
Hari sudah beranjak sore, Ryu masih memperhatikan berkas yang ada di meja kerjanya. Berkas yang tadi di bawa oleh Tamada, dia belum beranjak dari kursinya.
Berkas itu terus di perhatikan, ada rasa tertarik di benak Ryu tentang Hana. Low profil, sangat bersahaja. Tidak menunjukkan siapa dirinya dan tidak sombong bahwa dia gadis yang cerdas.
Tuuut
Suara getar ponsel Ryu, dia lalu mengambil ponselnya dari balik jasnya. Dia melihat di layar tertera nama kakeknya, Ryu menghela nafas panjang. Dia ingat ucapan Tamada mengenai perjanjian pertemuan dengan keluarga Takagi Daichi, orang tua Ayana.
Ponsel masih bergetar, dia belum mengangkatnya. Hingga panggilan kedua akhirnya Ryu mengangkat sambungan telepon kakeknya.
"Ya kek, ada apa?" tanya Ryu pelan.
"Apa kamu sudah di beritahu Tamada tentang jadwal hari Minggu ini?" tanya Takahiro, kakeknya.
"Iya, tadi dia memberitahu sedikit." jawab Ryu.
"Baguslah, berarti kamu persiapkan diri untuk bertemu dengan keluarga Takagi Daichi dan anaknya." ucap Takahiro.
Ryu menarik nafas panjang, dia pejamkan matanya. Ada rasa berat ketika mendengar kakeknya menyuruhnya bersiap untuk bertemu dengan keluarga bangsawan itu.
Ternyata ucapan tak sesuai dengan pikiran, seperti itu. Namun, dia akan mencobanya meski pun dia tidak suka dengan seorang model. Hari-harinya akan sibuk dengan pekerjaannya sebagai model.
Selalu melayani para pemburu warta dan juga akan di kelilingi penggemarnya. Apakah dia akan menerima perjodohan itu?
Ya, Ryu sudah menduganya. Pertemuan itu sudah pasti perjodohan keluarga besarnya dengan keluarga bangsawan lain.
Tok tok tok
Pintu kantor di ketuk dari luar, dan masuklah Ayumi sekretaris Ryu.
"Ada apa Ayumi?" tanya Ryu.
Ini sudah sore tuan, sudah jam lima sore. Apakah anda tidak mau pulang?" tanya Ayumi.
"Oh ya, aku akan pulang sebentar lagi. Kamu boleh pulang lebih dulu." kata Ryu.
"Baik tuan, tapi apakah tuan Tamada sudah pulang?" tanya Ayumi lagi.
"Dia sedang aku suruh untuk menemui suplayer bahan baku yang akan kita kelola." jawab Ryu.
"Oh ya tuan. Kalau begitu saya pulang lebih dulu, selamat sore tuan Ryu." kata Ayumi.
"Sore juga, Ayumi."
Setelah memberikan hormat, Ayumi keluar lagi dan menuju meja kerjanya untuk bersiap pulang.
Sedangkan Ryu masih betah di kursinya, saat ini dia masih memikirkan ucapan kakeknya dan Tamada. Namun dia akan mencoba berkenalan dengan Ayana, gadis yang sudah pasti di jodohkan dengannya.
Tuut
Kembali, suara telepon berbunyi. Dengan malas Ryu mengangkat sambungan teleponnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo?"
"Ryu, apa kabar nak?" suara berat laki-laki yang dia sangat kenal sekali.
"Papa?"
"Iya nak, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik pak, papa sendiri bagaimana?"
"Papa baik dan juga bahagia. Papa mau mengucapkan terima kasih sama kamu, berkat kamu papa bisa sampai di sini." kata Hiroshi.
"Ngga pa, yang melakukan tetap kakek. Beliau memang ingin papa bahagia meski caranya itu sangat tidak biasa."
"Iya, papa tahu. Emm, papa hanya ingin tahu keadaan mamamu? Bagaimana dengannya setelah sepeninggalku ke sini?" tanya Hiroshi.
"Papa jangan khawatirkan mama, mama hanya tahu papa itu sudah meninggal. Jadi mama bersedih karena papa meninggal, dan sepertinya kakek Takeda akan menjodohkan mama dengan anak temannya juga, semoga mama ikut bahagia seperti papa." kata Ryu.
"Syukurlah, papa ikut senang mendengarnya. Tapi papa tetap merasa bersalah sama mama kamu, Ryu. Maafkan papa ya, belum bisa jadi papa yang baik dan suami yang baik untuk mama kamu."
"Sudahlah pa, aku tahu papa menderita selama bertahun-tahun. Mama juga mengerti akan hal itu, dan sepertinya akan ada dua perjodohan di sini."
"Oh ya? Siapa? Kamu?"
"Ya, sangat konyol bukan? Anak dan ibu di jodohkan karena aturan adat." kata Ryu seolah dia menertawakan nasib ibunya dan dirinya sendiri.
"Maafkan papa, Ryu. Maaf."
Aah, tiba-tiba dia ingat Ve adiknya juga Erick. Sampai di mana hubungan keduanya itu.
"Pa, bagaimana dengan Eiko? Apa dia baik-baik saja?"
"Emm ya, dia sepertinya sangat bahagia dengan Erick. Papa tidak tahu juga, sepertinya adikmu akan menikah dengan Erick dalam satu tahun ke depan." kata Hiroshi.
"Oh ya? Waah, sepertinya laki-laki itu tidak sabar menunggu Eiko lulus kuliah ya." ucap Ryu.
"Papa belum bicara serius dengan mereka berdua tentang hubungannya itu, tapi mamanya Eiko memberikan alasan kenapa mereka harus cepat menikah. Dan papa pikir memang seharusnya cepat menikah. Sepertimu, cepatlah menikah dengan perempuan pilihanmu Ryu."
Ryu diam, sulit sekali dia menolak aturan kakeknya. Namun begitu, dia akan mencobanya. Apa salahnya di coba? pikirnya.
"Iya pa, setidaknya aku akan mencoba apa kata kakek dan pilihan kakek. Bukankah aku sekarang putra mahkota?" kata Ryu dengan candaannya yang sangat menusuk hati Hiroshi.
Sekali lagi, Hiroshi merasa bersalah. Namun dia tidak bisa berbuat banyak.
"Papa minta maaf Ryu, seandainya papa bisa mencegah kakekmu menjodohkanmu dengan anak temannya lagi."
"Tidak apa pa, ini sudah jadi resikoku sebagai putra mahkota."
"Ryu?"
"Ya pa?"
"Kamu bisa menjadi putra biasa saja, saat ini jaman sudah berbeda. Kamu bisa mencari gadis yang menurutmu itu baik di mata dan hatimu, tidak harus menjadi boneka yang harus menurut apa kata kakekmu."
"Tidak pa, aku akan mencoba dulu. Setidaknya aku tidak menolak apa yang kakek berikan. Aku akan jalani lebih dulu, mungkin suatu saat akan datang cinta antara kita nanti pa." ucap Ryu.
"Ya, terserah kamu saja. Tapi papa harap kamu bahagia kelak dengan pilihanmu itu." kata Hiroshi.
"Tentu, aku akan bahagia seperti papa."
Pembicaraan terus berlanjut, hingga malam menjelang. Hiroshi memutus sambungan teleponnya, dan kini Ryu terdiam lagi. Dia memejamkan matanya, rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya.
Lalu dengan cepat dia dia merapikan meja kerjanya dan segera keluar dari kantornya.
Saat ini dia ingin ke suatu tempat, tapi entah kemana. Dia ingin menenangkan diri dari banyaknya pekerjaan dan pikiran tentang perjodohan dan hatinya tentunya.
Mobil melaju dengan cepat, karena suasana lalu lintas di jalan sudah mulai renggang. Tempat wisata malam di kota Tokyo mulai ramai di kunjungi oleh wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Mereka sangat menikmati suasana Tokyo malam hari yang ramai. Ryu melintasi jalanan, entah kenapa mobilnya dia lajukan menuju sebuah restoran yang dulu dia kunjungi dengan kakeknya.
Dia parkirkan mobilnya dan dia masuk ke dalam restoran tersebut. Restoran itu mulai sepi, ya karena restoran itu di peruntukkan bagi keluarga. Namun ada juga sebuah kafe, di sana Ryu masuk ke kafe bukan restoran.
Matanya berkeliling mencari sosok perempuan pelayan yang dulu dia temui di depan toilet. Hana, mencari Hana. Tapi dia lupa, Hana hanya bekerja di bagian restoran bukan di kafe.
Ryu duduk di kursi dan memesan secangkir kopi, entah kenapa sejak dia berkunjung ke Indonseia dia sekarang jarang pergi ke klub malam. Meski pun hanya dalam hitungan jika dia pergi ke tempat itu, namun semenjak itu dia tidak pernah pergi klib malam.
Seorang pelayan datang menghampiri, bertanya padanya untuk memesan apa.
"Bukankah kamu itu temannya Hana?" tanya Ryu ketika ingat pelayan itu yang bersama Hana menyajikan makanan pesanannya dan kakeknya.
"Ah, ya tuan. Apa anda kenal Hana?" tanya gadis pelayan itu.
"Emm, tidak juga. Namun saya tahu saja." jawab Ryu dengan ragu.
"Oh, maaf. Dia juga sudah mulai selesai bekerja dan mau pulang." kata gadis pelayan itu.
"Oh."
Pelayan itu lalu mencatat pesanan Ryu, Ryu melihat ke arah restoran. Ingin tahu apakah Hana sudah keluar atau belum.
Tak lama, pesanan Ryu datang. Gadis pelayan itu menyajikan kopi yang di pesan Ryu serta cemilan untuk menemani kopinya.
Satu jam Ryu di kafe tersebut, dia mendengarkan home band pengiring musik malam ini untuk menghibur pemgunjung kafe. Dan Ryu merasa bosan, dia lalu meneguk kopinya dan meninggalkan beberapa lembar uang lalu pergi dari kafe tersebut.
Sampai di depan pintu kafe, di depan jalan raya Ryu melihat Hana sedang menunggu taksi lewat. Dengan sedikit berlari, Ryu mendekat pada Hana dan menarik tangan Hana untuk menoleh ke arahnya.
"Hana."
_
_
_
😊😊😊😊😊😊