
Setelah menyelesaikan materi untuk besok, Erick menghubungi Ryu. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, berarti di sana masih sore
Tuuut.
Erick menghubungi Ryu, dan masih belum di jawab.
Sekali lagi Erick menghubungi Ryu dan tersambung.
"Halo, Rick. Ada apa?"
"Aku punya kabar baru untukmu." jawab Erick.
"Apakah itu?"
"Aku sudah menemukan adikmu."
"Oh ya? Bisakah kamu mengirimkan foto adikku?" tanya Ryu antusias.
"Aku belum minta fotonya, besok aku kiri foto adikmu. Tapi apakah kamu akan ke Indonesia lagi menemui adikmu?" tanya Erick.
"Tentu saja, aku akan ke Indonesia untuk menemui adikku."
"Dia masih dengan ibunya, kamu akan menemui ibunya juga?" tanya Erick memastikan Ryu mau bertemu dengan ibunya Ve.
"Iya, aku akan menemui ibu dari adikku."
"Kapan kamu akqn ke Indonesia?"
"Secepatnya, mungkin minggu depan. Aku ngga sabar bertemu dengan adikku itu."
"Kalau begitu, aku ngga usah kirim foto adikmu karena seminggu lagi kamu akan datang."
"Hei, ngga bisa begitu! Aku ingin melihat foto adikku, Erick!"
"Datanglah secepatnya, karena banyak cerita yang tidak terduga di kisah adikmu."
Klik
Erick menutup sambungan teleponnya, dia sengaja membuat Ryu penasaran. Dia yakin, besok atau lusa dia akan datang ke Indonesia.
Kini Erick merebahkan tubuhnya yang terasa penat, dua jam lebih berkutat di depan laptop menyelesaikan materi.
Dan kini dia merasa kangen dengan Ve, lalu dia ambil ponselnya dan menghubungi Ve.
Tuuut
Tersambung, namun belum di jawab. Lama Erick menunggu Ve menjawab teleponnya.
"Apa dia sudah tidur ya?" gumam Erick.
Lalu Erick menutup sambungan teleponnya, dia takut mengganggu waktu istirahat Ve.
Dan kali ini Erick benar-benar di buat tidak percaya dengan cerita ibu Tika. Bagaimana bisa orang yang sangat sederhana itu adalah istri dari bangsawan Jepang di sana.
Hidupnya berbanding terbalik dengan Ryu, Ryu yang selalu punya bodyguard jika kemana-mana. Dan selalu mendapatkan hal-hal istimewa, baik transportasi atau pun fasilitas lainnya. Hanya ke Indonesia dia tidak membawa bodyguard.
Tapi itu juga memang dia pewaris keluarga Takahiro, jadi wajar saja mendapatkan fasilitas mewah.
Hanya saja, ada keturunan Takahiro yang hidupnya sederhana. Itu pun selalu di kejar oleh bayang-bayang anak buah Takahro. Maksudnya apa mau mencelakakan ibu Tika? pikir Erick.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, akhirnya Erick tertidur setelah pikirannya melanglang buana mengenai kehidupan ibu Tika dan Ryu.
_
Dua hari setelah Ryu di beritahu Erick mengenai adiknya, dia langsung memesan tiket pesawat saat itu juga. Agar bisa terbang ke Indonesia lebih cepat. Seperti apa yang di katakan Erick, dia tidak memberikan foto adiknya.
Dan sialnya Ryu sangat penasaran dengan hidup adik dan ibunya itu. Erick tidak memberitahu bagaimana kehidupan adiknya dan ibunya.
"Tuan Ryu, apakah anda akan langsung terbang ke Indonesia sore ini?" tanya asistennya, Tamada.
"Iya, Tamada. Aku sangat penasaran dengan wajah adikku. Erick tidak mau memberiku fotonya." kata Ryu.
Dia tidak sabar ingin bertemu dengan adik perempuannya.
"Bagaimana dengan papa anda? Apakah anda akan memberitahunya?" tanya Tamada.
"Nanti saja, aku ingin memastikan apakah benar apa yang di katakan Erick tentang adikku." kata Ryu lagi.
"Tapi nampaknya tuan Hiroshi juga tidak pernah mencari tahu dengan istrinya itu." kata Tamada.
"Papa, mungkin ingin mencari. Tapi sepertinya beliau lebih memenuhi janjinya pada kakek." kata Ryu lagi.
"Tuan, saya pernah mendengar dari anak buah tuan Takahiro kalau kakek anda mengirim orang untuk mencari tahu tentang istri kedua papa anda." kata Tamada.
"Benarkah? Mau apa kakek mengirim anak buahnya ke sana?" tanya Ryu penasaran.
"Entahlah, yang saya dengar ada sebuah perintah untuk membuat istri papa anda itu tidak berbuat macam-macam." kata Tamada masih dengan teka teki.
"Maksudnya apa, Tamada?" tanya Ryu.
Tamada diam, dia takut majikannya itu marah sejauh apa yang dia tahu tentang anak buah tuan Takahiro ke Indonesia.
"Tamada, katakan padaku kenapa kakek mengirim anak buahnya ke Indonesia?!" tanya Ryu memalsa Tamada bercerita.
Ya ampun, sampai seperti itu kakek memisahkan papa dengan istrinya itu. Jika papa tahu pasti beliau marah. Mungkin juga akan berbuat nekad." ucap Ryu.
"Maka dari itu, anda secepatnya kesana. Cari tahu tentangnya, bukankah teman anda sudah tahu di mana adik anda? Berarti dia juga tahu ibunya." kata Tamada.
"Iya, kamu benar. Makanya sore ini aku secepatnya terbang ke Indonesia." kata Ryu lagi.
Setelah pembicaraan itu, dia menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Selebihnya nanti Tamada yang akan menyelesaikan pekerjaannya.
Ryu akan tinggal di Indonesia hanya seminggu, dan dalam waktu seminggu itu dia harus bisa menemukan atau bisa bertemu dan ngobrol dengan istri kedua ayahnya itu.
_
Tok tok tok
Suara pintu pagi-pagi di ketuk oleh seseorang. Ibu Fatma heran, siapa pagi-pagi bertamu ke rumahnya.
"Bi, siapa sih pagi-pagi begini bertamu? Apa ngga lihat waktu kalau ini masih pagi sekali." kata ibu Fatma dengan kesalnya.
"Saya tidak tahu nyonya, biar saya yang buka." kata pembantunya.
Dia lalu menuju ruang tamu dan membuka pintu rumah utama.
"Morning." sapa tamu itu yang ternyata adalah Ryu.
Pembantu Erick kaget, dia tahu itu adalah teman anak majikannya.
"Come come masuk." dengan gaya dua bahasa yang lucu, pembantu itu menyuruh Ryu masuk.
Tentu saja Ryu mengerti bahasa isyarat itu,meski tidak tahu apa artinya. Dia hanya tersenyum lalu masuk dan menuju sofa.
"**** down, mister." kata pembantu Erick.
"Oke, tank you."
Pembantu itu masuk dan memberitahu ibu Fatma bahwa yang bertamu itu adalah temannya Erick dari Jepang.
Tentu saja ibu Fatma kaget, namun dia langsung menuju kamar anaknya. Memberitahu kalau temannya datang berkunjung.
Tok tok tok
"Erick, kamu sudah bangun belum?" tanya ibu Fatma sambil mengetuk pintu.
Lama Erick membuka pintunya, dia terlihat masih mengantuk dan bertanya pada ibuny.
"Ada apa sih ma?" tanya Erick sambil menguap.
"Itu teman kamu dari Jepang datang kemari." jawab ibu Fatma.
"Ah, mana ada dia datang sepagi ini sih ma?" tanya Erick tidak percaya.
"Eeh, itu ada di depan. Cepat kamu cuci muka dan sana sholat subuh dulu. Jam segini belum sholat subih." kata ibu Fatma lagi.
Mau tidak mau Erick menuruti ucapan ibunya, dia masuk lagi ke kamarnya untuk berwudhu dan sholat subuh.
Sepuluh menit Erick bersiap setelah sholat subuh, dia lalu menuju ruang tamu. Apakah benar sahabatnya datang sepagi ini.
Dan dia pun terkejut, di sofa Ryu sedang duduk sambil bermain ponselnya. Erick mendekat, dia tidak percaya Ryu datang secepat itu.
"Ryu, lo pagi bener datangnya?" tanya Erick heran.
Dia duduk di depan Ryu yang sedang tersenyum padanya.
"Hei, lo membuat gue penasaran dengan cerita lo di telepon. Makanya gue langsung terbang ke Indonesia dan menemuimu." jawab Ryu.
"Hahah, gue juga udah menduga lo bakal datang lebih cepat dari perkiraan. Ya sudah, gue mau bersiap ke kampus dulu. Lo tinggalkan koper di kamar gue. Tapi, lo berapa hari di sini?" tanya Erick.
"Seminggu saja, gue ngga bisa lama-lama meninggalkan pekerjaan gue di sana." jawab Ryu.
"Oke, lo tunggu sebentar ya. Gue mau siap-siap ke kampus, karena hari ini gue ada jam di kampus. Lo bisa ikut, nanti lo bisa ketemu sama adik lo itu." kata Erick membuat semakin penasaran Ryu.
"Lo jangan bikin gue penasaran, siapa sih dia?" tanya Ryu.
"Ck, kalau gue kasih tahu. Lo ngga bakal tahu juga. Udah nurut aja sama gue." kata Erick dengan tenang.
"Ya udah, lo cepat bersiap. Gue tunggu di sini, jangan lama." kata Ryu lagi dengan kesal.
"Lo mau sarapan ngga? Tuh, ke belakang aja, di meja makan sudah di siapkan sarapan untuk lo. Gue mandi dulu."
Setelah berkata seperti itu, Erick menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap pergi ke kampus.
Sedangkan Ryu sendiri kembali duduk di sofa, dia tidak ke meja makan karena merasa tidak enak meski pun dulu dia juga biasa saja di rumah Erick.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊