
Setelah semua sudah pulang, Ve kini berganti pakaian lagi dengan baju yang tadi dia pakai. Arfan mendekati Ve yang sedang memasukkan baju karatenya ke dalam tas.
"Ve, langsung pulang?" tanya Arfan.
"Iya bang, ibu memintaku mengantar kue seperti biasa ke langganannya." jawab Ve.
"Ve, yang ikut turnamen sampai mana latihannya?" tanya Arfan lagi.
"Masih pertengahan bang, mereka belum bisa menerima materi yang berat. Sepertinya mereka kurang siap mengikuti turnamen ini." ucap Ve.
Arfan diam, dia duduk di kursi di mana tas Ve tadi di letakkan.
"Ya, karena mereka juga bingung dengan ujian semester di sekolahnya. Ada orang tua yang mengeluhkannya padaku. Aku pikir itu terserah mereka saja. Kalau keberatan orang tuanya ya, kita sudahi saja latihan menjelang turnamen. kita tidak mengirim wakil di sana." kata Arfan.
Ve diam, dia mengerti maksud pemilik klub karate itu. Dia juga sebenarnya kewalahan untuk melatih dua kali, sore dan malam hari. Meski malam hari di temani satu teman sewaktu belajar karate dulu.
Tapi dia jarang datang, jadi terpaksa dia yang bertanggung jawab. Belum lagi tugas mata kuliahnya, apa lagi kemarin pak Erick memberinya tugas banyak sekali. Ve pusing dan bingung.
"Ve, jika kamu merasa keberatan melatih anak untuk turnamen. Bubarkan saja, memang banyak yang keberatan anak-anak mengikuti turnamen ini. Kamu juga pasti sangat sibuk dan kerepotan kan?" tanya Arfan.
Ve diam, dia menunduk. Tidak mungkin dia mengiyakan, akan kecewa nanti pelatihnya itu.
"Aku sudah memutuskan untuk membatalkan keikut sertaan sebagai peserta turnamen itu. Kamu cukup melatih anak-anak di sore hari saja. Dan bukannya aku tidak mau membesarkan klub ini, namun untuk saat ini aku juga sibuk dengan urusan pertanianku." ucap Arfan.
"Sayang sekali ya bang, padahal ada peluang untuk mendapatkan juara lho di turnamen itu." ucap Ve.
"Ya, aku takut anak-anak yang di ikut sertakan di turnamen itu ibunya yang ngomel-ngomel nantinya. Mereka bilang tugas dan belajar anaknya jadi di abaikan. Kita yang bukan klub besar dan hanya megandalkan pemasukan dari mereka untuk kelanaran klub ini, takut mereka akan menarik anaknya."
"Tapi bang, mereka ke sini juga kan atas kemauan mereka sendiri." ucap Ve lagi.
"Mereka memang mau ke sini, karena di sini biayanya ringan. Tapi tidak mau mengganggu belajarnya. Aneh memang, anaknya jadi juara di klub karate tidak membuat mereka bangga, tapi jika di sekolah anaknya juara itu yang di harapkan." ujar Arfan lagi.
"Pemikiran orang itu beda-beda ya bang. Oh ya, aku pasti di cari ibu nih bang. Maaf aku pulang duluan." ucap Ve.
Arfan tersenyum, dia lalu mengangguk dan mempersilakan Ve pulang lebih dulu.
_
Pagi-pagi Ve menghampiri Andre yang sedang sarapan di rumahnya, dia masuk tanpa permisi karena tidak ada orang. Ibu Andra juga sedang pergi ke pasar, sedangkan adiknya sudah berangkat ke sekolah jam tujuh tadi.
Ve masuk lebih dalam ke rumah Andre, dia melihat Andre sedang menyuapkan makanannya dengan tangannya. Otak usilnya pun muncul, dia mengendap di belakang Andre yang asyik makan sarapannya.
Tangan Ve siap untuk mengagetkan teman kecilnya itu dan membuat Andre keselek makanan di mulutnya.
"Dooorr!!!"
ucap Ve dengan kencang, kedua tangannya menempel di pundak Andre. Terang saja Andre kaget dan satu tempe yang baru dia masukkan ke mulutnya pun tertelan. Andre terbatuk, dia lalu mengambil air minum dan menenggaknya cepat sampai habis.
Ve tertawa senang, dia sampai menutup mulutnya karena melihat Andra kesedak tempe goreng itu.
"Hahaha!!"
Andre kesal, dia lalu menimpuk Ve dengan kain lap di atas meja ke wajah Ve.
"Sialan lo, lo mau bikin gue mati!" sungut Andre pada Ve.
Ve masih terpingkal dan membuang lap di wajahnya.
"Eh, lo ngga lihat gue masuk?" tanya Ve.
"Mana tahu gue, lo masuk kayak maling tivi."
Plak.
Tangan Ve mendarat di pundak Andre. Andre bangun dan melangkah meninggalkan Ve. Ve mengikuti Andre kemana dia pergi.
"Eh, ngapain lo ngikutin gue?" tanya Andre yang sedang cuci tangan.
"Lo mau ke kampus ngga?" tanya Ve.
"Emang kenapa?" tanya Andre.
"Motor gue mogok, ngga mau jalan. Gue ikut motor lo ya." kata Ve.
"Gue berangkatnya siang, mata kuliahnya cuma dua hari ini." kata Andre lagi.
Ve diam, dia menimbang ucapan Andre. Sebenarnya dia masuk jam setengah sembilan.
"Siang lo jam berapa? Setengah sembilan gue udah ada kelas." ucap Ve.
"Siang banget, bisa jam delapan ngga berangkatnya?" tanya Ve.
"Ngga bisa Ve, gue harus cuci baju dulu. Kemarin gue lupa cuci baju, emak ngga mau cuciin baju gue karena emak marah gue ngga jaga warung tadi malam." jawab Andre.
"Antar gue aha deh sampe gerbang kampus, entar lo pulang lagi."
"Ya elah, kenapa sih lo. Biasanya juga lo bisa berangkat naik angkot."
"Lo pelit banget sih, lo juga suka ikut bonceng juga ke gue."
"Iya iya, bawel banget sih."
"Lo yang bawel, gue tunggu di rumah."
"Iya tuan putri."
"Terima kasih hulu balang."
"Haish, lo kira gue tentara kerajaan."
Setelah berkata seperti itu, Ve pulang ke rumah. Dia berpapasan dengan emak Andre di pintu.
"Ve, ngga kuliah?"
"Kuliah mak, ini minta tolong sama Andre nganter sampe kampus."
"Lho, kok di antar? Emang si Andre ngga masuk kuliah?"
"Katanya mau nyuci baju, mak. Kata Andre emak ngga mau nyuci bajunya gara-gara tadi malam ngga jaga warung." ucap Ve.
"Waah, kurang ajar tuh anak. Andreee!!" teriak emak Andre.
Ve mengerutkan dahinya, kemudian dia tersenyum. Emak Andre masuk dan siap memukul anaknya itu.
Ve keluar rumah, dia berlari pulang ke rumahnya untuk siap berangkat kuliah.
Jam delapan Ve sudah siap di depan rumah, dia menunggu Andre mengantarnya ke kampus. Dan tak lama, Andre datang dengan motor bututnya dengan wajah kesal.
"Lo kenapa cemberut gitu?" tanya Ve menghampiri Andre.
"Gara-gara lo nih, emak gue marah."
"Lha, gue salah apa? Kok gue yang di salahin." kata Ve tidak terima.
"Lo ngomong sama emak kalau ema ngga mau cuci baju gue."
"Ya kan lo bilang sama gue begitu, salah sendiri kenapa lo bohong."
"Udah cepetan naik, gue di suruh emak beli plastik. Tadi kelupaan katanya."
"Iya, jadi orang tuh jangan ngedumel aja sama orang tua. Ngga baik tahu."
"Iya bawel!"
Motor supra x Andre melaju dengan kencang, menurut Andre sih itu kecepatan maksimal, tapi karena motor butut jadi jalannya ya seperti motor scoopy Ve dengan kecepatan empat puluh kilo meter per jam.
Satu jam sampai di depan kampus, Ve turun dari motor Andre.
"Thank's ya bro, gue masuk dulu." kata Ve.
"Lo pulangnya gimana?" tanya Andre.
"Tenang aja, nanti gue nebeng sama Gilang." jawab Ve.
"Ooh. Ya udah, gue ke pasar dulu."
"Iya."
Ve pun masuk gerbang kampus, sedangkan Andre melajukan motornya pergi ke pasar. Dan sebuah mobil ayla masuk gerbang menuju parkiran.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊