V E

V E
52. Pertemuan Hiroshi Dan Harumi



Pesawat mendarat di bandara internasional sukarno Hatta, kini mereka sudah keluar dari kabin pesawat dan menuju terminal. Erick dan Ve merasa senang bisa kembali lagi ke Indonesia meski jadwal kepulangannya molor tiga hari.


Tapi mereka senang juga karena bisa membawa Hiroshi ikut pulang. Hiroshi sendiri memang pernah ke Indonesia dua puluh satu tahun lalu ketika melamar dan menikah dengan Harumi.


Suasana berbeda dari dua puluh satu tahun lalu, terasa berbeda. Tapi dia sangat suka dengan suasana hidup di Indonesia.


Dan kali ini kedatangannya ke Indonesia adalah untuk tinggal dengan istri yang sejak dulu di cintainya.


"Papa senang datang ke sini?" tanya Ve ketika mereka menaiki taksi.


"Papa bahagia sayang, papa akan bertemu dengan mamamu. Tapi, apakah nanti mamamu akan menerima papa?" tanya Hiroshi tiba-tiba jadi ragu dan takut Harumi akan menolaknya.


"Ibu pasti senang bertemu dengan papa. Tapi, apakah papa siap dengan kehidupan kami nanti? Soalnya kehidupan aku dan ibu itu sederhana sekali, tidak sama dengan di Jepang yang serba ada dan di sediakan." kata Ve.


"Papa dulu juga pernah hidup sederhana dengan mamamu, kami bahkan sangat bahagia dengan kehidupan sederhana itu. Jadi, jangan khawatirkan papa akan susah dengan hidup sederhana." jawab Hiroshi.


Ve tersenyum puas, dia juga senang jika papanya bisa menyesuaikan kehidupannya dan ibunya. Entah nanti, tapi dia percaya dengan papanya pasti bisa beradaptasi dengan kehidupannya.


Hanya saja, nanti setelah papanya datang dan tinggal di sana, apakah tetangganya akan mengguncingkannya? Mengingat dulu sejak tinggal di daerah itu, semuanya tahu bahwa ibunya seorang janda dan Ve anak yatim.


Erick sendiri pulang sendiri menaiki taksi, dia tidak mau mengganggu pertemuan keluarga kecil itu. Esok harinya dia akan berkunjung ke rumah Ve, ingin tahu perkembangan mereka dan cerita ketiganya.


_


Setelah sampai di rumah Ve, Hiroshi dan Ve kemudian langsung pulang ke rumah. Banyak tetangga yang menatap dan menyapa Ve, mereka heran kenapa Ve membawa seorang laki-laki setelah pulang dari Jepang.


Banyak pertanyaan di benak mereka, siapa laki-laki paruh baya itu yang terlihat masih gagah dan wajah yang berbeda dari mereka.


Ve sendiri tidak peduli tatapan aneh dan rasa penasaran para tetangganya. Dia membawa Hiroshi pulang ke rumahnya. Semakin dekat dengan rumah ibu Tika, Hiroshi semakin gelisah dan deg degan. Dia menarik nafas panjang berulang kali.


Ve tahu ayahnya itu gugup, namun dia terus menarik tangan Hiroshi agar cepat masuk ke dalam rumahnya.


"Masuk pa, pasti ibu ada di dalam. Mungkin sedang membuat kue." kata Ve menarik tangan Hiroshi agar cepat masuk.


Dan Hiroshi pun masuk mengikuti Ve, dia melihat sekeliling rumah itu. Sangat sederhana dan serba kecil. Ve membawa Hiroshi ke ruang tamu, dia berniat memberi kejutan pada ibunya yang ada di dapur.


"Papa duduk di sini dulu ya, aku akan panggil ibu di dapur." kata Ve sambil tersenyum.


"Eiko, tunggu." cegah Hiroshi, dia menahan tangan anaknya.


"Ada apa pa?"


"Apa mama kamu akan menerima papa nantinya?" tanya Hiroshi.


"Pasti ibu menerimanya pa, jangan khawatir. Ibu pasti menerima papa dengan senang hati." kata Ve menenangkan Hiroshi.


"Baiklah, papa tunggu di sini." kata Hiroshi.


Ve lalu meninggalkan Hiroshi yang masih gugup dan cemas. Dia melihat anaknya masuk ke arah dapur dan menghilang, dan lagi-lagi dia menarik nafas panjang. Membuang rasa gugup dan ketakutannya.


Dan Ve sendiri ke dapur, melihat ibunya sedang mengambil bronis dari kukusan. Ve mendekat dengan mengendap pelan, dia memegang pundak ibunya.


"Ibu." ucap Ve pelan sambil memeluk ibunya dari belakang.


"Ish, apa sih kamu. Awas dulu, ibu mau meletakkan bronis ini di meja." kata ibu Tika sambil menyikut anaknya.


Ve pun melepas pelukannya dan mengikuti ibunya ke meja. Setelah di letakkan di meja, ibu Tika menoleh ke arah anaknya. Dia kesal sekali, selama beberapa hari tidak bisa di hubungi.


"Kenapa kamu susah sekali ibu hubungi selama di sana hah?!" tanya ibu Tika dengan berkacak pinggang.


"Hehe, maaf bu. Ponsel Ve hilang, jadi ngga bisa hubungi ibu. Maaf membuat ibu khawatir." jawab Ve kembali memeluk ibunya erat.


"Kenapa hilang? Apa ada copet di sana? Kamu kecopetan?" tanya ibu Tika lagi.


"Ngga bu, nanti Ve ceritakan ya. Ceritanya panjang sekali, jadi ngga bisa cerita sekarang. Nah, aku punya kejutan untuk ibu." kata Ve sambil tersenyum misterius.


Ibu Tika mengerutkan dahinya, lalu dia mencibir ucapan anaknya itu. Sudah pasti mungkin surat dari papanya Ve atau hadiah apa, entahlah.


"Kejutan apa? Apa papa kamu membawa sesuatu untuk ibu?" tanya ibu Tika.


Sepertinya ibu Tika berharap dia mendapat oleh-oleh dari suaminya di Jepang itu.


"Emm, lebih dari itu bu. Apa ibu pengen lihat kejutan yang Ve bawa?" tanya Ve lagi.


"Nanti saja, ibu sedang di tunggu pesanannya, kamu sana mandi dulu." kata ibu Tika.


Ve mendesah panjang, bagaimana ya agar ibunya itu cepat ke depan menemui papanya.


"Ibu masih lama di dapur?" tanya Ve.


"Iya, sudah sana mandi dulu." kata ibunya.


"Ya sudah, nanti kejutannya di bawa kemari aja ya."


"Kejutan apa sih?"


"Ada pokoknya. Kalau penasaran ayo ke depan."


"Sudah nanti saja, ibu belum selesai."


Dia pun pergi dari dapur menuju ruang tamu lagi, memberitahu Hiroshi untuk pergi ke dapur saja.


"Pa, kata ibu langsung ke dapur aja." ucap Ve.


"Dapur?"


"Iya, coba papa ke sana."


Ragu Hiroshi bangun dari duduknya, dia menatap anaknya meyakinkan. Ve mengangguk cepat lalu tersenyum. Hiroshi pun ikut tersenyum dan melangkah mengikuti arahan tangan Ve yang menunjuk ke dapur.


Masih dengan perasaan ragu, tapi Hiroshi terus melangkah. Ve melihat dari jauh Hiroshi terus mendekat ke dapur.


Di depan pintu dapur, Hiroshi berhenti, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang lagi. Rasa rindu dan cinta kini membuncah di dadanya, ingin dia memeluk istrinya itu.


Hiroshi mendekat pelan, sedangkan ibu Tika masih membelakanginya.


"Harumi." ucap Hiroshi dengan bibir bergetar dan suara pelan.


Ibu Tika berhenti sejenak dari kegiatannya, dia memastikan suara itu hanya ilusi. Kemudian menghela nafas panjang, lalu meneruskan kegiatannya lagi mengambil satu loyang untuk di masukkan ke dalam kukusan.


Suara kaki mendekat, dan berhenti tepat di belakang ibu Tika.


"Harumi." Hiroshi kembali memanggil nama ibu Tika.


Ibu Tika pun berhenti, dia menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya dia melihat Hiroshi berdiri tepat di depannya. Loyang yang tadi di pegang terjatuh dan berserakan.


Prang, klontang!


Ibu Tika cepat-cepat menunduk dan hendak mengambil loyang yang jatuh isinya berserakan. Tapi Hiroshi menahannya, lalu memeluk ibu Tika dengan erat. Dia menangis terharu, ibu Tika hanya diam dalam pelukan Hiroshi. Dia tertegun dan tidak percaya apa yang ada di depannya, yang memeluknya erat.


Hiroshi masih memeluk ibu Tika yang masih kaget dan syok.


"Harumi, aku rindu kamu. Aku sangat merindukanmu. Hik hik hik." ucap Hiroshi lagi.


Dia lalu melepas pelukannya, melihat ibu Tika yang menunduk dalam Dia masih diam membeku, belum membalas pelukan Hiroshi. Ada suara isak kecil dari mulut ibu Tika.


Hiroshi semakin mengeratkan pelukannya pada ibu Tika, di ciumnya seluruh wajah ibu Tika karena perasaan bahagia bisa bertemu lagi dengan istrinya.


Ibu Tika kewalahan dengan ciuman mendadak dan bertubi-tubi dari suaminya. Tak lama ibu Tika mendorong tubuh Hiroshi dengan pelan.


"Sudah cukup, hentikan." kata ibu Tika terus mendorong suaminya.


"Kenapa? Kamu tidak merindukanku?" tanya Hiroshi merasa heran dengan sikap ibu Tika.


"Bukan, tapi..." kata ibu Tika menggantung dan menatap Hiroshi.


"Harumi."


"Emm, suamiku. Ku mohon hentikan, ini harus di hentikan karena..." ucap ibu Tika menggantungkan ucapannya.


"Kenapa?" tanya Hiroshi lagi masih penasaran.


"Apa aku harus menjelaskan semuanya leboh dulu?"


"Ya, jelaskan padaku. Aku tahu, aku telah meninggalkanmu sangat lama. Tapi bukankah kita masih punya ikatan suami istri? Atau kamu sudah meni.."


"Tidak, sungguh. Aku belum menikah lagi, aku..masih setia sama kamu." ucap ibu Tika menunduk malu.


Hiroshi tersenyum, dia kembali meraih tubuh ibu Tika dan memeluknya lagi. Sesaat ibu Tika masih diam, dia merasakan hal yang sama. Perasaan rindu pada suaminya yang sudah sangat lama tidak bertemu.


"Suamiku, sebaiknya kita menikah lagi." ucap ibu Tika di sela pelukan mereka.


"Menikah lagi?"


"Ya,meski pun kita masih suami istri tapi kita harus menikah lagi. Bukan, apakah kamu akan kembali lagi ke Jepang? Apa kamu hanya ke sini sebentar? Apakah kamu akan meninggalkan aku lagi.?"


Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan ibu Tika pada Hiroshi, dia tidak mau jika nanti menikah tapi pada akhirnya akan di tinggal lagi.


Hiroshi tersenyum lucu, memang seperti itu sikap istrinya jika ada banyak pertanyaan di benaknya.


"Harumi, dengarkan aku. Aku akan menetap di Indonesia. Jika aku harus menikah lagi, itu tidak masalah. Yang penting aku bisa hidup denganmu lagi. Ayo kita menikah lagi." kata Hiroshi.


"Tapi sekerang kamu tidak boleh tinggal di rumah ini, tetangga akan membicarakanku nanti."


"Ya, aku akan mencari hotel terdekat untuk menginap." kata Hiroshi.


Aroma gosong dari kukusan membuat ibu Tika kaget, dia lalu mengambil langseng kukus itu dari atas kompor agar tidak gosong dan bolong. Hiroshi terkejut. Dia membantu ibu Tika mengangkat langseng yang mulai habis airnya.


Ve melihat ibu dan papanya saling membantu tersenyum bahagia, sejak tadi dia memperhatikan kedua orang tuanya berbicara. Rasa bahagia di hatinya sangat besar, kemudian dia pergi dari tempatnya berdiri menuju kamarnya.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊