V E

V E
20. Cerita Ryu



Setelah sampai di rumah, Erick langsung keluar dari mobilnya dan masuk menemui sahabatnya itu di ruang tamu.


Dalam bahasa Jepang


"Hei, Ryu apa kabar?" tanya Erick menghampiri Ryu yang sedang duduk tidak menyadari Erick sudah datang.


"Oh, hai Erick. Gue baik, lo sendiri bagaimana?" kata Ryu memeluk Erick dan menepuk punggungnya.


Keduanya lalu melepas pelukannya, lalu duduk kembali di sofa.


Ada rasa bahagia Erick, tiba-tiba Ryu datang berkunjung ke rumahnya.


"Hei, lo kenapa tiba-tiba datang ke Indonseia. Ada apa?" tanya Erick.


"Emm, gue penasaran dengan cerita lo tentang gadis itu." kata Ryu.


"Lo juga penasaran?"


"Emm, oh ya. Tadi mobil gue di tabrak seorang cewek naik motor, dia sepertinya terburu-buru gitu." kata Ryu.


Dia mengambil gelas berisi jus jeruk dan memakan cemilan.


"Lo di tabrak cewek naik motor?"


"Iya, gue turun dari mobil dan menghampirinya. Menolong dia yang hampir jatuh, tapi untung ada trotoar jalan, jadi dia tidak jatuh di tanah. Hanya tersandar di trotoar." kata Ryu menjelaskan.


"Lalu, bagaimana? Apa lo mendapatkan cinta dari pandangan pertama sama cewek itu?" tanya Erick, lebih tepatnya meledek.


"Hei, bukan seperti itu. Tapi waktu gue tolong cewek itu, pandangan kami beradu. Hati gue seakan ada kedekatan khusus sama cewek itu."


"Wuiits, lo jatuh cinta pada pandangan pertama sama cewek itu. Hahaha..,"


"Iyakah? Tapi gue merasa apa yang gue rasakan saat itu bukan cinta sih getarannya, hanya sebuah perasaan dekat aja sama cewek itu." jawab Ryu.


Ya, dia pernah jatuh cinta. Namun berbeda rasanya ketika bertemu dengan gadis itu dengan perasaan cinta. Mungkin lebih pada kedekatan secara batin ada rasa ingin melindungi.


"Lo ngga ngajak kenalan?"


"Gue ngga sempat, dia sepertinya sedang buru-buru. Jadi ketika gue bantu motornya bangun, dia hanya bilang terima kasih dan langsung pergi. Mungkin ada hal yang membuatnya gelisah." kata Ryu.


"Emm, bisa jadi begitu." kata Erick.


Keduanya pun terdiam, mereka memikirkan apa yang di alamainya saat ini. Erick masih penasaran dengan Ve, sedangkan Ryu masih memikirkan gadis tadi yang menabraknya.


"Erick, ajak temanmu makan sekalian." kata ibu Fatma yang datang menghampiri mereka.


"Iya ma. Bro, yuk makan dulu. Lo pasti lapar kan?" tanya Erick.


Dia mengambil tas ranselnya dan membawanya ke kamarnya.


"Oke, gue emang lapar. Dari bandara gue langsung kesini setelah kemarin lo kasih alamat rumah lo."


"Lo mau berapa lama di Indonesia?" tanya Erick.


Mereka menuju ruang makan untuk makan bersama. Karena kebetulan hari sudah magrib. Pak Ronald belum pulang dari kantornya.


Erick hanya membantu perusahaan papanya ketika ada waktu senggang dan ketika pak Ronald tidak bisa ke kantor.


Mereka duduk di meja makan. Ryu melihat makanan di meja makan. Begitu banyak menu makanan di sana, sampai dia bingung.


Tapi dia juga belum tahu makanan apa saja yang ada di meja itu.


"Ayo nak Ryu, kita cicipi makanan Indonesia." kata ibu Fatma.


Ryu menoleh ke arah Erick, lalu Erick menerjemahkan apa yang di katakan ibunya.


"Oh, oke tante." jawab Ryu sambil membungkuk setengah badan.


Lalu mereka makan dengan tenang, hingga suara bariton memanggil istrinya dari ruang tamu.


"Ma,.."


"Iya pa, kesini di meja makan." jawab ibu Fatma.


Pak Ronald pun menghampiri mereka yang sedang makan. Dia melihat ada seseorang di samping Erick.


"Selamat malam om?" kata Ryu bangun dari duduknya dan membungkuk.


"Oh, malam." dia tahu itu teman Erick.


"Ryu pa, dari Jepang." kata Erick sebelum papanya bertanya padanya.


"Oh, putra bangsawan Hiroshi Kazuhiro?" tanya pak Ronald.


"Iya pa. Dia datang untuk berkunjung, sekalian mau mencari tahu adiknya." jawab Erick.


"Adiknya? Memang dia punya adik? Setahu papa anak bangsawan Hiroshi tidak punya anak lagi selain dia, siapa namanya?"


"Ryu pa, ada seorang anak lagi pa. Perempuan keturunan dari bangsa kita. Nanti lagi pa ceritanya. Kita makan dulu." kata Erick.


Pak Ronald mengangguk, dia melirik ke arah Ryu dan ikut bergabung makan di meja makan.


"Maaf ya pa, ngga nunggu papa pulang makannya, mama kasihan sejak tadi Ryu ini makan cemilan aja banyak sekali. Mama kira dia lapar, jadi di ajak makan aja dulu." kata ibu Fatma.


"Iya ngga apa-apa ma, oh ya. Adikmu mana Erick?" tanya pak Ronald.


"Kak Eriiick! Di tungguin ngga datang-datang!" teriak Jody.


"Heheh, kakak lupa. Tadi di telepon sama mama, jadi kak Erick langsung pulang. Ada teman kak Erick. Kamu pulang sama siapa?" tanya Erick.


"Sama kak Ivan."


"Lho, biasanya sama kak Ve?"


"Kak Ve ngga datang. Katanya ibunya jatuh dari motor." jawab Jody masih dengan mode cemberut.


"Ooh, ya sudah ayo makan."


"Ve siapa Rick?" tanya pak Ronald.


"Itu pelatih karate Jody."


"Kamu kenal sama dia?"


"Dia mahasiswaku juga pa, jadi ya kenal banget." jawab Erick.


Mereka makan dengab tenang di meja makan, Ryu hanya memperhatikan interaksi antara kedua orang tua Erick dan anak-anaknya. Dia merasa iri, karena setiap makan di rumahnya hanya sendiri.


Kedua orang tuanya bahkan jarang makan bersama. Apa lagi berinteraksi seperti itu.


_


Sudah dua hari Ryu ada di Indonesia dan menginap di rumah Erick. Dan pagi ini dia ikut Erick ke kampus, ingin melihat kampus yang ada di Indonesia seperti apa.


Mungkin sama saja pembelajarannya, namun aturan yang berbeda.


"Gue akan tunjukkin cewek yang sedang gue selidiki saat ini sama lo." kata Erick ketika mereka sudah ada di jalan.


"Emm, cantik kah dia?" tanya Ryu.


"Emm, lumayan cantik dan manis jika dia berdandan. Tapi wajahnya alami, gue suka sama gadis yang alami wajahnya tanpa make up." kata Erick.


Dia melirik Ryu yang sedang mengotak-atik ponselnya.


"Lo sedang main media sosial?"


"Ngga, gue sedang menghubungi asisten rumah tangga di mansion. Gue minta dia mencari tahu tentang ayah di rumah utama." kata Ryu.


"Apa tidak di curigai?"


"Tidak, dia memang sering berkunjung ke rumah utama. Dan berhubungan dengan ayah, jadi mudah untuk meminta bantuannya. Tapi mencari tahu tentang ayahku aangat sulit." jawab Ryu.


"Owh, rupanya ayahmu tertutup juga ya."


"Ya, tapi dia sepertinya masih mencintai ibunya adikku itu Makanya selain ingin bertemu dengan adik gue, gue juga ingin mempertemukan ayah dengan cinta sejatinya." kata Ryu.


"So sweet banget ya ayahmu. Tapi kenapa bisa terpisah? Apakah karena kakekmu?"


"Ya, kakek menentang hubungan mereka. Itu yang ku tahu dari mami. Mami sendiri menyadari jika cinta ayahku tidak untuknya, hanya memenuhi keinginan kakek untuk mendapatkan cucu laki-laki. Dan setelah mendapatkannya, ayah jadi dingin pada mami, tapi beliau perhatian sama mami sih."


"Woow, selama itu ayahmu memendam perasaan cinta untuk istrinya tercinta dulu? Ck ck ck, amazing. Berapa tahun menunggu?" tanya Erick.


Dia takjub pada ayahnya Ryu, menunggu istri yang di cintainya. Tapi apakah tidak ada usaha untuk mencarinya ke Indonesia?


"Apa ayah lo tidak mencari cintanya ke sini?"


"Emm, gue ngga tahu. Tapi gue yakin dia menyuruh orang untuk mencari tahu di mana cintanya berada." kata Ryu.


Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Sudah sampai, ayo turun."


"Ini kampusmu?"


"Ya, kenapa?"


"Cukup besar dan terlihat asri."


"Ya, memang. Rektor yang dulu selalu menggalakkan penanaman pohon besar di sekitar kampus agar rindang dan nyaman para pejuang pendidikan di sini."


Setelah mereka turun, Ryu masih memandang sekeliling kampus di mana Erick menyalurkan ilmunya di sana.


Hingga ada seorang gadis dengan berlari cepat menuju kelasnya. Dan tidak sengaja menabrak lengan Ryu.


"Hei!"


"Eh, maaf."


"Kamu?!"


_


_


_


😊😊😊😊😊😊