
Lama Ve bercengkrama dengan ibu Fatma, ternyata ibunya Erick itu menyenangkan. Pikir Ve.
Memang awal-awal tadi bertemu sangat takut, tapi sekarang sepertinya semakin akrab.
Hari sudah malam, Erick mengantar Ve pulang ke rumahnya.
"Ibu sudah tidur?" tanya Erick ketika mereka sampai di depan rumah Ve.
"Kayaknya sudah, ibu biasanya tidur cepat kalau besok banyak sekali pesanan." jawab Ve.
"Ya sudah, kamu masuk saja. Aku langsung pulang yah." kata Erick.
"Iya kak, hati-hati ya." kata Ve.
"Iya ,besok aku kesini lagi ketemu sama ibumu." kata Erick.
"Mau apa?" tanya Ve heran.
"Mm, mau ngobrol aja sama ibu. Sekalian bilang sama ibu kalau aku itu pacar kamu." kata Erick beralasan.
Dia ingin menyelidiki lagi tentang masa lalu ibu Tika, dia harus bisa mendapatkan informasi tentang Ve dan ibu Tika.
"Ngga usah begitu kak, nanti ibu juga tahu sendiri." kata Ve merasa tersipu dengan ucapan Erick.
"Ngga bisa begitu, aku harus izin sama ibu kamu. Kalau aku nanti akan sering ngajak kamu pergi dan nanti ibu ngga khawatir kamu sama siapa." ucap Erick lagi.
"Emm, ya sudah terserah kak Erick aja."
Erick tersenyum, dia lalu maju ke depan dan mencium kepala Ve dengan lembut. Ve pun hanya diam saja.
"Ngga apa-apa ya aku cium kening kamu aja." kata Erick sambil tersenyum.
"Iya, ya udah sana pulang. Sudah malam, nanti di jalan kemalaman ngga bagus buat kesehatan."
"Duuh, yang sekarang perhatian. Hahah!"
"Ih, kok gitu sih. Ya udah aku masuk aja." kata Ve merajuk.
"Iya ya, aku pulang ya. Besok aku ngga masuk kampus karena ngga ada jam di kampusnya. Kamu berangkat sendiri?" tanya Erick.
"Iya, kan aku udah biasa berangkat sendiri pakai motor." jawab Ve.
"Ya sudah, dari tadi ngga selesai-selesai."
"Siapa yang ngga pulang-pulang?"
"Heheh, tidur nyenyak ya sayaaaang.." kata Erick dengan melambaikan tangannya menjauh dari Ve.
Ve semakin tersipu dengan ucapan sayang padanya. Dia tersenyum dan pipinya menghangat, lalu membalas lambaian tangan Erick.
_
Hari ini tekad Erick untuk menanyakan siapa dan kenapa ibu Tika sudah bulat. Dia ingin mengetahui bagaimana dulu ketika ada di kampung itu.
"Eh, nak Erick datang lagi. Mau cari Ve?" tanya Ibu Tika yang sedang menyapu halaman rumah.
"Mau ketemu ibu kok, kan Ve sedang di klub." jawab Erick.
"Waah, iya ya. Ya sudsh ayo masuk." kata ibu Tika.
Erick pun menurut, dia masuk ke dalam rumah, dia duduk di kursi tamu. Sedangkan ibu Tika masuk ke dalam dapur untuk mengambil minuman dan cemilan.
Setelah sudah ada, baru di bawa ke depan di suguhkan pada Erick yang sedang memandang foto Ve dan ibunya yang masih kecil.
Tampak Ve dan ibu Tika memakai baju kimono waktu kecil itu, Erick semakin yakin jika ibu Tika ada hubungannya dengan orang Jepang.
Ibu Tika menyuguhkan minuman, dan memperhatikan Erick yang sedang melihat foto Ve berumur satu tahun dan dirinya.
"Itu Ve berumur satu tahun." kata ibu Tika yang belum sadar Erick memperhatikan bajunya yang di pakai.
"Oh, ini Ve berumur satu tahun ya. Kok agak beda dengan sekarang?" tanya Erick.
"Beda apanya?"
"Emm, beda di katanya bu. Di sini agak sipit dan pesek, tapi sekarang kok matanya lebar dan hidungnya mancung." kata Erick berkelakar.
"Hahah, ya kan sekarang Ve bisa merawat diri. Dia tumbuh di tempat yang tepat." kata ibu Tika.
"Maksudnya?"
"Iya, dia hiduo di Indonesia. Bukan di mana dia dulu tinggal." jawab ibu Tika.
"Emm, ibu sebenarnya enggan bercerita. Tapi ya ada yang perlu nak Erick tahu, karena katanya nak Erick itu pacarnya Ve. Jadi ibu pikir ada baiknya nak Erick tahu siapa Ve itu." kata ibu Tika.
Erick semakin penasaran, dia ingin bicara kalau ada seorang temannya memcari adiknya. Tapi dia tahan dulu sebelum ibu Tika bercerita.
"Tapi Ve sendiri tidak tahu tentang dirinya bu." kata Erick.
"Ya, karena ibu tidak pernah cerita juga sama Ve sejak tinggal di sini. Tetangga di sini juga tahunya ibu janda, jadi ya sudahlah tidak ada yang tahu jadi ngga perlu juga ada yang tahu. Termasuk Ve sendiri dia tidak tahu siapa dirinya."
"Sebentar bu, Ve itu bener namanya cuma Ve aja?" tanya Erick.
Dia akan mulai dari nama Ve dulu, cerita ibu Tika pasti ada kisah di balik nama Ve.
"Emm, Ve itu dua nama di jadikan satu. Ibu sengaja menggabungkannya agar orang yang mencari ibu dan Ve tidak bisa melacaknya." kata ibu Tika.
"Jadi ibu di kejar oleh orang-orang yang tidak di kenal?" tanya Erick.
"Ibu tahu siapa mereka dan di suruh siapa. Tapi ibu diam saja, selama Ve tidak di ganggu ya ibu akan terima mereka seperti itu. Ibu hanya takut Ve kenapa-kenapa." kata ibu Tika.
Semakin menarik, pikir Erick.
"Seperti waktu di pasar itu, bu? Mereka yang mau mencelakakan ibu itu siapa?" tanya Erick lagi.
Ibu Tika menghela nafas panjang. Dia berhenti sejenak, lalu bangkit dari duduknya menuju jendela.
"Mereka itu suruhan mertuaku, entahlah apa yang mereka inginkan dari kami. Padahal kami sudah pergi dari sana dan tidak mungkin akan kembali lagi." kata ibu Tika menerawang jauh ke depan.
Erick masih belum mengerti, siapa mertua ibu Tika. Dan di mana mereka, apakah dugaannya benar bahwa kakek Ryu yang bermain di sana untuk menghancurkan keluarga ibu Tika.
"Kalau boleh tahu, mertua ibu itu siapa?" tanya Erick ragu.
Ibu Tika kembali duduk di kursinya, dia menatap Erick penuh selidik. Kenapa dosen anaknya itu ingin tahu tentang dirinya?
"Nak Erick bukan mata-mata dari mereka kan? Maksud ibu nak Erick bukan suruhan mereka." tanya ibu Tika.
"Eh, maksudnya apa? Saya sendiri tidak tahu mereka siapa bu, jadi saya hanya ingin tahu tentang kisah ibu dan Ve saja." kata Erick.
Dia takut ibu Tika mengetahui kalau dia sedang menyelidiki dirinya dan anaknya.
"Ya, mereka itu adalah suruhan mertuaku. Entahlah, apa yang mereka inginkan dariku.. Padahal ibu sudah menjauh sesuai dengan keinginanya." kata ibu Tika lagi.
"Siapa mertua ibu?" tanya Erick yang sejak tadi di tanyakan belum juga di jawab.
"Dia orang Jepang. Suami ibu juga orang Jepang, mertua ibu tidak mau punya menantu seperti ibu, jadi ibu di suruh pergi dari sana. Ya sudah ibu pergi. Mereka ingin anaknya menikah dengan perempuan yang sepadan. Padahal sudah menikah juga dan punya anak juga, tapi kenapa mereka masih mengusik ketenangan ibu dan hidup ibu." jawab ibu Tika.
Kini Erick sudah bisa menyimpulkan bahwa Ve itu adiknya Ryu. Tapi dia belum bisa bicara apa pun tentang kedua orang itu, karena masih samar. Siapa orang Jepang itu?
Jika memang keluarga Ryu, berarti Ve bukan anak sembarangan. Dia anak bangsawan Jepang di sana. Menakjubkan kisah ibu Tika ini,masih perlu di dalami lagi ceritanya. Pikir Erick.
"Nak Erick ngga akan ceritanke orang lain kan mengenai kisah ibu?" tanya ibu Tika.
"Eh, Insya Allah bu ngga. Tapi jika ada yang mencari keluarga ibu bagaimana?" tanya Erick.
"Maksudnya?"
"Emm, suami ibu punya istri lagi kan? Kalau misalnya Ve di cari saudaranya itu bagaimana?"
"Mana ada dia mencari saudaranya, keluarganya aja ingin ibu lenyap dari muka bumi ini."
"Astagfirullah, masa sampai begitu bu?"
"Emm, bukan semua sih. Tapi ya itu, mertua ibu yang tidak suka dengan ibu. Anaknya kekeh banget sama ibu, ibu sudah ikhlas dengan semuanya termasuk suami ibu. Tapi memang kasihan sama Ve, sejak kecil dia tidak pernah ketemu ayahnya. Hanya sekali ketemu itu waktu melahirkan dan umur Ve sembilan bulan. Jadi mungkin Ve tidak ingat ayahnya." kata ibu Yuni.
"Apakah ada fotonya, bu?"
"Ada, tapi ibu tidak pernah kasih tahu Ve. Ve juga sepertinya dia biasa saja, jadi ibu tidak perlu banyak berbohong. Ibu kasihan sebenarnya sama anak itu, mau bagaimana lagi. Itu juga demi kebaikan dan keamanannya."
"Tapi di kampus Ve tidak tercantum nama ayahnya. Di sana hanya tertulis almarhum saja."
"Heheh, iya. Ibu sengaja menutupi identitas Ve semuanya, karena lambat laun nanti ketahuan sama mereka. Dan buktinya ibu sering ada yang mau mencelakakan ibu." kata inu Tika.
Percakapan mereka terhenti ketika ada suara motor Ve dan ucapan salamnya.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊