V E

V E
45. Laki-laki Sejati



Setelah Ryu pulang, Hana pun pergi juga dari apartemen Ryu. Karena Erick tidak mau Ryu semakin berpikir menyukai Ve lebih dari seorang adik.


Dia juga khawatir, tapi tetap percaya Ryu tidak akan gegabah dengan hal yang menurutnya itu salah.


Sebenarnya dia tidak enak harus menginap di apartemen Ryu dengan Ve, dia takut saja kalau berbuat di luar kendali. Meski dia memastikan tidak akan berbuat melebihi batas.


"Kak, apa kakak tidur?" tanya Ve keluar dari kamarnya dengan memakai kaos oblong dan celana pendek yang biasa untuk tidur.


Erick bangun dari rebahannya du sofa, dia melihat Ve mendekat padanya dan ikut duduk di sampingnya. Erick hanya menatap Ve sebentar lalu memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menelan salivanya.


Baru kali ini dia melihat Ve berpenampilan seperti itu. Tapi dia bisa apa jika harus berhadapan dengan Ve seperti itu.


"Kakak belum mengantuk?" tanya Ve lagi karena belum ada jawaban dari Erick tadi.


"Emm, kakak belum mengantuk. Besok mau jalan-jalan atau mau di apartemen aja?" tanya Erick.


"Ngga tahu, katanya tadi kak Ryu bilang papa mau kesini lagi besok." jawab Ve dengan mimik wajah lucu di mata Erick.


Erick tersenyum canggung, lalu menatap Ve.


Cup


Satu kecupan mendarat di kening Ve dari Erick.


"Besok aku akan menghubungi kakakmu lagi, jam berapa papamu datang. Kalau sore datangnya, siang kita bisa jalan-jalan keliling kota Tokyo." kata Erick, dia membelai pipi Ve dengan lembut.


Dan pipi Ve bersemu merah, dia malu namun dia suka dengan sentuhan tangan Erick yang lembut.


"Masuk kamarlah lalu tidur, aku akan tidur di sini." kata Erick.


"Apa ngga tidur di kamar satunya saja?"


"Kakakmu tidak mengizinkannya, sudah jangan pedulikan aku. Kamu masuk kamar dan tidur yang nyenyak ya." kata Erick lagi.


"Kenapa kak Ryu tidak boleh kakak tidur di kamarnya?" tanya Ve masih penasaran.


"Eiko, nurut ngga masuk kamar?"


"Ish, aku lebih suka kakak manggil dengan Ve aja." kata Ve merajuk manja.


"Hahah, kamu bisa manja juga ya. Ya udah sana masuk kamar sayang, udah malam." kata Erick dengan lembut.


Ve tersenyum, dan tanpa di duga Ve mencium pipi Erick dengan cepat lalu berlari masuk ke kamarnya.


Tentu saja Erick terkejut, dia pegangi pipinya yang tadi di cium oleh Ve. Lalu senyumnya mengembang, rasa bahagia kini Ve lebih berani menciumnya. Tapi mungkin dia reflek mencium pipinya.


Kini Erick berbaring kembali, dia menatap langit-langit ruang tamu itu sambil tersenyum senang. Tangannya masih memegang pipi yang tadi di cium oleh Ve.


Malam semakin merangkak naik, hingga pukul dua belas Erick baru bisa tidur karena sejak tadi hanya memikirkan Ve terus.


_


Sesuai ucapan Ryu di telepon, ternyata Hiroshi datang siang hari ke apartemen Ryu menemui anaknya. Laki-laki paruh baya namun masih gagah itu sangat merindukan anaknya.


Dia ingin menemani anaknya seharian di apartemen, atau dia akan mengajak Ve jalan-jalan keluar kota Tokyo dan akan kembali malam hari.


Erick yang mendengar tuan Hiroshi ingin mengajak Ve jalan-jalan hanya bisa diam.


"Kamu sahabatnya Ryu?" tanya Hiroshi pada Erick.


"Ya tuan Hiroshi, sekaligus dosen Eiko di kampus di Indonesia." jawab Erick.


"Benarkah? Apa kamu punya hubungan spesial juga dengan anakku?" tanya Hiroshi lagi.


Erick mengangguk pelan, dia takut Hiroshi tidak suka jika dirinya punya hubungan spesial dengan anaknya.


"Iya tuan." jawab Erick lirih.


"Emm, kamu ternyata suka sama mahasiswamu sendiri? Tapi baiklah, itu tidak masalah. Selama anakku juga menyukaimu, aku tidak masalah. Asal kamu bisa menjaga dia dan menyayanginya dengan tulus, bukan karena kasihan atau aku papanya." kata Hiroshi.


"Tidak tuan Hiroshi, saya benar-benar menyukai Eiko dengan tulus. Saya juga nanti ke depannya akan menikahi Eiko." kata Erick lagi.


Dia pikir lebih baik berterus terang dan mengatakannya sekarang untuk berpacaran dengan anaknya dan akan serius dalam hubungannya dengan Ve.


Tapi tiba-tiba Hiroshi berubah menjadi sedih, dia seperti akan kehilangan anaknya lagi. Erick mengetahui perubahan ayah Ve itu.


"Tidak, aku merasa dia akan kamu rebut dariku dengan ucapanmu itu. Aku sedih, Eiko akan jauh lagi denganku." ucap Hiroshi dengan menghela nafas panjang.


Erick mengerti apa yang di katakan calon mertuanya itu. Dia tahi Hiroshi baru bertemu lagi dengan anaknya, tapi langsung mendengar dia akan menikah dengan anaknya.


"Saya menunggu Eiko siap untuk menikah dengan saya, tuan. Jika anda dan ibunya Eiko serta Eiko sendiri menerima saya nanti sebagai suaminya." kata Erick memberi ketenangan untuk ayah Ve itu.


Dan benar saja, Hiroshi tersenyum senang. Dia menatap Erick lalu menepuk pundaknya.


"Aku menerimanya, mungkin juga mama Eiko setuju. Namun saat ini mungkin Eiko masih harus menyelesaikan kuliahnya dulu." kata Hiroshi.


"Iya, saya tahu tuan. Saya hanya mengatakan ini karena memang saya menginginkan putri anda jadi istriku kelak." jawab Erick.


"Ya, memang lelaki sejati itu harus meminta izin pada orang tua gadis itu. Dan kamu kupikir adalah laki-laki sejati yang berani meminta anakku secara langsung. Good, aku suka kamu Erick." kata Hiroshi dengan senyum mengembang.


Erick pun ikut tersenyum, dia senang dengan perkataan ayahnya Ve itu. Tapi dia tahu, ada kesedihan yang mendalam ketika nanti Ve harus pergi lagi darinya.


"Saya akan menjaga Eiko dengan segenap jiwa raga saya tuan, anda jangan khawatir." kata Erick lagi.


"Ya, aku percaya dengan ucapanmu."


Lalu kedua laki-laki itu masih mengobrol dengan topik berbeda, tapi masih dengan tema yang sama. Yaitu Ve.


Hiroshi bertanya banyak pada Erick mengenai perkembangan kuliah anaknya dan juga ada sedikit pertanyaan mengenai Tika Harumi. Dia jiga bercerita tentang masa lalunya sedikit.


Ada kecocokan cerita antara Hiroshi dan ibu Tika yang Erick tangkap. Sepertinya keduanya masih memendam rasa cinta yang dalam namun tidak bisa di ungkapkan secara langsung.


Dan entah kenapa ibu Tika tidak juga mencari pengganti Hiroshi, malah dia menyimpan banyak kenangan tentang suaminya.


Tapi, memang tidak bisa menikah begitu saja. Karena ibu Tika masih menjadi istri dari Hiroshi, meskipun sudah tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun.


Ketika bertemu nanti pun, ibu Tika yang berhak menentukan apakah dia menerima dengan ikhlas di tinggal bertahun-tahun atau pun tidak. Itu juga harus menikah lagi nantinya.


Setelah selesai bersiap dan berdandan, Ve keluar dari kamarnya dan menghampiri Hiroshi dan Erick yang sedang mengobrol.


"Sudah siap pa." kata Ve dengan senyuman manisnya.


Erick terkesima dengan senyuman manis Ve, dia juga membayangkan Ryu mungkin terpesona dengan senyuman Ve yang manis itu.


Hiroshi membalas senyuman anaknya, dia senang Ve begitu menerimanya dengan baik.


"Ayo sayang, kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Hiroshi.


Layaknya pertanyaan pada anak kecil, namun dia suka seperti. Layaknya dia mempunyai anak kecil meskipun Ve sudah besar.


Ve sendiri merasa nyaman bermanja dengan Hiroshi, dia berpikir hanya kali ini saja dia seperti itu. Dia tidak akan lagi bermanja pada Hiroshi, karena dia sadar ayahnya itu tidak juga miliknya.


"Kamu mau ikut dengan kami?" tanya Hiroshi pada Erick.


"Tidak tuan, saya akan ke kantor Ryu saja nanti." jawab Erick.


Dia tidak mau mengganggu kebersamaan ayah dan anak itu.


"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu." kata Hiroshi.


Ve menatap Erick lalu tersenyum padanya.


"Aku pergi dulu kak." kata Ve.


"Iya, bersenang-senanglah kamu sama papamu." kata Erick pada Ve.


Lalu Hiroshi dan Ve keluar dari apartemennya Ryu,di depan apartemen ada dua bodyguard yang siap mengawal keduanya.


Erick menarik nafas panjang, entah apa yang akan dia lakukan saat ini. Tapi dia pikir mending jalan-jalan ke tempat penjual buku, untuk membeli buku materi kuliah di kampusnya yang sesuai kurikulum saat ini.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊👍