V E

V E
35. Adik Dan Pacar



Kini kedua kakak adik itu pun masih berpelukan, Ve sendiri bingung mau mengatakan apa begitu juga Ryu.


Dan tak lama pelukan mereka terlepas, lalu kembali duduk. Erick memperhatikan keduanya masih ada rasa canggung, tidak seperti waktu itu bertemu.


"Ryu, apa yang akan kamu lakukan terhadap adikmu?" tanya Erick.


"Kalau bisa dia akan aku bawa ke Jepang." jawab Ryu serius.


"Hei, mau apa lo bawa dia ke Jepang?" tanya Erick gusar.


Jika Ve di bawa ke Jepang, dia tidak akan bertemu dengan Ve lagi.


"Hei, dia adik gue. Apa hak lo bertanya seperti itu?" tanya Ryu heran.


"Dia pacar gue." jawab Erick lantang.


"What?!" kata Ryu kaget.


Dia tidak percaya adiknya itu adalah pacar sahabatnya.


"Sejak kapan lo pacaran sama dia?"


"Sudah satu bulan, jadi jangan coba-coba bawa Ve ke Jepang." kara Erick dengan tegas.


"Lo ngga ngasih tahu gue sejak awal, jadi gue akan memaksa dia untuk pergi ke Jepang." kata Ryu lagi lebih bersemangat.


Erick tidak terima, dia kini menarik kerah baju Ryu dan menatapnya tajam. Dia tidak boleh membawa Ve pergi darinya.


Ve yang melihat kedua laki-laki di hadapannya seperti bertengkar dengan bahasa Jepang yang tidak di mengerti jadi mengerutkan dahinya. Dia merasa aneh kenapa Erick menarik kerah baju Ryu.


"Ya, dia pacar gue. Jadi jangan coba-coba membawanya pergi dari gue." ucap Erick dengan kesal pada Ryu.


Ryu tertawa mengejek, dia lalu menepuk pundak sahabatnya itu.


"Dia adik gue, dan yang berhak bawa adik gue ya gue. Lo mau apa hah?" kali ini Ryu menantang Erick.


Dia ingin menguji Erick, dan juga kesal. Kenapa baru sekarang dia mengatakan kalau Ve itu pacarnya.


"Ck, Ve juga ngga akan mau lo ajak ke Jepang." kata Erick akhirnya melemah nada suaranya.


Dan Ryu tersenyum mengejek, dia senang menggoda sahabatnya.


"Gue hanya mau mengenalkan pada papa Hiroshi." kata Ryu.


Erick diam, memang seharusnya Ve itu di kenalkan oleh papanya. Namun dia pikir itu rasanya sulit sekali, berhubung cerita dari ibu Tika kalau mertuanya Takahiro tidak mudah menerima cucu atau menantu begitu saja.


"Lo yakin mau mengenalkan Ve pada papamu?" tanya Erick.


"Yakin, gue cuma mau membantunya menemukan anaknya, kalau bisa istrinya juga." jawab Ryu.


"Lo baik banget sih jadi orang." ucap Erick meledek Ryu.


"Gue kasihan sama papa, setiap hari jika ada kesempatan istirahat beliau hanya termenung dan kadang kedua tangannya menghapus matanya, gue tahu itu sangat berat. Ada beban yang sangat berat di hatinya selama bertahun-tahun yang papa rasakan. Bisa lo bayangkan menanggung beban berat selama bertahun-tahun, rasanya lelah. Namun itu harus di jalankan." kata Ryu dengan sedih membayangkan tuan Hiroshi yang setiap dia lihat hanya bisa merenung tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Tapi lo tahu kisah dari ibu Ve? Dia bahkan hidup sederhana dan menghidupi anaknya sampai sebesar itu sendirian. Dia kadang di teror oleh orang yang tidak di kenal yang ingin mencelakakannya." kata Erick.


Ryu diam, dia menatap Ve yang sejak tadi kebongungan dengan pembicaraannya dengan Erick.


"Ve, gue akan melindungi dia. Dan memperjuangkan haknya juga pada papa." kata Ryu.


"Tapi lo akan berhadapan dengan kakek lo nanti, apa yang akan lo lakukan jika memang kakek lo ngga mau terima Ve sebagai cucunya?" tanya Erick.


Masalahnya akan semakin rumit jika tuan Takahiro sudah bertindak. Dia yang sebagai keluarga bangsawan banyak juga anak buahnya, bisa saja menyuruh anak buahnya untuk menyingkirkan Ve dan ibunya.


Beberapa kali saja ibu Tika harus bertaruh nyawa dengan di serempet oleh pengendara motor yang tidak di kenal.


"Lo sebaiknya ketemu dengan ibu Ve, dan mengenalkan diri lo bahwa lo adalah kakak Ve lain ibu." kata Erick memberi saran.


"Memang gue rencananya mau ketemu dengan ibu Ve. Entahlah, apakah gue akan memanggilnya ibu?" tanya Ryu ragu.


Sejujurnya dia agak enggan bertemu dengan ibunya Ve, namun dia memang ingin bertemu adiknya.


"Kenapa? Apakah lo masih segan karena ibu Ve itu adalah perempuan yang sangat di cintai oleh papamu?" tanya Erick menebak.


"Mungkin, tapi gue juga ingin bertemu dengannya. Gue ingin tahu cerita darinya." kara Ryu.


"Ya, dia akan bisa bicara lancar denganmu. Karena dia juga pernah tinggal lama di Jepangkan?"


"Ya, lalu apa sebaiknya kita pergi ke rumah Ve sekarang?"


Ve yang sejak tadi hanya diam, memperhatikan pembicaraan Erick dan Ryu yang tidak dia pahami. Dia jadi bingung dan akhirnya dia menarik baju Erick untuk meminta perhatiannya.


Erick menoleh, dia menatap Ve dan bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.


"Hahah, lo lupa adikmu itu ngga bisa bahasa yang l9 ucapkan?" tanya Erick dengan tawa renyah pada Ryu.


Ryu menatap Ve, dia juga bingung mau ngomong apa sama Ve.


"Aku akan belajar bahasa Indonesia sedikit-sedikit agar kamu mengerti." kata Ryu.


Ve hanya mengangguk, apa yang di katakan Ryu.


"Ve, dia mau bertemu dengan ibumu." kata Erick pada Ve.


Ve menatap Ryu, dan Ryu mengangguk seolah mengerti apa yang di katakan oleh Erick.


Makanan baru datang setelah mereka berbicara satu jam. Mungkin jika tujuannya makan, maka mereka akan marah-marah pada pelayan yang datang terlambat makanan yang mereka pesan.


Acara makan siang yang kelewat siang karena obrolan serius tadi.


_


Dan kini mereka bertiga setelah dari restoran langsung pulang ke rumah Ve.


Ve dan Ryu duduk di belakang, mereka kini saling menggenggam tangan dan Ryu berkali-kali memegang kepala Ve. Ada rasa hangat yang Ve rasakan dekat dengan Ryu, hingga dia tidak sadar telah bersandar di pundak Ryu.


Ryu senang Ve tidak canggung padanya, meski ini pertemua yang ketiga kalinya namun dengan beda suasana.


Erick yang di depan sebagai supir dari kakak beradik itu hanya mendengus kesal. Kenapa dia yang jadi supir dari kedua orang itu?


"Lo keterlaluan, Ryu. Gue jadi supir lo ya." kata Erick dengan nada kesalnya.


Mana dia melihat Ve begitu nyama bersandar pada pundak Ryu. Dia kesal kenapa pacarnya itu mudah akrab dengan Ryu.


"Lo jalan aja kenapa sih, brisik banget." kata Ryu.


Erick mendengus kesal, Ve melihat Erick kesal menarik kepalanya dari pundak Ryu. Namun Ryu menarik lagi kepala Ve agar tetap bersandar di pundaknya.


"Kak Erick marah itu, kak." kata Ve pada Ryu.


"Udah biarin, jarang-jarang dia menyetir buat kita." kata Ryu lagi.


Ve masih menatap kekasihnya yang masih kesal melihat dirinya dan Ryu begitu dekat.


Dan satu jam akhirnya mereka sampai di gang rumah Ve. Mobil Erick tidak bisa masuk ke depan rumah Ve, hanya bisa parkir di depan mushola saja.


Ve dan Ryu turun dari mobil di susul oleh Erick, tapi Erick menarik tangan Ve agar dia yang lebih dekat dengan Ve.


"Ve, kamu jalan sama aku aja." kata Erick masih mode kesal sejak dari mobil.


Ve tersenyum, dia hanya diam saja ketika tangan Erick menarik lengan tangannya. Dan Ryu jadi heran melihat Erick begitu posesif pada Ve.


Dia tertawa kecil, mengejek Erick yang cemburu sejak di mobil. Lalu menggelengkan kepala saja.


Dan mereka menuju rumah Ve yang terlihat sepi, namun bau aroma bronis kukus sangat menusuk ke hidung ketiganya.


Ve lalu masuk dan berucap salam.


"Assalamu alaikum, buu?"


Ve langsung masuk dan mempersilakan kedua laki-laki itu masuk dan duduk di ruang tamu. Dia lalu masuk lebih dalam ke dapur untuk menghampiri ibunya yang sedang membuat kue pesanan pelanggannya.


"Bu, ada kak Erick dan emm Ryu." kata Ve.


Ibu Tika bingung, Ryu? Siapa dia?


"Ayo bu ke depan, mereka menunggu ibu keluar." kata Ve lagi.


"Sebentar, ibu tunggu lima menit lagi. Ini kalau di tinggal nanti ngga enak hasilnya. Kamu suguhkan cemilan apa dulu sana sama minuman, nanti ibu ke depan menemui mereka." kata ibu Tika.


"Ya udah, cepat ke depan ya bu." pinta Ve.


"Iya." jawab ibu Tika sambil membuka tutup langseng pengukus bronis yang dia buat.


Ve lalu mengambil makanan cemilan dan juga minuman mineral dari dalam kulkas, lalu di bawa ke depan di suguhkan pada pacar juga kakaknya di ruang tamu.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊