V E

V E
65. Perdebatan Ryu Dan Takahiro



Ryu memikirkan ucapan Ayana, dia tersenyum sendiri dengan alasan Ayana menolak perjodohan. Dan yang membuat Ryu tertawa senang, bukan dia yang meminta menolak perjodohannya dengan Ayana.


Tapi Ayana sendiri yang menolaknya, dia hanya akan menyampaikan ucapan Ayana pada kakeknya itu.


Sampai di perusahaannya, dia di sambut oleh asistennya Tamada. Yang tadinya kesal karena keterlambatan Ayana datang di kafe, kini Ryu lebih tenang dan siap menjalankan pekerjaannya sekalipun harus lembur sampai malam. Setidaknya hari ini hatinya sedang baik-baik saja, tidak ada beban.


Tamada yang melihat wajah bosnya seperti lepas beban jadi heran. Biasanya jika banyak masalah atau pikiran, Ryu akan kesal Wajahnya juga berubah masam. Tapi Tamada melihat seperti ceria.


"Tuan, apakah anda sedang senang hari ini?" tanya Tamada pada Ryu.


"Ya, aku sedang senang hari ini. Setidaknya bukan aku yang memutuskan, tapi Ayana yang menolaknya." jawab Ryu membuat Tamada bingung apa yang di bicarakan oleh Ryu.


"Anda membicarakan nona Ayana?" Tamada memastikan pertanyaannya mengenai Ayana sang model.


"Iya, Minggu kemarin kami bertemu satu keluarga dan memutuskan kami di jodohkan. Tapi tadi siang dia minta bertemu denganku melalui managernya. Awalnya aku kesal karena dia datang terlambat setengah jam, tapi ucapannya itu membuatku merasa senang." ucap Ryu.


Mereka memasuki lift yang khusus direktur dan pemilik perusahaan. Tamada memencet angka sesuai lantai gedung yang di tuju, dia masih bingung. Apa yang di ucapkan Ayana sehingga Ryu merasa senang.


"Nona Ayana membicarakan apa tuan?"


"Dia meminta padaku untuk menyampaikan keberatannya di jodohkan denganku. Kamu tahu alasannya apa?"


"Apa tuan alasannya?"


"Dia ingin mengejar karirnya yang baru naik daun itu, dia juga tidak ingin di kekang. Jika menikah denganku, dia mengira akan terkekang hidupnya. Mungkin pikirannya aku akan melarangnya berkarir. Tapi baguslah, setidaknya bukan aku yang berpendapat. Dia sendiri yang berpendapat. Bagaimana menurutmu?" tanya Ryu.


Mereka kini sudah memasuki ruang kantor Ryu, Ayumi ikut masuk sebelumnya memberi hormat lebih dulu. Dia menyerahkan beberapa berkas untuk di tanda tangani.


"Menurutku, anda sudah benar tuan. Jika anda yang memutuskan perjodohan itu, kakek anda akan sangat marah. Seperti halnya tuan Hiroshi, guam Takahiro akan marah dan membuat perjanjian lagi." ucap Tamada.


"Ck, aku kali ini memilih apa yang di pilihkan kakek. Dan sekarang, ternyata pilihan kakek tidak beruntung. Jadi bukan salahku jika aku juga menolaknya."


Pembicaraan itu terhenti ketika sambungan telepon dari Ayumi, bahwa ada utusan dari suplayer ikan dan udang.


"Suruh masuk, Ayumi." begitu jawab Tamada.


"Ada apa?"


"Sauplayer datang tuan, sesuai perjanjian kemarin. Dia mengutus seseorang kemari." jawab Tamada.


Baiklah, mari kita bekerja dengan baik hari ini."


"Baik tuan."


_


Hari ini Ryu pulang ke rumah utama, dia akan menemui kakeknya untuk membicarakan apa yang jadi keinginan Ayana dan juga dirinya sebenarnya.


Malam ini, dia sebelumnya sudah memberitahu Heiji kalau malam sesudah makan malam ingin bertemu kakeknya di ruang kerjanya.


Tok tok tok


Ryu memgetuk pintu dan langsung menarik handle pintu, dia mendorong daun pintunya lalu masuk ke dalam ruang kerja kakeknya. Terlihat kakeknya sedang menanda tangani berkas yang di berikan oleh Heiji.


Ryu mendekat, Heiji memberi hormat padanya dan mengambil berkas yang sudah di tanda tangani oleh kakeknya.


"Malam kakek." sapa Ryu.


Dia pun pergi meninggalkan Takahiro dan Ryu di ruangan itu.


"Ada apa?" tanya kakeknya.


"Kek, kemarin aku bertemu dengan Ayana. Dia yang meminta bertemu denganku. Seusai pemotretan untuk iklannya, jadi aku menemuinya." kata Ryu.


"Lalu, apa yang kalian bicarakan? Apakah dia meminta segera mengadakan pernikahan?" tanya tuan Takahiro.


Ryu tersenyum kecil, dia menunduk sebentar. Memikirkan kalimat apa yang akan di sampaikannya. Karena ucapan kakeknya sepertinya sudah menegaskan kalau dalam waktu dekat dirinya dan Ayana akan melangsungkan pernikahan. Dan dia harus menyampaikan pesan Ayana.


"Kek, aku minta maaf jika nanti mengecewakan kakek. Sebenarnya bukan keinginanku, aku berusaha untuk menerima perjodohan ini. Tapi sepertinya Ayana keberatan menikah denganku, dia bilang ingin meneruskan karirnya yang sedang naik daun, dia tidak ingin cepat menikah." ucap Ryu pelan dan dengan hati-hati agar kakeknya tidak tersinggung.


"Heh, keingananmu atau Ayana?"


"Kek, ini benar keinginan Ayana. Bukan aku, dia bahkan tidak mau mengenalku lebih jauh."


"Ryu, kakek menerima jika dia menunda keinginan untuk mundur waktu menikah agar kalian lebih mengenal jauh. Kamu tinggal menunggu untuk mendukungnya berkarir, tunggu dia satu tahun, dua tahun. Itu terserah kamu."


"Kek, ini bukan masalah menunggu satu tahun, dua tahun. Bisakah kakek melihat bahwa Ayana tidak mau menikah denganku, karena dia pikir akan seperti mama. Diam di rumah sebagai ibu rumah tangga, dia tidak mau seperti itu. Apa kakek akan tetap menerima menantu seperti itu? Jika seandainya perjodohan ini tetap di laksanakan? Sudah bisa di tebak, Ayana itu tidak mau di kekang olehku nantinya." ucap Ryu untuk meyakinkan kakeknya.


"Ryu, seseorang akan berubah seiring berjalannya waktu. Ayana nanti akan berubah jika dia sudah tidak terkenal lagi. Jadi bersabarlah kamu menghadapinya."


"Kek, apa kakek akan selalu memaksa kehendak kakek? Ini yang meminta Ayana, bukan aku."


"Ya maka dari itu, kamu yang harus bersabar."


"Kakek akan meminta aku seperti papa? Kakek tahu sendiri, kalau papa tidak pernah berubah cintanya pada istrinya yang di sana. Hingga papa sampai harus melakukan perjanjian dan akhirnya berakhir tragis. Jatuh ke dalam laut karena harus mengantar anaknya yang sudah lama tidak pernah bertemu. Apa kakek juga akan memaksaku untuk tetap sakit hati seperti mama? Menerima kenyataan bahwa pasangan kita tidak bisa merubah keinginannya?" ucap Ryu dengan kesal.


Sudah jelas bukan dia yang memutuskannya, kenapa kakeknya itu terus memaksa juga. Bahkan pada keinginan orang lain.


Takahiro menatap Ryu dengan datar, dia sebenarnya mengakui ucapan cucunya itu. Tapi entah apa yang ingin dia pertahankan dari anak Takagi Daichi itu.


"Kakek akan bicarakan ini pada Takagi dan Akane. Jika memang Ayana yang benar meminta, kakek akan memutus perjodohan kamu dengan Ayana." ucap kakeknya.


Ryu bernafas lega, akhirnya kakeknya mendengarkan penjelasannya itu. Dan untuk selanjutnya dia akan menunggu keputusan kakeknya mengenai perjodohan itu.


"Aku permisi dulu kek, maaf mengganggu waktu kakek malam ini." ucap Ryu memberi hormat pada kakeknya.


"Emm." hanya gumaman kecil tanggapan dari kakeknya.


Ryu melangkah pergi meninggalkan kakeknya yang tampak sedang berpikir. Ryu tampak lelah, entah kenapa dia lelah sekali. Seharusnya dia senang, tapi kenapa hatinya lelah.


Entahlah, mungkin karena kakeknya masih belum menerima pembicaraan itu. Meskipun dia akan membicarakan lagi dengan keluarga Takagi dan anaknya juga.


Ryu masuk ke dalam kamarnya, dia akan langsung tidur setelah mengganti bajunya dengan piama. Malam ini dia ingin tidur lebih cepat, agar besok pagi bisa berangkat ke Tokyo. Karena beberapa hari ini dia bolak balik Tokyo dan Osaka, menangani pekerjaannya juga milik Hiroshi.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊