V E

V E
83. Upacara Penerimaan Menantu



Pernikahan Ryu di Indonesia sudah satu minggu lalu selesai, kini dia akan mengadakan upacara penerimaan menantu di keluarga bangsawan di Jepang.


Prosesinya tidak seperti upacara pernikahan, hanya memberikan benda pusaka milik keluarga Takeshi dan juga upacara adat biasanya.


Tidak terlalu lama sampai memakan waktu berhari-hari seperti di adakan di kampung Hana. Hanya saja, Ryu dan Hana di dandani ala laki-laki dan perempuan Jepang jaman dulu.


Erick dan juga Ve ikut ke rumah utama, hanya saja tidak di ikut sertakan dalam upacara penerimaan menantu sama halnya Ryu dan Hana. Hanya menghadiri upacara tersebut.


Bagi Ve di terima oleh kakeknya dan memintanya datang saja sudah senang, dan tidak berharap mengikuti upacara tersebut.


"Kak, apakah kita harus datang kesana?" tanya Ve pada Erick.


"Harus, kan menghormati kakakmu juga kakekmu. Ini juga yang mengundang kakekmu kan?" kata Erick.


"Iya, aku gugup harus bertemu kakek Takahiro. Seperti apa ya wajahnya aslinya." ucap Ve lagi.


"Emm, kan sudah di kasih fotonya."


"Kan aslinya."


"Sudah, jangan di pikirkan. Nanti juga tahu sendiri."


"Kaka pernah bertemu dengan kakek?"


"Emm, pernah waktu masih kuliah beberapa kali. Memang sangat segan bertemu dengan kakekmu, tapi sebenarnya beliau baik kok."


Pembicaraan itu terhenti ketika mobil yang mengantar Erick dan Ve di halaman luas di kediaman utama dengan gaya bangunan jaman dulu. Besar, tapi di dalamnya banyak terdapat bangunan modern.


Hanya tampilan depannya saja yang seperti gaya bangunan lama. Ve pernah melihat gaya bangunan seperti itu ketika mereka di kediaman Hiroshi yang tersembunyi, sama persis.


Mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh pelayan di sana. Acara penerimaan menantu akan di laksanakan sore hari dan hanya di hadiri kerabat dekat saja, Erick dan Ve hanya melihat upacara itu.


"Silakan tuan dan nona, kamarnya sudah di siapkan. Siang nanti sebelum makan siang bersama tuan Takahiro ingin berbicara pada nona dan tuan di ruang kerjanya." kata pelayan itu.


"Baik." jawab Erick.


"Nanti jam sebelas siang saya akan mengingatkan anda lagi."


"Iya."


Setelah menyampaikan pesan seperti itu, pelayan membungkukkan badan memberi hormat dan langsung pergi.


Erick dan Ve masuk ke dalam kamar tamu yang di sediakan untuk mereka. Ve langsung berlari ke ranjang yang terlihat empuk dan nyaman. Memang berbeda rumah orang bangsawan, sederhana tapi terlihat mewah. Dia berbaring terlentang menatap langit-langit kamar.


Erick membawa tas Ve dan koper baju, dia letakkan di pojok untuk di rapikan di lemari. Karena mereka akan menginap satu hari dan besoknya langsung liburan ke pulau terpencil dengan Ryu dan Hana juga.


Tiket liburan ke pulau itu di hadiahkan oleh kakek Ryu dan Ve sebagai hadiah pernikahan dan di anggap liburan bulan madu.


Erick mendekat ke ranjang, dia berbaring di sisi Ve yang masih menatap langit-langit kamar. Wajahnya mendekat ke wajah Ve, bibirnya dia tempelkan ke bibir istrinya itu. Kedua bibir itu saling memagut lembut dan mengecap.


Lama mereka saling berciuman, hingga ada dorongan di hati untuk melakukan kegiatan panas yang sudah mereka lakukan beberapa kali setelah menikah.


Tangan Erick sudah menjalar ke bagian dada Ve dan memijat lembut bagian yang menonjol itu, tangan satunya mengusap punggung Ve. Hingga suara lenguhan keluar dari mulut Ve.


"Eeuh, kaak" ucap Ve sudah tak terkontrol.


Erick suka dengan lenguhan Ve yang menyebut namanya, tangannya jadi semakin liar di punggung Ve hingga turun ke bawah, dan memijat kembali dengan keras ****** istrinya.


Mau tidak mau Ve bergerak gelisah kesana kemari menahan geli dan nikmat. Tangan Ve menjambak rambut Erick dan lehernya. Sampai pada tangan Erick turun semakin ke bawah, dia meraba dan mengusapnya lembut.


Tentu saja Ve semakin gelisah nikmat, matanya membuka dan melihat suaminya tersenyum puas karena telah membuatnya bergairah.


"Kak, ini di rumah kakek. Apa harus melakukan itu?" tanya Ve dengan suara paraunya.


"Inginnya aku melakukan, tapi waktunya cukup ngga ya?" jawab Erick mengecup kembali bibir Ve.


Ve melirik jam di tangannya, masih ada waktu satu setengah jam sebelum pelayan memanggilnya untuk menghadap kakeknya.


"Sekarang jam sembilan lebih, apa cukup kita melakukan itu?"


"Kamu sudah ngga sabar?" tanya Erick dengan senyum nakalnya.


"Kakak yang mulai, masa berhenti sih?" kata Ve dengan kesal.


"Hahah, baiklah. Kita lanjutkan kegiatan tadi. Aku janji hanya satu season aja kok. Nanti di lanjut di tempat liburan." kata Erick.


Ve tersenyum senang, lalu keduanya kembali memagutkan bibirnya. Tidak lupa tangan Erick sudah bergerak dan memainkan yang membuat Ve bergerak gelisah tapi nikmat.


_


Sore menjelang, upacara pun di laksanakan dengan khidmat dan penuh penghayatan. Hana memakai baju kimono dan wajahnya di buat memutih, rambut juga di rias dengan ala sumo namun melebar. Begitu pun Ryu sama juga.


Kini mereka sudah menghadap kakeknya, di beri wejangan selayaknya pengantin baru. Dan setelah itu tuan Takahiro memberikan sebuah kotak yang tadi di pegang oleh pelayan.


"Ini adalah benda pusaka keluarga turun temurun. Kakek berikan langsung sama kalian, karena papa kalian Hiroshi tidak melakukan ritual seperti ini. Jadi kakek mohon sama kamu Ryu, jaga martabat dan kehormatan kebangsawanan kita di mana pun kamu berada. Kakek merestui kalian karena kakek merasa istrimu ini sangat baik dan pintar." ucap Takahiro.


Ryu dan Hana mengangguk cepat.


"Iya kek."


Setelah memberi wejangan seperti itu, kini Ryu dan Hana di giring ke semua kerabat yang datang oleh kakeknya. Takahiro memperkenalkan Hana pada semua kerabatnya sebagai menantu dan cucunya.


Terakhir Naomi dan Naomi memeluk mereka setelah ritual sudah di lakukan. Hanya beberapa jam saja di lakukan.


Sedangkan Ve dan Erick melihat acara itu hanya tersenyum saja. Tidak ada rasa cemburu di hati Ve dan Erick dengan upacara itu, karena mereka tahu hanya yang di akui saja di lakukan seperti itu. Ve hanya senang di akui oleh kakeknya Takahiro.


Malam menjelang, sekarang waktunya makan malam bersama. Erick dan Ve serta Ryu dan Hana sudaj berada di depan meja makan. Di sana tersedia berbagai hidangan, ada juga hidangan masakan Indonesia yang mudah di buat.


Mereka mulai makan dan menikmatinya. Ada obrolan kecil dari Takahiro dan para cucu-cucunya. Suasana hangat tercipta, Ryu merasa ada yang kurang di sana. Ya, papanya Hiroshi. Dia menatap setiap orang yang hadir di acara makan malam itu, lalu wajahnya seperti bersedih.


Hana melihat perubahan wajah suaminya itu, dia memegang tangan Ryu yang berada di bawah dan bertanya pada suaminya itu.


"Kenapa?" tanya Hana lembut menatap wajah Ryu.


"Aku merasa ada yang kurang, dan aku ingat papa. Papa biasanya ikut makan malam seperti ini, meski hatinya itu sepi. Tapi jika duduk makan bersama seperti ini papa berubah ceria." jawab Ryu.


Hana diam, dia tidak bisa melanjutkan pertanyaan lagi. Karena mungkin Ryu sedang rindu dengan papanya Hiroshi.


Dan jam delapan malam, mereka kini sudah masuk kamar masing-masing.


Hana merasa lelah, dia hendak masuk ke dalam kamar mandi. Namun dari belakang Ryu mendekapnya erat lalu bibirnya mencium leher yang terlihat menggoda di katanya.


Tangan Ryu menangkup dua buah bukit kembar Hana lalu mengelusnya pelan dan semakin kasar. Hana mendesah pelan, matanya terpejam menikmati sentuhan Ryu hingga dia lupa niatnya mau ke kamar mandi.


Tangan Ryu satunya memegang bagian bawah Hana, dia memijat lembut hingga Hana bergerak gelisah dan nikmat. Tangan Hana memegang kepala Ryu, Ryu pun membalikkan tubuh Hana sampai menghadapnya.


Ryu menyambar bibir Hana yabg selalu membuatnya ketagihan untuk selalu menciumnya. Dia benar-benar sudah kecanduan tubuh istrinya itu. Lenguhan demi lenguhan Hana semakin tidak karuan karena Ryu semakin bersemangat membuat Hana terbuai dan bergairah.


"Ryu, aah."


Hana mendesahkan nama Ryu, membuat Ryu semakin senang. Dia menggiring Hana ke ranjangnya, lalu di baringkan Hana di kasur dan dia menindih istrinya yang sudah terbuai itu. Dia menarik bajunya dan membuka paksa baju Hana.


Rupanya Ryu sudah tidak sabar ingin memakan istrinya itu. Tak lama keduanya pun sudah bertelanjang dan Ryu kembali memcumbu Hana. Semakin malam kegiatan panas itu semakin bergairah.


Hingga larut malam, Ryu dan Hana baru menyudahi kegiatannya itu dengan erangan dari mulutnya bersama-sama.


"Aaah."


_


Kedua pasangan suami istri dan pengantin baru sedang menuju bandara untuk liburan bulan madu. Keduanya saling memeluk pasangan masing-masing dan kadang berciuman.


Karena merasa tidak pelu di sembunyikan, jadi mereka melakukan apa saja di dalam mobil limo. Tapi masib batas wajar dan sekedar berciuman.


"Enak ya kita bisa liburan bersama." kata Ve memecah kesunyian.


"Emm, kita bisa senang-senang bersama. Nanti bermain di pantai bersama." jawab Hana.


"Seru ya kak, aku aja ngga nyangka akan liburan bulan madu sama-sama." ucap Ve lagi.


"Ya, apa lagi sama suami ya." ucap Hana.


Erick dan Ryu hanya tersenyum saja. Memang tidak di sangka, kakeknya mempunyai ide memberikan tiket liburan bersama dalam rangka hadiah pernikahan.


Hidup yang semula sulit dan banyak dramatisasi kini berubah jadi kebahagiaan. Bertemu dengan pasangan masing-masing dan hidup dengan bahagia bersama orang yang di cintainya.


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊


___________________ the end____________________