
Setelah tidak mendapatkan jawaban pasti dari Hana, namun Ryu akan tetap datang ke rumah Hana. Mengajaknya jalan lagi atau sekedar bertamu saja.
Dan semenjak pembicaraan di pantai itu, Hana semakin dingin sikapnya pada Ryu. Ketika Ryu datang, dia hanya mendiamkan Ryu saja. Membuat Ryu heran dan bingung.
"Hana, kenapa kamu jadi lebih banyak diam. Apa aku punya salah sama kamu?" tanya Ryu.
"Tidak tuan Ryu." jawab Hana pelan.
"Tapi sikap kamu berbeda seperti waktu aku datang kemari." kata Ryu lagi.
"Tuan Ryu jangan berpikir jelek, saya tidak apa-apa." kata Hana lagi.
Ryu menunduk, dia merasa bersalah pada Hana karena ucapannya di pantai waktu itu.
"Maaf, aku minta maaf dengan ucapanku di pantai itu Jika kamu tidak suka, jangan pikirkan ucapanku waktu itu." kata Ryu pelan dan bernada kecewa.
Dan Hana masih diam, dia menunduk bingung. Entah apa yang dia rasakan saat ini, apakah kesal, marah pada Ryu atau perasaan lain yang entah apa namanya.
"Besok aku akan kembali ke Jepang, waktuku sudah hanbis di sini." kata Ryu lagi.
"Bukankah anda bilang sepuluh hari?" tanya Hana dengan tidak sadar.
Ryu tersenyum, dia seperti ada nada keberatan di pertanyaan Hana itu.
"Apa kamu keberatan aku pulang?" tanya Ryu mencoba mencari tahu apakah benar tebakannya.
"Oh, tidak. Silakan saja anda pulang, bukankah anda orang sibuk? Pastinya banyak sekali yang nanti pekerjaan yang harus anda tangani tuan Ryu." ucap Hana lirih.
"Ya benar, makanya besok aku akan pulang dan aku tidak mau menumpuk-numpuk pekerjaan." ucap Ryu lagi.
"Ooh, ya benar."
Hana sedikit kecewa, tapi kenapa dia merasa kecewa? Apakah dia....?
"Kalau begitu, aku pulang ke hotel dulu. Dan sekali lagi, aku minta maaf Hana. Jangan pikirkan ucapanku, anggap saja itu angin pantai yang lewat. Aku tidak mau kamu seperti terbebani dengan ucapanku." kata Ryu.
Dia bangun dari duduknya dan hendak pergi."
"Tuan Ryu."
"Terima kasih ya, kamu mau jadi tourgaidku selama di sini. Apakah aku harus mentransfer uang untuk membayar jasamu itu?" tanya Ryu.
"Tidak perlu tuan Ryu, saya hanya bertanya saja." kata Hana cepat.
"Tanya apa?"
"Eh? Itu, maaf saya lupa." kata Hana gugup.
Ryu tersenyum, lalu dia melangkah keluar dan langsung naik mobilnya. Ada rasa berat di hatinya ketika harus pergi dari rumah Hana. Di tatapnya Hana yang masih berdiri di depan rumahnya, kemudian dia menghela nafas panjang.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah Hana dan Hana yang masih berdiri di depan rumahnya. Dia bingung, apa yang dia rasakan saat ini.
Tiba-tiba rasa kehilangan setelah Ryu pergi dari rumahnya. Dia pun masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Dia langsung membaringkan tubuhnya, ada rasa sesak di hatinya. Benarkah dia merasa kehilangan ketika Ryu pergi dari rumahnya?
Apakah dia juga mencintai Ryu?
_
Ryu mengemasi barang bawaannya di kamar hotelnya, hanya satu minggu dia berada di kota Hana. Sisa tiga hari tetap dia bayarkan kamar hotel yang dia sewa. Dalam benaknya, lebih baik menyudahi perasaannya sekarang dari pada nanti akan susah sekali melupakan Hana. Dia akan kembali pulang ke negaranya, melanjutkan liburan di sana tanpa bayang-bayang Hana, pikirnya.
Entahlah, dia seperti menyerah. Padahal, dulu sebelum berangkat ke Indonesia sangat antusias sekali. Dan dukungan dari papa dan adiknya Eiko sepertinya tidak mendapatkan respon dari Hana.
Dan dia sendiri kenapa sekarang menjadi laki-laki yang mudah menyerah?
"Tuan tidak melanjutkan liburannya di sini?" tanya bagian resepsionis ketika Ryu mau chek out hotel.
"Tidak, lain kali saja." jawab Ryu singkat.
Dia malas berbicara dengan siapa pun karena suasana hatiny tidak sedang baik.
"Maaf, saya sedang tidak mau kemana-mana. Besok saya chek out saja." ucap Ryu lagi.
"Baiklah, saya akan urus semuanya."
Setelah berkata seperti itu, Ryu kembali ke kamarnya dan hendak berbaring sebentar. Istirahat, menenangkan hatinya yang gelisah dan rapuh.
"Hana, apakah kamu tidak melihat ketulusanku?" gumam Ryu.
Satu detik, lima detik dan tiga puluh detik akhirmya mata Ryu terpejam. Lama, hingga dia kini sudah berada di Jepang.
Sepulang dari Indonesia, satu hari lalu Ryu selalu berada di kamarnya. Menikmati masa cutinya yang masih sisa dua hari lagi.
Kini dia menetapkan hatinya untuk tidak memikirkan Hana. Dia akan berkeliling Tokyo sore ini menikmati masa liburan di negara sendiri.
Mungkin akan pergi ke rumah Hiroshi dulu yang pernah di singgahi ketika hati papanya itu sedih dan merasakan kerinduan pada ibu Harumi.
Dia menghubungi papanya, meminta alamat rumah itu. Dan ternyata tidak terlalu jauh dari kota Tokyo, hanya ada di pinggiran kota Tokyo. Tetapi memang tidak ada yang tahu tempat itu, Sinjo pun tidak tahu.
Yang dia tahu bosnya Hiroshi pergi jauh di kala hatinya sedih atau rindu pada istrinya Harumi tanpa mengajak Sinjo.
Esok harinya, Ryu datang ke tempat itu. Dia di sambut oleh pembantu yang selalu menjaga rumah itu.
"Ah, tuan Ryu. Apa papa anda memberi izin anda datang ke rumah ini?" tanya pembantu itu.
"Iya, kalau tidak di izinkan mana mungkin aku datang kemari. Aku juga baru tahu tempat ini dari papa." jawab Ryu.
Pembantu itu tersenyum, memang benar sekali. Tidak ada yang tahu tempat itu, Sinjo pun tidak tahu.
"Silakan masuk tuan Ryu, maaf kalau saya terlu lancang mencurigai anda. Karena saya di beri pesan oleh tuan Hiroshi untuk menjaga tempat ini agar tidak ada yang boleh mengetahuinya tanpa terkecuali." kata pembantunya itu.
"Tidak masalah, papa juga mengatakan hal yang sama. Tempat ini memang di rahasiakan kan?" tanya Ryu.
Pembantunya itu pun mengangguk pelan. Dia juga merasa tidak enak pada anak majikannya itu, namun dia di perintahkan untuk merahasiakannya dari siapa pun. Tapi kini Ryu mengetahuinya dari sang majikan, jadi dia hanya menurut dan melayani saja.
"Kalau begitu, silakan masuk dan anda bisa istirahat di kamar khusus tamu." katanya lagi.
"Emm, ya. Aku juga sangat lelah telah berkeliling Tokyo, dan aku ingin di sini selama dua hari. Pulang besok malamnya."
"Baik."
Lalu Ryu mengikuti pembantu Hiroshi menuju kamarnya untuk istirahat. Dia melangkah cepat menuju kamar. Tak lupa juga Ryu membawa laptopnya untuk memantau perkembangan perusahaannya dan perusahaan Hiroshi.
Meski sedang cuti, Ryu tetap bekerja dari rumagh dan hanya Tamada serta Sinjo yang mengawasi perusahaan saat dia sedang libur.
"Halo Tamada, ada apa?" tanya Ryu ketika Tamada meneleponnya.
"Apa anda sudah ada di Tokyo tuan?" tanya Tamada di seberang sana.
"Ya, tapi aku sedang menghabiskan masa cutiku di tempat yang jauh. Memangnya ada apa?"
"Ooh, anda sudah ada di Tokyo? Apa bisa saya menghampiri anda tuan?" tanya Tamada lagi.
"Tidak usah, lusa aku akan ke kantor. Kamu tenang saja, aku baik-baik saja."
Ryu tahu Tamada mengkhawatirkan dirinya, karena rencananya dua minggu di Indonesia tapi nyatanya sebelas hari dan tiga hari masih di gunakan libur di Tokyo.
"Baiklah tuan, maaf saya mengganggu liburan anda."
"Emm."
Ryu pun menutup sambungan teleponnya, dia pun meletakkan ponselnya di meja. Dia lalu merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊😊