
Sejak jatuh dari sepeda, Ve tidak kuliah selama dua hari. Andre sahabat kecilnya juga heran kenapa Ve tidak berangkat kuliah.
"Tante, Ve ada di mana?" tanya Andre.
"Ada di kamarnya, sedang tidur." ucap ibu Tika.
Andre langusng mengetuk pintu kamar Ve, karena Ve tidak suka Andre masuk ke kamarnya sembarangan.
Tok tok tok
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan Ve berdiri dengan kaki sedikit membengkak. Andre melihat kaki sahabatnya itu bengkak. Dia berjongkok dan menyentuhkan tangannya.
"Auuw, apa sih lo pegang-pegang kaki gue. Sakit tahu!" ucap Ve kesal.
"Kaki lo kenapa gede begini kayak gajah?" tanya Andre sekenanya.
"Ck, lo ngomong sekenanya aja. Kaki gajah, ini kaki sapi!" ujar Ve ketus.
Andre tertawa, Ve melangkah keluar kamar dengan kaki pincang. Andre memegang lengan Ve agar tidak jatuh.
Mereka kini duduk di kursi dengan kaki Ve selonjor di kursi panjang itu.
"Lo kenapa Ve bisa bengkak gitu kakinya?" tanya Andre lagi.
"Gue tadinya jatuh dari sepeda. Tahu nih, kok jadi tambah bengkak ya." kata Ve.
Dia tidak mengatakan sehabis di urut Erick jadi tambah bengkak kakinya.
"Masa sih jatuh dari sepeda jadinya bengkak gitu?" tanya Andre heran.
"Ya bisa, orang terkilir kok ngga bisa bengkak."
"Tapi seharusnya lo di urut sama orang yang pintar ngurut, lo udah di urut belum?" tanya Andre.
"Udah sama ibu kemarin."
"Emang tante Tika bisa ngurut?"
"Ish, maksud gue kemarin udah di anter sama ibu ke tukang urut. Telmi banget sih lo!"
"Iya bawel, gue prihatian aja sama lo. Si Simon juga nanyain lo terus. Kalau dia datang jenguk lo, gimana Ve?" tanya Andre.
Ve diam, dia bukannya menolak di jenguk teman. Tapi Simon itu kalau di kasih hati minta lebih nanti.
"Ve?"
"Terserah lo deh, yang penting lo jangan jual nama gue demi kepentingan lo ya." ancam Ve.
"Eh, siapa yang mau jual nama lo?" kilah Andre.
"Kali lo mau dapat bingkisan dari si Simon, kalau gue mau di jenguk sama dia." ucap Ve sinis.
"Yee, gini-gini juga sahabat lo. Gue juga ngga mau lo terpaksa menerima cinta si Simon. Gue pikir mending lo ngomong sendiri sama dia kalau dia nanti nembak lo, bilang aja ngga mau." ucap Andre lagi.
Ve diam, dia melirik sahabatnya itu yang masih bersungut ria.
"Ve, minum obatnya." ucap ibu Tika.
"Iya bu. Dre, tolong ambilin obat gue di kamar." kata Ve meminta tolong sama Andre.
Andre bangun dari duduknya dan masuk ke dalam kamar Ve. Dia mengambil obat di meja dan keluar lagi, lalu di serahkan pada Ve. Dia duduk lagi di sebelah Ve.
Ve meminum obatnya dengan cepat. Tak lama pintu di ketuk dari luar.
Tok tok tok
Andre dan Ve saling pandang, Ve mengedikkan pundaknya. Andre bangun dan membuka pintunya. Terlihat Arfan tersenyum membawa parsel buah untuk Ve.
"Ve, ada bang Arfan nih." kata Andre.
"Eh, masuk aja bang. Maaf ngga nyambut bang Arfan." ucap Ve dari kursi tamu.
"Iya Ve, kamu duduk aja di sana." ucap Arfan.
Dia melangkah masuk ke dalam ruang tamu dan duduk berhadapan dengan Ve. Dia melihat kaki Ve yang sedikit bengkak.
"Lo, kan kemarin udah di urut sama pak Jeff. Kok jadi bengkak begitu?" tanya Arfan heran.
"Iya bang, sore di antar bang Arfan memang udah lebih baik. Tapi pas gue mau ambil minum, eh gue kesandung lagi. Jadi ya bengkak lagi." jawab Ve.
"Tapi setelah di urut sama pak Jeff udah agak mendingan kan?" tanya Arfan cemas.
Dia takut karena di urut sama Erick jadi tambah parah karena tidak benar mengurut.
"Ngga kok bang, emang setelah di urut sama pak Erick udah enakan kok. Cuma mungkin karena belum sembuh benar, eh kesandung lagi jadi bengkak deh." ucap Ve.
"Kemarin pak Jeff menanyakan lo, tapi dia tidak bisa jenguk lo karena waktu itu dia dapat telepon penting sekali, sampai buru-buru pergi." kata Arfan.
"Iya bang, ngga apa-apa." ucap Ve lagi.
Setelah beberapa menit Arfan akhirnya pamit pulang. Dia kini yang menggantikan Ve melatih anak-anak, bergantian dengan teman Ve yang sekarang sudah mulai aktif melatih lagi.
"Ve, siapa sih pak Jeff? Bang Arfan bilang pak Jeff tapi lo bilangnya pak Erick. Emang itu dua nama satu orang ya?" tanya Andre yang sejak tadi penasaran.
"Iya. Lo tahu ngga, ternyata pak Jeff itu adalah pak Erick. Dosen matematika di kelas gue, adiknya di latih karate sama gue. Jadi ya kita agak dekat, gitu." ucap Ve.
"Dekat?"
"Ya, ngga dekat banget sih. Udah ah, pusing jelasin ke lo."
Sampai.menjelang petang, Andre baru pulang le rumahnya. Ve pun masuk lagi ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
_
Setelah tiga hari tidak masuk kuliah, kini Ve siap berangkat lagi untuk kuliah. Dia menyiapkan motornya dan memanasinya.
Andre datang dengan menaiki motor bututnya menghampiri Ve yang sedang mengelap motor.
"Ve, lo udah enakan kakinya?" tanya Andre.
"Udah, dari kemarin juga udah enakan kok. Cuma ibu aja yang maksa gue ngga boleh berangkat." jawab Ve.
"Berapa mata kuliah hari ini di kelas lo?" tanya Andre lagi.
"Emm, tiga kayaknya sih. Gilang bilang pak Erick masuk hari ini, padahal jadwalnya besok. Tahu tuh, mungkin besoknya ada keperluan kali." ucap Ve.
"Si Simon ngga jadi jenguk lo katanya kemarin." kata Andre.
"Syukur deh, gue juga ngga ngarep."
Andre diam, dia merasa tidak enak hati sama Ve.
"Lo mau bareng atau gue duluan?" tanya Andre kemudian.
"Duluan aja, ibu minta di antar sampe pasar katanya."
"Oke, gue cabut dulu. Duluan ya."
"Yoi."
Andre pun melesat dengan motornya, sedangkan Ve menunggu ibunya yang masih di dalam. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah pukul tujuh tiga puluh.
"Bu, cepetan. Ve nanti terlambat masuknya." teriak Ve.
"Iyaa." jawab ibu Tika.
Ibu Tika bergegas, dia merapikan kerudungnya dan bersiap menaiki motor Ve di belakang.
"Pintunya ngga di kunci bu?"
"Lha, kamunya yang cepat-cepat terus. Jadi ibu lupa kunci pintu." ucap ibu Tika.
Ve tersenyum, dia melihat ibunya turun lagi untuk mengunci pintu rumahnya. Setelah di kunci, baru wanita berusia empat puluh delapan itu naik lagi di motor anaknya.
"Yuk jalan, ibu juga takut orang jualan kembang sudah pulang." kata ibu Tika.
"Bunga buat apa bu?"
"Ibu mau beli daun pandan, ada yang minta di bikinin bubur sumsum ijo. Kan harus pakai perasan daun pandan." jawab ibu Tika.
Mereka sudah menyusuri jalanan besar setelah melalui gang sempit.
"Kan pake pasta pandan bisa bu, kenapa harus pake daun pandan. Ribet bu, harus di potong-potong, di blender sudah itu di peras ambil airnya." ujar Ve.
"Ibu suka pake duan pandan. Lebih alami wanginya, kalau pake pasta pandan hijaunya terlalu pekat. Udah kamu jangan rewel, ibu kok yang buat." ucap ibu Tika.
"Ya, Ve kan kasihan sama ibu. Ya Ve kasih saran aja, biar ngga ribet."
Motor melaju dengan agak kencang, ibu Tika berpegangan pada pinggang anaknya. Dia tahu waktu sudah sangat terlambat bagi Ve untuk masuk kuliah.
"Sampai bu."
"Ya udah, kamu hati-hati ya. Jangan ngebut kayak tadi."
"Heheh, iya bu. Waktunya mepet jadi Ve harus ngebut. Ya udah, Ve berangkat dulu assalamu alaikum." ucap Ve sambil menyalami tangan ibunya.
"Wa alaikum salam."
Ibu Tika segera masuk area pasar, sedangkan Ve langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Karena dia tidak mau masuk kelas terlambat.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😚