V E

V E
39. Pasar Malam



Ryu belum bicara pada Ve jika dia akan membawa Ve ke Jepang. Dia masih berpikir bagaimana nanti di sana ketika bertemu dengan ayahnya dan juga kakeknya.


Dia masih memikirkan itu, dan jika sudah di sana di mana akan di tempatkan? Karena rumah utama sangat di larang untuk di masuki oleh orang yang tidak di sukai oleh kakeknya.


"Lo sedang memikirkan apa?" tanya Erick pada Ryu.


"Gue lagi bingung, jika gue bawa Eiko ke Jepang kemana gue tempatkan dia nantinya. Sedangkan kakek tidak boleh tahu." jawab Ryu.


"Kan lo punya apartemen di Tokyo. Lo tempatkan Ve di sana. Tapi mending jangan lo bawa Ve ke Jepang, aku tidak rela." kata Erick.


"Tapi bukankah kakek lo sudah tahu lo ada di Indonesia?" tanya Erick lagi.


"Tapi kakek tahunya gue sedang berkunjung ke tempat lo aja. Tapi ya, mungkin juga kakek tahu gue menemui Eiko dan ibu Harumi." kata Ryu.


Mereka ngobrol dengan serius sampai candaan dan juga kenangan waktu kuliah dulu di Tokyo.


"Erick?" panggil Ryu dengan serius.


Erick menatap Ryu, seperti ada pembicaraan serius lagi.


"Ada apa?" tanya Erick dengan serius.


"Ayo kita ke diskotik." ajak Ryu.


"Hei, gue ngga bisa pergi ke tempat itu sekarang." jawab Erick.


"Why?"


"Pertama, gue seorang pendidik, kedua gue pacar adik lo, ketiga mama ngga mau anaknya hidup tidak teratur dan sering pergi ke diskotik." jawab Erick.


"Tapi waktu di Jepang lo suka pergi ke diskotik." cibir Ryu.


"Itu bukan di negaraku, mama tidak tahu. Dan juga gue bebas saat itu, tidak ada yang mengawasi gue."


"Sekarang pun mungkin tidak ada. Siapa yang akan mengawasi lo pergi ke diskotik?"


"Gue punya rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan gue sebagai pendidik. Jika gue di ketahui oleh mahasiswa gue pergi ke diskotik, apa jadinya mahasiswa gue menilai gue yang di nilai sebagai dosen baik. Dan lagi di kampus gue gosip akan cepat menyebar. Yang ada gue nanti di pecat karena tidak mencerminkan sebagai pendidik yang baik." kata Erick menjelaskan.


Ryu diam, dia lalu tersenyum. Dia menepuk pundak sahabatnya itu. Komitmen Erick sangat bagus, dia senang sahabatnya itu punya pendirian yang teguh.


Dia yakin sahabatnya itu pasti akan melindungi adiknya Ve.


"Oke, gue ngga akan memaksa lo pergi ke diskotik. Gue yakin lo orang yang tepat untuk Eiko. Gue hanya ingin lo menjaga dan menyayangi Eiko sepenuhnya." kata Ryu.


Pembicaraan yang menyimpang, tapi Erick suka jika sudah bicara mengenai Ve. Dia memanf benar-benar mencintai adik Ryu tersebut.


"Ya, gue akan menjaga dia selamanya. Gue bikan hanya kasihan padanya, tapi gue memang benar-benar cinta sama Eiko." kata Erick.


Ryu tersenyum, lalu dia menepuk pundaj Erick dan merangkulnya.


"Gue bosan di rumah terus, ayo kita jalan-jalan cari udara segar. Gue suka udara di Indonesia jika malam hari." kata Ryu.


"Oke, tapi kita bisa pergi bertiga dengan adikmu." kata Erick dengan senyum kemenangan.


"Hei, adik gue lo ajak kencan?"


"Memang kenapa? Seharusnya gue kencan tidak boleh membawamu juga. Masa kencan bertiga, itu karena gue calon adik ipar yang baik."


"Sialan lo. Oke, kita akan jalan bertiga dengan Eiko."


Erick tersenyum, dia lalu menghubungi Ve untuk menjemputnya di depan gang saja.


"Halo kak Erick, ada apa?"


"Kamu sedang apa?"


"Aku lagi santai, kenapa memangnya?"


"Kita jalan yuk? Dengan kakakmu juga."


"Kemana?"


"Mungkin pergi ke bioskop atau kemana kamu mau?"


"Emm, di tempat tidak jauh dari rumah ada pasar malam yang sangat ramai. Aku ingin ke sana, apa kak Erick mau kesana?"


"Waaah, ide bagus itu. Oke kita kesana saja."


"Oke, aku tunggu di rumah."


"Ve, bisa nunggu di depan gang aja?"


"Boleh. Ya udah, aku siap-siap dulu kak sekalian izin sama ibu."


"Oke, aku langsung ke sana ya sayang."


"Apa sih kak Erick?"


"Itu panggilan sayang aku sama kamu."


"Iya sudah, aku mau siap-siap. Daah."


"Daah."


Erick menutup sambungan teleponnya pada Ve, dia tersenyum senang dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"What? Lo senyum-senyum gitu?"


"Kita bersiap, Eiko sudah bersiap untuk pergi dengan kita."


"Kita mau kemana?"


"Ada sebuah pasar malam di sekitar daerah rumah Ve, dia meminta kesana."


"Sebuah pasar dadakan dan karnival metika di Tokyo dulu."


"Ooh, boleh. Ayo kita kesana, gue udah siap sejak tadi.


"Gue siapkan mobil dulu."


Erick lalu keluar dari kamarnya dia dan Ryu akan pergi ke pasar malam dengan Ve.


_


Dan kini Erick dan Ryu menunggu Ve keluar dari gang untuk pergi ke pasar malam di daerah itu juga.


"Eiko belum muncul?" tanya Ryu melihat keluar jendela.


"Belum, gue lagi hubungi dia ini. Kok sejak tadi belum muncul juga." jawab Erick.


Rasa gelisah Erick kian bertambah ketika ada seorang gadis berlari melihat mobilnya dengan panik. Dan ternyata itu Ve, dia mengetuk pintu dengan keras.


Membuat Ryu kaget. Lalu cepat-cepat dia membukanya dan menarik tangan Ve agar cepat masuk ke dalam mobil.


"Alhamdulillah ya Allah.." ucap Ve mengelus dadanya.


Dia duduk di samping Ryu yang dengan cepat pindah ke belakang. Ryu dan Erick menatap Ve heran, kenapa Ve seperti di kejar oleh seseorang?


"Ve, kamu kenapa?" tanya Erick heran.


"Aku tadi di kejar preman kak, jadi aku lari." jawab Ve masih dengan nafas tersengal.


Baik Erick dan Ryu melihat keluar, memang terlihat ada dua orang laki-laki yang berbalik arah dan menghilang masuk lagi ke dalam gang tadi.


"Emang setiap malam ada preman yang suka ganggu cewek lewat, Ve?" tanya Erick.


"Iya, memang suka ada. Kebetulan tadi itu jalan gang sepi mereka leluasa bertindak." kata Ve.


"Kenapa ngga kamu laporkan sama ketua erte di sana atau ke polisi, itu kan mengganggu kenyamanan orang lewat di sana." kata Erick lagi.


"Sudahlah kak, terus kita jadi ke pasar malam?"


"Iya, jadi."


Ryu yang melihat Ve masih terlihat deg degan dan ada rasa takut, dia memeluk Ve.


"Im sorry, aku belum bisa melindungimu." kata Ryu pada Ve.


"Aku ngga apa-apa kok, aku bisa jaga diri." jawab Ve untuk menenangkan Ryu kakaknya.


Erick menjelaskan tadi kalau Ve di kejar preman yang sering mangkal di sana. Dan kebetulan Ve di ganggu. Ucapan Erick membuat Ryu merasa bersalah.


Apakah setiap hari adiknya itu selalu di ganggu oleh preman atau orang tidak di kenal? Lalu ibu Ve juga?


Apa jangan-jangan itu bukan hanya preman biasa, tapi adalah suruhan kakeknya.


Ryu kembali menatap Ve yang kini sudah lebih tenang, Ve menatap balik Ryu lalu tersenyum. Dengan bahasa isyarat, Ve mengatakan kalau dia sudah tidak apa-apa.


Sebenarnya bisa saja Ve melawan preman tadi, tapi dia terus saja di telepon Erick dan dia lebih baik lari untuk menghindari perkelahian dengan preman itu agar lebih cepat sampai di mobil Erick, karena jaraknya sebentar lagi sampai di ujung gang dan di jalan di mana Erick menunggunya.


Mobil melaju dengan santai, Erick masih menatap Ve dari kaca spion di depan kemudinya.


Dan hanya lima belas menit saja, mobil telah sampai di parkiran pasar malam yang ramai.


Banyak para pedagang mencari peruntungan di pasar malam itu. Erick, Ve dan Ryu masuk ke area pasar malam.


Ve langsung menuju ke area bermain komidi putar, dia menelusuri semua jenis permainan. Dia menunjuk pernainan karnival dan meminta pada kedua laki-laki yang malam ini jadi pengawalnya.


"Mau naik karnival ngga?" tanya Ve.


Gayanya persis seperti anak kecil yang jarang sekali naik arena bermain seperti itu.


Baik Erick maupun Ryu hanya tersenyum, mwreka sangat gemas dengan tingkah Ve yang baru di lihatnya.


Apa lagi Erick, dia baru tahu jika ada sisi kecil kekanak-kanakan di dalam diri Ve. Tapi dia memaklumi itu. Mungkin baru kali ini dia merasakan sebagai anak yang di perhatikan oleh laki-laki yang menyayanginya


Ryu sendiri senang melihat tingkah Ve seperti itu. Ingin dia mengajak Ve ke Jepang dan berkeliling di sebiah dinseyland di sana.


Dia belum mengungkapkan keinginannya mengajak Ve ke Jepang menemui papanya. Dia masih menikmati lucunya dan senang mempunyai adik perempuan.


"Oniichan, ayo naik itu." ajak Ve pada Ryu.


Ryu membelalakan matany mendengar ucapan kakak dengan bahasa Jepang, dia menatap Erick. Tapi Erick malah menengadahkan kedua tangannya tanda tidak tahu, lalu tersenyum.


"Di internet banyak sekali translate bahasa, Ryu. Jadi ngga heran kalau Eiko tahu apa panggilan pantas untukmu." kata Erick.


"Oh, yes. Lo benar, banyak sekali di sana. Nanti gue akan belajar bahasamu agar gue tahu dan mengerti, apalagi bisa menanggapi ucapan kalian. Gue kadang bingung jika kalian bicara, ingin rasanya tahu apa yang di bicarakan. Seperti tadi, apakah Eiko baik-baik saja? Siapa yang mengejarnya tadi?"


"Katanya preman yang biasa mangkal di sana, tapi entahlah. Memangnya lo mencurigai sesuatu?"


"Sedikit, gue ngga yakin juga. Sudahlah lebih baik kita buat senang orang yang kita sayang malam ini."


"Oke."


Lalu keduanya menghampiri Ve yang sedang mengantri membeli tiket di loket penjualan tiket. Cukup panjang juga, namun akhirnya mereka mendapatkan tiketnya dan siap menaiki karnival.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊