V E

V E
26. Masih Acuh



Sore hari, Erick sudah ada di rumah Ve. Dia bukannya mau menemui Ve, tapi ingin mengobrol dengan ibu Tika.


Ve keluar dengan setelan kaos oblong dan celana jeans burunya seperti biasa. Saat hendak naik motor, Erick datang sendiri dan menuju rumah Ve.


"Ibumu ada Ve?" tanya Erick menatap Ve sekilas.


"Ada di dalam pak." jawab Ve menatap Erick dengan rasa gugup.


Sudah dua minggu Erick masih acuh sikapnya pada Ve. Lalu Ve menunduk, Erick masuk tanpa bicara pada Ve lagi.


Ve sendiri jadi heran dan dia merasa sedih. Ternyata Erick benar-benar mengacuhkannya. Wajah kecewa terlihat jelas pada Ve, dia menatap Erick yang masuk ke dalam rumahnya dan memberi salam pada ibunya di dapur dengan suara keras.


Akhirnya Ve manjalankan motornya, dia pergi ke klub. Sepanjang jalan dia merasa sepi dan sedih. Ternyata di acuhkan oleh dosennya itu sangat tidak enak. Dia yang sudah biasa bicara dan ngobrol dengan Erick merasa kehilangan. Hatinya hampa.


"Kenapa gue jadi kehilangan ya?" gumam Ve


Dia menarik nafas panjang dan berat. Entah kenapa jadi berat tarikan nafasnya. Apakah memang Erick sudah menguasai hatinya?


Dan sementara itu, di rumah ibu Tika. Erick mengobrol asyik dengan ibu Ve itu. Sambil membantu ibu Tika, dia mencari tahu tentang Ve dan ibu Tika.


"Bu, sejak kapan ibu terima pesanan kue bu?" tanya Erick.


"Sudah lama, sejak Ve masih sekolah SD. Awalnya kateringan, tapi ibu kurang mahir kalau masalah katering." jawab ibu Tika.


"Kenapa kurang mahir bu? Kan masakan ibu itu enak, saya suka masakan ibu kok."


"Emm, dulu sih iya ngga bisa masak. Yang ibu tahu waktu itu masakan Jepang, ya ibu tahu." kata ibu Tika tanpa sadar.


Dan, deg. Berarti, ibu Tika pernah tinggal di Jepang. Apakah bisa jadi ibu Tika dan Ve itu...


"Oh, ibu bisa masak makanan Jepang?" tanya Erick antusias.


"Oh, en ngga juga. Hanya sedikit-sedikit saja bisa, jadi waktu itu ibu pernah ketemu chef orang Jepang. Sedikit-sedikit ibu bisa juga." kata ibu Tika kaget dengan Erick yang tertarik dengan ceritanya.


"Ooh, kalau bisa sedikit bisa kan bu bikin sushi?" tanya Erick lagi.


"Bisa, bikin sushi itu gampang kok."


"Oke, nanti kapan-kapan bikin sushi dong bu. Lumayan itu kalau di bikin katering tapi sushi, tinggal sesuaikan isian sushinya."


"Boleh, kalau ibu lupa juga bisa lihat di utub. Heheh.." kata ibu Tika sambil tertawa renyah.


Erick pun ikut tertawa, dia memperhatikan ibu Tika. Mungkin masih banyak beban dan rahasia, sehingga ibu Tika terlihat berbeda di mata Erick. Entah itu tentang apa.


"Bu, saya itu penasaran dengan nama Ve yang terlalu pendek. Dua hurif saja, jika kebanyakan orang kalau nama pendek itu satu kata, tapi Ve cuma dua huruf. Apa nama Ve ada kepanjangannya bu?" tanya Erick pelan, dia takut ibu Tika marah.


Ibu Tika menghela nafas panjang, apakah dia sanggup untuk bercerita pada dosen anaknya itu? Beban berat yang dulu dia simpan dengan rapat juga rapi.


Tapi, dia belum sanggup saat ini. Dia masih takut jika di ketahui oleh orang lain, identitasnya akan ketahuan dan juga mertuanya nanti akan berbuat apa yang dia mau.


Dia ingin hidup damai dan tenang dengan anaknya, namun satu tahun belakangan dia merasa mertuanya itu selalu mengiriminya seseorang untuk mencelakakannya.


Dia mungkin tidak masalah, tapi bagaimana dengan Ve? Apakah Ve akan selamat atau akan di bawa lari juga.


"Bu, apakah ibu melamun?" tanya Erick yang sejak tadi memperhatikan ibu Tika yang diam setelah pertanyaannya dia layangkan.


"Emm, nak Erick. Apa nama hanya dua huruf itu masalah di kampus?" tanya ibu Tika.


"Ngga masalah sih bu, tapi saya yang penasaran ingin tahu kepanjangan nama Ve. Siapa tahu saya menikahi Ve suatu saat nanti, hehehe." jawab Erick dengan tawanya.


"Emm, ada nama panjangnya. Tapi itu nama di mana dia di lahirkan dan nama pemberian dari ayahnya." kata ibu Tika.


"Ooh, jadi ada nama panjangnya ya. Kalau boleh tahu, siapa nama panjangnya Ve bu?" tanya Erick semakin penasaran.


"Nanti ibu kasih tahu setelah ada beberapa yang harus di pastikan dengan status di akta lahir Ve." kata ibu Tika lagi.


"Oh iya, nama Ve juga bagus lho bu. Ibu pandai sekali memberi nama sangat singkat dan mudah di ingat." kata Erick.


Pembicaraan demi pembicaraan terus berlanjut, sampai pada Erick menyimpulkan bahwa memang ibu Tika dan Ve itu ada hubungannya dengan keluarga orang Jepang.


Erick belum berani menyimpulkan kalau ibu Tika adalah cinta sejatinya ayah Ryu. Dia belum tahu siapa suami dari ibu Tika, jika pun meninggal. Pasti akan di ceritakan kenapa bisa meninggal dan jika bercerai pasti ada kisah masa lalu yang panjang


Dia belum berani bertanya lebih lanjut, untuk saat ini masih mendengarkan ibu Tika bercerita.


"Nah, bronis kukusnya udah jadi. Nak Erick mau coba?" tanya ibu Tika mengambil loyang dari kukusan yang masih panas.


"Waaah, enak sekali ini. Baunya juga harum. Kemarin aku makan satu itu, mama saya sampai ketagihan minta terus bu." kata Erick.


Soal ini dia tidak bohong, ibu Fatma meminta Erick untuk membeli lagi bronis kukusnya karena enak dan empuk sekali. Manisnya juga pas, jadi ibu Fatma ketagihan bronis kukus buatan ibu Tika.


"Oh ya, wah ibu senang sekali jika mamanya nak Erick suka dengan bronks kukus buatan ibu." kata ibu Tika.


Satu potong bronis dia keluarkan dari loyang dan di berikan pada Erick. Erick pun mencicipinya.


"Emm, enak banget bu."


Ibu Tika tersenyum, dia lalu memgambil bronis yang sudah matang dari dalam kukusan. Erick memesan dua loyang bronis kukus.


Hingga tak terasa waktu sudah sangat sore, Erick lupa menjemput adiknya. Sampai ada suara motor Ve berhenti di depan rumah. Dan ucapan salam dari Ve.


"Asssalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


"Wah, ternyata sudah sore ya. Saya sampai lupa makan bronis terus, heheh." kata Erick.


"Nah ini sudah ibu masukkan ke dalam kotak kardus. Agar masih anget bronisnya, nanti sampai di rumah di buka ya. Biar ngga bau."


"Oke bu, kalau begitu saya ke klub dulu menjemput adik saya. Lain kali kita ngobrol lagi bu."


"Oh ya, salam untuk ibunya nak Erick."


Erick tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia keluar dari dapur dan di ruang tamu dia berpapasan dengan Ve.


Erick hanya memberi senyum sedikit pada Ve lalu pergi tanpa bicara apa pun pada Ve. Dan Ve hanya menatap kepergian dosennya saja dari dalam rumah, kemudian dia menarik nafas panjang.


Wajah kecewa tampak jelas sekali, dia lalu masuk ke dalam kamarnya. Meletakkan tas ranselnya di meja, dia sendiri berbaring menatap langit-langit kamar berwarna putih.


"Pak Erick semakin jauh dariku. Tapi dia kok semakin dekat dengan ibu, harusnya jika mau menghindar ngga usah dekat-dekat dengan ibu. Jadi aku sering ketemu dia, dia sendiri jadi semakin cuek sama aku. Aaah, kenapa jadi gini sih?!" teriak Ve dalam kamarnya sendiri.


Dan Erick masih sama sikapnya pada Ve, membuat Ve semakin kepikiran dengan sikapnya. Dia mencoba ingin mengembalikan hubungan seperti dulu lagi.


Rasanya dia sangat lelah memikirkan sikap Erick padanya akhir-akhir ini.


"Gue harus minta maaf padanya. Tapi bagaimana caranya ya?" gumam Ve.


"Apa harus bikin bronis kukus buatan sendiri untuk pak Erick sebagai tanda permintaan maaf gue pada pak Erick."


Satu jam lebih Ve berpikir bagaimana dia meminta maaf pada Erick, hingga suara azan magrib membuyarkan lamunannya tentang cara meminta maaf pada dosen gantengnya itu.


"Besok gue bikin bronis kukus buat pak Erick." gumam Ve lagi.


Dia lalu keluar dari kamarnya, membawa handuk untuk bersiap mandi dan di teruskan sholat magrib berjamaah di mushola depan rumah.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊