V E

V E
17. Bronis Kukus



Setelah semua laki-laki yang mengeroyok Ve tumbang, Erick menghampiri Ve yang masih tersungkur dan terkejut dengan bantuan dari Erick.


Dia kaget karena Erick juga jago beladiri. Tapi kenapa adiknya harus di masukkan ke klub di mana dia melatih anak-anak itu? Bukankah di latih sendiri juga sebenarnya bisa. Pikir Ve.


Kawanan laki-laki itu pergi sambil mengacungkan tangannya untuk membalas suatu saat nanti.


"Awas kalian, ku balas nanti!" teriak laki-laki yang tadi melecehkan Ve.


"Kamu tidak apa-apa Ve?" tanya Erick membantu Ve berdiri.


Ve pun berdiri dan mengusap bibirnya yang masih tersisa darah. Erick memperhatikan bibir Ve yang berdarah.


"Ayo ke mobilku, lukamu harus di obati." kata Erick.


"Ngga usah pak, nanti di rumah saja di obatinya sama ibu." kata Ve menolak pertolongan Erick.


"Nanti tambah khawatir ibumu, sudah jangan membantah!" kata Erick.


Dia menarik tangan Ve dengan kasar. Mau tidak mau Ve mengikuti langkah Erick untuk masuk ke dalam mobilnya.


Ve duduk di sebelah Erick yang mengambil kotak obat di dashboard dan mengambil kapas dan betadine.


Erick menuangkan betadine pada kapas dan menempelkan kapas berbetadine ke bibir Ve dengan cepat.


"Uh, sakit pak. Jangan keras-keras, pak Erick mau mengobati apa mau menambah sakit?" tanya Ve dengan kesal.


Dia memundurkan wajahnya agar tidak terlalu dekat dengan wajah dosennya itu.


Erick menarik nafas panjang, dia melepas tangannya pada bibir Ve.


"Aku pelan ngolesi lukanya, kamu yang ngga mau diam. Maju mundur terus, udah diam sekarang." kata Erick.


Dia lalu mengolesi lagi bibir Ve yang memang sobek sedikit karena pukulan beberapa kali di pipi Ve.


Ve lagi-lagi memundurkan wajahnya agar tidak dengan wajah Erick. Dan tanpa di duga, Erick malah menahan tengkuk Ve agar diam dan tidak bergerak terus.


Erick terus menahan tengkuk Ve, dan Ve pun tak bisa bergerak. Posisi mereka seperti sedang berciuman ketika di lihat dari arah belakang Ve.


Dan dua orang pemuda sedang berjalan, mereka melihat mobil merah yang ada dua orang laki-laki dan perempuan. Tentu saja mereka melihatnya seperti sedang berciuman.


Tanpa di duga, dua pemuda itu menggebrak kap mobil dengan marah. Mereka mengira Erick daj Ve sedang melakukan perbuatan mesum di siang hari. Di tengah jalan sepi lagi.


"Woy, masih siang. Jangan berbuat mesum di tengah jalan!" teriak dua pemuda itu.


Erick dan Ve terkejut, mereka melihat ke arah dua pemuda itu sedang marah-marah pada mereka. Lalu Erick dan Ve turun dari mobil, karena heran kenapa kedua pemuda itu marah-marah padanya.


"Ada apa bang?" tanya Ve.


"Eh, lo Ve. Lo ngga lagi berbuat mesum kan di tengah jalan?" tanya satu pemuda yang Ve kenal.


"Eh, enak aja. Gue lagi di obati lukanya, nih bibir gue sobek tadi gue habis di keroyok orang di sini. Kebetulan pak Erick ini nolongin gue dan ngobati luka sobek gue bang." kata Ve sambil menunjukkan luka sobekan di bibirnya.


"Ooh, gue kira lo lagi berbuat mesum. Sori Ve, habisnya kalian kelihatan sedang berciuman gitu. Jadi gue curiga dan mencegah lo berbuat mesum di kompleks ini." kata pemuda satunya.


"Ya nggalah bang, gue juga tahu kali. Ini siang bolong, lagi pulan daerah sini sepi banget jadi gue tadi di keroyok sama preman-preman." kata Ve.


"Terus, lo ngga apa-apa Ve?" tanya pemuda itu.


"Ngga apa-apa, gue lagi di obati di mobil."


"Ya sudah, lain kali lo hati-hati jangan jalan sendirian di daerah sini. Emang kadang suka ada kejadian preman keroyok orang di sini." katanya mengingatkan pada Ve.


Ve mengangguk, kemudian kedua pemuda itu pergi dari hadapan Ve. Erick hanya melihat interaksi Ve dan kedua pemuda itu, sangat akrab sekali.


Lalu Ve kembali mengambil motornya, dia merasa sudah selesai di obati oleh Erick. Dia mendekat dan mengucapkan terima kasih.


"Pak Erick, terima kasih tadi nolongin saya. Dan juga mengobati luka saya." kata Ve menunduk pelan tanda hormat.


"Lain kali kamu hati-hati jalan di tempat sepi." kata Erick mengingatkan.


"Iya pak, sekali lagi terima kasih."


"Kamu melatih anak-anak kan sore ini?" tanya Erick.


"Iya pak, tapi saya harus pulang dulu mengantarkan kue pesanan ibu." jawab Ve.


"Oke, ngga apa-apa. Aku tunggu di klub, jangan bohong tidak datang Ve." kata Erick menekankan.


"Kenapa memangnya? Pak Erick kan bisa melatih Jody karate, kenapa harus berlatih di klub bang Arfan?"


"Aku tidak punya waktu, sudah. Pokoknya aku tunggu kamu di klub."


"Memang mau apa lagi pak?"


Dia lalu masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada Ve, kemudian dia melajukan mobilnya mengarah ke klub karate.


Ve sendiri merasa aneh, kenapa minta pamrih atas bantuannya?


"Dosen aneh, kenapa menolong jadi pamrih begitu?" gumam Ve.


Kemudian dia menjalankan motornya dan berbelok ke arah gang menuju rumahnya.


_


Erick menunggu di depan gedung klub setelah dia menjemput adiknya dari rumah lebih dulu. Dia menunggu Ve datang, entah kenapa kali ini menunggu Ve dengan gelisah.


Ada apa dengannya?


Apakah karena tadi di dalam mobil, ketika mengobati Ve? Aah, masa karena itu dia jadi sedikit gugup menghadapi Ve.


Bahkan Ve sendiri tidak menanggapinya biasa saja.


Tak berapa lama, Ve datang dengan motor scoopynya. Dia memarkirkan motornya di sampimg motor Arfan dan Ivan.


Kemudiam dia turun dan mengambil kantong kresek berisi kue yang di minta Erick. Dia berjalan masuk ke dalam gedung klub itu, namun dia berhenti ketika Erick sudah menunggunya di depan.


"Ve, kamu datang juga." kata Erick seolah senang sekali Ve datang.


Ve heran kenapa Erick seperti mendalatkan durian runtuh ketika dia datang.


"Nih pak kuenya, yang pak Erick minta." kata Ve menyodorkan kantong kresek pada Erick.


Erick menerima kantong itu dari tangan Ve dan melihat isinya.


"Waah, bronis kukus. Enak nih, aku suka. Aku cicipi ya." kata Erick menatap Ve.


Ve mengangguk, dia juga membawa satu kantong kresek lagi untuk di berikan Arfan dan Ivan. Ve pun masuk ke dalam meninggalkan Erick yang asyik makan bronis kukus buatan ibu Tika.


Hampir dua jam Ve melatih anak-anak dengan Ivan. Erick melihat Ve dengan serius melatih anak-anak, tampak senyum di wajahnya ketika Ve dengan bersemangat mengajarkan karate pada adiknya dan teman-temannya.


Dia heran Ve begitu kuat dan bersemangat, hingga lupa tadi siang dia di keroyok oleh sekelompok orang sewaan seseorang.


Setelah memberi pengarahan sedikit, akhirnya Ve membubarkan anak-anak latihan. Ivan dan Arfan sendiri sedang menikmati bronis kukus yang di bawa Ve tadi.


Erick mendekat, dia ikut bergabung dengan Ivan dan Arfan makan bronis.


"Pak Jeff dapat bronis juga dari Ve?" tanya Arfan pada Erick yang memegang kantong kreaek berisi bronis.


"Iya, bronisnya enak ya." puji Erick.


"Iya pak, memang ibu Tika membuat kue bronis sangat enak sekali." jawab Arfan ikut memuji bronisnya.


Ve mendekat, ikut bergabung dengan ketiga laji-laki yang sedang menikmati bronis kukus buatan ibu Tika, ibu Ve.


"Ve, ayo ikut makan bronisnya. Kamu bawa bromis banyak banget." kata Erick.


"Saya udah bosan dengan bronis buatan ibu." jawab Ve.


"Tapi ini beda kok."


"Apanya yang beda? kan itu saya yang bawa pak."


"Beda, karena makannya sama tiga cowok ganteng Ve." jawab Arfan dengan tawa lebarnya.


Ve mencebikkan bibirnya, lalu dia masuk ke dalam kamar ganti untuk mengganti bajunya.


Lama mereka bertiga ngobrol satu sama lain, kemudian Ve menghampiri untuk berpamitan pada ketiga orang itu.


"Bang, gue pulang dulu ya. Ibu bilang suruh cepat pulang." kata Ve.


"Lho, Ve ko buru-buru pulangnya? Ngga ngobrol dulu dengan pak Jeff?" tanya Arfan.


"Ngga bang, besok juga ketemu di kampus." jawab Ve melirik Erick yang masih diam sambil menatap Ve.


Inginnya dia mengobrol dengan Ve, tapi rupanya dia sedang buru-buru pulang.


Setelah berpamitan pada ketiga orang itu, Ve pun keluar dan pulang ke rumahnya. Sedangkan Erick masih di sana.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊