
Setelah pertemuan dengan Hana di restoran itu, Ryu sepertinya tertarik untuk mencari tahu siapa Hana. Dia menyuruh asistennya Tamada mencari tahu tentang Hana, dari mana asalnya dan keluarganya bagaimana.
"Ternyata anda tertarik juga dengan gadis itu, tuan." ucap Tamada sambil tersenyum miring.
"Aku penasaran aja sama dia, bulan lalu dia jadi tourgadget adikku. Dan sekarang dia bekerja di restoran itu, kok dia sangat ulet sekali untuk mencari uang. Apakah kehidupan orang tuanyan sangat miskin, sehingga dia harus banting tulang untuk menghidupi dirinya di negara ini." kata Ryu beralasan.
"Dia memang ulet dan cerdas tuan, tapi saya belum tahu seluk beluk keluarganya. Apakah tuan juga ingin tahu tanggal lahirnya juga?" ledek Tamada.
"Hei, kamu kerjakan saja apa yang aku minta. Selidiki dia dan dari mana asalnya, maksudnya dari kaeluarga yang bagaimana?"
"Bagaimana kalau dia anak dari seorang miskin, apakah anda akan mengabaikannya juga?"
"Emm, mungkin hanya tahu saja. Kamu tahu siapa aku, tidak mudah untuk mencari kekasih yang di cintai. Jadi, jangan lagi bertanya tentang suka dan cinta pada gadis lain. Apa lagi tentang perasaanku, kamu sepertinya selalu saja meledekku dengan perasaanku." kata Ryu.
"Tuan Ryu, cinta itu anugerah. Jika anda mendapatkan anugerah cinta dari Tuhan, maka nikamti saja. Meski pun itu jatuh pada seorang gadis miskin sekali pun. Tapi memang kembali pada diri anda sendiri, jika mau bertahan ingin menikah dengan gadis bangsawan maka menikahlah dengan gadis itu. Tidak ada yang bisa mencegah datangnya cinta." kata Tamada seperti mengerti bagaimana jatuh cinta.
Dan Ryu terdiam, dalam hati dia membenarkan ucapan asistennya itu. Tapi dia merasa baginya sangat susah untuk memilih gadis yang di cintainya. Dia hanya mencoba untuk mencari cinta dari kalangannya sendiri, siapa tahu dia bisa mendapatkan cintanya pada gadis bangsawan itu. Pikir Ryu.
"Kamu benar, tapi aku mencoba untuk mencari gadis sepadan denganku yang bisa aku cintai sesungguhnya. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menuruti keinginan keluargaku." kata Ryu lagi.
Pandangannya menerawang jauh, memang cinta tidak tahu akan jatuh pada siapa. Apa salahnya dia mencoba menuruti keinginan keluarga, mencari cinta dari kalangan bangsawan lagi.
Tamada sendiri mengerti akan situasi tuannya, memang benar. Dari kalangan atas akan memilih juga dari kalangan atas lagi. Tapi jika cinta sudah memilih pada orang biasa, seperti halnya Hiroshi. Apakah akan menuruti kemauan keluarganya atau hatinya.
Dan Hiroshi memilih keduanya, dia memilih keluarganya dengan syarat juga akan memilih juga cintanya. Memang sulit dan membutuhkan waktu lama, ternyata yang terjadi adalah penyiksaan diri sendiri.
Namun buah dari kesabaran Hiroshi kini, bisa dia nikmati. Hidup bahagia dengan orang yang di cintai dengan sederhana.
Tamada sendiri sangat kagum dengan perjalanan cinta Hiroshi dan Harumi selama dua puluh tahun terpisah. Bagi orang yang tidak sabar akan ketulusan cinta, maka dia akan meninggalkan cintanya.
Dan anehnya, Harumi juga tidak mencari laki-laki lain untuk menggantikan Hiroshi. Tamada tidak tahu, dalam ajaran yang di anut Harumi. Jika belum jatuh talak, maka tidak bisa menikah lagi. Dan itu di lakukan oleh Harumi.
_
Hana Pramuningtiyas adalah anak dari keturunan keraton di tanah Jawa, dia perempuan cerdas dari seorang anak Mangku Wijaya dan Raden Ajeng Sri Gandasari.
Mereka memang keturunan keraton, tapi hidupnya sederhana merakyat. Namun gelar bangsawan keratonnya masih di gunakan, meski hidupnya tidak di dalam keraton.
Hana mendapatkan beasiswa kuliah di perguruan tinggi negeri dan di beri kesempatan pertukaran pelajar ke Jepang. Sudah dua tahun lebih, dan setengah tahun lagi dia sudah selesai dalam pertukaran pelajar.
Tamada tersenyum mendapatkan identitas Hana, dia tidak salah dulu memilih Hana sebagai tourgaide Eiko di Jepang. Dia sedikit mengetahui jika keturunan bangsawan Jawa itu sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan norma ketimuran.
Bukan itu saja, tata krama kesopanan sangat terjaga. Namun begitu, keluarga Hana tidak mengharuskan anaknya mendapatkan jodoh dari kalangan mereka lagi. Karena mereka tahu, kebahagiaan anak lebih penting dan kehidupannya ke depannya.
Asisten Ryu itu membawa berkas berisi biodata Hana, dia masukkan ke dalam tasnya lalu dia melajukan mobilnya menuju kantor Ryu.
Saat ini Ryu sedang banyak sekali pekerjaan, dia sedang mencoba membuat makanan beku dari bahan ikan dan udang. Seperti udang tempura dan makanan ikan kalengan yang akan dia ekspor ke negara tetangga dan juga di beberapa negara maju.
Perusahaan kuliner Ryu kali ini memang maju pesat di banding dengan usaha lainnya, namun demikian semuanya sama-sama berjalan dengan baik.
Dengan bantuan teknologi canggih, semua serba di kerjakan dengan mesin robot. Jadi lebih cepat dan hemat waktu serta lebih banyak yang di hasilkan.
Hanya membutuhkan tenaga teknisi, bagian distribusi dan bagian laboratorium untuk memeriksa dan pengecekan makanan agar tetap terjaga kualitasnya.
Setengah jam Tamada sampai di kantor Ryu, dia memasuki lobi kantor. Banyak yang memberi hormat padanya karena dia termasuk orang penting di kantor tersebut.
Tamada masuk ke dalam lift khusus pejabat penting agar lebih cepat dan nyaman, dia melirik jam di tangannya. Tidak lupa berkas mengenai identitas dan biodata Hana dia bawa dalam tasnya untuk di berikan pada bosnya.
Lift sampai di lantai yang di tuju, dia keluar dari dalam lift dan menuju ruangan Ryu. Dia melihat sekretaris sudah berdiri menyambutnya.
"Selamat pagi tuan Tamada, tuan Ryu sudah ada di ruangannya saat ini." kata Ayumi sekretaris Ryu.
"Oh, benarkah? Terima kasih ya Ayumi." ucap Tamada.
Dia merasa tidak enak, Ryu datang lebih dulu dari pada dirinya. Kemudian dia mengetuk pintu dan membukanya, dia tidak perlu menunggu sahutan dari Ryu untuk masuk. Karena Ryu sudah tahu jika yang mengetuk pintu dan langsung masuk itu Tamada atau Ayumi.
"Ya, tidak masalah. Bos juga harus datang cepat jika di butuhkan, dan saat ini kita sedang banyak pekerjaan. Jadi aku datang lebih cepat." kata Ryu.
"Ya tuan, apa kita akan langsung menemui nelayan yang akan menjadi suplayer ikan dan udang itu?" tanya Tamada.
"Emm, kamu sudah menghubungi mereka?" tanya Ryu.
"Sudah tuan."
"Baiklah, kita bisa langsung ke sana." kata Ryu.
Dia melihat Tamada memegang berkas di tangannya, Ryu penasaran berkas apa yang di bawa oleh Tamada.
"Kamu bawa apa?" tanya Ryu penasaran.
"Oh, ini berkas biodata nona Hana tuan." jawab Tamada.
Ryu diam, dia masih melihat berkas yang ada di tangan Tamada. Tamada melihat bosnya ragu untuk melihat berkas biodata Hana.
"Apa anda mau melihatnya? Hanya sekedar membaca." ucap Tamada.
"Emm, boleh. Sini berkasnya, aku mau lihat siapa itu Hana." ucap Ryu.
Tamada pun menyerahkan berkas di tangannya, dia meletakkan berkas itu di meja Ryu. Ryu mengambil berkas itu dan membukanya. Perlahan dia membaca setiap kalimat yang berbaris di lembaran kertas HVS itu, dia juga melihat foto Hana yang memakai baju almamater kampusnya dulu di Indonesia.
Wajahnya sedikit ceria, dia terus membaca biodata Hana. Ternyata Hana bukan orang biasa, dia juga mahasiswa cerdas. Terbukti dia di kirim untuk pertukaran pelajar di kampusnya.
Dan yang membuat Ryu senang, dia pernah bertemu Hana di restoran dan dia mau bekerja apa saja. Tapi, apakah dia menyukai Hana? Setelah membaca biodatanya yang di cari oleh Tamada.
"Bagaimana tuan? Apa ada kriteria dari nona Hana untuk anda?" tanya Tamada.
"Aku belum tahu, lagi pula baru beberapa kali bertemu dengannya." jawab Ryu menutup berkas biodata Hana.
"Anda bisa makan siang di restorang di mana nona Hana bekerja." kata Tamada mengusulkan.
Ryu diam, dia menatap Tamada lalu tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu apa maksud kamu memberikan pilihan pada gadis itu." kata Ryu curiga pada asistennya itu.
"Tidak ada maksud apa-apa tuan, jika anda tidak suka juga tidak masalah. Dan lagi pula, hari Minggu ini tuan Takahiro memberikan jadwal bertemu dengan nona Ayana." ujar Tamada.
"Ayana siapa?"
"Nona Ayana anaknya tuan Takagi Daichi, temannya dari tuan Takahiro." jawab Tamada.
"Emm, apa kamu punya fotonya?"
Tamada mengeluarkan ponselnya dan mencari foto Ayana di internet, karena dia adalah seorang model meski pun dari kalangan bangsawan juga.
"Ini tuan, dia model. Tepatnya model yang sedang merangkak naik daun saat ini." kata Tamada menyerahkan ponselnya pada Ryu.
"Ck, dia cantik. Tapi aku tidak suka gadis model." ujar Ryu.
Setelah melihat foto Ayana sekilas, dia menyerahkan kembali ponsel Tamada. Dia kembali melihat berkas biodata Hana tanpa sadar.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊