
"Pak Erick ada apa ya?" tanya Ve bingung.
Erick masih menatap Ve, namun tatapannya sudah berbeda. Dia menghela nafas panjang, belum bicara dengan Ve apa lagi menjawab pertanyaan Ve.
Ve menunduk, dia malu di tatap oleh Erick seperti itu,
"Bronis itu kamu yang buat?" tanya Erick akhirnya.
"Iya." jawab Ve singkat.
"Kok beda dengan punya ibumu?" tanya Erick lagi.
"Emm, itu di panggang ngga di kukus." jawab Ve lemah. Dia berpikir Erick tidak suka yang di panggang.
Diam, Erick diam sejenak. Ada senyum di bibirnya tipis, namun menghilang lagi.
"Kamu memberi bronis padaku untuk apa?" tanya Erick lagi, dengan wajah datarnya.
"Emm, sebagai maaf saya pak." jawab Ve ragu.
"Maaf kenapa? Kamu punya salah sama aku?" tanya Erick, masih memancing emosi Ve juga ingin tahu maksudnya Ve memberinya bronis.
"Emm, waktu itu sikap aku kasar sama bapak. Jadi aku minta maaf sama pak Erick." kata Ve, dia sangat gugup dan seketika pusing di kepalanya hilang karena tegang menghadapi Erick begitu dekat.
"Aku?!"
"Mmaksudnya saya, pak. Duuh." kata Ve kemudian dia merutuki ucapannya sendiri.
Kembali Erick diam, senyumnya mengembang. Sedangkan Ve masih menunduk dalam karena malu.
"Kalau permintaan maaf kamu aku tolak, bagaimana?"
"Eh, di tolak?" tanya Ve kaget.
Dia mendongak, menatap dosennya itu lalu menunduk lagi dengan lesu. Ada ya permintaan maaf di tolak karena masalah sepele? pikir Ve.
"Bagaimana kalau di ganti?" tawar Erick.
"Eh, di ganti? ganti apa?"
"Bukan sebagai permintaan maaf, tapi..." kata Erick menggantung.
Ve kembali menatap Erick, dia tidak mengerti maksud perkataan Erick itu.
"Apa?" ragu Ve bertanya.
"Kamu jadi pacar aku." jawab Erick penuh keyakinan dan tegas.
"Eh, kok gitu?" tanya Ve bingung.
"Mau ngga?"
"Tapi, saya hanya mau minta maaf sama pak E rr rick kok. Duh, kok jadi begini ya." rutuk Ve dengan sikapnya yang mendadak grogi di depan dosennya itu.
"Kalau ngga mau ya sudah, saya kembalikan bronisnya."
"Lho di kembalikan? Oh ya sudah sini bronisnya. Kalau ngga mau jangan maksa jadi orang." kini mode ketus Ve mulai lagi, dia menatap Erick tajam dan hendak keluar dari dalam mobil Erick.
Namun tangan Ve di tarik lagi dengan kencang oleh Erick, Ve terjerembab tubuhnya miring dan satu ciuman mendarat di bibir Ve tanpa sengaja. Atau memang Erick sengaja ingin mencium Ve.
"Ish, pak Erick.!"
Plak!
Reflek satu tamparan sedikit keras di pipi Erick, dia tidak kaget atau marah. Namun senyumnya mengembang.
"Itu pertanda kamu sudah jadi pacarku."
"Tapi ngga maksa juga pak."
"Kamu perlu di paksa."
"Kok maksa, pak Erick juga ngga mengatakan cinta tapi tahu-tahu main cium aja. Itu ciuman pertamaku!" sungut Ve masih dengan kesalnya.
"Hahah, sama. Aku cinta kamu Ve." kata Erick mengerlingkan matanya pada Ve.
Ve diam, wajahnya berubah yang tadinya penuh kekesalan kini bersemu merah dan menghangat pipinya.Mau tidak mau Ve tersenyum, lalu menunduk malu.
"Jangan di ulangi lagi." kata Ve luluh akhirnya.
"Apanya?"
"Ciuman paksanya."
"Jadi harus sama-sama mau?"
"Ngga!"
"Hahah! Aku hanya gemas sama kamu, kenapa susah sekali menaklukan kamu, Ve."
"Jadi hanya ingin menaklukkan aku saja?"
"Tidak, aku benar-benar cinta kok sama kamu."
Kembali Ve tersenyum, wajahnya bersemu merah kembali. Erick tertawa bahagia melihat perubahan wajah Ve yang lucu itu.
"Sini mana bronisnya, sayang udah di kasih gratis masa di kembalikan lagi." kata Erick memgambil lagi bronis yang tadi di jok mobil depan.
Dia lalu memakannya di hadapan Ve, merasakan bronis buatan pacar barunya beberapa menit itu.
"Manis ngga?"
"Kamu belum mencicipinya?"
"Aku buat dua kotak, di bawa semua. Ngga aku cicipi lagi."
"Coba buka mulutnya, aaa?" pinta Erick, dia akan menyuapi Ve dengan bronis buatannya sendiri.
Dengan ragu Ve membuka mulutnya, lalu satu potong bronis di masukkan ke dalam mulut Ve. Dia mengunyah pelan, lalu tersenyum puas bahwa bronis yang dia buat ternyata seenak buatan ibunya.
"Enak?" tanya Erick.
"Mm, ya enak. Kayak buatan ibu, pas." jawab Ve masih mengunyah bronisnya.
"Mau nambah lagi?"
Ve mengangguk lalu membuka mulutnya. Namun Erick tidak menyuapinya. Dia bungkus kembali bronisnya dalam kotak dan di simpan di tempatnya semula. Mulut Ve mengatup kembali, berubah jadi cemberut. Erick melihatnya sangat lucu, ingin dia mencium lagi bibir yang mengatup lucu itu.
"Aku kan mau lagi."
"Bikin bronis sendiri kalau mau lagi, sekalian di buatkan lagi pacarnya. Itu punya aku." jawab Erick enteng.
Ve cemberut kesal, kenapa sikap Erick jadi kekanak-kanakan sih, pikir Ve.
Erick melirik Ve, dia senang mengerjai Ve hari ini. Dan ada kebahagiaan di hatinya telah meluluhkan hati Ve meski harus dengan cara tidak biasa orang menyatakan cinta.
Tapi tidak keberatan dengan caranya, mungkin kaget saja dan tidak akan terulang lagi mencium Ve seperti itu.
"Emm, pak. Apa yang tadi pak Erick itu beneran?" tanya Ve, memastikan kalau dia tadi di tembak oleh dosennya itu.
Erick mengerutkan dahinya, jadi Ve masih belum paham juga?
"Ya, aku cinta kamu. Paham?"
"Oh, itu ya."
"Terus yang mana?"
"Ngga apa-apa, cuma aku malu nanti di kelas bagaimana?"
"Ya ngga gimana-gimana. Berjalan apa adanya, bedanya nanti kamu akan sering jalan sama aku." kata Erick.
"Bener ya, di kelas seperti biasanya?" kata Ve memastikan agar Erick tidak membocorkan hubungannya nanti.
"Iya, tapi sekarang ganti panggilannya jangan pak lagi." ujar Erick.
"Tapi ini masih di kampus."
"Ini sudah bukan jam kuliah lagi, Ve." sergah Erick gregetan sendiri dengan Ve itu.
"Terus harus manggil apa kalau bukan pak Erick tuh?" tanya Ve bingung.
"Panggilan kayak Jody aja, tapi yang lebih romantis manggilnya." ucap Erick dengan senyumannya narsis.
Ve tersenyum miring matanya membola, baru kali ini dosennya itu sedikit narsis. Merajuk pula.
"Ve?"
"Iya pak?"
"Ve?!"
"Iya kak."
Ve menatap Erick, lalu beralih ke samping. Dadanya bergemuruh tidak karuan, karena rasa yang membuncah. Dia malu sejak tadi Erick menatapnya dalam.
Kemudian Erick maju mendekat pada Ve, dia hanya ingin memeluk Ve erat. Di tariknya tubuh Ve untuk lebih mudah dia memeluk kekasihnya itu.
Ve sendiri tidak menolak, dia merasa nyaman di peluk Erick. Lama mereka berpelukan, hingga suara telepon Erick berbunyi nyaring.
Ve melepaskan diri dari pelukan Erick, dia bersiap untuk keluar dari mobil Erick. Namun sekali lagi tangannya di cegah, Ve diam dan melihat ke arah kekasihnya itu.
"Saya mau pulang, kak."
"Hati-hati ya bawa motornya." pesan Erick.
"Iya, kakak juga."
Erick mengangguk lalu menarik kepala Ve dan mencium kepalanya lalu tersenyum padanya. Ve pun membalas senyumannya lalu keluar dari dalam mobil Erick.
Di lambaikan tangannya pada Erick lalu tersenyum. Kemudian dia melangkah menjauh menuju motornya.
Erick masih menatap kepergian Ve, senyumnya masih mengembang. Lalu di angkatnya telepon yang berbunyi sejak tadi.
Ryu
"Halo, Ryu?"
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊