
Setelah pulang mengajar, Erick seperti biasa mengantar adiknya latihan karate.
Dia bisa saja melatih adiknya karate, tapi dia belum bisa karena waktunya sangat padat. Biasanya pulang dari kampus jika waktu masih siang, akan pergi ke perusahaannya.
Drrrt
Bunyi ponsel Erick di saku celananya, dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon.
Erick menghela nafas panjang, diam sebentar tampak berpikir. Lalu dia menjawab telepon tersebut.
"Halo."
(Dalam bahasa Jepang)
"Halo, bagaimana? Apakah kamu menemukan tutik terang di mana dia berada?" tanya seseorang di balik telepon.
"Gue belum menemukan adik lo, tapi gue akan cari tahu secepatnya. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini." jawab Erick merasa tidak enak hati.
"Oh, begitu ya. Aku ingin menemukan dia." jawabnya lirih.
"Apa kamu yakin dia tinggal di Indonsesia?"
"Karena ibunya dari Indonesia, jelas dia oulang ke negaranya."
Erick diam, dalam mobil dia melihat seorang pemuda yang dia yakin itu mahasiswa di kampusnya mengajar dengan motor bututnya menuju gang rumah Ve. Erick terus memperhatikan.
"Erick, bro. Kamu di sana?"
"Oh ya, gue masih di sini. Oke besok gue cari tahu di kampus data mahasiswa. Karena gue kenal mahasiswa gue yang wajahnya campuran oriental-Indo. Cantik anaknya, jadi gue lagi penasaran dengan dia. Gue belum sempat menyelidiki itu gadis, jadi masih dekat sih sama dia." kata Erick.
"Oke, gue tunggu kabar dari lo selanjutnya."
"Oke, by."
Klik.
Sambungan telepon terputus, Erick memasukkan kembali ponselnya di saku celananya. Mobil dia arahkan ke gedung klub karate di mana adiknya berlatih sama Ve.
Sampai di gedung klub karate, dia melihat Jody sedang berlatih dengan Ve. Erick tersenyum, dia memperhatikan kedua orang itu dengan senang hati.
Ve selalu membetulkan posisi Jody yang salah dan memberi pengarahan juga agar dia tahu posisnya yang benar.
Satu jam Erick menunggu adiknya selesai latihan, dan akhirnya selesai juga. Dia juga ingin bicara dengan Ve, kenapa tadi pagi tidak masuk kuliah.
"Kak, aku sudah bisa melawan kak Ve." teriak Jody sambil berjalan cepat menghampiri Erick.
Erick tersenyum, dia melirik Ve yang sekilas juga melihatnya.
"Bagus dong, kamu ada kemajuan latihannya." puji Erick pada adiknya.
Jody tertawa senang, dia lalu duduk dan minum air mineral yang di sodorkan Erick padanya.
"Kakak mau ngobrol sama kak Ve dulu ya, kamu duduk aja dulu." kata Erick.
"Iya kak."
Erick lalu menghampiri Ve yang sedang merapikan alat yang tadi di gunakan. Seorang laki-laki sebaya dengan Ve lebih tua dua tahun memghampiri Ve.
"Ve, gue ngga bisa lama-lama di sini. Emak gue mau minta antar ke dokter katanya." kata laki-laki itu.
"Eh, emang emak lo sakit apa, Van?" tanya Ve.
"Sakit gigi katanya. Setiap hari mengeluh karena giginya sakit. Gue cabut dulu ya, Ve." jawab Ivan teman latihan Ve di klub milik Arfan.
"Oke, makasih ya Van." kata Ve.
Ivan hanya mengacungkan jempol saja pada Ve. Erick melihat interaksi Ivan dan Ve memang seperti teman.
Erick menghampiri Ve, dia berjongkok di samping Ve yang membelakanginya.
"Ve." sapa Erick pelan.
Ve menoleh sebentar lalu kembali merapikan alat-alat yang tergeletak di lantai.
"Ve, kamu kenapa ngga masuk kuliah?" tanya Erick.
"Ngga apa-apa pak." jawab Ve singkat.
"Kamu kirim surat katanya sakit, tapi sekarang kok bisa melatih anak-anak? Kamu bohong kan?" sergap Erick.
Ve diam, dia tidak mengelak maupun menyangkal.
"Saya sedang malas ke kampus." jawab Ve.
"Sudahlah pak, tidak usah mengurusi urusan saya." ucap Ve lagi.
"Tapi kamu mahasiswaku Ve, ada apa sebenarnya?"
"Tidak ada apa-apa, besok saya juga kuliah lagi. Karena tadi pagi hanya malas ke kampus, maaf kalau saya bohong." ucap Ve.
Erick menghela nafas panjang, dia bingung dengan keadaan di kampus. Kenapa gosip itu belum selesai juga.
Dia harus melakukan sesuatu, ya Erick harus memberi tahu kalau Ve saat itu pergi dengannya.
"Saya pulang dulu oak Erick." kata Ve.
Dia kemudian pergi menuju motornya, Erick hanya melongo dengan kepergian Ve yang begitu cepat.
"Kak Erick, ayo kita pulang." ajak Jody.
Erick bangun dari jongkoknya dan menghampiri adinya yang sudah berdiri dan siap untuk pergi.
_
Di kelas Ve banyak diam, dia bukannya malu dengan gosip yang masih terdengar jika dia lewat di kampus. Ada saja yang mencibirnya, namun dia malas meladeni mereka.
Lebih baik menutup kedua telinganya di banding menutup mulut setiap orang dengan teriakan dan sangkalan.
Ve duduk seperti biasa di tempatnya, sambil membaca buku. Gilang datang, dia heran Ve datang lebih dulu.
"Ve, lo sehat?" tanya Gilang ikut duduk di samping Ve.
"Gue sehat, kenapa emangnya?" tanya Ve tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.
"Lo kemarin kirim surat sama Andre, lucu banget kirim surat. Kayak jaman emak gue sama bapak gue." cibir Gilang.
Ve tidak menganggapi, dia terus membaca bukunya.
"Lo rajin bener baca buku. Ada gue malah lo cuekin."ucap Gilang lagi.
"Gue mau rajin belajar, agar gue cepat lulus kuliah." jawab Ve.
"Ck, masih lama lo di kampus ini. Baru juga dua tahun kuliah, mau cepet kelar aja." cibir Gilang.
"Ya udah biarin, suka-suka gue juga."
Mahasiswa lain juga berdatangan, mereka melihat Ve dan Gilang sedang bicara.
Ayu menghampiri keduanya,
"Ve, lo kirim surat cinta apa surat izin?" tanya Ayu seolah meledek Ve.
"Ya surat izinlah, emang kenapa gue bikin surat izin?"
"Jadul banget, sekarang jamannya teknologi. Gunakan dong teknologi. Kirim pesan lewat aplikasi, kan mudah. Capek-capek bikin surat. Gue pikir surat cinta untuk Ramon. Hahah.." kata Ayu sambil tertawa meledek.
Ve hanya menggelengkan kepala, dia malas meladeni Ayu. Ve terus saja membaca.
Baik Gilang atau pun Ayu, hanya diam. Mereka keki Ve tidak menanggapi santai seperti biasanya.
"Lo alim banget deh, Ve. Ngga asyik lo." ucap Gilang.
"Gue males ladeni ocehan kalian." jawab Ve.
Tak berapa lama, pak Ruli masuk kelas, dia melihat mahasiswanya satu persatu. Lalu duduk, siap memberikan materi kuliah.
Waktu terus berjalan, lima jam tanpa istirahat dosen masuk silih berganti. Memang hari Rabu jadwal kuliah Ve sangat padat, dan setelah jam istirahat jam dua belas ada satu mata kuliah lagi.
Dan itu mata kuliah pak Doni, tentu saja teman-teman kelas Ve tidak bisa menghindar, membolos. Karena ancamannya adalah nilainya E-.
Untuk memperbaiki nilai E- harus tiga tahapan pada pak Doni, pertama bikin makalah. Kedua harus mempresentasikan di depan kelas, jika lulus akan di tes di kantor oak Doni.
Itu sangat berat sekali. Jika tahap ketiga tidak lulus, maka akan balik lagi tugasnya. Jadi mata kuliah pak Doni bikin malas, namun mereka selalu mengikuti mata kuliah pak Doni.
Jadi walaupun malas dan enggan mengikuti, tetap saja harus di ikuti.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊😊