V E

V E
48. Persiapan



Hiroshi dan Ve pulang ke apartemen sudah menunjukkan pukul sepuluh waktu Tokyo. Hiroshi dan Ve masuk ke dalam aparteman, di dalam apartemen ada Erick yang sedang menunggu Ve.


Erick memberi hormat dengan membungkukkan badannya setengah badan, lalu dia tersenyum dan mempersilakan Hiroshi duduk di sofa.


"Anda tidak duduk terlebih dahulu tuan?" ta Erick.


"Tidak, saya harus pulang. Karena pasti di rumah ada keributan karena saya, hahah." kata Hiroshi dengan ucapan yang membuat dirinya lebih santai.


Erick tersenyum, dia lalu menatap Ve yang terlihat sangat bahagia. Dia tidak tega harus menghilangkan senyum kebahagiaan antara anak dan ayah itu.


Lalu, Hiroshi pergi setelah berpamitan pada Ve dan Erick, sebelum pergi dari apartemen itu. Hiroshi memberi pesan pada Erick.


"Jaga anakku dan jangan sakiti dia, kamu tinggal satu apartemen sekarang. Dan saat ini aku percaya kamu tidak akan membuat anak saya rusak." kata Hiroshi seolah memberi ultimatum pada Erick.


"Baik tuan, anda percaya sama saya. Kalau saya akan menjaga putri anda dengan baik. Seperti ucapan anda, lelaki sejati akan selalu menjaga wanitanya dalam keadaan terhormat." kata Erick.


Hiroshi tersenyum dengan ucapan Erick tersebut, dia lalu menepuk pundak Erick dan berlalu meninggalkan apartemen anak laki-lakinya itu.


Setelah Hiroshi pergi, Erick masuk lagi ke dalam dan dia sudah tidak melihat Ve. Ve sudah masuk ke dalam kamarnya, tapi tak lama Ve keluar lagi dan menghampiri Erick yang sedang duduk di sofa.


"Papa bicara apa kak?" tanya Ve pada Erick.


"Emm, beliau cuma berpesan agar aku selalu menjagamu dengan baik. Maka kamu harus jaga diri juga ketika aku ngga ada di samping kamu. Tapi aku akan selalu menjagamu, seperti saat ini." jawab Erick.


Ve tersenyum, dia memeluk Erick dari samping. Dan Erick tersenyum senang, dia merasa sejak menjadi pacar Ve dia melihat perubahan sikap Ve yang sangat manja dan selalu tersenyum bahagia.


Dia senang melihat wajah Ve yang begitu bahagia, dia menatap bibir Ve yang tersenyum senang. Ada godaan ingin mengecup bibir itu, tapi dia menepisnya. Erick membuang pandangannya ke arah lain.


"Lusa kita pulang ke Indonesia, Ve." kata Erick menetralkan degup jantungnya.


Ve manarik kepalanya dan menatap pada Erick.


"Jadi, waktu bertemu dengan papa sebentar lagi usai?" tanya Ve dengan raut wajah sedih.


Erick menghela nafas panjang, dia kasihan dengan Ve yang tiba-tiba berubah sedih itu.


"Kita doakan semoga bisa bertemu lagi dengan papa Hiroshi. Apa kamu mau hidup dengan papa Hiroshi?" tanya Erick.


Ve diam, dia bingung. Bagaimana dengan ibunya di sana? Lalu dia tersenyum, dia ingat dengan ucapannya dulu pada Erick.


" Ngga kak, aku udah cukup bersama papa Hiroshi hari ini. Kalau lusa kita pulang, aku udah puas jalan-jalan kemarin dengan papa." jawab Ve.


Erick membelai pipi Ve, lalu mengecup keningnya sekilas.


"Jangan khawatir, nanti jika di takdirkan bersama. Papa Hiroshi juga akan bertemu kamu lagi, sayang." kata Erick menghibur Ve.


"Terima kasih kak, semoga saja bisa bertemu papa lagi."


"Ini sudah malam, kamu masuk lagi sana ke kamar." kata Erick.


"Iya, selamat malam kak."


"Malam juga sayang."


Dan seperti biasa, Ve mencium pipi Erick. Namun kali ini dia tidak langsung pergi, menatap kekasihnya itu dan tersenyum padanya. Erick membalas senyuman Ve dan mencium pipinya juga.


Ve lalu bangun dari duduknya dan segera masuk ke dalam kamarnya, dia memang sangat lelah dan mengantuk.


_


Waktu bagi Ve bertemu papanya sudah selesai, kini dia harus kembali lagi ke Indonesia. Kali ini Erick sangat tegang sejak pagi, membuat Ve jadi heran dengan perubahan sikap Erick.


"Kak, ada apa? Kok kakak sepertinya terlihat gelisah?" tanya Ve pada Erick yang sedang mengepak barang miliknya.


"Ngga Ve, aku ngga apa-apa." jawab Erick tidak memandang Ve.


"Kakak bohong!"


"Ngga ada apa-apa sayang, sudah kamu jangan khawatir. Kakak hanya berpikir bagaimana ibu kamu setelah kamu sampai di rumah." jawab Erick sekenanya.


Tok tok tok


Pintu apartemen di ketuk, Ve berlari menuju pintu dan membukanya. Dia melihat Hiroshi tersenyum padanya lalu masuk dan memeluknya.


"Iya sayang, papa kan tidak akan bertemu lagi dalam waktu lama. Tapi papa akan datang ke Indonesia nanti bertemu denganmu dan mamamu." jawab Hiroshi.


"Benarkah?"


"Ya, papa janji."


"Terima kasih pa, tapi..."


"Kenapa? Kamu tidak percaya sama papa?"


"Bukan, aku percaya kok." jawab Ve dengan wajah sedih.


"Papa tahu kamu tidak percaya sama papa, tapi papa sudah bertekad akan mengunjungimu. Bila perlu membawamu kembali dan mamamu." kata Hiroshi.


Ve hanya tersenyum saja, dia bukannya tidak percaya. Tapi tidak mudah bagi papanya untuk bisa berkumpul lagi dengannya dan ibunya, karena mereka tidak di restui oleh kakeknya.


Erick bangkit dari duduknya dan memberi hormat pada Hiroshi. Hiroshi sendiri hanya tersenyum padanya, dia melihat Erick hanya sekilas tersenyum padanya lalu meneruskan aktivitasnya merapikan barang-barangnya dan Ve.


Satu jam telah mereka lewati sembari menunggu waktu untuk penerbangan nanti. Erick mengecek ponselnya, apakah Ryu sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.


Karena tugas Erick hanya menyelamatkan Ve, dan tuan Hiroshi itu urusan Ryu. Memang sangat menegangkan, tapi itu harus di lakukan. Erick membayangkan seperti sebuah film action, satu mobil di kejar oleh beberapa mobil dan akan terjadi perkelahian panjang.


Entahlah, pikiran Erick jauh ke sana larinya.


"Halo, lo sudah siapkan?" tanya Erick ketika sambungan telepon berbunyi.


"Siap semua, anak buah gue sudah siap. Apa lagi anak buah kakek sudah siap sejak tadi di jalan di depan apartemen gue semalam." jawab Ryu.


Erick terdiam, dia tidak percaya apa yang di katakan sahabatnya itu.


"Lo yang benar?"


"Lihat aja dari balik jendela sebelah kiri. Lo akan lihat ada mobil hitam dua di sana. Itu maya-mata kakek. Dan nanti ketika lo dan Eiko masuk le dalam mobil dengan papa, lo harus kirim pesan sama gue. Biar nanti sebelum mobil lo itu keluar dari area parkir apartemen." kata Ryu menjelaskan.


"Tapi lo udah benar-benar siap kan? Maksud gue, biar tidak meleset rancana lo itu."


"Hahaha, jangan khawatir. Gue belajar banyak mengenai ini dari kakek, dia adalah guru gue masalah seperti inj. Karena dia juga termasuk orang yang sangat di segani bagi pimpinan Yakuza di sini."


"Emm, ngeri juga jika harus berurusan dengan Yakuza."


"Kapan lo akan keluar dari apartemen gue?"


"Di sini ada tuan Hiroshi yang sedang asyik bicara sama adikmu. Apakah gue ajak mereka segera keluar dan menuju bandara?"


"Ya, lebih cepat lebih baik. Ingat, nanti mobil lo itu akan melewati beberapa jalan sepi, jadi nanti di jalan itu lo harus waspada. Dia sana akan secepatnya pergantian papa sama lo nanti."


"Oke, gue akan berhati-hati. Gue bergantung dengan semua rencana lo, semoga sukses semua dan ngga ada kendala." ucap Erick pada Ryu di telepon.


Setelah telepon terputus, Erick melihat jam di tangannya. Waktunya berangkat ke bandara. Tapi sebelumnya dia melihat mobil yang terparkir di depan gedung apartemen warna hitam di sisi jalan.


Benar apa kata Ryu, di sana ada dua mobil. Dan tadi malam mobil itu ada di sana.


"Kak, sedang lihat apa?" tanya Ve pada Erick.


"Ayo kita berangkat, mobil sudah ada di depan mengantar kita ke bandara." kata Erick.


"Tapi papa ikut mengantar kita sampai bandara." kata Ve.


"Ya, ngga apa-apa. Mungkin sebagai perpisahan."


Lalu Ve mendekat pada Hiroshi, mereka kini keluar apartemen lalu masuk ke dalam lift yang berada agak jauh dari unit apartemen Ryu itu.


Erick masih daim, dia menunduk untuk menguasai hatinya yang gelisah. Dia merasa seperti sedang di kejar hantu.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊