V E

V E
64. Perjodohan



Makan siang bersama itu membicarakan rencana perjodohan antara Ryu dan Ayana. Kedua keluarga rupanya sudah sepakat jika anak-anaknya di jodohkan.


Ryu sendiri masih diam, belum menanggapi pembicaraan keduanya. Dia ingin mengenal Ayana juga, lagi pula tidak buruk untuk menerima perjodohan. Ayana juga cantik, meski pun kadang orangnya sibuk sendiri dengan ponselnya.


"Ryu, bagaimana dengan rencana perjodohan ini. Apakah kamu setuju?" tanya Naomi pada anaknya.


"Dia harus setuju. Tidak ada alasan untuk menolak perjodohan ini." kata kakeknya Takahiro tegas.


Ryu diam, dia menatap kakeknya lalu menatap ibunya dengan senyum terpaksa.


"Baiklah, sepertinya Ryu tidak masalah. Jadi saya akan tanyakan pada anak kami, Ayana." ucap Takagi Daichi.


Ayana juga diam, dia melirik Ryu. Tampan sih, tapi sepertinya cuek dan dingin. Aku kurang suka dengan laki-laki dingin seperti itu. Pikir Ayana.


"Ayana, bagaimana denganmu?" tanya Takagi Daichi pada anaknya itu.


"Emm, bisa kita kenalan dulu pa? Soalnya kita belum kenal dekat juga, jadi kita saling tahu dulu masing-masing. Kalau kita cocok bisa kan di lanjut lagi." kata Ayana.


Tentu saja membuat Takahiro tidak suka pendapat Ayana, raut wajahnya berubah datar. Tidak ada di kelaurganya yang memberi pendapat apa pun mengenai perjodohan, namun demikian dia menerima saja. Sedangkan Takagi Daichi merasa tidak enak dengan jawaban anaknya itu.


Dia melirik pada tuan Takahiro yang diam saja. Takagi lalu menimpali lagi ucapan anaknya.


"Maklumlah anak muda tuan Takahiro, jaman sekarang perlu pengenalan dan pendekatan lebih dulu. Jika tidak, mungkin akan kaget nantinya." ucap Takagi.


Ryu yang mendengar ucapan ayah dan anak itu merasa lucu, bukan karena jawabannya yang lucu. Tapi, jawaban mereka menandakan sebuah pertimbangan untuk menunda perjodohan. Memang itu pemikiran anak muda sekarang, dan benar adanya.


Tapi bagi kakeknya, ketika sudah di jodohkan. Maka ya harus menurut apa kata orang tua, tidak seperti sekarang. Tergerus zaman, pemikiran juga semakin maju.


Dulu juga papanya seperti itu, memilih perempuan yang di cintai. Tapi kakeknya tidak suka dan memaksa. Hingga tidak ada pililhan lain selain mau menerima perjodohan. Meski ibunya Naomi perempuan baik-baik dan istri yang baik, tapi cinta ayahnya justru jatuh pada perempuan lain.


Dan kakeknya itu tidak mengenal cinta, jodoh yang sudah di atur harus di terima tanpa ada penolakan. Dan akhirnya terjadi drama panjang hingga bertahun-tahun.


Meski Takahiro itu keras, namun memang ada sisi baiknya. Sisi hatinya yang merasa bersalah. Ryu memgambil cara ayahnya, menerima lebih dulu. Jika beruntung mendapatkan perempuan keturunan bangsawan yang di jodohkan itu cocok dengan hatinya, dia menerimanya dengan tulus.


Tapi kenyataannya, dia di jodohkan dengan gadis model yang baru naik duan. Dan kini dia berpendapat untuk berkenalan dulu dan pendekatan dulu. Itu memang benar, tapi bagi Ryu, jawaban itu sangat lucu jika kakeknya juga mendengarnya.


Ryu bersyukur sebenarnya, tidak susah dan tidak perlu berdebat panjang dengan kakeknya untuk menolak. Dari pihak keluarga Ayana yang memutuskan, dia hanya mendengar saja.


"Baiklah, memang benar kedua anak-anak kita harus mengenal satu sama lain. Mereka juga belum tahu sifat masing-masing, memang lebih baik seperti itu. Ryu, nanti kamu bisa ajak Ayana pergi jalan-jalan setelah ini." kata kakeknya, Takahiro.


Ryu diam saja, dan akhirnya mengangguk pelan. Takagi Daichi tersenyum senang, dia berpikir akhirnya tuan Takahiro dan Ryu bisa jadi keluarga nantinya.


Acara makan siang itu berakhir pada sore hari, Ayana sendiri pamit lebih dulu untuk melakukan pemotretan sebuah iklan di salah satu agen yang menaunginya.


Baru beberapa menit kemudian, tuan Takagi Daichi dan istrinya Akane pamit pulang.


Naomi yang sejak tadi hanya diam pun merasa lega, dia juga akan pulang ke rumah ibunya.


"Ayah, aku juga mohon pamit dulu. Ibu menyuruhku pulang ke rumahnya hari ini. Besok baru bisa pulang ke rumah utama." ucap Naomi oada mertuanya itu.


"Ya, pergilah. Ayah harap mendapat kabar baik darimu. Seperti Ryu juga." kata tuan Takahiro.


"Aku belum mikir ke sana ayah. Terlalu cepat untuk menikah lagi." ucap Naomi.


"Naomi, jangan pikirkan lagi Hiroshi yang sudah tidak ada. Biarkan dia tenang dengan hidupnya yang baru." kata mertuanya.


Naomi diam, sejujurnya dia sangat sulit. Tapi dia tahu, mertuanya juga sayang padanya. Makanya dia masih tetap tinggal di rumah utama, menemani anaknya. Sebelum dia mendapatkan jodoh lagi nantinya.


"Bisa aku antar mama ke rumah nenek?" tanya Ryu.


"Silakan saja, tapi kamu harus sering menemui Ayana nantinya. Biar lebih dekat dengannya." ucap Takahiro.


"Ayah, aku pergi dulu dengan Ryu." pamit Naomi sambil membungkuk memberi hormat pada mertuanya.


Di sambung Ryu juga pamit, dan kini kedua anak dan ibu itu meninggalkan Takahiro. Dia menatap kepergian kedua orang yang dia sayang itu.


Lalu dia memanggil Heiji dan meminta segera pulang ke rumah. Dia akan berpikir untuk pernikahan Ryu nantinya.


_


Kini Ryu sedang menunggu Ayana di sebuah kafe. Dia di hubungi oleh manager Ayana, meminta untuk bertemu dengan Ryu. Ryu pun menyanggupi permintaan manager Ayana, dia juga ingin tahu apa yang akan di bicarakannya nanti.


Setengah jam Ryu menunggu Ayana datang, dia kesal. Seharusnya sebelum perjanjian bertemu harus di pastikan waktunya dengan benar agar tidak menunggu lebih lama.


"Ck, dia pikir hanya dia saja yang sibuk?!" gumam Ryu.


Baru juga bertemu sudah tidak tepat waktu, bukan karakter orang negeri sakura jika janji tidak tepat waktu.


Tak lama, akhirnya Ayana datangenghampiri Ryu yang sudah kesal. Dia menatap tajam pada Ayana.


"Kamu mau bicara apa pada saya?" tanya Ryu tanpa basa basi lagi.


"Hei, sabar dulu. Aku baru datang tuan Ryu." kata Ayana.


"Kamu lupa janji jam berapa?"


"Maaf, aku tadi ada acara mendadak. Jadi telat, maaf sekali." ucap Ayana.


"Sekarang katakan, apa yang ingin kamu bicaralan denganku?" Ryu sudah tidak sabar lagi.


"Emm, baiklah. Sepertinya tuan Ryu tidak banyak waktu, ini mengenai perjodohan kita. Bisakah tuan Ryu membatalkannya? Maksudku, bisakah tuan Ryu bicara pada kakek anda untuk membatalkan perjodohan ini?" pinta Ayana.


Satu alis Ryu tertarik ke atas, bibirnya tersenyum miring. Benar-benar sangat lucu, tapi dia senang juga.


"Apa alasannya nona Ayana?" tanya Ryu.


Dia juga ingin tahu alasan Ayana menolak perjodohan itu. Lagi pula, Ayana gadis modern, dia tidak suka di jodohkan. Meskipun dia keturunan bangsawan, dan masih ada ikatan saudara jauh dengan kakeknya Takahiro.


"Aku ingin mengembangkan karir modelingku tuan, belum terpikir untuk menikah lebih cepat. Aku tahu jika sudah menikah, akan terbatas kegiatanku sebagai model. Apakah anda mau menerima alasanku ini? Lagi pula, anda bukan tipe laki-laki yang aku suka."


"Oke, saya akan katakan pada kakekku. Kamu tenang saja, aku akan bicara juga mengenai alasanmu itu." ucap Ryu memotong ucapan Ayana.


"Tapi tuan Ryu, bisalah anda tidak menyalahkankau mengenai ini? Maksudku perjodohan ini bukan aku yang minta, tapi kita sama-sama menolaknya. Bagaimana?"


"Hahah, lucu sekali. Aku tidak pernah menolak keinginan kakekku, dan perjodohan ini juga di tentukan oleh kakekku. Saya menerimanya, tapi jika nona Ayana menolaknya. Ya, saya akan katakan pada kakek saya."


"Tuan Ryu, maafkan aku."


"Ya, tidak masalah. Nona jangan khawatir, saya juga akan menyampaikan juga tentang pertemuan kita ini. Kalau begitu, saya permisi untuk kembali ke kantor saya."


Ryu lalu pergi meninggalkan Ayana yang masih diam, dia senang dengan keputusan Ayana itu. Setidaknya bukan dia yang menolak, tapi Ayana sendiri yang memintanya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊