V E

V E
66. Kedatangan Hana



Sudah seminggu lebih setelah pembicaannya dengan kakeknya, Ryu sepertinya melupakannya. Dia kini sedang fokus pada pekerjaannya mengurus dua perusahaan besar.


Memang tampak kewalahan, dia bolak balik Osaka-Tokyo. Ingin dia tinggal di satu perusahaan, namun dia tidak tega meninggalkan perusahaan ayahnya Namun dia juga tidak ingin meninggalkan perusahaannya sendiri, dia sudah senang dengan pencapaian usahanya di bidangnya.


Saat ini Ryu ada di perusahaannya sendiri, sering dia merasa lelah juga dengan banyaknya pekerjaan yang harus dia tangani.


"Tamada, bagaimana kerja sama kita dengan suplayer itu?" tanya Ryu.


Dia senderkan kepalanya di kursi dan memejamkan matanya. Tiba-tiba saja kepalanya pusing bukan main, entah kenapa rasanya berat sekali.


Tamada memperhatikan bosnya yang memejamkan matanya dan tangannya memijat pelipisnya.


"Tuan Ryu tidak apa-apa?" tanya Tamada.


"Kepalaku tiba-tiba sakit, Tamada." jawab Ryu.


"Apa saya harus panggilkan dokter tuan?"


"Tidak usah, aku butuh istirahat sebentar. Tolong bantu aku untuk tiduran di sofa." kata Ryu.


Tamada pun membantu Ryu untuk duduk di sofa, dia memegang lengan dan punggungnya lalu di bawanya Ryu ke sofa. Ryu duduk di sofa dan dia membaringkan tubuhnya secara perlahan di bantu Tamada.


"Tidurlah sebentar tuan, saya akan menyuruh OB belikan obat untuk tuan." ucap Tamada.


"Terserah kamu, tapi jangan panggil dokter. Aku tidak mau." ucap Ryu.


Kemudian Tamada keluar dari ruangan Ryu, Ryu kembali memejamkan matanya untuk tidur sesaat. Nanti setelah Tamada kembali dia akan minum obat dan tidur lagi sejenak.


Satu jam Ryu tidur, belum juga bangun. Lama dia tertidur, hingga Ryu membuka matanya pelan. Kepalanya masih terasa pusing. Di pegang kepalanya dan sekilas dia melihat ada seseorang di depannya.


Di kedipkan lagi kelopak matanya, dia memastikan siapa yang duduk di depannya. Seperti seorang perempuan yang sedang duduk di depannya.


"Tuan Ryu sudah bangun?" tanya perempuan itu menatap Ryu.


Ryu melebarkan matanya, memastikan jika perempuan itu adalah apa yang ada di pikirannya. Dan benar saja, Ryu pun terlonjak kaget Karena sangat senangnya dengan kehadiran perempuan itu, Ryu sampai memeluknya erat.


"Hana, kamu datang?" tanya Ryu dalam pelukannya.


"Tuan Ryu, lepas. Maaf." ucap perempuan itu yang memang benar adalah Hana.


Ryu melepas pelukannya, dia tertunduk malu karena telah memeluk Hana secara tiba-tiba.


"Maaf, aku terlalu senang kamu datang Hana." ucap Ryu.


Hana menaikkan alisnya tanda heran. Kenaoa Ryu begitu senang dia datang? Tapi akhirnya Hana menunduk dan tersenyum kecil.


"Maaf tuan, saya datang mendadak. Emm, saya mau me...."


Belum sempat Hana meneruskan ucapannya, Ryu langsung mengiyakan.


"Iya, aku terima kamu bekerja di sini. Sudah pasti kamu aku terima bekerja di sini." ujar Ryu dengan cepat.


Hana tersenyum lagi, dia merasa lucu dengan sikap Ryu yang terasa aneh baginya.


"Tuan Ryu, maaf sekali lagi. Saya hanya mau melamar pekerjaan di bagian toko aksesoris saja, bukan di kantor ini. Kata penanggung jawab toko di sana harus melamar langsung pada pemiliknya, dan katanya anda yang punya toko aksesoris itu." kata Hana menjelaskan maksudnya.


Ryu menghela nafas kecewa, dia berpikir Hana mau melamar pekerjaan di kantornya. Jika Hana melamar di kantornya, dia akan sering bertemu dengan Hana.


"Tuan Ryu, apa saya bisa bekerja di toko aksesoris itu?" tanya Hana lagi.


"Ya, kamu bisa bekerja di toko itu. Nanti Tamada yang akan merekomendasikan kamu di sana. Tapi, kenapa kamu mau bekerja di toko itu?" tanya Ryu heran.


"Saya suka sekali bertemu orang-orang tuan, bisa berinteraksi dengan pengunjung itu sangat menyenangkan." jawab Hana.


"Ouh, tapi apakah di restoran itu kamu sudah tidak bekerja lagi?" tanya Ryu penasaran.


"Tidak, saya masih bekerja di restoran juga. Tapi waktunya shift malam di bagian kafe, jadi untuk mengisi kekosongan saya, saya coba mencari pekerjaan lainnya." jawab Hana.


"Emm, apa kamu tidak lelah? Maksudku, kamu tidak merasa lelah bekerja siang dan malam seperti itu."


"Saya bisa mengatur waktu untuk bekerja dan istirahat, makanya saya berani melamar di toko itu tuan Ryu." jawab Hana.


"Kamu pekerja keras juga ya. Tapi, apakah kamu tidak mau bekerja di kantor ini? Di sini lebih besar gajinya di banding di toko aksesoris itu atau di restoran. Lagi pula tidak perlu lembur juga, hanya mungkin sewaktu-waktu." kata Ryu.


"Maaf tuan Ryu, jika saya berminat bekerja di kantoran. Sudah sejak dulu saya lakukan sebelum anda menawarkannya, karena ada teman saya juga menawarkan bekerja di kantor. Tapi saya menolaknya, alasannya ya seperti saya bilang tadi."


Ryu menghela nafas panjang, dia semakin kagum pada Hana. Entah kini hatinya seperti apa melihat Hana lagi, yang jelas saat ini dia merasa senang bisa bertemu dengannya.


Dan kini Hana ada di hadapannya, Ryu menatap Hana penuh kerinduan. Lama dia menatap Hana, namun akhirnya dia menunduk.


Namun Hana seperti mendengar lirihan Ryu, dan dia heran.


"Tuan Ryu, apa anda baik-baik saja? Tadi tuan Tamada bilang, anda sedang sakit kepaka. Apakah anda sudah minum obat? Aoa perlu saya antar tuan ke rumah sakit?" tanya Hana lagi, agak cemas dia.


"Tidak Hana, setelah melihatmu. Rasa sakit di kelapaku hilang." jawab Ryu.


"Anda jangan bercanda tuan, mana ada sakit kepala hilang setelah melihat saya." ucap Hana lagi, terasa kaku dia mengatakannya.


"Serius Hana, mungkin aku kaget kamu ada di sini. Jadi saraf di kepalaku tiba-tiba kendor lagi setelah tadi tegang karena pusing."


"Hahah, anda bisa saja. Tapi benarkah anda sudah tidak apa-apa?"


"Ya, aku sudah lebih baik. Kamu jangan khawatir."


Hana tersenyum senang, dia lalu memberikan berkas lamaran pekerjaannya pada Ryu.


"Ini CV saya tuan, anda bisa membacanya untuk meyakinkan bahwa saya benar melamar pekerjaan sama anda." ucap Hana lagi.


"Tidak perlu CV, kamu sudah aku terima. Tinggal kamu siap kapan bisa bekerja di toko itu. Tamada akan memerintahkan pada penanggung jawab di sana."


"Terima kasih tuan Ryu, besok saya bisa langsung kerja." jawab Hana.


"Baiklah, tapi mungkin aku akan sering ke toko itu nantinya." ucap Ryu.


"Bukankah anda sibuk?" tanya Hana, dia merasa heran.


Toko sekecil itu kenapa jadi perhatian Ryu. Tapi Hana belum bisa menebak kenapa Ryu mau datang ke toko itu. Tapi sudahlah, bukan urusannya. Pikir Hana.


" Selalu ada waktu untuk sidak ke setiap tokoku. Kamu jangan khawatir Hana." jawab Ryu beralasan.


Kali ini, jika Hana bekerja di toko itu dia akan sering berkunjung ke sana. Senyum Ryu mengembang, pun Hana. Keduanya pun akhirnya tertawa kecil, hingga Tamada yang ada di belakang pintu itu sejak tadi merasa lega.


Ternyata Ryu hanya butuh bertemu dengan Hana, agar bisa sembuh sakit kepalanya. Dia pun tersenyum tipis, membuat Ayumi merasa heran. Kenapa Tamada tidak masuk saja ke dalam, apa di dalam ruangan itu ada tamu tuan Ryu yang penting? tanya Ayumi dalam hati.


Tapi, dia tidak peduli. Yang terpenting pekerjaannya cepat selesai.


Tamada pun mengetuk pintu untuk memberitahu bahwa dia akan masuk ke dalam ruangan bosnya. Dan tentu saja membuat Ryu kesal, kenapa Tamada masuk ke dalam ruangannya di saat dia sedang bersama Hana.


"Selamat siang tuan Ryu, nona Hana." sapa Tamada.


Ryu mendengus kesal, lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu sofa.


"Ada apa kamu masuk?" tanya Ryu dengan nada kesal.


"Saya mengingatkan anda untuk makan siang, tuan." jawab Tamada.


"Oh ya, ini waktunya makan siang. Kalau begitu saya pamit pulang tuan Ryu, maaf saya mengganggu waktu anda." kata Hana membungkuk pada Ryu.


"Hana, apa kita sebaiknya makan siang bersama?" tanya Ryu.


"Emm, tidak usah tuan. Saya bisa cari makan sendiri di luar." jawab Hana sopan.


"Nona Hana, jika anda menolak tuan Ryu akan sangat kecewa. Bisakah anda makan dengan tuan Ryu?" ucap Tamada meminta dengan memaksa.


Hana menghela nafas panjang, dia menatap Ryu. Dan terlihat wajah kecewa Ryu.


"Baiklah, saya terima ajakan tuan Ryu. Tali bjsakah saya yang tentukan tempatnya." tanya Hana.


"Silakan saja, aku mengikuti apa yang kamh mau."


Hana tersenyum manis, membuat hati Ryu semakin bergetar. Dia salah tingkah dengan senyuman Hana itu.


Tamada pun merapikan berkas di meja yabg sejak Ryu tertidur belum di rapikan.


"Kalau begitu, ayo kita cari makan siang. Aku ikut denganmu." ucap Ryu menutupi kegugupannya.


Hana dan Ryu keluar ruangan itu, Tamada memandang kepergian kedua orang tersebut sampai hilang di balik pintu.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊