V E

V E
51. Kabar Meninggal



Hiroshi terus menghubungi aistennya, Sinjo. Tapi tetap tidak terhubung. Dia juga menghubungi anaknya, namun sama saja tidak terhubung.


Akhirnya, dia mencoba menghubungi istrinya Naomi. Dia yakin Naomi sedang mengkhawatirkannya.


Tuuut.


Tersambung dan di angkat.


"Halo, Naomi." ucap Hiroshi.


"Halo, ini papa?" tanya Ryu di seberang sana yang memegang ponsel Naomi.


"Ryu? kamu pegang ponsel mama kamu?"


"Ponselku di ambil kakek pa, aku bisa pinjam ponsel mama. Papa ada di mana?"


"Papa di...? Sudahlah, yang penting papa selamat. Kamu kemaba saja, kemarin papa dan Erick hubungi kamu tersambung tapi tidak di jawab."


"Pa, aku di kurung di kamar. Ponselku di tahan kakek, dan Tamada juga Sinjo di sekap entah di mana. Kami rencananya mau menyelamatkan papa dan Eiko, tapi kakek lebih dulu mengetahui rencana itu dan dia mengganti supir yang akan membawa papa, Eiko dan Erick ke bandara. Apa Eiko dan Erick selamat?"


"Mereka selamat, ada sama papa. Lalu, mama kamu di mana?"


"Mama di kamarnya, pa. Papa baik-baik saja? Aku dengar mobil yang membawa papa juga Eiko terjun dan tenggelam di dasar laut. Lalu bagaimana kalian bisa selamat?"


Hiroshi lalu menceritakan bagaimana dia bisa selamat dengan Eiko dan Erick. Erick sangat cerdik, dia lalu memutar-mutar mobilnya yang remnya blong karena di sengaja.


Ryu yang mendengar itu jadi geram sendiri, dia masih mendengarkan Hiroshi bagaimana bisa selamat dari tenggelam di laut.


Dan lagi-lagi Erick yang menyelamatkan mereka, ternyata Erick sangat teliti dan penuh persiapan. Dia sengaja membuka kaca jendela agar nanti sewaktu-waktu bisa selamat dari bahaya, dan benar saja.


Mereka bisa keluar dari mobil yang mulai tenggelam, supir yang di sewa itu ikut tenggelam bersama mobilnya.


"Jadi papa dan Eiko selamat?"


"Ya, papa mendengar kabar di televisi mobil itu sudah di evakuasi. Lalu, bagaimana kakek dengan pemberitaan itu?"


"Emm, kakek tidak peduli dengan papa. Pa, sebaiknya papa ikut Erick ke Indonesia, temui ibu Harumi. Dan hiduplah dengannya dengan tenang. Aku yakin kakek akan mengumumkan papa meninggal karena mobil yang jatuh ke laut itu."


Hiroshi diam, dia mencerna ucapan anaknya itu. Ada benarnya juga saran dari Ryu, tapi banyak juga yang dia pikirkan.


"Pa, papa baik-baik saja?"


"Ya, papa baik-baik saja."


"Coba pikirkan saranku pa, lebih baik papa hidup di sana dan jangan kembali lagi ke Jepang. Sudah pasti nama papa sudah hilang di keluarga karena kecelakaan itu. Aku yakin itu pa." ucap Ryu lagi meyakinkan ayahnya itu.


"Ya, papa akan pikirkan. Terima kasih untuk sarannya."


Klik.


Ryu memutus sambungan teleponnya, karena ada suara kaki yang mendekat ke kamarnya.


Sementara itu, Hiroshi terdiam. Memikirkan ucapan anak laki-lakinya. Memang dia ingin menemui istrinya itu, tapi bagaimana? Bukankah dia masih ada di sini, dan sudah pasti ayahnya akan mencari tahu tentangnya saat ini.


Kemudian dia mencari Erick, biasanya laki-laki itu bisa berpikir cepat dan selalu mendapatkan solusi yang cerdas.


Dia mencari di belakang rumah, dan ternyata dia ada di sana bersama Ve. Hiroshi mendekati mereka, dan ikut duduk di depannya. Erick membungkuk pelan.


"Erick, bagaimana kamu akan keluar dari negara ini? Maksud saya, pergi dari sini dan pulang ke negaramu?" tanya Hiroshi.


"Kami sedang berpikir tuan, apakah akan aman jika kami pulang. Tapi bagaimana kami akan memesan tiket lagi, itu belum di temukan caranya. Karena kemungkinan anak buah tuan Takahiro sedang berpencar mencari kita." kata Erick.


Hiroshi menghela nafas panjang, dia menyampaikan saran Ryu padanya. Sebaiknya dia ikut pergi ke Indonesia bersama Ve dan Erick. Erick tersenyum, memang keinginan Ryu seperti itu, namun rencananya berubah.


"Maaf tuan Hiroshi, saya dan Ryu pernah punya rencana konyol. Jika mobil yang nanti anda tumpangi itu akan terbakar dan anda di sangka meninggal. Tapi padahal sudah di selamatkan oleh anak buah Ryu, namun ternyata skenario itu gagal dan berubah jadi masuk ke dasar laut. Lalu bagaimana dengan Ryu tuan?"


"Menurut saya, lebih baik ikuti saja saran Ryu tuan. Jika anda di sini, sudah pasti akan banyak sekali halangannya. Bukankah anda ingin bertemu dengan ibu Harumi?" tanya Erick.


"Ya, saya ingin bertemu dengannya." kata Hiroshi.


Setelah berbicara dan berbincang dan merencanakan kepulangannya ke tanah air, Erick dan Ve serta Hiroshi pergi makan siang. Setelah makan siang, mereka akan membeli tiket dan pasport baru ke bandara.


Tapi keduanya hanya diam di rumah, hanya pembantunya yang mengurusnya agar tidak si ketahui oleh tuan Takahiro.


_


Hiroshi, Erick dan Ve kini sedang menunggu keberangkatan ke Indonesia malam ini. Sengaja mereka mengambil penerbangan malam hari agar bisa leluasa untuk pergi ke bandara dan tidak banyak yang mencurigai.


Ryu sendiri juga merasa lega, jika papanya mau ikut ke Indonesia dengan Erick dan Ve.


Dan memang rencana Hiroshi juga akan menemui istrinya, Harumi di sana. Ve sangat senang sekali Hiroshi bisa ikut dengannya, dia sendiri tidak menyangka akan pulang dengan ayahnya.


Mungkin ibunya akan terkejut dengan kedatangannya nanti. Senyum mengembang di bibir Ve, membuat Hiroshi jadi heran.


"Sayang, kenapa kamu senyum sendiri?" tanya Hiroshi pada anaknya itu.


"Aku ngga percaya pa, papa akan ikut pulang denganku." jawab Ve menatap papanya.


Hiroshi tersenyum, dia lalu mendekap pundak putrinya itu. Dia juga tidak menyangka sebentar lagi akan bertemu dengan istrinya itu. Jika pun dia akan menikahi Harumi lagi pun tidak mengapa.


"Papa juga tidak menyangka, tapi papa juga punya rencana akan menemui kalian dalam waktu dekat." ujar Hiroshi.


Lama mereka menunggu pesawat take off, kini mereka memang sudah ada di dalam pesawat menuju Indonesia.


Dan dua hari setelah tenggelamnya mobil yang mereka tumpangi ke dasar laut, berita kematian Hiroshi pun menyebar. Dia kini lega, ternyata memang benar apa yang di katakan Ryu. Ayahnya, Takahiro memberitakan dan mengumumkan kematiannya.


Sehingga Ryu dan Naomi sangat lega, memang begitu rencana Ryu dan Erick semula. Namun berbeda kejadiannya.


Keluarga besar Takahiro dan Takeda sangat terpukul dengan berita meninggalnya Hiroshi. Hingga upacara berkabung di laut di adakan oleh keluarga besar Takahiro.


Dan takahiro sendiri sebenarnya tahu, anaknya itu selamat. Dia hanya tidak mau cucunya terlibat, dan harapan satu-satunya keturunan dan pewaris tunggal adalah Ryu Shin Hiroshi.


Ryu juga menerima semuanya, dia akan menjalankan tahta keluarga kebangsawanan Takahiro, dia juga akan menerima jika di jodohkan oleh keluarga bangsawan lagi.


Naomi sendiri merasa aneh dengan sikap tenang Ryu dengan kematian ayahnya. Namun demikian dia tidak bertanya tentang kematian Hiroshi.


"Ryu, kamu percaya kalau papamu meninggal?" tanya Naomi pada anaknya.


"Kenapa ma?" tanya Ryu.


"Mama hanya merasa aneh, kenapa semua terasa tenang dan biasa saja dengan kematian Hiroshi. Kakekmu dan juga kamu." kata Naomi lagi.


"Sudahlah ma, semua sudah terjadi. Biarkan papa dengan tenang di sana, jangan di bicarakan lagi."


"Tapi kakekmu seperti biasa saja, Ryu." sangkal Naomi.


"Kakek memang seperti itu, ingat meninggalnya nenek? Kakek bahkan sudah mulai bekerja setelah tiga hari kematian nenek. Memang seperti itu pembawaan kakek, dia menyembunyikan kesedihannya dengan bersikap biasa saja dan diam. Mama jangan pikirkan apa pun ya." kata Ryu memberi pengertian pada Naomi, ibunya.


Akhirnya Naomi diam, dia tidak meneruskan pertanyaannya pada anaknya. Kemudian dia keluar dari tempat persembahyangan keluarga. Ryu menatap ibunya, dia merasa kasihan padanya. Tapi dia juga kasihan pada papanya yabg selama hampir dua puluh tahun menderita.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊