
Erick masih berkutat di laptopnya, setelah dia tidak menemukan titik terang tentang Ve. Dia beralih ke situs website kampus dan melihat data seluruh mahasiswa.
Dia mencari dengan mengecilkan pencarian. Namun setiap fakultas dia cari satu persatu. Memang sangat tipis kemungkinannya, tapi dia tetap mencari tahu semua mahasiswa.
Mungkin saja buka Ve orangnya, bisa jadi ada yang lain. Atau dia tidak kuliah dan hanya sampai SMA dan hidup sederhana di sebuah kota kecil.
"Apakah akan seperti itu? Menyendiri dan bersembunyi dari orang-orang? Tapi di mana ya mencari mereka?" gumam Erick.
Semakin dia melebarkan pikirannya, semakin dia pusing mencari tahu siapa dan di mana gadis itu. Berapa umurnya?
"Tapi kenapa aku lebih cenderung pada Ve ya?" tanya Erick pada diri sendiri.
Tangannya bertopang dagu, masih bingung siapa gadis yang di cari sahabatnya itu.
Dia terus berpikir tentang Ve, kemudian dia melihat lagi biodata dari kampus yang sama namun beda fakultas.
Dia melihat ada satu nama dengan biodata hampir mirip dengan Ve. Dia anak yatim, tahun sama dengan Ve. Bulan dan tanggal yang berbeda, lebih muda satu tahun dari Ve.
Dia memperhatikan pas photo gadis itu, wajah mirip oriental namun agak sawo matang. Matanya lebih pada sipit dan rambut hitam lurus. Namanya Rosi Wardaniyah, nama ibunya Sarmila. Dan nama ayahnya tidak ada, sama almarhum juga.
"Oke, aku akan selidiki dua gadis ini. Dia juga di kampus itu, dan di fakultas yang sama tapi beda jurusan. Baiklah, aku akan selidiki mereka berdua. Kebetulan aku juga masuk di kelas itu." ucap Erick lagi.
Kemudian dia meletakkan berkas biodata mahasiswanya itu di meja kerjanya. Dia meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.
_
Erick sengaja tidak memperhatikan Ve jika di kelas, tidak juga menyuruh Ve melakukan apa pun yang biasa dia lakukan padanya.
Tapi setiap gerak gerik dan siapa saja yang di temui dan temannya. Ada satu teman Ve yang sangat familar di kampus, bahkan di satu jurusan.
Dia memperhatikan pemuda yang biasa menyapa atau pulang kuliah laki-laki itu suka sekali mengantar Ve pulang.
Erick pun mendekati teman Ve, yang beda fakutlas itu Dia sedang duduk di depan kelasnya, Erick tahu teman Ve itu bernama Andre.
"Andre kan?" tanya Erick menghampiri Andre.
Andre menoleh, dia menatap heran pada Erick. Lalu tersenyum ramah.
"Iya pak Erick." jawab Andre.
"Ah, kebetulan sekali. Apa kamu temannya Ve?" tanya Erick lagi.
"Bukan temannya lagi, pak. Saya temannya dari orok, heheh." jawab Andre sambli tertawa kecil.
Waah, kebetulan sekali kalau begitu. Bisa cari tahu dari si Andre nih, gumam Erick dalam hati.
"Emm, lain kali saya ngobrol sama kamu bisa kan?" tanya Erick.
Andre mengerutkan dahinya, heran. Namun dia mengangguk juga dan mengiyakan.
"Iya pak, kapan saja boleh pak Erick ngobrol sama saya pak." kata Andre lagi.
"Iya, soalnya adik saya itu berlatih di klub karate tempatnya bang Arfan. Dan di sana di latih oleh Ve, jadi saya pikir harus cari tahu siapa pelatih adik saya itu. Apakah dia itu orang ya bagaimana, begitu." ucap Erick beralasan agar Andre tidak curiga kalau dia sedang menyidiki tentang Ve.
"Oh, tenang saja pak Erick. Ve itu anaknya simpel. Ngga neko-neko, dia juga baik kok. Rajin juga melatih anak-anak karate di sana. Ya meskipun dia kadang sedang sakit juga tetap aja melatih." kata Andre.
"Oh ya? Kamu tahu banyak tentang Ve ya." kata Erick.
"Kan saya sahabatnya dari kecil, dia juga tetangga saya pak. Jadi saya tahu banyak tentang Ve." jawab Andre dengan bangga.
Erick tersenyum, dia lalu menepuk bahu Adnre.
"Baiklah Andre, nanti saya tanya-tanya lagi sama kamu tentang Ve. Dia juga mahasiswa saya." kata Erick.
"Iya, Ve pernah ceita kalau pak Erick juga dosen Ve." kata Andre lagi.
Sebenarnya Erick ingin banyak bertanya pada Andre, namun waktunya masuk ke kelas lain.
"Saya pergi dulu, Andre. Lain kali saya ngobrol lagi denganmu." kata Erick.
"Iya pak, saya tunggu. Dengan senang hati pak." jawab Andre.
Erick tersenyum, dia kemudian melangkah menjauh dari hadapan Andre yang masih setia berdiri di sana.
_
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Erick masih mencari tahu gadis bernama Rosi Wardaniyah ada di jurusan Biologi. Dia mencari tahu di kelas itu.
Dia juga bertanya pada mahasiswa satu kelas dengan Rosi, dan kebetulan temannya itu satu bangku dengan Rosi.
"Emm, pak Erick mencari Rosi mau apa ya?" tanya temannya bernama Yana.
"Enggak, saya hanya ingin tahu apakah benar Rosi itu juara kelas ini?" tanya Erick.
Dia bingung memberi alasan pada teman Rosi ini. Lagi pula kenapa dia sendiri yang cari tahu. Bisa saja dia membayar orang untuk mencari tahu tentang Rosi.
Juga Ve, dia tahu lebih banyak tentang Ve dari pada Rosi.
Kemudian, setelah berbincang dengan Yana teman Rosi. Erick pergi ke ruangan dosen untuk meminta seseorang untuk menyelidiki Ve dan Rosi.
Dia kembali membuka laptopnya, mencari info selanjutnya.
Dan pak Ruli mendekat pada Erick, seperti halnya teman satu kampus sesama dosen. Pak Ruli dan Erick banyak mengobrol tentang banyak hal dan apa saja.
"Pak Erick sedang mencari tahu tentang mahasiswa di kampus ini rupanya ya." tanya pak Ruli.
"Emm, ya hanya sekedar ingin tahu tentang mahasiswa kampus ini saja." jawab Erick.
"Ya sih, banyak mahasiswa yang berprestasi di kampus kita ini. Apakah pak Erick mau mencari jodoh juga di kampus ini?" tanya pak Ruki dengan senyum penuh arti.
Erick tahu maksud dari pak Ruli, namun dia hanya menanggapi dengan senyuman tipis.
Tidak perlu menanggapi ucapan pak Ruli, hanya jadi bahan ledekan nantinya. Pikir Erick.
_
Ve menaiki motornya seperti biasa, dia menjalankan motor dengan santai sambil berdendang karena di jalan menuju gangnya. Meski jalan lebar, tapi jalan itu kadang sepi kendaraan karena jalan alternatif.
Sedang asyik mengendarai motor dengan santai, motor Ve di hadang oleh motor yang dulu pernah mencegatnya di jalan.
Ve menghentikan motornya, dia paham siapa yang menghadang jalannya. Dia juga ingat siapa yang menghadangnya kali ini.
Laki-laki yang naik motor di depan turun dari motornya, dia maju menghadap Ve dengan aatu temannya yang tadi membonceng.
Tangannya bersedekap, dan menatap Ve sinis.
"Lo lagi." kata Ve.
Laki-laki itu tertawa sinis, dia mengejek Ve dengan meludah ke depan Ve.
"Gue tahu lo itu cewek bukingan, jadi jangan belagu sama gue." kata laki-laki itu.
Ve diam, kali ini dia harus tenang. Dia juga melihat ada tiga motor dan masing-masing dua orang penumpang, jadi enam orang jika dia berkelahi menghadapinya.
Dia juga ingin tahu, siapa mereka dan suruhan dari siapa. Karena setahu dia, hanya di kampus saja gosip beredar tentangnya dia adalah cewek bukingan meski gosip itu tidak benar.
"Lo di suruh siapa menghadang jalan gue?" tanya Ve dengan tenang.
"Hahah, tadinya memang gue di suruh seseorang. Tapi dia membatalkan rencananya. Jadi gue melakukan sendiri." kata laki-laki di depan Ve.
"Banci dia." ucap Ve memancing.
"Ya, Simon memang banci. Dia tidak berani menghadapi lo sendirian, padahal lo cantik. Ayolah jangan menolak, nanti gue bayar."
Ve tersenyum sinis, dia kini tahu siapa yang menyuruh orang-orang tak bermoral itu menghadangnya. Dia akan membuat perhitungan dengan Simon.
"Kalahkan dulu gue, banci!" teriak Ve.
Dia sudah bersiap untuk melawan ke enam laki-laki di hadapannya.
Dan tentu saja, ke enam laki-laki itu geram dengan ucapan Ve mengatakan banci. Satu orang itu memberi isyarat pada teman-temannya agar menyerang Ve.
"Kalian serang dia, jangan sampai kabur dari kepungan kita!" kata laki-laki yang berdiri di depan.
Dengan komando ketuanya itu, dua orang maju lebih dulu menyerang Ve. Ve meladeninya dengan menghindar lebih dulu, lalu dia membalas pukulan dan tendangan.
Dua orang itu tampak kaget, Ve mundur ke belakang. Dan dengan cepat pula, kelima orang menyerang bersama-sama melawan Ve.
Meski kewalahan, Ve bisa mengimbangi serangan kelima orang tersebut. Lama kelimanya masih bertahan terus menyerang Ve, hingga Ve kewalahan harus meladeni kelimanya menyerang dengan cepat.
Saat Ve tersungkur, dia menatap tajam oada ke enamnya. Ada darah yang mengalir di sudut bibir Ve.
"Meski pun kamu jago berkelahi cantik, namun kamu tetap tidak bisa menghadapi kami semua."
"Heh, kalian memang banci! Menghadapi cewek dengan main keroyokan. Cuih!" teriak Ve.
"Gue tidak peduli! Yang gue inginkan lo harus ikut dengan gue. Seraaang!"
Saat semua secara bersamaan, sebuah mobil berwarna merah menyala berhenti di depan mereka yang berkelahi. Dia langsung turun dan membantu Ve menyerang mereka.
Satu persatu kini tumbang oleh Erick. Ya, dia adalah Erick, menolong Ve yang sedang di keroyok oleh sekelompok orang sewaan Simon.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊