V E

V E
29. Mirip Ryu



Semenjak pernyataan cinta yang aneh, Erick sering menunggu Ve di parkiran. Dia menunggu di dalam mobil dan bisa mengajak Ve jalan berdua.


Ve pun kelaur dari kelasnya dan langsung menuju parkiran kendaraan. Tapi tiba-tiba Gilang mencegah Ve dari belakang dan membalikkan badan Ve menghadap ke arahnya.


"Eh, lo kenapa sih?" tanya Ve kaget dengan Gilang yang tiba-tiba menarik Ve.


"Lo mau langsung pulang?" tanya Gilang.


"Iyalah, kenapa memangnya?" tanya Ve lagi.


"Kita nongkrong yuk?" ajak Gilang.


"Ngga ah, males." jawab Ve ketus.


"Lo kalau di ajak sama gue ngga mau terus sih Ve?"


"Ya gue males nongkrong ngga jelas di kafe, mending pulang bantu ibu di rumah." jawab Ve.


Gilang mendengus kesal, kenapa kalau mengajak Ve nongkrong selalu saja tidak mau.


"Ve?" Erick memanggil Ve ketika Gilang dan Ve berada di parkiran.


Ve menatap kaget, dia melirik ke arah Gilang yang masih belum sadar kalau Ve di panggil oleh Erick.


"Ve, ayo pulang." kata Erick lagi.


"Eh?" Ve bingung, kenapa Erick malah mengajaknya pulang bersama sih.


Gilang tentu saja heran dengan dosennya itu, kenapa mengajak Ve pulang bersama.


"Ve, lo lagi deket ya sama pak Erick?" bisik Gilang pada Ve.


Erick mendekat, dia menarik tangan Ve dengan cepat sebelum Gilang mendekat lagi.


"Ve itu kekasihku." kata Erick menegaskan pada Gilang.


Tentu saja Gilang kaget, dia tidak percaya apa yang di katakan Erick itu.


"Hei, Ve. Lo harus jelaskan semuanya sama gue!" teriak Gilang sebelum Ve masuk ke dalam mobil Erick.


Ve jadi malu pada Gilang atas pengakuan Erick bahwa dia adalah kekasihnya.


Sedangkan Gilang menatap mobil Erick yang sudah bergerak meninggalkan Gilang dengan tatapan bingung dan juga penasaran.


"Pak, kenapa harus di tegasin?" tanya Ve.


"Ve?"


"Iya, kenapa juga harus ngomong seperti itu sama Gilang. Di kelas pasti heboh." kata Ve kesal.


"Biarkan saja di kelas heboh, agar kamu ngga akan berani mendekati oleh cowok-cowok temanmu itu. Apa lagi si Gilang." kata Erick sambil mengemudikan mobilnya.


"Ck, kan aku udah bilang jangan sampai di kampus tahu kalau kita pacaran pak."


"Ve?!"


"Apa sih?"


"Kamu susah banget di bilangin, kalau di luar jam kuliah jangan panggil pak!"


Ve diam, dia mendapat lirikan tajam dari Erick. Kemudian dia membuang pandangannya ke luar jendela.


"Ve?"


Suara Erick melemah, dia masih menunggu Ve memanggilnya kakak seperti biasanya.


"Iya kak. Gitu aja marah." gumam Ve.


Erick melirik Ve yang sedang menggerutu tidak jelas.


"Kamu sudah bilang sama ibu kalau pulang telat?" tanya Erick.


"Udah, sama bang Arfan juga aku udah izin ngga melatih hari ini." jawab Ve.


Erick tersenyum, lalu tangannya memegang kepala Ve dan mengelusnya pelan.


"Memangnya kita mau kemana kak?" tanya Ve.


"Ke rumahku." jawab Erick santai.


"Eh, kok ke rumah? Mau apa?" tanya Ve terkejut.


Kenapa Ve di ajak ke rumahnya? Sudah di pastikan akan bertemu dengan kedua orang tua kekasihnya itu. Duh, bagaimana ini? gumam Ve.


"Kenapa?"


"Apa ngga kecepetan kak? Kan ke rumah kak Erick harus ketemu dengan mamanya kak Erick nanti." kata Ve semakin gelisah.


"Iya, justru mama yang ingin ketemu sama kamu." jawab Erick lagi.


"Kenapa ngga bilang semalam kak?" tanya Ve.


"Mama bilangnya mendadak, baru tadi malam aku bilang sama mama kalau aku udah punya pacar, eh paginya minta di kenalin sama kamu." jawab Erick.


"Tapi, apa tidak terburu-buru kak?" tanya Ve ragu.


"Ngga, apa salahnya berkenalan?" tanya Erick, dia melirik Ve yang masih gugup bagaimana nanti menghadapi mamanya.


"Udah tenang aja, mama ngga gigit kok."


"Tapi tetap aja aku gugup kak." kata Ve lagi.


Tidak tahu bagaimana perasaannya, apakah nanti ibunya Erick akan menerimanya atau malah sebaliknya. Ve melirik ke arah Erick yang begitu santai mengendarai mobilnya.


_


Sampai di rumahnya, Erick menggandeng tangan Ve. Meskipun Ve berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Erick, namun Erick menariknya kuat.


Ve pikir terlalu kekanak-kanakan bergandengan tangan, tapi Erick tidak peduli.


"Kak, lepas tangannya." kata Ve berusaha melepas tangannya.


"Kenapa sih, biar aja. Aku suka gandeng tangan kamu." kaya Erick.


Tapi Erick tidak peduli, dia pikir itu di rumahnya Siapa yang melarang dan siapa yang akan memarahinya.


"Yuk masuk?"


"Lepas dulu tangannya."


Erick menghela nafas, lalu dia melepas tangan Ve. Dia mengajak Ve masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu duduk aja, aku mau panggil mama dulu." kata Erick.


"Iya. Eh mama kak Erick baik ngga sih?" tanya Ve tanpa sadar menarik tangan Erick.


Erick tersenyum dan mencubit hidung Ve yang biasa saja.


"Semua mama itu baik, ibu kamu juga baik. Baik banget sama aku. Jadi, jangan khawatir mama aku jahat sama kamu. Kalau mama jahat sama kamu, aku kabur bawa kamu ke Jepang." kata Erick.


"Kok ke Jepang sih?"


"Ya lagian kamu ada-ada aja sih pertanyaannya."


"Kan aku gugup kak."


Kemudian Erick meninggalkan Ve di ruang tamu sendiri, dia memberitahu ibu Fatma bahwa Ve sudah datang.


"Ma?"


"Iya, sayang. Ada apa?" tanya ibu Fatma.


"Katanya mama pengen lihat pacar aku, tuh ada di depan." kata Erick.


Tanpa pikir panjang, ibu Fatma melangkah menuju ruang tamu. Tapi sebelumnya dia memperhatikan dari jauh. Ada yang familiar dengan wajah Ve.


"Erick, dia pacar kamu?" tanya ibu Fatma.


"Iya ma, kenapa? Terlihat tomboy ya?" tanya Erick heran.


Dia takut mamanya tidak suka pada Ve atau penampilannya.


"Bukan, mama seperti melihat orang yang mama kenal deh?" kata ibu Fatma.


"Siapa ma?" tanya Erick penasaran.


"Kok dia mirip Ryu sih, Rick?"


"Eh, yang benar ma?!" tanya Erick tidak percaya.


"Memang ngga mirip banget, tapi sekilas dia mirip teman kamu yang dari Jepang itu." kata ibu Fatma lagi.


Erick ikut memperhatikan wajah Ve dengaj seksama dari jauh. Dia melihat Ve sedang gelisah di ruang tamu itu.


Memang sekilas mirip dengan Ryu, tapi dia baru sadar sekarang. Berarti memang benar Ve itu adiknya Ryu?


Dia harus mencari tahu kisah ibunya Ve, dia harus memaksa sedikit pada ibu Tika. Menceritakan bagaimana kisahnya dulu. Dia semakin yakin bahwa Ve itu adiknya Ryu.


Ibu Fatma menyadarkan Erick tentang penyelidikannya pada Ve dan ibunya. Dia akan melanjutkannya, mungkin karena terlalu senang, jadi dia lupa dengan misinya.


"Ayo ma kesana temui Ve." kata Erick.


"Iya, ayo." jawab ibu Fatma.


"Eee, tunggu ma. Mama jangan bilang kalau Ve mirip dengan Ryu, udah diam aja ya." kata Erick.


"Lho, kenapa?" tanya ibu Fatma heran.


"Udah mama, ngobrol-ngobrol aja. Nanti aku ceritakan kenapa begitu." kata Erick.


"Ya sudah, tapi mama tunggu lho cerita kamu."


"Iya."


Kini ibu dan anak itu menghampiri Ve yabg sedang gelisah sejak tadi.


"Ve, ini mamaku." kata Erick memperkenalkan pada Ve.


Ve berdiri dan menyalami ibu Fatma dengan takzim.


"Saya Ve tante." kata Ve memperkebalkan diri pada ibu Fatma.


"Oh, namanya Ve ya. Nama panjangnya?" tanya ibu Fatma.


"Ve aja tante, ngga ada panjangnya." jawab Ve ramah


"Lho, emang ada ya namanya cuma dua huruf?" tanya ibu Fatma heran.


"Ya ada ma, itu buktinya Ve." kata Erick agar Ve tidak merasa canggung.


"Singkat banget namanya." kata ibu Fatma.


Dia hanya heran, kenapa ada nama sependek dan sesingkat itu. Jika huruf V, jadinya cuma satu huruf saja.


"Udah sih ma, jangan di bahas. Meski pun cuma dua huruf, tapi Ve cantik kan ma?" tanya Erick agar Ve tidak terus merasa canggung di depan mamanya.


Mulanya hanya heran, tapi sekarang ibu Fatma malah sering mengobrol dangn Ve dan merasa senang bisa ngobrol banyak dengan pacar anaknya itu.


"Jadi, Ve ini pelatih karate Jody?" tanya ibu Fatma lagi.


"Iya tante." jawab Ve malu-malu.


"Waaah, berarti kalian bertemu dan dekat dari klub karate juga ya. Wah wah wah, jodoh memang ngga kemana ya.."


"Hehehe..." Ve hanya tersenyum saja.


Memang benar mereka dekat dari klub itu, dan pernah bertengkar kecil juga di sana. Sampai sekarang mereka jadi sepasang kekasih..


_


_


_


😊😊😊😊😊😚😊😊