V E

V E
24. Bertemu Ibu Tika



Sore ini Ve bersiap untuk melatih anak-anak si klub. Di diam sejenak, memikirkan ucapan Gilang tadi siang. Dia bukannya tidak tahu Eick selalu melirik padanya.


Lagi pula, dia tahu tatapan itu. Tapi dia menatap balik dosennya itu karena memang sedang memperhatikan keterangan materi yang di sampaikan.


Jika tidak memperhatikan, mana paham materi yang di sampaikan. Jika ada tugaskan bisa menyelesaikannya. Tapi kenapa Gilang malah menafsirkannya beda?


"Si Gilang itu kenapa ya, aneh banget. Apa dia cemburu?" tanya Ve pada diri sendiri.


"Ngga ah, kenapa juga dia cemburu." ucap Ve lagi.


"Ve, kamu ngomong apa?" tanya ibu Tika yang berdiri di belakang Ve.


"Eh, ibu. Ibu tuh suka ngagetin aja Ve sih?"


"Siapa yang ngagetin? Kamu saja yang kebanyakan melamun." kata ibu Tika lagi.


"Siapa yang melamun sih bu?"


"Ya kamu, siapa lagi?"


"Ish, nggalah bu. Udah ah, Ve berangkat dulu. Assalamu alaikum." ucap Ve.


"Wa alaikum salam."


Ve lalu menaiki motornya, dia langsung melajukan motornya menuju klub karate.


Sedangkan ibu Tika bersiap akan membeli bahan-bahan kue untuk nanti malam dia buat. Karena tadi ada yang minta di buatkan bronis kukus sepuluh loyang, itu lumayan banyak. Jadi dia harus membelinya sendiri ke pasar, karena Ve tidak bisa mengantarnya.


Andre lewat di depan rumah Ve dengan mengendarai motor bututnya.


"Andre, tunggu!" teriak ibu Tika berlari kecil dari halaman rumahnya.


Andre berhenti dan menengok ke arah ibu Tika.


"Ada apa tante?" tanya Andre.


"Kamu mau kemana?" tanya ibu Tika.


"Mau ke pasar belanja, tante." jawab Andre.


"Waah, kebetulan. Tante ikut di motor kamu ya, tante juga mau ke pasar. Ada pesanan bronis kukus banyak." kata ibu Tika.


"Oh, ya udah cepat tante."


"Sebentar ya, tante ambil dompet dulu sama kuncu rumah."


"Iya tante."


Ibu Tika pun pergi masuk ke dalam rumah lagi, dia masuk dengan cepat agar Andre tidak menunggu terlalu lama.


Dan hanya butuh tiga menit saja, ibu Tika keluar lagi membawa dompetnya. Lalu dia menutup pintu dan menguncinya.


"Yuk kita berangkat." kata ibu Tika.


"Naik dulu tantenya, nanti ketinggalan " kata Andre.


"Hahah, oh iya ya." kata ibu Tika tertawa.


Dia lalu naik motor, bonceng pada motor butut Andre. Setelah selesai, Andre melajukan motornya dengan kencang, tapi jalannya masih sama. Hanya menambah kecepatan


_


Beberapa barang sudah di beli oleh ibu Tika, dia kini tinggal membeli telurnya. Karena telurnya di tempat langganan sudah habis, jadi terpaksa harus membeli di tempat lain.


"Andre sudah belum ya belanjanya?" gumam ibu Tika.


Dia masih di luar pasar, jadi masih menunggu Andre selesai belanja baru dia bjsa pulang dengan sahabat anaknya itu.


Ketika akan menyeberang membeli telur di tempat lain, ibu Tika tidak melihat ada motor yang lewat sangat kencang. Hingga motor itu hampir menabraknya sebelum tangan kekar laki-laki menarik lengannya dengan kencang.


"Bu, awas!" kata laki-laki tadi.


Tentu saja ibu Tika kaget, namun dia tidak sempat melihat motor yang mau menabraknya karena terlalu cepat lajunya motor itu.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.


"Iya terima kasih ya. Eh, hei! Kamu yang menolong ibu menyeberang jalan sama ibu waktu itu." kata ibu Tika kaget.


Yang menolongnya lagi adalah Erick. Erick tersenyum kecil lalu membimbing ibu Tika duduk di teras pinggir jalan untuk menenangkan jantung yanyang sempat berpacu karena kaget tadi.


"Ketemu ibu lagi di pasar. Ibu sedang apa di pasar? tanya Erick.


"Ibu sedang belanja, tadinya mau beli telur di seberang jalan itu. Eh, malah tadi mau ke tabrak." jawab ibu Tika.


Erick memperhatikan barang belajaan ibu Tika, lumayan banyak sekali.


"Ibu sama Andre, anaknya lagi belanja juga di dalam pasar." kata ibu Tika.


"Andre siapa bu? Anak ibu?" tanya Erick.


"Bukan, dia anaknya tetangga ibu. Teman dari kecil anak saya, nah itu dia anaknya." kata ibu Tika menunjuk Andre yang sedang berjalan cepat ke arah ibu Tika.


Ketika Erick menoleh ke arah petunjuk tangan bu Tika, dia kaget ternyata mahasiswa di kampusnya. Begitu juga Andre melihat Erick duduk dengan ibunya Ve.


"Pak Erick ada di sini?" tanya Andre masih kaget dengan Erick.


"Andre, dia yang menolong tante dari motor tadi mau menabrak tante." kata ibu Tika.


"Tante mau di tabrak sama seseorang lagi?" tanya Andre.


"Aah, sudahlah. Yang penting tante tidak apa-apa. Kamu sudah selesai belanjanya?" tanya ibu Tika.


"Sudah tante, ayo kita pulang." ajak Andre.


Erick yang sejak tadi diam hanya tersenyum dan sedikit heran.


"Andre, apa ibu ini adalah ibunya Ve?" tanya Erick.


"Iya pak, ibu Tika namanya." jawab Andre.


"Kamu panggil dia pak? Dia siapa Ndre?" tanya ibu Tika.


"Pak Erick tante, dosen Ve di kampus." jawab Andre.


"Ooh, pak Erick dosen anakku?" tanya ibu Tika tidak percaya.


"Iya bu, saya Erick. Kebetulan dosen di kampus anak ibu."


"Berarti dosen kamu juga, Ndre?" kata ibu Tika.


"Di kampus pak Erick ngga masuk di kelas saya tante. Hanya masuk di kelas Ve aja."


"Kok aneh ya, satu kampus tapi dosennya beda-beda begitu?"


Erick tersenyum lucu, dia senang bertemu dengan ibunya Ve dan bisa berkenalan dengannya.


"Eh, nanti kapan-kapan pak Erick mencicipi kue buatan ibu ya." kata ibu Tika dengan antisias.


Jiwa marketing perdagangannya muncul.


"Iya bu, saya pernah mencicipi bronis kukusnya ibu kok waktu Ve membawanya ke klub karate dulu. Bronisnya enak bu." kata Erick.


"Waaah, kalau begitu kapan-kapan pesan bronisnya ke ibu aja ya."


"Hehe, iya bu. Pasti, nanti ibu saya suruh mencicipi bronis ibu." kata Erick lagi.


Dalam pikirannya, dia akan menggunakan Ve agar bisa lebih dekat lagi dengan anak dan ibu itu. Sesuatu di benaknya akan dia jalankan lagi.


Dan tadi, Andre mengatakan ibu Tika mau di tabrak lagi? Itu artinya sudah pernah mau di tabrak, entah berapa kali.


Ini sangat aneh dan membuat penasaran.


"Eh, nak Erick emm, apa nak Erick itu suka sama.."


"Tante, ayo kita pulang. Ve pasti marah kalau tante lama di pasar. Ayo tante." kata Andre memotong kalimat ibu Tika.


Dia tahu nantinya malah tambah ngelantur dan kemana-mana. Meski ada benarnya juga.


"Ya sudah ayo kita pulang." kata ibu Tika.


Andre mengambil belanjaan ibu Tika, dia menentengnya dengan mudah. Dan ibu Tika sebelum pergi mengucapkan terima kasih pada Erick.


"Terima kasih ya nak Erick. Ibu tunggu pesanannya." kata ibu Tika tersenyum.


"Iya bu, nanti jika saya pesan tinggal bilang sama Ve aja bu." jawab Erick.


"Oke, ibu tunggu."


Lalu Andre dan ibu Tika pergi meninggalkan Erick yang masih duduk di teras. Kemudian dia bangun dan menuju mobilnya, dia tadi rencananya mau ke klub dan sebelum ke sana mau beli sesuatu di pasar itu, tapi malah melihat ibu Tika di tabrak.


Kira-kira siapa ya, yang tega mau menabrak ibu Tika? pikir Erick.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊