
Erick mengambil meja di pojokkan agar tidak terlihat mencolok. Dia tahu Ve kurang nyaman makan di restoran mewah itu.
Terlihat dengan sikap Ve yang selalu menengok ke kanan dan ke kiri agar tidak bertemu dengan teman satu kampusnya.
"Kamu tenang saja, di sini tidak ada yang mampu makan di tempat mewah ini temanmu." kata Erick.
"Pak Erick jangan berkata begitu, bisa saja mereka juga sama sedang makan di restoran ini." ucap Ve.
Dia tetap tidak enak dengan Erick, Erick sendiri hanya bersedekap sambil menatap Ve yang masih saja matanya berkeliling.
"Ya sudah, ayo kita pindah saja." kata Erick.
Ve mendongak, dia melihat Erick sudah berdiri lagi.
"Eh, mau kemana lagi pak?" tanya Ve heran.
"Katanya mau makan di kaki lima aja, ayo?" jawab Erick.
Ve diam, dia bingung juga. Masa yang mau di ajak makan malah rewel begitu. Mana gratis lagi tinggal makan, apa susahnya di terima aja. Pikir Ve.
"Emm, terserah pak Erick aja. Kalau mau makan di restoran ini juga ngga apa-apa kok Maaf kalau saya sedikit bawel." kata Ve pelan.
Erick menghela nafas panjang, dia kemudian duduk lagi. Melambaikan tangannya pada waiters untuk memesan makanan.
"Silakan pak, mau pesan apa?" tanya waiters tersebut memberikan katalog menu.
Erick mengambil katalog tersebut dan menyebutkan beberapa menu makanan yang menurutnya enak, dia tidak bertanya pada Ve apa yang mau dia pesan.
Ve hanya diam saja, dia tahu Erick sedikit kesal dengam sikapnya itu.
Setelah pesanan di catat, waiters tersebut berlalu meninggalkan meja Erick.
Erick sendiri masih diam, dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi wathsap untuk mengetahui informasi di kantornya. Dia menelepom seseorang, Ve hanya memperhatikan dosennya itu. Dia mengalihkan pandangannya setelah Erick juga melihat ke arahnya.
Dua jam Erick dan Ve makan di restoran tersebut, tidak lupan Erick juga membungkus makanan untuk ibunya Ve.
"Nih buat ibu kamu." kata Erick sambil memyerahkan bungkusan kotak makanan tersebut.
"Eh, ngga usah pak. Saya jadi tidak enak, di ajak makan di restoran mahal terus di bawakan juga buat ibu." kata Ve.
"Kamu menyadarinya?" tanya Erick melihat Ve.
"Eh?"
Erick menarik tangan Ve, dia di ajak masuk ke dalam mobil.
Dari jauh sejak Ve dan Erick keluar dari restoran itu, ada seseorang memperhatikan Ve dan Erick sampai di parkiran dan mereka masuk ke dalam mobil.
"Waaah, berita menggemparkan nih. Untung aku dapat gambarnya. Ternyata Ve itu sugar baby juga ya, hehe.." kata seorang gadis dengan teman satunya.
"Lo motret siapa?" tanya temannya.
"Lihat aja di ponsel gue, nih." gadis itu.
Temannya mengambil ponselnya, dia memperhatikan poto di ponsel tersebut dan matanya terbelalak.
"Ini kan Ve, yang di sukai Simon. Dan cowoknya kayak kenal deh." kata temannya berpikir.
"Itu pak Erick, dosen matematika di kampus." kata gadis tersebut.
"Waaah, jadi dia simpanan pak Erick?" tanya temannya senang.
"Ya, dia sugar baby pak Erick."
"Tapi setahuku pak Erick masih jomblo deh, masih lajang juga. Jadi bukan sugar baby pak Erick, tapi oke nih buat gosip di kampus. Simon bakal marah dan cemburu, hahaha!"
Tawa senang dan senyum sinis kedua gadis tersebut membuat orang-orang yang lewat di depan mereka merasa aneh, dan menggelengkan kepala saja.
_
Di kampus, tersebar gosip dengan berbagai macam versi. Ve sendiri tidak mengerti tentang gosip itu mengenai siapa.
Dia sengan santai memasuki gedung fakultas pendidikan, semua orang nampak melihat Ve dengan sinis. Ve balik menatap mereka yang juga melihatnya sinis, tapi Ve tidak peduli.
Dia terus berjalan menyusuri lorong gedung, dan tiba di kelasnya. Dia masuk, sama halnya dengan orang-orang tadi di luar yang menatapnya sinis. Namun tidak terlalu kentara sekali.
Ada yang tidak peduli Ve masuk kelas dan ada juga yang tetap menatapnya tajam. Ve duduk di bangkunya seperti biasa, Gilang diam melihat Ve duduk di sebelahnya.
Menatap Ve heran dan ingin bertanya langsung, tapi di urungkan karena dosen sudah masuk ke dalam kelas.
"Ve, lo dengar gosip ngga?" tanya Gilang sambil berbisik pada Ve.
"Gosip apa?" tanya Ve masih santai.
Ve menoleh ke arah Gilang, dia menatap Gilang heran dan penasaran.
"Emang gue di gosipin apa di kampus?" tanya Ve.
"Lo lihat di grup chat kelompok Dela, di sana ada foto lo sama cowok. Lo naik mobil sama cowok itu. Emang itu lo Ve?" tanya Gilang masih berbisik dengan menyerahkan ponselnya pada Ve.
Sialnya dosen itu mendekat dan mengambil ponsel Gilang, dia membawa ponselnya ke depan dan meletakkannya di meja.
Gilang hanya melongo saja ponselnya di bawa oleg dosen tersebut. Ve sendiri juga bingung, teman-temannya melihat ke arah Gilang dan Ve.
"Di jam kuliahku di larang berdiskusi selain mata kuliahku." kata dosen tersebut dengan tegas.
Tentu saja Gilang jadi bingung, dia melirik ponselnya. Masih tergeletak di meja.
Dosen tersebut menulis dan menerangkan mata kuliah apa yang di ampunya, semua mendengarkan dengan serius. Begitu juga dengan Ve. Hanya Gilang yang terlihat gelisah, ponselnya masoh tergeletak di meja.
Satu jam setengah akhirnya selesai juga, Gilang langsung memgambil ponselnya dengen cepat. Kemudian dia duduk lagi di samping Ve.
Ve sendiri tidak ingat tentang ucapan Gilang tadi, dia memeriksa apakah ada tugas dari pak Doni. Karena setelah ini pak Doni masuk.
Semua tampak rapi dan tidak bersuara, karena mereka tahu pak Doni sangat kiler.
"Lo udah menyerahkan makalah ke pak Doni?" tanya Gilang lebih memilih tidak memberi tahu Ve tentang gosip tersebut.
"Udah, kemarin." jawab Ve.
"Maaf ya ngga bantu kamu, habis susah cari referensi bukunya." kata Gilang lagi.
"Iya ngga apa-apa, kebetulan aku juga punya teman yang bekerja di perpustakaan." kata Ve.
Sudah sepuluh menit pak Doni belum juga masuk, Ramon sang ketua kelas pun keluar untuk menjemput dosen kiler itu. Lima menit Ramon kembali dan membawa sebuah buku dan menulis di papan tulis.
"Pak Doni sedang rapat di ruang rektor membahas tentang wisuda angakatan sekarang, jadi beliau hanya memberi tugas saja dan di kumpulkan setelah jam mata kuliahnya selesai. Tetap ya ada sanksi bagi mahasiswa yang tidak mengumpulkan tugas beliau." kata Ramon memberitahu pada teman-teman kelasnya.
Dan tentu saja teman satu kelas bersorak gembira, termasuk Ve. Mereka segera mengerjakan tugas dari pak Doni sambil berkelompok.
Ve berkelompok dengan Ayu, Sita dan Danu serta Gilang. Dalam kelompok itu mereka membahas tugas yang di berikan. Tentu saja canda dan tawa juga bergosip jadi bumbu pembicaraan mereka.
"Eh Ve, lo lihat grup chat ngga?" tanya Ayu pada Ve.
"Ngga, gue ngga masuk grup chat." jawab Ve.
"Pantes, lo tenang gitu. Gue penasaran, lo sama cowok siapa sih? Setahu gue lo ngga punya cowok Ve?" tanya Ayu masih dengan bahasa halus menyindir Ve.
"Lha, gue di gosipin apa emangnya?" tanya Ve masih santai.
Sita mengeluarkan ponselnya, dia membuka grup chat di aplikasi wathsap dan memperlihatkan foto Ve yang sedang masuk ke dalam mobil.
"Nih, lo lagi sama cowok kan?" tanya Sita.
Ve memperhatikan foto tersebut, dia melihat banyak chat dan caption di bawah foto tersebut dengan tulisan sugar baby om om.
Dada Ve berdenyut, dia diam dan menatap Sita.
"Siapa yang ngirim foto di grup chat itu?" tanya Ve.
"Jawab dulu, gosip itu benar ngga?" tanya Sita.
"Ya ngga benarlah, emang gue cewek apaan jadi sugar dady om om. Lagian itu gue mau pulang di antar sama..." kalimat Ve terhenti.
"Sama siapa Ve?" tanya Ayu penasaran.
"Udah deh jangan di bahas, yang penting gue bukan cewek seperti itu ya. Gue cewek baik-baik!" tegas Ve.
Dia kesal dengan gosip yang terlalu berlebihan itu.
"Udah jangan bahas Ve, tugas dari pak Doni lebih penting dari gosip murahan itu." kata Gilang menengahi.
Pembicaraan itu terhenti, semua lebih menyelamatkan nilai dari pak Doni dari pada membahas gosip tentang Ve.
Ve sendiri merasa kesal dengan gosip itu, dia menyesal kenapa menuruti Erick yang makan di restoran.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊