V E

V E
13. Surat Izin



Gosip mengenai Ve masih bergulir, mereka sengaja membesar-besarkan gosip tersebut. Apa lagi, kemarin Simon bertemu Ve dan menuduhnya telah jadi perempuan panggilan.


Hal ini semakin membuat gosip dan dugaan Ve adalah perempuan bukingan.


Simon sendiri merasa tertantang untuk menaklukkan Ve, karena Ve selalu saja menghindarinya.


Bukan salah Ve sebenarnya, hanya memang Simon pengecut tidak berani mendekat pada Ve bahwa dia suka sama Ve.


Tapi ketika gosip itu beredar malah dia yang paling kencang bersuara dan menghakimi Ve. Dan kini dia semakin yakin kalau Ve itu adalah perempuan panggilan yang siap di ajak ke hotel dan makan di restoran mewah.


Ve seperti biasa mengendarai motornya untuk pulang ke rumah. Karena memang hari ini banyak sekali pesanan ibunya yang harus di antar ke pelanggannya.


Beberapa motor mengejar Ve dan siap menghadang laju motor Ve, Ve merasa ada yang mengikuti dan siap menghadang motornya jadi berhenti.


Dia melihat motor-motor tersebut ikut berhenti di depan motor Ve. Ve sendiri heran, siapa mereka sebenarnya. Dan mau apa?


Satu orang turun dari motornya dan menghampiri Ve lebih dekat.


"Waaah, ternyata memang benar cantik ya ceweknya." kata satu pemuda di depan Ve.


Ve melihat sekeliling, ternyata suasana jalan sepi. Dan kenapa jalan itu sepi? Biasanya ramai, bukan karena takut. Namun jika yang menghadang jalannya itu banyak seperti itu, dia mungkin akan kewalahan juga.


Apa lagi yang di hadapinya adalah laki-laki semua.


"Hei, cewek cantik. Ikut abang yuk?" kata pemuda tadi.


"Siapa kalian?" tanya Ve berusaha tenang.


"Lo cewek yang bisa di buking kan?" tanya pemuda itu dengan wajah yang menatap Ve lain.


Ve yang di tanya seperti itu pun marah, dia menendang kaki laki-laki tersebut lalu pasang kuda-kuda.


"Jangan sembarangan kalau bicara!" teriak Ve.


Laki-laki tadi terliahat marah, dia meludah. Dan satu temannya berbicara di telepon seperti memberi tahu ternyata orang yang mereka cegat itu bukan perempuan lemah.


Satu laki-laki maju ke depan, dia membisikkan pada laki-laki yang tadi bicara pada Ve. Ve masih siaga dan menatap tajam, dia benar-benar kesal.


Siapa yang menyebarkan berita tidak benar itu? pikirnya.


Segerombolan motor tersebut jadi bubar, dia mendapat perintah agar membubarkan diri. Sebenarnya dia kesal kenapa Ve di biarkan pergi begitu saja.


"Awas kamu cewek bukingan! Gue tunggu lo nanti!" teriak pemuda tadi dari motornya yang sudah menjauh.


Ve kesal, dia lalu naik motornya lagi. Kemudian melajukannya untuk pulang ke rumah.


Dan dari jauh, sebuah mobil warna merah memperhatikan Ve. Dia sangat lega setelah tahu para pemuda itu pergi tanpa mengganggu Ve.


"Syukurlah dia selamat." gumamnya.


Dia melajukan mobilmya memuju kantor, karena kini kantornya juga sedang butuh perhatian.


_


Ve hari ini tidak masuk kuliah. Dia sangat lelah menghadapi gosip dan kemarin dia di hadang oleh pemuda yang menaiki motor.


Siapa mereka?


"Ve, kamu tidak kuliah?" tanya ibu Tika.


"Tidak bu, hari ini kurang enak badan." jawab Ve beralasan.


Ibu Tika mengerutkan dahinya, sejak kapan Ve jadi malas begitu?


"Ve, kamu tidak bohong sama ibu kan? Kamu tadi aja mandi dan bangun pagi. Memang ada apa?" tanya ibu Tika.


"Ngga ada apa-apa bu, sudahlah Ve mau tidur lagi." kata Ve melanjutkan tidurannya di kamarnya.


Ibu Tika menggelengkan kepala, lalu menarik nafas panjang. Dia masuk ke dapur untuk bersiap memasak dan membuat kue pesanan ibu Salma.


Ya ,ibu Salma itu jualan di malam hari warungnya, jadi setiap sore Ve yang mengantarkan kue oesanan ibu Salma.


Andre masuk ke dalam rumah Ve, dia mencari Ve ke dapur.


"Tante, Ve mana?" tanya Andre.


"Ada di kamar, sedang tidak enak badan katanya." jawab ibu Tika.


"Sakit?"


"Iya kali, tanya aja sama anaknya."


Andre keluar dari dapur menuju kamar Ve. Pintu tertutup, Andre mengetuk pintunya.


Tok tok tok


"Ve, lo di dalam?"


Tak lama pintu terbuka, terlihat Ve yang lesu berjalan menuju sofa di ruang tamu. Andre mengikuti langkah Ve, dia heran dengan Ve.


"Lo kenapa V?" tanya Andre ikut duduk di samping Ve.


"Kenapa apanya?" tanya Ve melirik Andre yang siap berangkat kuliah.


"Lo kenapa ngga berangkat kuliah? Ada apa?" tanya Andre lagi.


"Gue lagi males." jawab Ve sekenanya.


"Kayak bukan lo deh, ada apa sih?" tanya Andre mendesak Ve untuk bicara jujur.


"Siapa mereka?"


"Ya kalau gue tahu mau aku damprat orangnya. Tapi gue curiga, kayaknya itu suruhan Simon."


"Hah? Lo yakin?"


"Ya kan gue cuma nebak aja. Soalnya kemarin mau pulang gue di samper sama si Simon teman lo. Dia ngomong keterlaluan sama gue, ya gue tinggalin dia. Males banget ngeladeni dia."


"Iya , waktu itu gue tahu dia ngomong kasar sama lo." kata Andre menunduk.


Ve menatap Andre, lalu dia mengambil tolpes berisi kue ladu dan memasukannya ke dalam mulutnya.


"Terus lo kenapa ngga kuliah?"


"Lagi males gue."


"Males denger gosip-gosip itu lagi?"


"Bukan itu, tapi malas aja. Udah sono lo berangkat kuliah, gue kuliah besok aja." kata Ve mendorong pundak Andre.


Andre menarik nafas panjang, lalu dia mengeluarkan buku dan menulis surat. Ve memperhatikan apa yang di lakukan oleh sahabatnya.


"Lo bikin surat apa?" tanya Ve heran.


"Gue bikin surat izin buat lo, nanti gue serahin ke si Gilang. Suruh kasih ke ketua kelas lo." kata Andre.


"Eh, gue bisa tahu kirim pesan sama si Ramon, gue izin ngga masuk kelas." ucap Ve.


"Ngga apa-apa, gue buat biar kuat aja. Udah lo diam aja, nanti gue minta tanda tangan sama tante Tika." kata Andre.


Dia selesai membuat surat izin, lalu pergi ke dapur meminta tanda tangan ibu Tika.


Ve hanya menatap Andre dan menggelengkan kepala saja.


"Dia kira gue anak SD di bikinin surat izin dengan formal." gumam Ve.


Namun dia membiarkan Andre meminta tanda tangan sama ibunya, dia melanjutkan ngemil kue ladu.


_


Di kampus, Andre ke kelas Ve. Dia menemui Gilang dan memberikan surat padanya.


"Apa nih,lo ngasih gue surat cinta dari Ve?" tanya Gilang bercanda.


"Ish, pede banget lo. Itu surat izin dari Ve, kasih ke si Ramon. Ve izin ngga masuk kelas." kata Andre.


"Ve kenapa? Sakit?"


"Iya, dia sakit. Udah, gue mau ke kelas dulu. Kelas gue jauh harus cepat pergi." kata Andre.


Gilang hanya menatap kepergian Andre, dan beralih ke surat di tangannya. Kemudian dia menghampiri Ramon sang ketua kelas.


"Nih surat izin." kata Gilang sambil menyerahkan surat itu pada Ramon.


"Surat apa? Surat cinta?"


"Itu surat dari Ve, dia izin sakit katanya."


"Eh, kayak jaman mama papa aja bikin surat segala. Kirim pesan ke gue kam bisa."


"Mana gue tahu, tadi si Andre yang kasih surat itu."


"Si Ve sakit apa sih? Tumben banget dia kirim surat, kemarin waktu kakinya sakit aja lewat pesan izin ngga masuknya."


"Mungkin sakit hati karena gosipnya ngga kelar-kelar."


"Bener ngga sih gosip itu?"


"Gue sih ragu, Ve bilang dia ngga gitu. Tapi mungkin ada yang ngejelekin dia. Bisa jadi tuh yang iri sama Ve."


Mereka berdua diam, Erick masuk ke dalam kelas dan menyapa mahasiswa semuanya.


"Selamat pagi semuanya." sapa Erick.


"Selamat pagi juga pak." jawab semua mahasiswa.


"Ada yang absen hari ini?" tanya Erick sambil membuka bukunya.


"Ada pak." jawab Ramon.


"Siapa?" tanya Erick masih melihat bukunya.


"Ve, sakit pak. Tidak bisa mengikuti mata kuliah hari ini." jawab Ramon.


Erick mendongak dan melihat kursi yang biasa di duduki oleh Ve. Dia diam sejenak, lalu meneruskan membuka halaman untuk memulai materi.


"Oke, hari ini materi kuliah kita siapkan."


Erick memberikan materi kuliah dengan tenang, dia tidak memikirkan Ve kali ini. Karena harus konsentrasi memberikan materi yang menurutnya harus selesai dan di jelaskan semuanya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊