
Ve menaiki komidi karnival dengan Ryu dan Erick, dia senang sekali kedua orang itu mau ikut naik komidi karnival.
"Aah, adik besarku seperti sedang menikmati masa kecilnya." gumam Ryu sambil tersenyum.
Erick malah senang dengan senyum Ve yang alami, dia menikmati wahana bermain di pasar malam ini. Memang wahana bermain itu kebanyakan anak-anak dan remaja, tapi tidak salah juga mereka ikut naik. Tidak ada ketentuan juga harus anak-anak atau remaja yang naik.
Ve menatap balik Erick yang memegangi pundaknya, mereka tidak sadar di bangku depannya ada Ryu yang melihat mereka. Meski Ryu senang, tapi dia merasa seperti obat nyamuk saja di dalam karnival itu.
Karnival berjalan sesuai irama disel yang menderu dan bising, namun tertimpa teriakan orang-orang yang ikut bermain wahana tersebut.
Lama mereka naik karnival, karena dua tiket mereka gunakan. Dan akhirnya waktu sudah habis, dan satu persatu turun dari wahana tersebut.
"Kamu senang?" tanya Erick.
"Ya, lumayan." jawab Ve.
Mereka lalu menuju warung sate kambing muda. Di sana Erick mengajak makan sate. Awalnya Ryu kebingungan, namun setelah di sajikan ternyata dia suka juga sate kambing.
"I like sate." ucap Ryu sambil menarik satu tusuk sate ke dalam mulutnya.
Ve tertawa renyah, dia senang kakak dari satu ayah itu menyukai sate.
"Oniichan suka?" tanya Ve.
"Yes, i like it."
"Kak Erick, kak Ryu kapan pulang?" tanya Ve pada Erick.
"Katanya dua hari lagi, dia punya pekerjaan jadi tidak bisa di tinggalkan lebih lama. Kenapa memangnya?" tanya Erick.
"Kalau aku bisa bahasa Jepang, pasti banyak sekali yang ingin aku tanyakan padanya. Tapi sayang aku ngga ngerti apa yang kak Ryu katakan. Bahasa Inggrisku juga ngga terlalu mahir, paling sedikit-sedikit aja. Aku pengen ngobrol banyak mengenai papa." jawab Ve lirih, membuat Erick diam dan tertegun.
Jadi memang benar, dari wajah dingin dan cueknya tersimpan rasa rindu pada seorang ayah? Mungkin Ve hanya tidak mau merepotkan dan membebankan pikiran ibunya, sehingga dia tidak banyak bertanya dan lebih banyak bersikap cuek dan dingin ketika semua orang mempertanyakan dirinya, namanya dan juga ayahnya.
"Ve, apa kamu pengen bertemu papamu?" tanya Erick.
"Sejujurnya ya, tapi aku kasihan sama ibu. Jika aku bertemu papa di Jepang, bagaimana dengan ibu di sini?" kata Ve lebih bingung lagi.
"Bukankah tidak lama, kamu hanya perlu bertemu papamu. Setelah itu kamu bisa balik lagi, atau kamu ingin tinggal dengan kakak dan papamu?" tanya Erick.
"Tidak, aku ketemu sama papa aja udah senang. Biar aja aku sama ibu di sini, papa biar di Jepang dengan kak Ryu. Cukup sekali bertemu dengan papa, sudah cukup kok." ujar Ve.
Dan hati Erick semakin sakit mendengar penuturan kekasihnya itu, dia memeluk Ve dari samping dan memandang Ryu yang sedang asyik makan sate habis beberapa tusuk.
"Ryu, kapan lo mau bicara sama Eiko tentang ajakanmu ke Jepang menemui papa Hiroshi?" tanya Erick pada sahabatnya itu.
"Gue bingung karena bahasa kita susah untuk di terjemahkan. Gue ingin lebih meyakinkan dia kalau gue benar-benar ingin mengajak dia menemui papa." kata Ryu.
"Hei, lo ngga percaya sama gue?" tanya Erick heran dan kesal.
Ryu diam, tidak seharusnya dia bicara seperti itu. Namun maksudnya dia hanya ingin bicara berdua dengan Ve.
"Gue siap jadi translete lo pada adikmu, gue rasa lo ngga percaya sama gue." cibir Erick.
"Sorry bro, bukan begitu maksud gua. Cuma gue pengen bicara berdua sama dia." kata Ryu beralasan.
"Tapi saat ini lo butuh gue, kalau lo ngga mau bicara dengan adikmu ada gue, lo belajar bahasa Indonesia agar adik lo mengerti apa yang lo katakan." kata Erick dengan kesal.
Dia tidak mengerti pikiran Ryu, dia tenggak sisa minuman yang ada di gelasnya. Ve melihat Erick sepertinya tengah marah pada Ryu, ingin bertanya tapi mungkin itu terlalu pribadi.
Ryu memandang Erick, dia menyesal apa yang dia katakan pada sahabatnya itu.
"Sorry, memang gue butuh lo untuk menyampaikan ucapan gue pada Eiko. Sekarang pun boleh lo katakan padanya, kalau gue ingin membawanya ke Jepang lusa gue berangkat." kata Ryu.
"Tadi dia bilang, dia hanya ingin bertemu sekali saja dengan papanya. Dia juga tidak mau meningalkan ibunya lebih lama. Aku sedih dan merasa kasihan, ternyata dia sangat merindukan papa Hiroshi selama ini. Di balik sikapnya yang dingin, dia menyimpan rasa rindu seorang ayah. Lo tahu, hanya sekali bertemu. Dan seterusnya dia hanya mau tinggal dengan ibunya, itu saja." ucap Erick seakan sesak dadanya mengatakan itu pada Ryu.
Ryu tertegun, dia menatap Ve dengan sangat kasihan. Ada sesak juga di hatinya, sejak kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Dan harapannya cuma sederhana, bertemu sekali dengan papanya.
Ryu mendekat pada Ve, dia ingin memeluk adiknya itu. Dia tidak peduli banyak mata yang menatapnya.
"Eiko, oniichan, im so sorry. Hik hik hik." ucap Ryu sambil menarik tubuh Ve ke dalam pelukannya.
Ve yang di tarik tubuhnya di peluk Ryu jadi heran, dia menatap Erick meminta penjelasan kenapa kakaknya seperti itu, bahkan menangis.
"Dia ingin membawamu ke Jepang, menemui papamu. Papa Hiroshi." kata Erick.
Dia tidak menerjemahkan yang sebenarnya apa yang di katakan Ryu.
"Benarkah?" tanya Ve tidak percaya.
"Ya, dia ingin melihatmu juga bahagia dengan papamu. Bertemu dan memeluknya juga seperti kakakmu. Apa kamu mau ikut dengan kakakmu?" tanya Erick.
"Emm, apa papa juga mengerti bahasaku nanti?" tanya Ve.
Pertanyaan yang tidak ada di benak Erick maupun Ryu. Ryu melepas pelukannya, dia mencium puncak kepala Ve dengan lembut.
"Kamu mau bertemu papa?" tanya Ryu.
"Jika ibumu mau, bisa ikut serta." kata Erick.
Dia ragu dengan ajakan itu, tapi apa salahnya dia katakan.
"Aku ngga yakin ibu mau ikut kak." kata Ve lagi.
"Kalau ibu ngga mau ikut, apa kamu mau ikut dengan kakakmu?"
"Aku harus izin dulu sama ibu."
"Jika kamu mau ikut, lusa Ryu akan berangkat lagi ke Jepang. Dia nanti akan memesan tiket pesawat untukmu."
Ve terdiam, dia beralih menatap Ryu. Memastikan bahwa apa yang di katakan Erick itu benar.
"Aku bicara dulu sama ibu, oniichan." kata Ve pada Ryu.
"It's oke, katakan pada ibu kalau kamu ingin bertemu papa." kata Ryu.
Ve mengangguk, dia lalu tersenyum.
Malam terus beranjak, tidak terasa waktu menunjukkan pukul sepuluh malan. Setelah Erick membayar sate yang mereka makan tadi bertiga.
Kemudian ketiganya kembali menaiki mobil, mengantar Ve pulang ke rumahnya. Mereka juga akan mengantar Ve sampai depan pintu rumahnya.
"Kamu langsung tidur ya, jangan begadang." pesan Erick pada Ve.
"Aku ngga pernah begadang yang tidak penting, kalau pun begadang pasti mengerjakan tugas kuliah." jawab Ve.
"Eiko, ibu sudah tidur?" tanya Ryu.
"Kurasa belum, sebentar aku panggil ibu dulu." kata Ve.
Dia lalu masuk ke dalam rumah yang memang belum di kunci. Erick menatap Ryu, heran.
"Lo mau apa panggil ibu Tika?"
"Gue mau sekalian minta izin, agar beliau memberikan izin Eiko ikut denganku ke Jepang." kata Ryu.
"Emm, betul juga sih."
Dan tak lama, ibu Tika keluar. Mereka berdua di suruh masuk ke dalam rumah, karena sudah malam. Tidak baik malam-malam bertamu, apa lagi dua laki-laki.
"Ada apa kamu mau menemuiku Ryu?"
"Ibu, bolehkah Eiko bertemu dengan papa?" tanya Ryu langsung saja.
Ibu Tika menatap Ryu tak percaya, meski dia sudah tahu tapi dia tetap kaget.
"Kamu sudah bicara pada Eiko?" tanya ibu Tika.
"Sudah, dia bilang ingin bertemu papa. Apa ibu mengizinkan Eiko bertemu papa?" tanya Ryu lagi, berharap ibu Tika mengizinkan Ve ikut dengannya.
"Terserah Eiko, jika dia ingin bertemu papanya. Ibu hanya bisa mengizinkannya saja. Tapi, apakah kamu bisa menjamin Eiko itu tidak di cegah oleh ayah Takahiro, kakekmu?" tanya ibu Tika.
"Aku jamin, aku ada apartemen di Tokyo. Biar papa yang datang ke apartemenku menemui Eiko." kata Ryu dengan semangat.
Ibu Tika diam, dia sebenarnya tidak rela anaknya harus pergi ke Jepang. Tapi dia juga tidak boleh egois, anaknya pasti ingin bertemu dengan papanya.
"Eiko ingin bertemu dengan papanya bu hanya sekali saja, itu keinginannya tadi yang dia katakan padaku." kata Erick dengan bahasa Jepang.
Semakin terenyuh saja ibu Tika mendengar perkataan Erick barusan. Tapi biarlah, dia juga tahu Ve tidak akan meninggalkannya begitu lama.
"Berapa lama kamu membawanya ke Jepang?" tanya ibu Tika.
"Satu minggu, aku akan membawanya hanya satu minggu. Nanti aku antar lagi Eiko pulang." kata Ryu meyakinkan ibu Tika.
"Biar aku menyusul Ve ke Jepang, bu. Aku yang akan menjemput Ve dan membawanya pulang kembali." kata Erick menyambungi pembicaraan mereka.
Ibu Tika tersenyum, lalu dia mengangguk pasti.
"Baiklah, silakan Eiko bawa ke Jepang. Dia sedang giat belajar bahasa Jepang setiap malam secara manual melalui internet." kata ibu Tika.
"Terima kasih, lusa aku akan pulang ke Jepang. Dan besok aku pesan tiket pesawat untuk Eiko." kata Ryu dengan semangat.
Setelah pembicaraan itu, Ryu dan Erick pamit untuk pulang. Besok Ryu langsung pesan tiket untuk adiknya.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊😊