V E

V E
23. Menolong



Ryu sudah kembali ke negaranya Jepang, dia meminta pada Erick agar jangan berhenti mencari keberadaan adiknya itu.


Erick sendiri masih bingung dengan semuanya, tidak ada jejak yang mengarah satu orang bahwa adik Ryu berada di kota itu atau ada di mana.


Dia menyelidiki Ve karena rasa penasaran saja dengan kehidupan Ve yang berbeda dari kebanyakan gadis seusianya.


Erick mengendarai mobilnya pelan. Dia melajukan mobilnya menuju kampus, karena hari ini dia masuk ke kelas Ve.


Dia sangat antusias hari ini, karena masuk di kelas Ve.


Entah kenapa sejak pembicaraan singkatnya dengan Ve di klub karate itu membuat dia selalu ingin melihat Ve.


Mobil Erick di belokkan ke arah kanan, dia terus melajukan dengan pelan karena jalanan sedang padat.


Dia melirik jam di tangannya, sebenarnya dia berangkat lebih cepat dari biasanya. Tapi kenapa sekarang malah terasa lambat sekali, bahkan jalanan padat.


"Padahal gue berangkat lebih cepat, kenapa jadi terasa lama ya." gumam Erick.


Dia melirik lagi jam di tangannya, terasa kesal juga kenapa jalanan padat dan jadi macet.


Setengah jam Erick terjebak macet, setelah jalan sudah terurai dia melajukannya dengan kencang agar bisa sampai di kampus dengan tepat waktu.


Namun seberapa cepat, dia tetap saja telat beberapa menit. Makanya Erick tidak masuk ke ruang dosen dulu, dia langsung menuju kelas Ve yang dia dengar sangat riuh rendah semua bercanda.


Erick masuk dengan tenang tanpa bicara langsung duduk di kursinya.


Pertama dia melihat Ve yang duduk santai seperti biasanya. Melirik ke arahnya tanpa ekspresi, padahal Erick tahu Ve itu sedang menghindari tatapan matanya.


"Selamat pagi semua, maaf saya terlambat beberapa menit karena tadi terjebak macet." kata Erick.


"Iya pak!" ucap semua mahasiswanya serempak.


Kembali Erick menatap Ve, dan Ve pun sama. Mata keduanya saling bersitatap agak lama. Lalu terputus ketika suara pertanyaan dari teman Ve pada Erick.


"Pak, tugas kemarin apa di kumpulkan sekarang?" tanya salah satu teman Ve.


"Oh, kalau kalian sudah selesai bisa di kumpulkan sekarang." jawab Erick.


"Sudah pak."


"Ya sudah, silakan ketua kelas mengambil semua tugas teman-temanmu."


Ramon bangkit dari duduknya, dia memgambil tugas semua teman-temannya dan menyerahkannya pada Erick.


"Terima kasih Ramon, silakan duduk lagi."


"Baik pak."


Setelah semua terkumpul, kini Erick fokus memberikan materi kuliahnya pada mahasiswanya, namun matanya sesekali melihat ke arah Ve yang serius mendengarkan materi yang dia berikan.


"Ve, kalau gue lihat tadi tuh pak Erick lihatin lo terus deh." kata Gilang setelah jam kuliah Erick selesai.


"Lihatin gimana maksud lo?" tanya Ve pura-pura tidak tahu.


"Ck, lo jangan pura-pura tidak tahu Ve. Gue lihat lo juga lihatin pak Erick terus." kata Gilang lagi.


"Ya jelaslah, orang pak Erick sedang memberikan materi kuliah. Gue ya harus lihat pak Erick terus." kata Ve lagi.


"Lo kenapa jadi bohong sama gue sih Ve?" tanya Gilang.


Dia tahu, pasti antara Ve dengan pak Erick ada sesuatu.


"Gue bohong apa, Lang? Lo ada-ada aja sih pertanyaannya?" tanya Ve kesal pada sahabatnya itu.


"Lo suka sama pak Erick ya?" tanya Gilang dengan langsung menuduhnya.


"Ish, mana ada gue suka sama pak Erick. Dia dosen tahu."


"Emang kenapa kalau pak Erick dosen? Kayaknya pak Erick suka tuh sama lo."


"Udah sih, jangan bahas pak Erick lagi." ucap Ve.


Bisa berabe urusannya jika meladeni Gilang, pikir Ve.


_


Ada beberapa karyawan senang jika Erick yang jadi bos di kantor tersebut, karena mungkin dia muda dan tampan.


Bisa untuk di jadikan bahan obrolan, mereka sering membicarakan Erick di jam istirahat. Erick tahu jika dirinya sering di jadikan obrolan candaan karyawan papanya, makanya dia agak sungkan jika harus di suruh ke kantor.


Tapi mau bagaimana lagi, memang dia satu-satunya anaknya dan bisa di andalkan .


Masih di jalan, dia melihat seorang perempuan seusia ibunya sedang berusaha menyeberang jalan, namun tidak bisa karena jalanan selalu padat.


Erick memperhatikan terus perempuan itu, dan rasa kasihan timbul di hatinya.


Akhirnya, Erick menepikan mobilnya lalu keluar. Dia hendak menolong perempuan itu untuk menyeberang.


Sebenarnya sih salah jalan, namun mungkin memang di sana jalan cepat untuk menuju gang di depannya.


Mungkin saja ibu itu mau menyeberang dan mau pulang melalui gang tersebut.


"Ibu mau nyeberang?" tanya Erick pada perempuan itu.


"Eh, iya nak. Mau nyeberang tapi kendaraan padat terus, ibu takut sebenarnya. Biasanya sih di ujung sana di penyeberangan, tapi karena buru-buru dan ibu pikir bisa nyeberang. Eh malah susah, hehe.." kata perempuan itu tertawa kecil.


Erick tersenyum, dia lalu menarik pelan tangan ibu itu.


"Mari bu, saya seberangkan. Jangan khawatir, aman ya sama saya." kata Erick sedikit bercanda.


Perempuan itu tersenyum dan melihat ke arah Erick. Dan samapailah perempuan itu di seberang, dia lega.


"Terima kasih nak, wah sudah ganteng baik lagi." kata ibu itu.


"Iya bu, lain kali di penyeberangan aja ya bu. Kalau ngga da yang menolong kan susah sendiri ibunya." kata Erick memberi saran.


"Iya, terima kasih ya."


Setelah mengucapkan terima kasih, perempuan itu pergi ke arah gang itu. Erick memandangi punggung perempuan itu sampai tidak terlihat lagi.


Kemudian dia pun menyeberang lagi, meneruskan perjalanan menuju kantor ayahnya, pak Ronald.


_


Kembali Erick berkutat di laptop melihat neraca perdagangan saat ini di bursa saham. Dia melihat saham papanya lumayan naik beberapa persen penjualannya.


"Waah, papa ternyata hebat banget ya. Mempertahankan saham di bursa saham yang sangat ketat persaingannya." gumam Erick masih menatap laptopnya.


Erick mengerti beberapa neraca perdagangan di beberapa pertumbuhan ekonomi di negara ini.


Kenapa dia dulu tidak mengambil jurusan ekonomi saat kuliah?


Karena dia sangat suka dan mencintai matematika, papanya juga tidak menuntut Erick harus mempelajari dan kuliah di jurusan ekonomi. Yang penting kata pak Ronald, Erick mengerti pergerakan saham dab juga neraca perdagangan secara nyata.


Jika mempelajari memang lebih baik, tapi Erick malas untuk belajar ekonomi. Lagi pula papanya juga tidak menuntut untuk belajar ekonomi dan bisnis.


Katanya belajar langsung di lapangan itu lebih baik dari pada harus berkutat di bangku kuliah, mendengarjan dosen menerangkan apa itu bisnis, apa itu ekonomi.


Jadi Erick setuju dengan pemikiran papanya, dia bebas memilih kuliah di mana dia sukai.


Dia suka matematika, jadi dulu dia kuliah di jurusan matematikan di Jepang, makanya dia kini bersahabat dengan Ryu.


Selama empat tahun berteman dengan Ryu, anak dari bangsawan terkemuka di sana. Ryu sendiri tidak membedakan dengan siapa dia berteman.


Hanya saja, kadang kakeknya memberi batasan pada Ryu berteman dengan siapa. Dan Erick salag satu yang menurutnya beruntung jadi sahabat Ryu.


Dari Ryu pula kisah tentang keluarganya dia tahu, bahwa dia punya seorang adik perempuan. Tapi dia tidak bisa mencari sendiri, karena pengawasan kakeknya dengan orang suruhannya.


Waktu dia ke Indonesia menemui Erick saja harus beralasan ingin melihat dan membandingkan kampus yang ada di Indonesia dan di Jepang.


Jadi kakeknya serta ayahnya mengizinkannya untuk datang ke Indonesia dan hanya satu minggu dia menginap di rumah Erick.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊