
Seperti janjinya, Takahiro datang ke perusahaan Hiroshi jam sebelas siang waktu setempat, Ryu datang terlambat karena sejak pagi dia memberitahu pada Sinjo kalau datang terlambat.
"Sinjo, apa Ryu sering datang ke perusahaan ini?" tanya Takahiro.
"Dalam seminggu tiga kali, tuan besar. Jadi dia sangat memperhatikan perusahaan tuan Hiroshi ini." jawab Sinjo sambil menunduk hormat.
"Emm, bertanggug jawab juga dia. Aku senang dia seperti itu. Pantas dia jadi putra mahkota keluarga Takeshi." gumam Takahiro.
Mereka berjalan dari lobi menuju lift untuk masuk ke dalam ruangan kantor milik Hiroshi yang biasanya.
Takahiro sendiri memang sangat di hormati di perusahaan milik Hiroshi itu.
Pekerjaan yang di geluti oleh keluarga Takahiro, memang lebih banyak di fokuskan pada pembuatan mesin alat onderdil yang di butuhkan oleh perusahaan pembuatan mesin elektronik.
Sedangkan perusahaan milik Ryu sendiri berbeda jauh, dia menekuni dua bidang sekaligus, properti dan juga kuliner cepat saji atau makanan frozen yang di kirim ke setiap restoran di sleuruh Jepang. Namun kantor dia jadikan satu di perusahaannya di Tokyo.
Tak lama, Ryu juga datang bersama Tamada. Kali ini Tamada ikut dengan Ryu, dia memang ada perlu dengan Sinjo untuk membicarakan pengelolaan mesin daur ulang yang sudah tidak di pakai oleh orang-orang.
"Selamat siang kakek." sapa Ryu ketika dia sudah sampai di ruangan ayahnya.
"Kamu kenapa telat?" tanya Takahiro dengan wajah datar saja.
"Apa Sinjo tidak memberitahu kakek, kalau aku datang telat?" tanya Ryu heran.
"Emm, ya dia memberitahunya." jawab Takahiro.
Ryu menarik nafas lega, lalu dia duduk di depan kakeknya di sofa. Dia juga kini membuka berkas yang ada di meja untuk di periksa.
"Bagaimana perusahaan papamu?" tanya Takahiro.
"Yaa, berjalan lancar. Tidak ada kendala apapun." jawab Ryu masih memeriksa berkas tadi.
"Emm, bagus. Apa kamu juga selalu mentransfer uang ke rekening papamu?" tanya Takahiro lagi.
"Ya, bulan kemarin aku kirim. Kenapa kakek bertanya itu?" tanya Ryu.
Dia mencoba menelusuri sikap dan hati kakeknya pada anaknya. Dan terdengar tarikan nafas panjang dari Takahiro.
"Emm, dia memang pantas bahagia. Kakek merasa bersalah namanya hilang dari dunia ini." ucap Takahiro lirih.
"Jika kakek ingin bertemu papa, bisa datang kesana. Kakek tahu, adikku sangat cantik dan manis." ucap Ryu pada kakeknya.
Dia ingin juga memperkenalkan adiknya pada Takahiro, agar dia juga di akui kalau Eiko adalah cucunya juga. Dan Ryu melihat reaksi Takahiro masih datar saja membicarakan Eiko, adiknya itu.
"Apa dia hiduo dengan layak di sana?" tanya Takahiro, membuat Ryu terkejut senang.
"Ya, mereka kuat. Hingga adikku sudah besar dan tumbuh menjadi gadis cantik, aku seperti melihat nenek sekilas dari wajah adikku itu." jawab Ryu memancing sikap tertarik kakeknya.
Dan benar saja, Takahiro menoleh ke arah Ryu.
"Kamu punya fotonya." tanya Takahiro penasaran.
"Sebentar, aku punya foto yang di kirim papa waktu dia berlibur di pulau Izu." kata Ryu dengan senang hati.
Dia lalu mengambil ponselnya di balik jas hitamnya, kemudian membuka aplikasi galeri dan mencari foto Ve yang sedang memakai baju Kimono saat liburan di sebuah museum di sana. Ve menggunakan baju adat orang Jepang lengkap dengan riasannya. Ada beberapa foto, sebelum di rias dan juga sudah di rias wajahnya.
"Nah, ini kek. Ada beberapa foto di sana, papa mengambilnya dan mengirimnya padaku." kata Ryu memberikan ponselnya pada kakeknya.
Takahiro menerima ponsel itu, dia mengambil kacamatanya dan melihat ponsel yang terdapat foto-foto Ve dengan berbagai gaya.
Satu persatu Takahiro memperhatikan foto Ve, dan dia memang menemukan wajah istrinya yabg sudah almarhum itu beberapa tahun lalu. Ternyata dia menemukan duplikat istrinya di wajah Ve.
Bibirnya tertarik ke samping, ada rasa senang id hatinya. Ryu memperhatikan mimik wajah kakeknya melihat foto adiknya itu. Dia senang, kakeknya kali ini bisa melihat cucu satunya yang terbuang dulu.
"Bagaimana kek? Apa di wajah Eiko ada wajah nenek juga?" tanya Ryu.
"Sedikit, dia tidak terlalu mirip dengan nenekmu." jawab Takahiro merasa gengsi.
Ryu tersenyum miring, tapi dia senang kakeknya tahu adiknya meski dia tahu kakeknya hanya gengsi saja mengakui cucu perempuannya itu.
Lama mereka mengobrol mengenai perkembangan perusahaan juga, dan akhirnya mereka keluar untuk makan siang bersama di restoran.
_
Ryu meminta pamit sebentar untuk pergi ke toliet pada kakeknya sebentar.
Dia kemudian menuju toilet restoran, yang ada di belakang dekat dengan dapur. Sekilas dia melihat orang yang pernah dia temui, tapi di mana ya? Ryu lupa.
Saat berpapasan dengan orang itu yang ternyata seorang perempuan, dia menyapa Ryu dengan bahasa Jepang yang fasih.
"Selamat siang tuan Ryu." sapa gadis itu dengan sopan dan membungkuk setengah badan.
"Oh, ya. Selamat siang. Apa kita pernah bertemu?" tanya Ryu sambil mengingat gadis itu.
"Oh, dulu tuan Tamada meminta saya untuk menemani adik anda yang dari Indonesia." kata gadis itu yang ternyata adalah Hana.
"Oh, kamu yang bernama Hana dari Indonesia?" tanya Ryu.
"Benar tuan, saya Hana. Anda mengingat saya juga ternyata, heheh." ucap Hana tertawa kecil lalu menunduk malu.
"Ah, ya. Saya hanya asal tebak saja." ucap Ryu sambil tersenyum.
Hana tersenyum malu. Jika di lihat dari dekat, ternyata Hana manis juga. Pikir Ryu.
Ups, pikiran Ryu jadi berkelana tentang Hana.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Ryu.
"Saya sedang bekerja di restoran ini tuan, untuk menyambung hidup di kota ini. Hehe.." jawab Hana.
"Oh, benar sekali. Kamu di sini hanya pendatang ya, seorang mahasiswa pertukaran dari Indonesia." kata Ryu.
"Ya tuan, dan saya harus bisa mencukupi hidup saya di sini. Agar tidak membebani orang tua di negeriku sana."
"Ya, bagus. Itu memang bagus, jadi perempuan kuat di sini. Baiklah, saya harus ke toilet dulu." ucap Ryu.
"Silakan, maaf saya menghambat anda tuan Ryu." kata Hana sopan.
"Tidak masalah."
Kemudian Ryu masuk ke dalam toliet, sedangkan Hana kembali ke dapur untuk mengambil pesanan dan di antarkan ke meja pelanggan.
Beberapa menit kemudian, Ryu keluar dari toilet dan langsung ke tempat ruangan privasi yang dia pesan dengan kakeknya. Dia sengaja memesan ruangan privasi agar tidak terganggu dengan pengunjung lain, lagi pula mereka bebas berbicara apa pun di ruangan itu sambil menunggu pesanan datang.
Tak lama, menu makanan yang dia pesan sudah datang. Pelayan yang mengantar menu itu tak lain adalah Hana dan satu orang temannya. Ryu terkejut, namun dia bisa menguasai keadaan karena dia takut kakeknya mengetahui reaksinya melihat Hana.
Begitu pun juga Hana, dia hanya menatap Ryu seklias dan kembali menunduk. Dia tahu Ryu sedang makan dengan kakeknya, jadi tidak bisa berbasa-basi dengannya di hadapan kakeknya.
Lagi pula, dia sudah bertemu Ryu tadi di depan toilet.
Hana dan temannya menata makanan yang di sajika di meja makan tersebut, untuk saat ini makanan pembuka dan juga makanan berat lebih dulu di sajikan Satu jam kemudian, dia akan kembali menyajikan disert yang di pesan serta minuman hangat dan sehat untuk tuan Takahiro.
"Selamat menikmati tuan." ucap Hana dan temannya itu.
Ryu menatap Hana sekilas, lalu dia mengangguk pelan. Kemudian dia mengambil beberapa daging shabu untuk kakeknya, kemudian dia mengambil untuk dirinya sendiri.
Sejak tadi, dia memikirkan Hana yang tadi dengan telaten dan hati-hati menyajikan makanan di meja. Dia sangat terkesan dengan sikap dan cara menyajikan makanan di meja. Hana mahasiswa pertukaran, namun dia terlihat cerdas dan mudah beradaptasi di mata Ryu
Memang tidak salah dulu Tamada memilih Hana untuk menemani Eiko adiknya. Ups!
Kenapa Ryu jadi memikirkan Hana?
"Ryu, kamu melamun?" tanya Takahiro pada cucunya itu yang sejak tadi tampak melamun, entah memikirkan apa.
"Oh, aah tidak kakek. Aku memikirkan perusahaan papa bagaimana selanjutnya nanti." jawab Ryu menutupi kegugupannya tadi.
Takahiro tersenyum miring, dia kemudian menggelengkan kepalanya saja. Lalu menyuapkan makanan yang tadi di siapkan Ryu untuknya.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊