V E

V E
71. Melamar



Setelah pembicaraannya dengan papanya, kini Erick merasa lega. Dia tinggal menyiapkan untuk melamar Ve di hadapan kedua orang tuanya.


Dia akan membeli cincin sebagai tanda melamar Ve, hatinya sangat bahagia. Dia pikir akan menunggu dua tahun lagi menikah dengan Ve, ternyata hanya butuh empat bulan berpacaran dia sudah bisa melamar Ve.


Malam semakin larut, rasanya dia ingin cepat bertemu hari Minggu. Agar rencananya melamar Ve selesai dan tinggal menunggu hari pernikahan.


Di saat gelisahnya sedang melanda, suara telepon dari ponselnya berbunyi. Erick menatap ponsel yang ada di mejanya, lalu tangannya di ulurkan untuk mengambil ponselnya yang masih berdering.


Tertera nama 'My Love' di layar ponsel itu, Erick tersenyum senang. Ve menghubunginya di malam semakin larut.


"Halo sayang?" kata Erick dengan suara pelan dan senyum mengembang di bibirnya.


"Kak Erick belum tidur?" tanya Ve di seberang sana.


"Belum, kamu sedang apa? Kok belum tidur?"


"Aku... kangen kak Erick." ucap Ve malu-malu di sana.


"Benarkah? Waah, kemajuan sekarang ya. Berani mengungkapkan perasaan. Tapi aku senang Ve, aku juga kangen sama kamu." ucap Erick dengan perasaan bahagia.


"Kak, papa tanya kapan papa sama mama kak Erick datang?"


"Duuh, ternyata yang ngga sabar bukan cuma aku. Tapi juga papa Hiroshi. Insya Allah hari Minggu besok sayang, di tunggu aja." kata Erick.


Dan obrolan demi obrolan dari mulai rencana menikah juga punya anak berapa mereka bicarakan, dan beralih ke masalah kuliah serta perlakuan teman-temannya di kelas membuat Ve kesal pada teman-temannya di kelas.


"Udah biarin aja, mereka juga teman kamu. Lagi pula aku tahu siapa yang nilainya bagus dan siapa yang harus di perbaiki. Jika mereka meminta kamu santai aja, ya udah. Tetap aja kan aku menilai hasil tugas mereka." kata Erick menenangkan kekasihnya yang sedang kesal.


"Ya kan aku kesal kak, masa memanfaatkan aku sih." kata Ve lagi masih mode kesal.


"Jangan marah-marah terus, nanti cantiknya luntur lho." ucap Erick lagi.


"Aaah, kakak apaan sih. Orang lagi kesal juga!"


"Hahaha, lalu aku harus ikut marah lagi gitu? Ya ngga baik sayang, udah yang penting aku menilai mereka objektif kok."


"Terus tugas untuk ujian semester kemarin udah selesai kak?"


"Emm, udah. Kenapa? Kamu mau minta kisi-kisinya?"


"Boleh ya? Heheh.."


"Boleh, tapi besok aja ya. Kakak males cari di laptopnya, mending telepon kamu aja. Hhehe.."


"Ish, kak Erick gitu."


"Iya, beneran besok aku kasih sama kamu."


"Hwuuaaa, aku ngantuk kak. Udah dulu ya, mau tidur dulu."


"Ya udah, tidur yang nyenyak ya."


"Iya, daaah.


"Daah, sayang."


Sambungan teleponpun terputus, Erick meletakkan kembali ponselnya di meja kembali.


_


Hari Minggu pun tiba, kini Erick dan kedua orang tuanya bersiap untuk pergi ke rumah ibu Tika dan tuan Hiroshi.


Dia tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya dan menyematkan cincin yang kemarin dia buru di toko perhiasan.


"Erick, kamu sudah menyiapkan cincinnya?" tanya ibu Fatma.


"Udah ma, kemarin aku nyari di toko perhiasan." jawab Erick.


Dia memakai baju batik, sengaja memang dia memakai baju semi resmi agar terlihat santai karena dia sekarang sedang tegang dan gelisah.


"Duuh, anak mama mau nikah aja. Termyata kamu udah besar ya." kata ibu Fatma melihat Erick begitu tegang.


"Ya masa aku masih kecil aja sih ma, kan sudah saatnya melamar anak orang." ucap Erick untuk mengurangi rasa gelisahnya.


"Mama tahu kamu, lagi tegang ya. Ini baru mau melamar, belum menikah dan nanti ijab kabul." ujar ibu Fatma yang melihat anaknya begitu gelisah.


"Ma, papa sedang apa sih? Kok lama banget." tanya Erick.


"Ngga tahu, sebentar mama lihat dulu. Sedang apa papa kamu." kata ibu Fatma.


Dia lalu masuk ke dalam kamarnya dan melihat suaminya pak Ronald sedang menelepon seseorang. Ibu Fatma mendekat, dia memperhatikan suaminya yang sedang menelepon.


Lama ibu Fatma menunggu suaminya menelepon, lalu pak Ronald menyudahi sambungan teeleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Telepon sama siapa sih pa?" tanya ibu Fatma.


"Oh, ya sudah ayo kita berangkat. Anakmu audah tdak sabar berangkat ke calon istrinya." kata ibu Fatma lagi.


"Ayo, dulu juga papa ngga sabar mau melamar mama. Dan sekarang anak kita ya ma, rasanya baru kemarin papa gendong Erick." ucap pak Ronald pada istrinya.


"Iya pa, mama juga bahagia dan juga sedih. Sebentar lagi Erick menikah." kata ibu Fstma.


Mereka keluar dari kamarnya dan menghampiri anaknya yang sejak tadi menunggu papanya keluar.


"Papa kok lama banget sih, ngapain aja pa?" tanya Erick.


"Tadi aunty kamu telepon, tanya apa benar kamu mau menikah." jawab pak Ronald.


"Emm, ya udah ayo kita berangkat. Udah siang, ngga enak di tunggu keluarga Ve pa." ujar Erick lagi.


"Ya benar, ayo kita berangkat."


Lalu ketiganya keluar dan menuju mobil untuk segera menuju rumah Ve.


Sepanjang jalan Erick lebih banyak diam, dia duduk di samping papanya, tangannya sendiri sudah berkeringat dingin. Pak Ronald melihat anaknya yang semakin dekat rumah Ve semakin gugup.


Dan setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah Ve. Di sana di sambut dengan baik dan terlihat ibu Tika mempersiapkan jamuan untuk calon besan dan menantunya.


"Silakan masuk pak Ronald dan ibu Fatma, silakan di cicipi sajian dari kami." kata ibu Tika mempersilakan pada keduanya.


Tak lupa Erick juga duduk di samping papanya, di sana juga tampak Hiroshi memakai baju batik juga. Ve belum muncul, Erick melongok lebih dalam mencari Ve.


"Waah, ternyata calon mantu kita tidak sabar menunggu pasangannya ya." sindir ibu Tika pada Erick.


Erick yang merasa di sindir hanya tersenyum malu, dia menunduk. Dan tak lama Ve pun keluar dari dalam kamarnya, dia memakai kebaya putih dan kain jarik serta rambut di sanggul secara sederhana. Hanya di gulung saja, menambah cantik dan anggun penampilan Ve.


Membuat Erick terpaku dan menatap Ve tak berkedip. Masalahnya dia baru melihat Ve berpenampilan seperti itu.


"Ehem, sudah dong lihatinnya. Jadi ngga mau melamarnya?" goda ibu Fatma pada anaknya yang masih menatap Ve sejak Ve keluar dari kamarnya.


"Eh, jadi dong ma. Masa jauh-jauh kemari hanya lihatin aja Ve sih." ucap Erick masih menatap Ve.


Ve sendiri merasa malu di lihat terus oleh Erick. Wajah ceria dan malu-malu tampak lucu bagi Erick.


"Nah, mari kita mulai saja tuan Hiroshi. Tanpa basa basi lagi, kedatangan kami kemari memang mau melamar anak tuan Hiroshi, Venice Eiko untuk anak kami Erick Jefferson. Kedua anak kita itu saling mencintai, jadi apakah tuan Hiroshi dan ibu Tika menerima lamaran kami ini?" tanya pak Ronald pada Hiroshi dengan bahasa formal.


Hiroshi menanggapi ucapan pak Ronald dengan senyuman, dia senang dengan bahasa pak Ronald yang singkat dan tanpa bertele-tele. Tepat pada intinya saja.


"Emm, memang benar pak Ronald. Mereka saling mencintai, jika semuanya setuju saya sih terserah keduanya saja. Erick bisa meminta kembali pada kami, karena memang dulu pernah Erick meminta pada saya untuk menikahi Eiko. Jadi saya dan istri saya ingin mendengar Erick melamar anak kami." ucap Hiroshi.


Erick semakin gugup, dia menatap satu persatu kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Ve. Lalu beralih pada Ve, dia sejenak berpikir bagaimana kalimat melamar pada orang tua Ve. Di tarik nafasnya pelan dan menatap bergantian Hiroshi dan ibu Tika.


"Emm, ibu dan papa Hiroshi. Kedatangan saya kemari dengan papa dan mama saya ini untuk meminta Eiko, Vanesa Eiko untuk saya jadikan istri dan menikahinya. Apakah papa Hiroshi dan ibu menerima lamaran saya?" tanya Erick dengan gugup.


"Apa yang kamu janjikan pada putri saya agar saya yakin menyerahkan putri saya satu-satunya pada kamu, Erick?" tanya Hiroshi.


Hanya bahasa basa-basi, namun itu perlu di tanyakan agar semua tahu bahwa ucapan Erick adalah sebuah janji pada orang-orang yang ada di sana.


"Saya akan membahagiakan Eiko jika hidup dengan saya, pa. Saya akan selalu ada dan selalu menyayangi Eiko. Jadi saya mohon, terima lamaran saya meminang Eiko pa, bu." jawab Erick.


Hiroshi menatap istrinya, mereka pun tersenyum. Kedua orang tuan Erick juga tampak senang dengan bahasa yang di lontarkan Erick untuk melamar Ve.


"Ya, papa terima. Tapi papa juga ingin mendengar Eiko menjawabnya juga. Bagaimana denganmu sayang? Apa lamaran Erick kamu terima?" tanya Hiroshi pada anaknya Ve.


"Ya pa, Eiko menerima lamaran kak Erick." jawan Ve dengan cepat.


Bukan apa-apa, dia juga merasa gugup melihat semua mata tertuju padanya.


"Nah, sekarang kamu sematkan cincinnya Erick." kata ibu Fatma


Erick pun mengambil kotak beludru kecil berwarna biru dari saku celananya. Kemudian dia membukanya dan mengambil cincin tersebut dan menyematkannya di jari Ve.


"Alhamdulillah, akhirnya lamarannya sudah sah ya. Tinggal membicarakan kapan pernikahannya di laksanakan." ucap ibu Fatma setelah Erick selesai memakaikan cincin di jari Ve.


Ve tersenyum, dia melihat cincin lamarannya lalu menatap Erick.


"Terima kasih kak." ucap Ve dengan senang hati.


Lalu pembicaraan pun berlanjut dengan rencana pernikahan. Kedua keluarga itu sangat antusias merancang tema, dan juga waktunya kapan di laksanakan, sedangkan Ve dan Erick masih bicara dan saling menatap dan tersenyum senang.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊