
Pagi ini Ve ke kampus seperti biasa, dia menaiki motor scoopynya dengan cepat. Karena jadwal pagi di awali dengan mata kuliah pak Doni.
Ve kapok dengan hukuman yang di berikan oleh dosen kiler itu. Sudah dua kali dia dapat hukuman dari pak Doni. Jadi pagi ini dia harus sampai di kelasnya sepagi mungkin.
Belum lagi tugas-tugas kuliah dari pak Doni, pasti saja setiap pertemuan memberikan tugas. Ada saja tugasnya.
Sama dengan pak Ruli, meski pun pak Ruli tidak sama dengan pak Doni jika di kelas, tapi jika memberikan hukuman sama halnya seperti mengejar waktu.
Kadang teman-teman satu kelas Ve juga mengeluh, namun tetap tidak ada perubahan.
Kata bagian pokja memang seperti itu karakter mengajar materi pak Doni itu, jadi harus di sabari.
Ve duduk di bangkunya, membuka buka yang akan di sampaikan materinya oleh pak Doni, dia melirik jam yang melingkar di tangannya.
Masih sepuluh menit lagi pak Doni masuk, dan teman-temannya mulai berdatangan. Gilang juga baru datang dan duduk di sebelah Ve. Dia j meletakkan tas ranselnya di meja dan mengambil buku yang sama dengan Ve.
Hanya di letakkan di meja saja tanpa di baca seperti Ve. Dia memainkan ponselnya membuka situs media sosial.
Ve melirik Gilang yang fokus bermain ponsel, lalu meneruskan membacanya.
"Lang, tolong gue dong." pinta Ayu yang menghampiri Gilang di kursinya.
Gilang mendongak, Ve pun sama melihat ke arah Ayu.
"Tolongin apa?" tanya Gilang.
"Itu, di depan ada mantan pacar gue. Gue ngga mau ketemu sama dia." kata Ayu.
"Lha, urusannya apa sama gue?" tanya Gilang.
"Ya, pura-pura jadi pacar gue kek. Lo kan good looking, Lang. Please ya.." pinta Ayu lagi.
"Ye, gue ganteng aja Ve ngga naksir gue." celetuk Gilang asal.
"Lo kenapa bawa-bawa gue?" tanya Ve.
"Narsis banget sih lo. Ve incerannya dosen." kata Ayu lebih asal lagi.
"Ish, lo sembarangan kalo ngomong." kata Ve kesal.
"Heheh, maaf Ve. Bujukin Gilang dong supaya mau tolongin gue." ucap Ayu.
"Lang, sono bantuin ayu. Ntar lo dapat nasi padang sebungkus." kata Ve.
"Murah bener bayaran gue nasi padang sebungkus."
"Ya,cuma lo berdiri aja dekat gue. Ntar gue yang bikin dramanya."
"Emang mau main sinetron?"
"Udah sih, ribet banget nolongin temen aja tuh. Siapa tahu lo jadian sama Ayu." kata Ve.
Ayu mengacungkan jempol ke arah Ve tanda setuju.
"Ogah, bantuan aja di hargai nasi padang." kilah Gilang
"Eh, lo sama tenen aja perhitungan banget." kata Ayu agak kesal.
"Kalo sam Ve gue gratis jadi cowoknya."
"Idih, ogah gue juga. Udah sana, keburu pak Doni masuk." kata Ve lagi.
"Ck, lo kenapa milih gue sih. Kan ada tuh Si Ramon sama si Adam Kenapa sama gue sih?"
"Karena lo baik, Gilang."
"Terus mereka ngga baik gitu."
"Udah deh, jangan banyak alasan."
"Selamat pagi anak-anak." sapa pak Doni yang tiba-tiba masuk dan memberi salam.
"Selamat selamat." ucap Gilang.
Ayu menatap Gilang tajam, dia lalu duduk di kursinya. Ve diam dan Gilang juga duduk dengan tenang si kursinya. Mereka semua kini siap menerima materi kuliah dari dosen kiler, pak Doni.
_
Motor Ve melaju dengan cepat, dia benar-benar dalam keadaan bingung. Pasalnya dia di telepon oleh ibunya Andre bahwa ibunya jatuh dari motor ojek yang di sewanya.
Hati Ve cemas dan gelisah, hingga dia tidak sadar menabrak mobil Brio hitam entahilik siapa.
Ve terkejut dan motornya oleng ke trotoar jalan. Dia menghentikan motornya dan mobil yang dia tabrak pun berhenti.
Laki-laki turun dari mobil tersebut dan membantu Ve membangunkan motornya yang bersandar di pinggiran trotoar.
"Are you oke?" tanya laki-laki itu memegangi tubuh Ve.
Ve menoleh ke arah laki-laki yang menolongnya, dia menatap sejenak. Ada rasa kedekatan di hati Ve, namun bukan cinta pada pandangan pertama. Tapi entah apa, dan rasa itu hanya sekian detik saja.
"Thank you mister and i'm so sorry." kata Ve sambil menunduk.
Dia lalu kembali melajukan motornya dengan cepat, takut polisi mendatangi kejadian itu dan dia di bawa ke kantor polisi. Dia berharap nanti bertemu lagi dengan laki-laki itu untuk meminta maaf lebih serius.
Karena sekarang dia sedang buru-buru untuk pulang, dia takut ibunya menunggu terlalu lama dan takut terjadi apa-apa.
Sementara itu, laki-laki yang berwajah putih dan sedikit sipit matanya hanya menatap kepergian Ve saja.
Dia juga merasa aneh, seolah ada kedekatan batin antara dia dan perempuan yang menabrak mobilnya.
"Tuan, apakah kita akan meneruskan perjalanan kita?" tanya sang supir.
"Ya tentu saja. Kamu tahu alamatnya di mana?"
"Saya tahu tuan, ayo anda naik dulu."
"Oke."
_
Sampai di rumah yang cukup besar, mobil itu masuk melewati pintu gerbang dan masuk lebih dalam.
Di depan halaman rumah mobil itu berhenti, dan keluarlah laki-laki tinggi berkulit putih mulus. Dia melangkah menuju pintu dan menekan tombol bel.
Lama dia menunggu, dan tak lama keluar seorang pembantu. Dia kaget dengan tamu majikannya, tinggi rambut hitam lurus bak opa korea.
Sejenak dia terkesima, namun dia menunduk dan menatap kembali laki-laki di depannya.
"Cari siapa?" tanya pembantu itu ragu.
Laki-laki itu membuka buku kamusnya dan mencari kalimat sapaan atau pertanyaan.
"Erick a da?" tanyanya dengan logat agak cedal.
"Oh, cari tuan Erick. Beliau masih di kampus tuan." jawab pembantu Erick.
Tak lama, seorang perempuan paruh baya menghampiri pembantunya karena aneh sejak tadi tidak juga di ajak masuk tamunya.
Ya, ibu Fatma itu ibunya Erick. Dia memperhatikan laki-laki itu dengan aneh, pernah melihat tapi tidak ingat di mana.
"Halo, Erick ada?" tanya laki-laki itu sekali lagi.
"Siapa ya?" tanya ibu Fatma.
"Emm, saya Ryu." jawab laki-laki yang bernama Ryu itu sambil membungkukkan badannya setengah tanda hormat pada orang tua.
"Ryu teman Erick yang dari Jepang?" tanya ibu Fatma antusias.
Ryu diam, dia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh ibunya Erick itu. Dia lalu membuka kamus lagi. Tapi tangan Ryu cepat-cepat di tarik oleh ibu Fatma untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk dulu, nanti Erick pulang ya." kata ibu Fatma.
Dia mengajak Ryu yang masih bingung masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa di ruang tamu.
Ibu Fatma menyuruh pembantunya menyiapkan minuman, dan dia duduk di kursi satunya.
"Tunggu ya, saya menghubungi Erick dulu." kata ibu Fatma.
Meski pun Ryu tidak mengerti bahasa yang di gunakan oleh ibunya Erick, dia hanya mengangguk saja.
Dan ibu Fatma bangun dari duduknya dan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi anaknya.
"Halo ma, ada apa?" tanya Erick di seberang sana.
"Kamu cepat pulang, ada temanmu datang dari Jepang." kata ibu Fatma.
"Ada Ryu?" Erick kaget.
"Iya, dia temanmu dari Jepang itu kan" tanya ibu Fatma.
"Oh ya, aku akan pulang segera ma." kata Erick lagi.
"Iya, cepat ya. Dia baru datang mungkin dari bandara."
"Oke."
Lalu dia menutup sambungan teleponnya dan menyimpannya kembali ponselnya.
Setelah selesai, dia menuju ruang tamu lagi. Memberitahu Erick akan pulang secepatnya.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊