
Hiroshi tahu resiko membawa anaknya Eiko jalan-jalan di kota Tokyo, namun dia sengaja mengambil resiko itu demi bisa bersenang-senang dengan anak gadisnya.
Banyak mata dan wartawan mengikutinya, namun dia sudah tidak peduli. Meski pun nanti dia akan di keluarkan dari keluarga besarnya, yang terpenting dia ingin bersenang-senang dengan anaknya.
Sementara itu, di rumah utama tepatnya di masion keluarga Takahiro, semua sibuk untuk menutup pemberitaan tentang Hiroshi yang sedang pergi jalan-jalan dengan anak dari perempuan yang tidak di setujui oleh keluarga besar Takahiro.
"Heiji, bagaimana bisa Hiroshi bisa bertemu dengan anak dari perempuan itu hah?!" tanya Takahiro pada asistennya itu.
"Maaf tuan, sepertinya tuan Ryu yang membawanya negeri ini." jawab Heiji sambil membungkuk.
Takahiro menatap tajam Heiji, dia tidak habis pikir kenapa asistennya itu jadi lambat mendapatkan informasi itu.
"Sudah berapa lama gadis itu ada di Tokyo?" tanya Takahiro.
"Sudah lima hari, dua hari lagi gadis itu akan pulang ke negaranya tuan." jawab Heiji.
"Ck, tapi wartawan sudah mengendus keberadaan Hiroshi dana anaknya. Sekarang mereka sedang jalan-jalan, sepertinya Hiroshi sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekelilingnya." kata Takahiro lagi.
Heiji diam dan menunduk tanpa berkata apa-apa.
"Kamu panggil Ryu kemari sekarang juga, suruh dia pulang ke rumah utama." kata Takahiro memerintah Heiji.
"Baik tuan."
Setelah berkata seperti itu, Heiji langsung keluar dari ruang kerja Takahiro.
Naomi yang sedikit mencuri pembicaraan itu merasa takut, jika nanti anaknya yang jadi kena sasaran kakeknya itu.
Namun, dia juga mendukung tindakan anaknya. Membawa gadis itu dan mempertemukan dengan ayahnya. Naomi menghela nafas panjang, kemudian dia pergi ke kamarnya.
Siapa yang salah siapa yang benar, atau siapa yang tersakiti. Semua tersakiti karena satu orang, bahkan satu kerabat. Zaman sudah modern, tapi pemikiran masih seperti dulu karena memegang adat leluhur.
Tidak mudah memang, tapi apa mau di kata. Semua ada porsinya masing-masing, masih ada tetua jadi memang harus di lestarikan adat istiadat.
Tapi bukankah perasaan tidak bisa di paksa? Cinta tidak bisa di paksa jatuhnya pada siapa.
_
Ryu kaget ketika Tamada di hubungi Heiji untuk menghadap kakeknya. Tamada dapat telepon ketika Ryu sedang rapat dengan klien.
"Untuk apa kakek memanggilku?" tanya Ryu pada Tamada.
"Saya tidak tahu tuan, tapi sepertinya ini mengenai papa anda dan juga adik anda." jawab Tamada.
Ryu terdiam, dia memang seharusnya mengantisipasi kalau kakeknya itu akan mengetahui tindakannya. Dia tahu kakeknya bertindak lebih lambat karena Heiji juga merasa kasihan dengan papanya.
"Baiklah, sepulang dari sini kita ke rumah utama. Aku akan menjawab semua pertanyaan kakek nanti." kata Ryu.
"Baik tuan. Tapi apakah sahabat anda itu akan terus di apartemen itu?" tanya Tamada.
"Ya, sampai Eiko dan papa selesai menghabiskan waktu bersama." jawab Ryu.
"Apa anda tidak masalah dengan mereka menginap di satu apartemen?"
"Kenapa? Kamu curiga pada mereka akan melakukan hal yang tidak baik?"
"Bukan, saya memikirkan anda. Tapi sudahlah, itu hanya pikiran saya tuan."
"Hei, aku sudah tidak memikirkan itu ya. Cih, kamu sama saja dengan Erick. Terlalu curiga padaku." kata Ryu dengan kesal.
Kenapa semua mencurigainya kalau dia suka sama Ve sebagai seorang gadis?
Dia benar-benar kesal, kenapa juga perasaan itu muncul tiba-tiba. Apa sebaiknya dia tidak usah bertemu lagi dengan adiknya itu. Ryu melirik Tamada dengan tajam, dia melihat Tamada seperti memakluminya.
"Carilah gadis yang anda suka tuan, mungkin rasa itu akan hilang." usul Tamada.
"Diam kamu! Tidak usah mengingatkanku, aku sudah di takdirkan akan di jodohkan dengan gadis bangsawan lagi, jadi untuk apa aku harus mencari gadis lain?" tanya Ryu masih dengan nada kesal.
"Apa gadis bernama Hana tidak bisa menarik perhatian anda?" tanya Tamada tidak menggubris kekesalan Ryu.
"Apa yang kamu katakan? Sudah ku bilang, diriku sudah pasti akan menikah dengan gadis bangsawan lagi, jadi untuk apa aku harus melirik gadis lain? Tidak ada gunanya."
"Jika tuan mau, saya akan cari tahu tentang gadis bernama Hana itu." masih tidak mengindahkan ucapan Ryu.
"Tamada!"
"Ya tuan?"
"Apa kamu mau aku pecat?"
"Tidak."
"Maka dari itu, berhenti memojokanku masalah seorang gadis."
"Maaf tuan, seperti anda pernah bilang tentang tuan Hiroshi. Cinta tidak di paksakan, jika sudah jatuh cinta maka tidak bisa berpaling meski jarak dan waktu memisahkan jasad mereka." ucap Tamada.
Ryu diam, sejujurnya dia kagum dengan perjalanan cinta papanya Hiroshi. Namun itu juga yang membuatnya tersiksa, harus jauh dari orang yang di cintai selama bertahun-tahun.
Apakah dia bisa melakuka itu, seperti papanya? Entahlah, dia belum sanggup mengikuti jejak papanya.
"Ayo kita menghadap tuan Takahiro, kita harus siap menjawab semua pertanyaan kakek tua itu." kata Ryu setelah semuanya beres.
Lalu keduanya keluar dari ruang kantor Ryu. Mereka berpapasan dengan beberapa karyawan yang memberikan hormat pada atasannya itu.
Sampai di lift, Ryu masih memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan kakeknya nanti. Dan sampai di mobil pun Ryu belum menemukan cara yang pas.
Bukan dia tidak menemukan alasan dan jawaban, tapi dia harus mempersiapkan jawaban alternatif lain selain jawaban jujurnya nanti.
_
Ryu masuk ke dalam kamar ibunya setelah tadi di jalan menuju rumah utama Naomi Takeda menghubunginya.
"Mama, ada apa mama memanggilku?" tanya Ryu menghampiri ibunya yang sedang mondar-mandir kesana kemari.
"Ryu, anakku. Kamu di panggil oleh kakekmu?" tanya Naomi.
"Ya ma, mama tenang aja. Aku bisa menghadap kakek dengan tenang kok." jawab Ryu dengan tenang agar ibunya tidak khawatir.
"Bagaimana mama tidak khawatir, Ryu. Kakekmu sudah memanggilmu, beliau sepertinya marah besar sama kamu." kata Naomi lagi dengan perasaan takut.
"Aku akan jawab dengan jujur ma, kasihan papa. Aku hanya kasihan dengan Eiko yang tidak pernah mendapatkan sakih sayang apa-apa dan juga tidak mendapatkan fasilitas apa-apa." kata Ryu.
"Mama tahu, tapi tetap saja mama takut nanti kakekmu jadi bisa semarah itu. Bukan hanya papamu, tapi juga kamu Ryu." kata Naomi lagi.
"Apa yang akan kakek lakukan padaku ma? Jika kakek menghukumku, dia tidak akan punya pewaris. Biar saja papa pergi, dan aku juga akan pergi jika sampai kakek marah besar." ucap Ryu.
Dia masih percaya diri dengan statusnya sebagai putra mahkota dari keluarga Takeshi Takahiro.
"Ryu, jangan lakukan itu. Mama tidak mau kamu pergi meninggalkan mama, cukup papa kamu saja yang jauh dari mama dan juga pergi dari mama. Kamu jangan pergi meninggalkan mama Ryu." kata Naomi.
Ryu membuang nafas kasar, di sinilah dia tidak menyukaimya. Di sisi lain dia ingin bebas, tapi tidak bisa. Ryu merasa dia adalah tumbal dari ayahnya. Bukan, kakeknya.
Dia tidak bisa mundur, tapi apa mau dia lakukan. Semua tergaris di sislsilah keluarga bahwa sekarang putra mahkota ada di tangan Ryu.
"Sudahlah ma, mama jangan khawatir. Aku akan menghadap kakek tua itu dulu." kata Ryu.
"Ya, sebaiknya jaga kesopananmu dalam berucap sama kakekmu." pesan Naomi.
"Tenang saja ma, selama kakek masih berkata baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja kok." kata Ryu.
Lalu Ryu keluar setelah dia memeluk ibunya, dan di depan pintu Tamada sudah siap juga mengikuti Ryu menghadap kakek dari majikannya itu. Karena dia juga di suruh ikut masuk dengan Ryu.
Mereka berdua berjalan berjajar ke belakang, Ryu di depan Tamada di belakang Ryu.
Ryu mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian masuk setelah mendorong daun pintunya. Dia melihat kakeknya sudah duduk dengan siap menghadap ke arah pintu yang terbuka sambil menatap tajam ke arahnya dan tangannya memegang tongkat di tangannya.
Ryu menahan nafas melihat tatapan tajam dari kakeknya. Dia melangkah lebih dekat dan membungkuk pada kakeknya memberi salam hormat, di susul oleh Tamada.
Tuan Takahiro bangkit dari duduknya setelah Ryu berdiri tepat di depannya, dan tanpa di duga tuan Takahiro menampar keras pipi Ryu dengan mata yang melebar tajam.
"Lancang sekali kamu membantu gadis itu masuk ke dalam negara ini!"
"Kakek..."
"Cukup! Tidak akan aku biarkan ayahmu itu kembali lagi pada perempuan miskin itu dan anaknya." kata tuan Takahiro.
"Kakek tidak boleh seperti itu!" kata Ryu dengan nada sedikit keras.
"Suruh siapa kamu melawan kakekmu hah?!"
"Kakek, papa berhak bahagia. Apa kakek tidak kasihan dengan papa?"
"Papamu laki-laki bodoh!"
"Kakek!"
Ryu kesal sekali pada kakeknya itu, dia sangat muak dengan kediktatorannya dalam mengatur hidup anaknya dan juga cucunya.
"Mulai sekarang, kamu jangan pernah lagi membantu papamu, Ryu." kata tuan Takahiro.
"Kakek."
"Heiji, urus semua apa yang telah saya rencanakan dulu."
"Baik tuan." jawab Heiji.
"Kamu boleh pergi, saat ini kakek tidak ingin menghukummu." ucap Takahiro.
Ryu menatap tajam kakeknya, dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakeknya itu. Tapi jika kakeknya berkata dia di hukum, makanya dia sudah siap memghadapi sesuatu yang mendadak.
Lalu Ryu keluar dari ruangan kakeknya dengan kesal, dia membanting daun pintu dengan keras dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊