V E

V E
67. Ryu Mabuk



Hana resmi bekerja di toko aksesoris milik Ryu. Dan hari ini dia sudah mulai bekerja di sana. Dia senang, akhirnya bisa bekerja di toko aksesoris itu sampai sore hari.


Dan malamnya dia bisa bekerja di restoran seperti biasanya. Namun dia sekarang di tugaskan di kafe, dan sift malam jam enam petang dia harus sudah berangkat ke kafe itu.


"Hana, kamu bisa melayani pelanggan di bagian kasir." kata penanggung jawab, bernama Akio.


"Tidak tuan Akio, saya bisa di tempatkan di bagian pelayanan saja." jawab Hana.


"Tapi tuan Ryu memerintahkan pada saya kalau anda di tempatkan di bagian kasir." ujar Akio.


"Maaf tuan Akio, bukannya saya menolak. Tapi biarkan saya bekerja dari bawah agar saya bisa menghargai senior di sini dan lagi saya senang berinteraksi dengan pengunjung." jawan Hana dengan sopan.


"Tapi, saya takut tuan Ryu akan marah pada saya kalau anda di tempatkan di bagian pelayanan." kata Akio.


"Tidak apa-apa, bilang saja saya yang memintanya. Anda jangan khawatir tuan Akio, saya yang akan bicara pada tuan Ryu." kata Hana lagi.


"Baiklah, terserah anda saja. Saya hanya takut tuan Ryu memecat saya."


"Tidak akan terjadi, dan maaf kalau saya merepotkan anda." ucap Hana membungkuk pada Akio tanda hormat.


"Tidak masalah Hana, nah kamu bisa bekerja di bagian pernak pernik rambut. Di sana biasanya banyak peminatnya, jadi sesuai keinginanmu di sana akan banyak sekali anak kecil juga remaja membeli pernak pernik itu." kata Akio.


"Terima kasih tuan Akio, kalau begitu saya langsung ke sana." ucap Hana.


Dia lalu membungkuk dan langsung pergi menuju tempat yang di tunjuk itu. Dengan perasaan senang, Hana menuju tempat aksesoris rambut yang ada di ujung.


_


Sementara itu, Ryu sudah kembali di panggil oleh kakeknya untuk membicarakan pertunangan dengan Ayana. Meski tahu kalau Ayana yang memintanya menolak perjodohan, rupanya tuan Takagi Daichi dan Takahiro tetap memaksa keduanya akan di jodohkan.


Ryu semakin pusing di buatnya, kenapa kakeknya malah justru akan mengadakan pertunangan dengan Ayana?


"Sinjo, bagaimana dengan persiapan pertuanganku dengam gadis model itu? Apakah kamu tahu semuanya?" tanya Ryu pada Sinjo yang saat ini Ryu berada di kantor Osaka, milik Hiroshi.


"Sepertinya sudah siap semuanya tuan, kakek anda mempersiapkan semuanya dengan sempurna." jawab Sinjo.


Ryu menarik nafas kasar, dia benar-benar kesal pada kakeknya. Belum lagi dia sering di tanyakan oleh manager Ayana, kenapa pertunangan itu harus terjadi.


"Sinjo, bagaimana kamu mendampingi papa selama papa bekerja? Apa beliau sering mengeluh?" tanya Ryu dengan mata menerawang.


Saat ini dia benar-benar bingung dan kesal, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tuan Hiroshi selalu mematuhi apa kata tuan Takahiro, tuan Ryu. Beliau selalu menurut apa yang di inginkan kakek anda, tapi saya tahu beban tuan Hiroshi sangat berat." jawab Sinjo.


"Menurutmu, apakah papa sering pergi ke klub malam jika beliau sedang sedih?" tanya Ryu lagi.


"Tidak tuan, tuan Hiroshi punya tempat khusus jika sedang sedih. Tapi tempatnya jauh dan tersembunyi. Sering sekali tuan Hiroshi pergi ke sana jika sedang sedih atau pun merindukan istrinya." jawab Sinjo.


Ryu mengehela nafas panjang, dia sendiri tidak mempunyai tempat khusus jika sedang pusing atau sedih. Lagi pula dia tidak pernah bersedih, yang sering dia alami adalah sakit kepala atau pusing karena banyak pelerjaan.


"Siang ini aku akan ke Tokyo, teruskan pekerjaanku di sini Sinjo. Hari ini cukup sampai siang ini saja, jika kakek menanyakanku. Bilang saja aku pulang ke Tokyo. Kata Ryu.


"Baik tuan."


Setelah menanda tangani berkas, Ryu pun akan langsung menuju Tokyo. Dia ingin menenangkan diri di kantornya, atau ke toko aksesorisnya. Melihat Hana bekerja rasanya membuat beban di hatinya sirna.


Ya, dia akan ke toko aksesoris menemui Hana, tidak peduli akan mengganggunya bekerja. Dia pemilik toko itu, dia bebas melakukan dan memanggil karyawannya untuk bicara dengannya.


_


Sampai di toko itu, sudah mulai sore. Dia lupa jika Hana bekerja hanya sampai sore hari saja.


"Selamat sore tuan Ryu." sapa Akio pada Ryu.


"Ya, selamat sore. Di manakah gadis yang bernama Hana?" tanya Ryu.


"Hana? Dia sepuluh menit yang lalu sudah pulang tuan. Apa anda ada perlu dengan Hana?" tanya Akio.


"Oh, emm tidak sebenarnya. Hanya saja saya ingin menanyakan sesuatu padanya. Ya sudah kalau dia sudah pulang, lain kali aku tanya lagi." jawab Ryu..


Dia pergi dari toko itu dengan perasaan kecewa, ternyata Hana tidak ada di tokonya. Lalu dia melangkah pergi dan kembali mengendarai mobilnya. Dalam perjalanan menuju kantornya, Ryu mendapat telepon dari kakeknya.


Ryu mengangkat dan menjawab telepon tersebut.


"Halo?"


"Kamu jangan lupa, dua minggu lagi bertunangan dengan Ayana." ucap kakeknya.


"Ya, aku tahu kakek. Pertunangan yang hanya di inginkan oleh kedua orang tuan, bukan anak-anaknya." ucap Ryu dengan sinis.


"Kakek tidak peduli dengan ucapanmu, yang jelas pertunangan itu harus di laksanakan. Dan kamu jangan coba-coba kabur Ryu."


"Kamu jangan berharap Ayana membatalkan pertunangan, sebab dia sudah terikat kontrak dengan iklan perusahaan kakek yang membayarnya mahal. Jadi dia tidak akan kabur, dan kakek harap kamu juga tidak akan melakukannya Ryu." kata kakeknya mengancam.


Ryu diam, dia benar-benar kesal sekali sama kakeknya.


"Ya, terserah kakek saja."


Klik.


Kali ini Ryu menutup sambungan teleponnya lebih dulu dan tanpa permisi lagi. Dia benar-benar marah dengan kakeknya, Takahiro.


"Lihat saja nanti, apakah gadis itu tetap akan melanjutkan pertunangan yang tidak di inginkan?" gumam Ryu.


Ryu lalu melajukan mobilnya ke sebuah klub malam, dia ingin melampiaskannya untuk meminum beberapa gelas rencananya. Hanya melepaskan rasa kesalnya.


Bukannya ke klub malam, tapi malah ke kafe di mana Hana bekerja malam hari. Entahlah, pikiran Ryu benar-benar kacau.


Ryu masuk ke dalam kafe, di sana juga ada tempat klub malam juga. Tapi tidak ada dentuman keras musik di dalamnya, hanya musik pelan dan tidak juga menyediakan bartender.


Jika ingin pesan minuman yang beralkohol, memang ada di sana. Ryu lalu masuk ke dalam kkub itu dan memesan dua botol minuman beralkohol.


Setelah datang pesanannya, Ryu langsung menenggaknya. Rasa kesal yang dia rasakan pada kakeknya dia lampiaskan dengan minuman. Dua botol habis dan dia memesan lagi.


Satu setengah jam Ryu berada di klub itu. Dan kesadarannya mulai hilang. Tubuhnya mulai lemas dan mabuk, sebagian tubuhnya berada di meja itu. Meski mabuk, Ryu masih sadar.


Hari sudah malam, dia lalu mengeluarkan beberapa lembar uang Yen di letakkan di meja. Kemudian dia keluar dari klub itu dan dengan jalan sempoyongan dia menuju parkiran hendak duduk di mobil.


Tapi berkali-kali jalannya tersandung, dan jatuh. Dia bangkit lagi. Ketiga kalinya dia jatuh tapi ada yang menahannya.


"Tuan Ryu, ayo ke mobil anda." kata seseorang yang menolongnya.


Ryu menoleh, dia melihat wajah gadis yang tadi sore ingin dia temui. Ryu tertawa kecil dan berucap.


"Hana, kamu itu?" tanya Ryu sambil menatap Hana.


"Iya tuan, anda mabuk dan ayo ke mobil. Nanti saya hubungi tuan Tamada." kata Hana.


Sampai di mobil, Ryu duduk sambil membungkuk karena mabuk, beberapa kali dia melihat Hana yang sedang menelepon.


"Hana." gumam Ryu.


Hana diam, kembali menatap Ryu. Sambungan telepon terputus.


"Hana." gumam Ryu sekali lagi.


Hana mendekat, dia menatap Ryu. Ada rasa kasihan di hatinya, mungkinkah banyaknya beban pikiran sehingga Ryu memilih minum dan mabuk? pikir Hana.


Lama menunggu Tamada datang menjemput Ryu yang kini masih di kuasai mabuk. Ryu menatap Hana, pikirannya entah kenapa dia ingin memeluk Hana. Ryu bangkit dari duduknya dan mendekat pada Hana yang sedang berdiri menatap jalanan.


Hana di tarik oleh Ryu dan di senderkan ke mobil, Hana kaget lalu berusaha mendorong Ryu dengan pelan. Namun Ryu malah menindihnya, mata Ryu menatap bibir Hana yang terlihat sangat cantik. Dia lalu menyambar bibir Hana dan menciumnya dengan cepat.


Sekuat tenaga Hana menolak ciuman Ryu, tapi rupanya Ryu menahan kepala Hana dan ciuman Ryu di bibir Hana tidak bisa di hindari olehnya. Hana menginjak kaki Ryu dengan kencang, Ryu pun melepas ciumannya dan memegang kakinya yang di injak oleh Hana.


Hana menjauh dari Ryu, di hapusnya bibir yang tadi di cium oleh Ryu. Tak lama Tamada datang dan menatap Hana yang kesal pada Ryu.


"Nona Hana, kenapa dengan tuan Ryu?" tanya Tamada.


"Bawa bos anda pulang tuan Tamada, dia mabuk. Permisi, saya harus bekerjan lagi." setelah mengatakan seperti itu, Hana langsung masuk ke dalam kafe.


"Tuan Ryu, apa yang terjadi?" tanya asisten Ryu itu.


"Bibirnya sangat manis, aku suka bibirnya." ujar Ryu dengan tidak sadar.


Lalu Ryu pun ambruk, Tamada menahannya lalu di masukkannya ke dalam mobil. Dia harus membawa pulang majikannya itu.


"Jadi, nona Hana kesal karena anda menciumnya?" tanya Tamada lagi.


"Bibirnya sangat manis, aku suka sekali."


Ocehan Ryu semakin tidak karuan, Tamada hanya menggelengkan kepalanya saja. Ternyata bosnya itu suka dengan Hana.


Mobil yang dia bawa di parkirkan, dan dia sendiri membawa mobil Ryu untuk mengantarnya pulang ke apartemennya.


_


_.


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊