V E

V E
63. Pertemuan Keluarga



Minggu siang, Ryu di haruskan sudah ada di rumah utama Dia sudah di beritahu sebelumnya kalau hari Minggu ini akan ada pertemuan dengan keluarga Takagi Daichi. Hanya keluarga inti saja, tuan Takagi Daichi, istrinya Ryoko dan Ayana Daichi saja.


Dan dari keluarga Takahiro hanya Naomi Takeda, Ryu Shin dan tuan Takahiro sendiri.


Ryu berada di kamarnya, membaringkan tubuhnya sejenak. Setelah perjalanan dari Tokyo ke Osaka, memang tidak jauh. Tapi Ryu merasa lelah, apa lagi dia menyetir sendiri dari pagi.


Tok tok tok


Pintu kamar Ryu di ketuk dari luar, Ryu mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali di rebahkan. Dia tidak peduli siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Mungkin ibunya atau pelayan.


Tok tok tok


Kembali pintu kamar Ryu di ketuk, jika ibunya dia langsung masuk setelah mengetuk pintu. Tapi dia mengetuk pintu lagi.


Dengan malas, Ryu bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju pintu. Dia membukanya dan melihat pelayan berdiri sambil menunduk.


"Ada apa?"


"Anda di panggil oleh tuan besar di ruang kerjanya tuan." kata pelayan itu masih menunduk.


"Ya, nanti saya ke sana." jawab Ryu.


"Baik."


Lalu pelayan itu pergi dari hadapan Ryu setelah membungkuk. Ryu masuk lagi ke kamarnya, dan membanting pintu kamar dengan keras.


Agak kesal juga, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Haruskah dia memberontak?


Ryu duduk di tepi ranjangnya, menunduk dan menghela nafas panjang. Sekali lagi, dia menenangkan hatinya sejenak.


Entah kenapa sejak mengantar Hana, dia selalu kepikiran gadis itu. Esok harinya Hana tidak datang ke perusahaannya, ternyata memang Hana hanya bercanda memintanya pekerjaan.


"Gadis yang aneh, kenapa dia lebih memilih jadi pelayan restoran dari pada kerja di dalam kantor?" gumam Ryu


Tapi dia semakin penasaran dengan gadis itu, dia kini sering mencari tahu sendiri. Tidak meminta bantuan Tamada lagi, karena dia tahu pasti Tamada akan meledeknya habis-habisan. Dia mengakui kejelian Tamada masalah mencari seorang cerdas dan mempunyai tata krama tinggi. Tidak tertarik dengan semua usaha yang mudah dan cepat.


"Ryu."


Naomi memanggil Ryu dari balik pintu kamar Ryu. Ryu beranjak mendekat pintu kamar dan membukanya.


"Ada apa ma?" tanya Ryu.


"Kamu belum bersiap?" tanya Naomi.


"Belum, nanti bersiap setelah menemui kakek di ruang kerjanya." jawab Ryu.


"Oh, kakekmu memanggilmu?" tanya Naomi.


"Iya ma. Ada apa mama kemari?"


"Mama hanya memastikan kamu sudah siap dengan pertemuan keluarga." jawab Naomi.


"Aku hanya mengganti baju saja ma, setelah itu sudah siap kok. Ya sudah, aku ke ruangan kakek dulu."


"Ya, mama juga mau bersiap-siap." kata Naomi.


Rupanya ibu Ryu itu sangat antusias dengan pertemuan keluarga itu. Apakah ibunya juga akan bertemu dengan keluarga lain juga? Setahu dia kakeknya juga memberikan kesempatan untuk memilih sendiri jodoh untuk Naomi.


Naomi di beri kebebasan memilih laki-laki yang dia suka, tapi kenapa dirinya harus di jodohkan? pikir Ryu.


Kini Ryu bersiap menemui kakeknya, dia menyiapkan hatinya dan entahlah apa lagi. Yang jelas dia kini sedang dalam kebimbangan.


Ryu mengetuk pintu sejenak, lalu masuk ke dalam ruang kerja kakeknya. Dia melihat kakeknya membaca berkas yang ada di meja, di sampingnya ada Heiji yang ikut memperhatikan berkas itu.


"Baiklah Heiji, ini sudah sesuai apa yang kita harapkan. Kamu boleh pergi, cucuku sudah datang." ucap Takahiro.


"Baik tuan besar." ucap Heiji membungkuk memberi hormat.


Lalu dia memberi hormat pada Ryu dan melangkah keluar dari ruangan itu. Ryu menatap kepergian Heiji sampai dia menghilang, lalu dia duduk di depan meja kerja kakeknya.


"Kakek memanggilku ada apa?" tanya Ryu.


"Kamu sudah siapkan dengan pertemuan nanti siang?" tanya Takahiro.


"Aku kan harus siap kakek, meski aku lelah karena perjalanan dari pagi langsung ke sini." ucap Ryu.


"Aku pulang selalu malam hari kek, jadi jika harus perjalanan jauh lagi rasanya aku tidak sanggup. Lagi pula malam hari itu sangat dingin." ucap Ryu.


Takahiro menghela nafas panjang, dia menatap cucunya itu. Dia tahu Ryu sedang menyukai seorang gadis Indonesia. Apakah nanti dia akan menyetujui pilihan Ryu?


Dia sudah menyelidiki asal usul gadis yang sedang Ryu dekati. Dia tidak melarangnya, karena gadis itu juga punya keturunan yang lumayan juga. Jadi dia mencoba untuk mendekatkan keluarga bangsawan di negeri ini lebih dulu, tidak ada salahnya di coba.


"Ryu, kamu tahu pertemuan keluarga ini akan mempertemukan kamu dengan anaknya Takagi Daichi? Ayana Daichi, model itu." ucap Takahiro.


"Iya kek, aku tahu." jawab Ryu singkat.


Tidak ada raut wajah antusias, namun Takahiro tidak bertanya lagi.


"Kakek harap kamu akan lebih akrab dengan Ayana. Dia gadis yang cantik dan cerdas juga, kakek pikir lebih baik bersanding denganmu."


"Iya kek."


"Setelah pertemuan ini dan perkenalan lebih dekat, ajaklah Ayana pergi agar kedekatan kalian bisa lebih cepat." ucap Takahiro lagi.


"Iya kek."


Jawaban Ryu selalu singkat saja, membuat Takahiro sedikit kesal. Tapi dia diam saja, setidaknya Ryu tidak membantah apa yang dia perintahkan.


"Apakah kakek ada lagi yang perlu di bicarakan lagi?" tanya Ryu.


"Sudah cukup, mungkin kamu lelah. Istirahatlah sebenyar, satu jam kemudian kita akan bersiap bertemu di restoran kita di Kyoto." kata Takahiro lagi.


"Iya, baiklah kek. Kalau begitu, aku keluar dulu."


Ryu lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan Takahiro. Takahiro hanya menatap kepergian cucunya itu. Saat ini dia berharap pertemuannya berjalan baik dan Ryu tidak menentangnya.


_


Tiba kini keluarga Takahiro, Naomi dan Ryu. Di dampingi Heiji untuk berjaga jika ada yang di butuhkan.


Mereka masuk ke dalam ruangan khusus yang sudah di reservasi sebelumnya. Di sana juga sudah menunggu keluarga Takagi Daichi debgan istri dan anaknya.


Takahiro, Naomi dan Ryu masuk dan memberi salam. Kedua keluarga itu pun saling memberi hormat dan berbasa basi menanyakan kabar dari keduanya.


"Tuan Takahiro, walaupun anda sudah tidak muda lagi, ternyata anda masih sehat dan kuat ya. Haha.." ucap tuan Takagi Daichi.


"Ya, begitulah. Saya harus mendampingi cucuku lebih dulu untuk menemukan pendamping hidupnya, baru saya akan pensiun dari semua pekerjaan saya." ujar tuan Takahiro menanggapi ucapan Takagi.


"Nyonya Naomi, ternyata anda masih tetap cantik ya." ujar istri Takagi.


"Ah, nyonya Akane bisa saja. Saya ini sudah tua, hehe." ucap Naomi.


Percakapan basa basi antara kedua orang tua terus berlanjut, sementara Ryu masih diam tidak tahu harus bagaimana. Ayana sendiri juga sepeetinya sibuk membalas pertanyaan demi pertanyaan penggemarnya di sosial media, dia tidak memperhatikan semua keluarganya yang sudah mulai akrab.


Ryu tersenyum tipis, ini yang namanya pertemuan untuk menyatukan dua keluarga dengan menjodohkan dirinya dan gadis model itu? Bahkan gadis itu lebih sibuk pada ponselnya dari pada memperhatikan semua yang ada di ruangan itu.


Nyonya Akane menyadari anaknya sibuk dengan ponselnya dan sia berbisik pada Ayana.


"Ayana, sudahi mengurusi penggemarmu itu. Lihatlah, di sana ada Ryu yang diam saja tanpa kamu ajak bicara karena kamu sibuk terus." bisik Akane pada anaknya.


"Sebentar bu, tanggung ini ada penggemar menanyakan kesukaan makananku." jawab Ayana.


"Ayana, sudah jangan di ladeni penggemarmu itu. Nanti ayahmu marah, tidak sopan sekali kamu membiarkan Ryu diam sendiri." bisik Akane lagi.


Dan benar saja, setelah melihat Ryu diam saja tanpa berinteraksi dengan anaknya. Takagi Daichi menoleh pada anaknya yang maaih memegangi ponselnya.


"Ayana, lihatlah Ryu sebentar. Dia perlu bicara denganmu." ucap Takagi.


Ayana pun menghentikan kegiatannya dan menoleh kepada ayahnya, kemudian beralih pada Ryu dan tersenyum padanya. Ryu pun membalas hanya sekilas lalu diam lagi.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊