.


"Ve, lo pulang bareng gue aja yuk?" kata Gilang.


"Ngga usah, gue bawa motor sendiri." jawab Ve.


"Tapi kaki lo begitu, emang bisa jalan?" tanya Gilang lagi.


"Ya bisalah, nih kan gue lagi jalan mau ke parkiran." ucap Ve santai.


"Lo gimana sih, jalan aja masih pincang begitu. Udah yuk naik motor sama gue aja."


"Eh, jalan pincang juga gue tetap bisa jalan. Udah deh lo pulang aja sana, eh tuh si Rosi ngelirik aja lo tuh." ucap Ve menunjuk seorang gadis berambut lurus.


Gilang melihat ke arah gadis yang di tunjuk Ve, seklias dia melihat gadis itu sinis menatap Ve. Ya, Gilang tahu Rosi itu naksir padanya. Namun Gilang tidak menggubrisnya.


Ve terus saja berjalan, Gilang masih setia mengikuti Ve sampai di parkiran.


"Ayo dong Ve, gue ngga enak sama lo. Tadi gue ketawa lo di suruh maju sama pak Ruli. Gue kira kesialan lo sampe hukuman pak Ruli aja, eh ternyata lo sampe di hukum sama pak Doni juga. Mana suruh berdiri sampe selesai mata kuliahnya lagi." ucap Gilang panjang lebar.


Ve menatap Gilang, dia menaikkan satu alisnya. Lalu menggelengkan kepalanya. Dia kemudian mengambil kunci motor dari dalam tasnya.


"Gue ucapin terima kasih kalau lo punya simpati sama gue. Jadi lo minggir dari motor gue, gue mau pulang." ucap Ve dengan keras agar sahabatnya itu pergi dari hadapannya.


Gilang berdecak, dia kesal kenapa Ve keras kepala. Akhirnya dia mengalah, dia menghembuskan nafasnya.


"Hati-hati, Ve." kata Gilang.


Ve mengerutkan dahinya, dia melihat Gilang lalu menjalankan motornya. Dia tidak biasa di perhatikan layaknya seorang pacar, tapi Ve membiarkan Gilang seperti itu. Mungkin hanya perhatian sebagai sahabat saja.


Sedang asyik melajukan motornya, dari belakang ada mobil warna merah menyala membunyikan klaksonnya. Awalnya Ve biasa saja, tapi lama-lama jadi risih juga karena bunyi klakson tersebut belum juga berhenti.


"Siapa sih orang dalam mobil itu?" tanya Ve kesal.


Dia meminggirkan motornya dan berhenti, memperhatikan siapa orang di dalam mobil tersebut.


Dan mobil itu pun berhenti tepat menghadang motor Ve. Lalu dia keluar dari mobil, Ve terkejut. Namun dia berubah jadi kesal. Kenapa dosen satu itu menghentikan mobilnya?


"Ada apa pak Eric" tanya Ve sedikit ketus.


"Kaki kamu tidak apa-apa?" tanya Erick melihat kaki Ve.


"Iya, udah sembuh kok." jawab Ve.


"Tapi tadi di kampus kamu jalan dengan kaki pincang. Apa kaki yang kemarin aku urut jadi tidak benar posisi ototnya?" tanya Erick dengan cemas.


Ve melihat Erick, dia merasa aneh kenapa Erick sangat perhatian padanya?


"Tidak pak, setelah di urut sama pak Erick sudah lebih baik. Mungkin saya ceroboh jadi tidak melihat jalan, akhirnya tersandung dan jatuh pak. Hehehe.." jawab Ve sambil tertawa malu.


"Emm, makanya jangan ceroboh. Ya sudah, kamu naik mobil saja, motornya biar nanti ada mobil derek yang saya hubungi." kata Erick.


"Tidak usah pak, saya bisa naik motor kok. Kan yang menyetir itu tangan bukan kaki." kata Ve menolak ajakan Erick.


Erick menghela nafas panjang, susah juga membujuk Ve. Pikir Erick.


"Nanti malam bisa tidak kamu ikut aku?"


"Eh?"


"Sudah, lupakan saja. Sore aku jemput Jody, dan kamu harus ikut denganku. Tidak boleh menolak."


"Tapi pak Erick, dalam rangka apa anda mengajak saya?"


"Aku mau membalas budi sama kamu, kamu kan pernah mengantar Jody pulang."


"Tapi kan, itu hanya mengantar pulang saja. Tidak menolong menyelamatkan Jody sedang di keroyok preman." ucap Ve.


"Kamu ngeyel terus ya, sudah tidak ada penolakan. Sore setelah melatih anak-anak aku tunggu kamu." ucap Erick dengan ketus.


Setelah berkata seperti itu, Erick masuk ke dalam mobilnya dan langsung menjalankannya tanpa melihat Ve lagi.


Ve sendiri merasa aneh sikap Erick, kenapa dosen itu jadi pemaksa?


Ve menaiki motornya lagi, dia kemudian menjalankannya dan melajunya dengan cepat karena waktu sudah hampir jam tiga sore.


_


Sesuai ucapannya, Erick mengajak Ve ke pergi sore itu. Ve sendiri merasa canggung, dia seperti kencan dengan pacar. Dan pacarnya dosen sendiri, eh?


Pikiran ngaco Ve, atau memang harapan dia? Tapi Ve tidak terpikirkan mempunyai pacar atau kekasih. Dia ingin menyelesaikan kuliahnya, tidak memikirkan pacaran lebih dulu.


"Kamu sudah minta izin sama ibumu kalau pergi denganku?" tanya Erick yang sedang mengemudi.


"Telepon ibumu, kasih tahu kalau kamu pulang telat. Mungkin sampe malam." ucap Erick.


Ve menoleh pada Erick, pun Erick juga dan menaikkan alisnya. Ve menatap jalanan lagi, dia salah tingkah.


"Ayo cepat hubungi ibumu, jangan sampai ibumu khawatir." kata Erick lagi dengan nada memaksa.


Ve berdecak kesal, tapi dia kemudian memgambil ponselnya dan menghubungi ibunya.


"Assalamu alaikum, bu." kata Ve.


"Wa alaikum salam, Ve. Kenapa?" tanya ibu Tika di seberang sana.


"Ve izin pulang telat bu. Mungkin sehabis isya pulangnya." kata Ve lagi, dia melirik Erick sekilas.


"Emangnya mau kemana kamu?"


"Di ajak teman, makan di restoran." jawab Ve asal jawab, namun dia langsung menutup mulutnya.


Erick yang mendengar jawaban Ve pada ibunya hanya tersenyum kecil, dia membelokkan mobilnya kemudian jalan lurus terus dengan pelan.


"Ooh, ya sudah. Jangan lupa bungkusin buat ibu."


"Ish, ngga bisa bu. Udah ya, Ve tutup dulu teleponnya. Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Sambungan terputus, dia memasukkan lagi ponselnya ke dalam tasnya.


"Sebenarnya mau kemana sih pak?" tanya Ve pada penasaran.


"Mau ke restoran ngajak kamu makan malam." jawab Erick santai tanpa menoleh ke arah Ve.


"Osh, jadi beneran mau ke restoran? Dalam rangka apa ngajak makan di restoran?" tanya Ve heran.


"Kan kamu bilang sama ibumu, nanti kalau tidak makan di restoran di kira kamu bohong lagi.Apa lagi minta di bungkus kan?" kawab Erick santai.


"Eh ya ampuun pak, jangan di ambil hati. Maksud saya bukan begitu pak. Itu hanya kamuflase saja agar ibu tidak tanya-tanya lagi." kata Ve, dia merasa tidak enak hati pada Erick.


"Ngga apa-apa, memang aku ingin ajak kamu makan malam di restoran kok." kata Erick lagi.


Ve diam, dia menatap kembali jalanan di depan yang memang sedang padat karena bubar kantor dan mereka yang bekerja pasti pulang ke rumahnya masing-masing.


Erick melajukan mobilnya dengan pelan, dia melirik Ve seklias lalu menatap ke depan lagi.


"Ve, aku merasa heran denganmu." kata Erick.


"Heran kenapa pak?" tanya Ve.


"Nama lengkap kamu siapa sih? Kok teman-teman kamu hanya memanggil kamu Ve aja, apa kamu memang namanya cuma Ve? Ngga ada nama kepanjangan kamu." tanya Erick.


"Bapak yang ke seratus bertanya tentang nama saya. Dan saya tidak punya jawabannya pak. Ibu saya memberi nama seperti itu. Saya tidak tahu alasannya apa, tapi saya suka kok nama singkat itu." jawab Ve.


"Mungkin kamu punya sejarah, nama kamu atau punya rahasianya barangkali. Sehingga ibumu tidak mau memberi tahu nama lengkap kamu. Banyak lho, orang tua memberi nama panjang-panjang. Minimal tiga kata, tapi kamu hanya dua huruf saja. Kan aneh aku pikir." kata Erick.


Dia belum menyelidiki tentang Ve, karena dia juga agak sibuk di kantor juga sebagai dosen. Apa lagi dia adalah orang kepercayaan seseorang yang sangat berpengaruh di suatu negara. Dia juga di beri tugas khusus untuk mencari tahu sesuatu.


Dan akhirnya mobil Erick sampai di restoran yang lumayan mewah. Ve takjub dengan restoran tersebut. Dia pernah membaca di media online restoran yang dia kunjungi itu sedang viral karena sangat di gandrungi para remaja untuk berselfie ria.


"Ayo keluar, di sini tempatnya enak. Buat foto selfie juga bagus." kata Erick.


"Duh pak, ini terlalu mewah buat saya. Mending di kaki lima aja yuk." kata Ve.


Dia meresa tidak enak dengan ajakan Erick untuk makan di restoran mewah dan sedang viral di media sosial itu.


"Kenapa? Udah jangan menolak, aku yang traktir." kata Erick.


Dia menarik tangan Ve dan langsung masuk ke dalam restoran. Ve berusaha melepas tangan Erick, namun tangan Erick malah di kencangkan sehingga Ve sedikit meringis kesakitan.


"Pak, pegangnya jangan kencang-kencang. Sakit pak." kata Ve.


"Makanya kamu nurut aja sama aku." kata Erick.


Akhirnya Ve pasrah, dia mengikuti kemana Erick mengajaknya duduk.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊