V E

V E
76. Melepas Rindu



Hana memperhatikan Ryu yang sedang menikmati teh hangat buatannya. Dia tersenyum ketika Ryu menatapnya juga.


"Apakah anda sedang menemui nona Eiko dan tuan Hiroshi?" tanya Hana berbasa basi memecah kebisuan.


"Emm, ya. Dua hari aku menginap di rumah papa di sini. Kami sangat bahagia ketika bertemu, dan Eiko juga menitip salam untukmu. Entahlah, apa itu maksudnya. Dia bilang menitip salam." jawab Ryu.


Hana tertawa renyah mendengar ucapan Ryu, lucu sekali pikir Hana. Dan itu membuat Ryu terpaku, dia suka sekali tawa renyah Hana, dia pun tersenyum.


"Kamu tahu apa artinya menitip salam?" tanya Ryu.


"Ya, kami tahu bahasa seperti itu. Itu adalah salam rindu pada orang yang di kenal dan kebetulan ada orang yang kenal juga. Lalu menitip salam, semacam sebuah rasa rindu pada teman atau sahabat." jelas Hana.


"Ooh, seperti itu." sambung Ryu.


"Ya, seperti teman yang tidak pernah bertemu dan mengatakan menitip salam untuk mengingatkan kalau ada temannya yang sedang merindukannya." kata Hana lagi.


"Jika aku menitip salam sama kamu? Apakah bisa di katakan sedang rindu padamu?"


"Eh? Mmaksudnya?"


"Ya, seperti katamu. Aku menitip salam padamu, karena aku rindu padamu Hana." kata Ryu.


Hana terdiam, dia ingin tertawa karena ucapan Ryu yang salah maksud. Namun ucapan salah itu semacam ungkapan hati Ryu padanya.


"Aku rindu kamu, Hana." ucap Ryu lagi, menatap dalam ke mata Hana yang hitam bening.


Hana yang di tatap seperti itu dadanya bergemuruh, dia lalu menunduk. Malu.


"Tuan Ryu ada-ada saja, kita ini hanya sebatas teman yang kebetulan bertemu di Jepang. Anda siapa itu saya tahu tuan, dan anda belum tahu siapa saya. Jadi rasanya aneh jika anda mengatakan rindu sama saya." ucap Hana dengan senyum manisnya.


"Aku serius, aku...." ucapan Ryu menggantung.


Hana menaikkan satu alis matanya, menunggu kalimat yang terputus terucap lagi.


"Tuan Ryu tinggal di mana" tanya Hana untuk mengalihkan suasana canggung antara keduanya.


"Di hotel xxx, aku ada di sana selama sepuluh hari." jawab Ryu.


"Untuk apa?" tanya Hana heran.


"Aku ingin bertemu denganmu dan..." kembali ucapan Ryu terhenti.


Hana penasaran dengan lanjutan kalimat Ryu, tapi dia tidak berani bertanya.


"Kamu tidak mau bertanya lagi?" tanya Ryu masoh menatap Hana.


Hana hanya tersenyum tipis, lalu menunduk. Dia tidak menanggapi ucapan Ryu lagi, dia tahu kemana arahnya pembicaraan itu.


"Hana?"


Kembali Ryu memanggil Hana dengan pelan dan masih menatap Hana dalam.


Hana mendongak dan menatap balik Ryu, Ryu mendekat pada Hana. Ingin dia memegang tangan yang sejak tadi di lipat-lipat saja.


"Aku minta maaf waktu malam itu, aku.."


"Tuan Ryu, jangan di ingat lagi. Saya sudah melupakannya." jawab Hana.


Ryu terdiam, kembali keduanya terdiam. Dan di luar terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah. Hana menoleh ke arah pintu masuk. Dia bangkit dari duduknya dan menyongsong kedua orang tuanya yang masuk ke dalam rumahnya.


"Hana, ada tamu?" tanya ayah Hana.


"Nggih romo. Dia dari Jepang." jawab Hana melihat pada Ryu.


Ryu berdiri dan mendekat pada ayah Hana, di belakangnya ibu Hana sama menatap Ryu heran. Ryu tersenyum dan menyalami ayah Hana dan ibunya.


"Halo, saya Ryu." sapa Ryu dengan bahasa Inggris.


Ayah Hana, heran. Dia melihat ke arah anaknya, Hana pun mengangguk.


"Namanya Ryu romo, dari Jepang." kata Hana menegaskan ucapan Ryu.


"Ooh, teman kuliah kamu?" tanya ayah Hana Raden Mangku Wijaya.


"Bukan romo, dia itu kakaknya Eiko yang pernah alu ceritakan di telepon itu. Emm, bos Hana dulu waktu bekerja di tokonya." jawab Hana, melirik Ryu.


Raden Mangku Wijaya mengerutkan dahinya, untuk apa bos Hana itu datang menemui anaknya. Pikirnya.


"Kenapa dia bisa datang kemari? Apa kamu punya hutang sehingga dia datang mencarimu?" tanya Raden Mangku Wijaya.


Hana tersenyum lucu, dia kembali melirik Ryu yang bingung apa yang di bicarakan Hana dan ayahnya. Dan menggeleng pelang.


Dia pikir seperti itu jawabannya, karena dia sendiri tidak tahu tujuan Ryu datang menemuinya.


"Ooh, begitu. Ya sudah romo masuk dulu, ibumu juga sepertinya lelah." kata romonya.


"Nggih romo." jawab Hana sambil membungkuk.


Raden Mangku Wijaya dan istrinya masuk lebih dalam, Ryu hanya menatap kepergian romo Hana itu.


Ryu dan Hana kembali duduk di sofa. Mereka masih terasa canggung dengan keheningan itu. Ryu sendiri masih gugup dengan hatinya yang masih saja berdetak, meski halus suaranya.


"Hana, apa yang tadi ayah dan ibumu?" tanya Ryu.


"Ya tuan, beliau ayah dan ibu saya." jawab Hana dengan senyum mengembang.


"Emm, kamu juga seperti diriku? Maksudku, kamu masih ada keturunan kebangsawanan." kata Ryu.


Hana diam, dia hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan Ryu. Dia berpikir, silsilah tidaklah penting di bicarakan atau di banggakan. Tapi biar orang yang menilai seperti apa keluarganya.


"Tuam Ryu, ini sudah hampir malam. Apakah tuan akan di sini terus? Maaf kalau saya bertanya seperti itu." tanya Hana.


"Oh ya, kalau menjelang malam memang kenapa? Apakah tabu bagi gadis bertemu dengan laki-laki?" tanya Ryu.


"Ya, di sini memang seperti itu. Itu adat kebiasaan di daerah saya."


"Tapi besok aku bisa datang lagi kemari?" tanya Ryu.


"Tentu saja boleh." jawab Hana.


"Baiklah, aku pulang ke hotel dulu." kata Ryu.


Dia lalu bangkit dari duduknya dan melangkah keluar, namun dia berhenti tiba-tiba hingga Hana di belakangnya kaget.


"Hana, aku merindukanmu."


Setelah mengatakan itu, Ryu langsung keluar. Dia melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Sedangkan Hana yang mendengar ucapan Ryu tadi hanya terdiam, dia kaget dan tidak percaya Ryu mengatakan rindu padanya.


_


Sesuai ucapanya, Ryu kembali datang ke rumah Hana pagi-pagi. Hana sendiri kaget kenapa Ryu datang pagi sekali.


"Aku mau melihatmu dan mau jalan-jalan juga. Apa boleh aku jalan-jalan denganmu?"


"Emm, boleh saja. Tapi maaf, saya harus mengerjakan tugas di rumah dulu." jawab Hana.


"Ya, tidak masalah. Aku setia menunggumu." ucap Ryu dengan nada bercanda tapi serius.


Terang saja membuat Hana tertawa lucu. Dia merasa Ryu sepertinya sedang membuatnya salah tingkah, namun dia indahkan. Dan setelah berkata seperti itu, Hana pergi masuk lebih dalam untuk menyelesaikan pekerjaannya di dapur.


Ayahnya, Raden Mangku Wijaya melihat Ryu pagi-pagi sudah ada di rumahnya jadi heran. Dia bertanya pada anaknya, Hana.


"Hana, kenapa temanmu itu pagi-pagi sudah datang ke sini?" tanya ayahnya.


"Nggih romo, dia ingin jalan-jalan sekitar daerah sini denganku." jawab Hana.


"Hana, apa dia menyukaimu?" tanya ayahnya.


"Eh?"


"Dia sepertinya menyukaimu, kamu tidak menyadarinya?" tanya Raden Mangku.


"Emm, itu sepertinya berlebihan romo. Dia hanya ingin berlibur kesini saja." jawab Hana.


Dia tidak mau menebak terlalu jauh, dia juga sebenarnya memikirkan ucapan Ryu kemarin sebelum dia pergi dari rumahnya. Dia juga tidak berharap lebih, siapa dia.


"Jangan melamun, Hana." ucap ibunya.


Hana tersenyum tipis, dia lalu meneruskan pekrjaannya membantu ibunya di dapur.


Ayahnya Raden Mangku ingin sebenarnya berbicara pada Ryu, tapi kendalanya karena bahasanya tidak bisa berkomunikasi. Jadi jika berbicara harus ada Hana yang bisa mentranslate ucapan Ryu pada ayahnya.


Dan itu membuat Raden Mangku susah bertanya pada Ryu. Mau tidak mau dia hanya bertanya pada Hana saja.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊